Menu
Menu

Pengalaman membaca “Hidup Ini Brengsek dan Aku Dipaksa Menikmatinya”.


Oleh: Annas Karyadi |

Seorang penulis lepas dan penyintas gangguan afektif bipolar. Silakan kunjungi annaskaryadi.com untuk membaca tulisan-tulisan lainnya.


Identitas Buku

Judul: Hidup Ini Brengsek dan Aku Dipaksa Menikmatinya
Pengarang: Puthut EA
Penerbit: Shira Media (2019)
Jumlah halaman: vi + 106 halaman

***

Hidup telah mengajarkanku untuk menelan rasa marah, terhina, disepelekan, dimanfaatkan, ditipu, ditunggangi, diremukkan seluruh harga diri dan eksistensiku.

Mati rasa. Begitulah yang kurasakan usai merampungkan buku berjudul Hidup Ini Brengsek dan Aku Dipaksa Menikmatinya karangan Puthut EA. Buku ini diilustrasikan oleh Gindring Wasted dengan ilustrasi ala Misfits. Bagaimana bisa seseorang hidup tanpa memiliki perasaan sedikit pun? Tak pernah merasa sakit, tak pernah merasa sedih, tak pernah merasa marah. Setidaknya begitulah kisah tentang tokoh utama yang kubaca di dalam buku ini. Ia telah mengalami pahit getirnya kehidupan dan memilih untuk mati rasa.

Ia lahir di atas becak yang dikayuh Ayahnya yang kemudian mati karena tersedak oleh kemarahan dan kelelahan. Masa kecilnya tidak bisa dibilang bahagia, malah cenderung tragis, kelam dan berat. Ibunya tak pernah mempedulikannya, begitu pula kedua kakaknya yang merupakan preman. Tak ada ruang baginya untuk bersedih, juga tak ada ruang untuk bahagia. Ia tahu menangis tak akan membuat hidupnya lebih baik dan malah akan membuatnya dihajar kakaknya. Hidup di garis kemiskinan, sering kelaparan hingga memaksanya memakan singkong mentah, jagung mentah, tikus dan kadal. Di sekolah ia sering menjadi korban perisakan teman-temannya, hal itu membuatnya tumbuh menjadi seorang pengecut yang tak memiliki batas antara penting dan tidak penting dalam hidupnya.

Semasa remaja ia mengalami apa yang kita sebut dengan pelecehan seksual, namun ia tidak ambil pusing, tidak melakukan protes apa pun bahkan tidak mengadu pada siapa pun. Kehidupan sekolahnya tidak bisa dibilang baik, selain sering dirisak ia juga sering dikeluarkan dari sekolah dengan alasan yang (menurutku) tidak masuk akal seperti tidak mau ikut upacara bendera atau salah masuk toilet perempuan. Dalam benaknya sering terlintas pikiran untuk balas dendam dengan cara-cara yang bisa dibilang sadis dan cenderung keji, namun tentu saja karena ia pengecut semua hanya ada di pikirannya saja.

Tokoh utama dalam buku ini seolah benar-benar tidak bisa merasakan apa-apa. Ia tidak merasa kesakitan ketika dipukuli oleh kakak kelasnya sampai mereka lelah, tidak bisa merasakan lezatnya semangkuk bakso karena baginya semangkuk bakso dan sepotong singkong mentah rasanya sama saja, juga ia tidak bisa merasakan nikmatnya minum alkohol dan merokok. Ia bahkan tidak pernah merasa mabuk sebanyak apa pun alkohol yang telah diminumnya. Ia merokok karena ia memang merokok, tak ada alasan spesial.

Meski tumbuh di lingkungan yang keras bukan berarti ia tidak berpendidikan, ia sempat mengenyam pendidikan tinggi di akademi entah meskipun tidak sampai tamat. Selepas itu ia berprofesi sebagai penggali kubur dan badut. Pagi sampai siang hari ia menggali kubur, di malam hari ia menjadi badut. Di saat ini pula ibunya meninggal. Katanya ibunya meninggal karena sudah tua, tapi ada juga yang mengatakan bahwa ibunya meninggal karena tidak punya harapan. Kakak pertamanya yang merupakan preman terminal masuk penjara karena membunuh, sedangkan kakak keduanya yang merupakan preman pasar dibunuh sebagai bentuk balas dendam. Sejak itu ia tidak lagi menjadi penggali kubur. Tidak baik bagi tim penggali kubur, kata ketua  tim. Meski merasa alasan yang diberikan aneh, tokoh utama kita tidak ambil pusing.

Kiranya akan ada pembaca yang menyangka bahwa tokoh utama ini nantinya akan menjadi sosok yang jahat berdasarkan pengalaman masa lalunya. Di jalanan orang-orang memang berganti-gantian berbuat baik dan jahat. Namun tidak sekalipun tokoh utama kita melakukan apa yang biasa disebut dengan kejahatan atau kebaikan.

Orang buruk tidak harus lahir dari keluarga buruk. Kamu harus tahu itu. Sekarang yang memegang menjadi kepala preman di terminal kecil dekat rumahku adalah anak bidan dan bapaknya guru agama. (hlm. 42)

Ia pun beralih profesi sebagai pemasok minuman oplosan di sebuah sanggar seni yang dipimpin sosok lucu namun aneh bernama Truwelu. Truwelu inilah yang mengenalkan tokoh utama pada orang-orang dengan berbagai karakter, berkunjung ke pelacuran, menyaksikan orang membaca puisi, datang ke acara diskusi, menonton pentas teater dan musik, ikut demonstrasi hingga “tidur” bersama. Truwelu merasa perlu mengenalkan dunianya. Dunia yang menurut tokoh utama kita aneh.

Lewat Truwelu, tokoh utama kita mengenal Raung (intelektual bohemian yang senang ngentot dengan cewek bule sambil bicara tentang revolusi), Budus (seorang penyair sekaligus penjilat), Gembreng (perupa aneh yang pelupa) dan tiga orang yang katanya mantan aktivis yaitu Karmali, Basur dan Suwan. Tokoh utama kita tidak menyukai tiga orang yang katanya mantan aktivis itu. Karmali adalah seorang bajingan haus uang, Basur adalah orang yang merasa semua hal bisa dibeli dengan uang sedangkan Suwan mengaku aktivis kemanusiaan namun pada dasarnya ia tega melakukan apa pun yang tidak manusiawi supaya dia punya kedudukan dan namanya bisa dipandang.

Kalau ada waktu untuk membunuh, maka tiga orang yang mengaku mantan aktivis itulah yang ingin kubunuh (hlm. 69)

Dan sekali lagi karena tokoh utama kita ini seorang pengecut, pembunuhan itu hanya ada di kepalanya. Ia hanya bisa membayangkan dalam benaknya sedang menyundut penis Karmali dengan rokok, menyobek mulut Basur dengan belati dan membunuh Suwan menggunakan ular.

Selain tokoh-tokoh brengsek yang dikenalnya lewat Truwelu, tokoh utama ini juga kenal dengan tokoh yang bisa dibilang karakternya lebih baik, yaitu Pak Sabar dan Koh Yap. Pak Sabar adalah seorang takmir masjid yang membenci polisi dan tentara sedangkan Koh Yap adalah pemilik toko obat China yang cukup disegani.

Mungkin agak sedikit lucu ketika aku membaca tentang Berko, seorang pengasong segala macam berusia 15 tahun yang menjadi langganan tokoh utama membeli rokok. Ia tetap membeli rokok pada Berko sekalipun Berko sering menipu dan berbohong.

Berbohong adalah salah satu tameng hidup. Menipu adalah salah satu keahlian untuk bertahan hidup dan berbual adalah cara agar kamu bisa dihargai.

Dan ketiganya, aku tak punya. (hlm. 82)

Kisah ini ditutup dengan diskusi tokoh utama dan Mas Wirog. Ada yang bilang Mas Wirog ini budayawan, ada juga yang menyebutnya aktivis tua. Tapi bagi tokoh utama kita, Mas Wirog adalah orang biasa yang terlalu banyak membaca buku dan berlatih bicara di depan banyak orang. Mas Wirog tiba-tiba bertanya apa arti sebuah negara pada tokoh utama. Tokoh utama pun menjawab pelan

Negara itu mirip kondangan makan. Semua makanan sudah disajikan. Orang-orang yang datang duluan menghabiskan semua makanan di sana. Itu pun rebutan. Orang-orang yang datang belakangan, tak kebagian. (hlm. 88)

Jawaban itu membuat Mas Wirog terkesima. Di lain kesempatan ia berusaha ngobrol lagi dengan tokoh utama. Mas Wirog mengajaknya berdebat, namun jawaban tokoh utama selalu kalem dan terasa dalam. Pada akhirnya Mas Wirog mengatakan bahwa tokoh utama kita cocok jadi sastrawan. Namun di benak tokoh utama, sastrawan adalah seorang pengecut yang tidak berani berterus terang, yang pandai melipat-lipat kata dan menghabiskan waktu untuk memoles kalimat. Tokoh utama kita pun memilih menghabiskan teh botolnya lantas tidur di emperan ruko. Bukan karena ia mengantuk, bukan karena ada hari esok. Tapi karena memang biasanya ia tidur, begitu dari dulu.

Bagiku sudah tepat penerbit mengkhususkan buku ini untuk usia 21 tahun ke atas, karena kisah yang dituturkan bukanlah permasalahan sepele yang bisa dicerna dengan mudah oleh remaja tanggung. Ilustrasi dari Gindring Wasted benar-benar menghidupkan setiap karakter dinarasikan oleh Puthut EA. Bagiku, Puthut EA berhasil menyuguhkan potret orang-orang brengsek yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tak perlu menunjukkan kejahatan yang muluk dan besar untuk membuat seseorang terlihat brengsek. Sekadar menelantarkan anak atau merisak teman pun rasanya sudah cukup untuk membuat seseorang terlihat brengsek. Sederhana, indah, namun kisah ini terasa benar-benar brengsek. Hanya mereka yang sudah merasakan pahit getirnya hidup yang mampu memahami kisah ini. Banyak orang bilang hidup ini indah, namun sebenarnya hidup ini brengsek. Makin brengsek lagi karena kita pengecut. Kisah ini memang ditulis tanpa kemarahan, namun dapat membangkitkan rasa marah dari pembacanya.(*)


Baca juga:
Tidak Ada Internet di Kampung, Portal Mana yang Akan Terbuka?
Mendengarkan Kisah Mereka yang Dekat dan Tak Nyaring

Bagikan artikel ini ke: