Menu
Menu

Bahasa gaul di Perancis mengalami pergeseran dan perubahan dari waktu ke waktu.


Oleh: Jafar Suryomenggolo |

Penerima LITRI Translation Grant 2018 atas terjemahan beberapa cerpen karya buruh migran dalam kumcer At A Moment’s Notice (NIAS Press, 2019).


Identitas Buku

Judul novel: Bye Bye Blondie
Pengarang: Virginie Despentes
Penerbit: Grasset
Tahun terbit (edisi bahasa Prancis): 2004

***

Novel Bye Bye Blondie karya Virginie Despentes (2004) boleh disebut membuat gebrakan dalam dunia sastra Perancis. Pertama, ia menjadi pembuka masuknya ‘bahasa gaul’ dalam dunia sastra Perancis. Kedua, ia mengangkat tema cerita tentang remaja ‘nakal’ dalam menghadapi tekanan perubahan sosial-budaya. Kedua hal ini menjadi gambaran terjadinya pergeseran dalam kehidupan sosial Perancis di awal abad ke-21. Tak heran, novel ini kemudian diadaptasi ke layar lebar dengan judul yang sama (2012).

Novel ini memuat kilas-balik kisah perjalanan hidup Gloria, seorang perempuan yang berusia 35 tahun. Saat ia berusia 15 tahun, ia dikirim oleh orangtuanya ke panti rehabilitasi kejiwaan karena dianggap sebagai ‘remaja nakal’. Setelah empat bulan di sana, ia dikirim ke sekolah asrama tapi kemudian dikeluarkan. Setelah itu, ia melarikan diri dengan cinta pertamanya. Namun, mereka tidak bertahan lama dan ia ditinggalkan. Ia kemudian hidup bebas sekehendak hatinya. Sejak itu pula ia hidup berpindah kota. Di usianya sekarang ia merasa kesepian dan terisolasi. Bukan karena ia menyesali hidupnya, tapi karena ia tidak mengenali lingkungan kota yang telah banyak berubah.

Berjiwa pemberontak, tokoh Gloria adalah penutur ‘bahasa gaul’. Di dalam salah satu adegan digambarkan Gloria (sebagai penutur bahasa gaul) merasa risih saat bersama Eric (sebagai penutur bahasa baku/ kelas menengah). Sebab, ia merasa dirinya “seakan-akan berada di dalam film Perancis!”.[i] Ini adalah rujukan ironis sebab film-film Perancis, sama halnya sastra Perancis saat itu, masih bertumpu pada bahasa baku dan mengasingkan para penutur ‘bahasa gaul’. Dunia sastra Perancis memang secara umum selalu berpijak pada bahasa baku.

Berkembangnya ‘bahasa gaul’

‘Bahasa gaul’ di Perancis secara umum disebut “français contemporain des cités” (bahasa Perancis masa kini dari pinggiran kota), disingkat FCC. Sebagaimana ‘bahasa gaul’ di banyak negara lainnya, FCC mengalami perubahan dan pergeseran. Sebelumnya, dikenal sebagai ‘argot’ (abad ke-17) dan ‘verlan’ (dekade 1960-1970an). FCC muncul terutama sejak akhir dekade 1990-an. Kosakata FCC tentu berbeda dari kosakata ‘argot’ ataupun ‘verlan’ yang mendahuluinya, meski terdapat juga unsur kelanjutan. Terutama, unsur permainan kata yang lumayan menonjol dalam FCC.

Berbeda dari ‘argot’ dan ‘verlan’, FCC berkembang di kalangan anakmuda yang kebanyakan adalah generasi kedua (atau ketiga) imigran dari Afrika Utara. Mereka tinggal di perumahan sosial yang berada di pinggiran kota Paris (dan kota besar lainnya di Perancis), yang dikenal dengan sebutan “banlieue” (pinggir kota).  Mereka merasa tersisihkan dari kehidupan sosial, politik, budaya dan ekonomi Perancis. Proyek pasar-bebas yang ditempuh Perancis (dan Uni Eropa) telah meminggirkan mereka. Alih-alih sebagai “korban globalisasi,” kalangan masyarakat umum malah punya pandangan negatif atas mereka: pelaku kriminalitas, tidak terdidik, dan tidak mampu berbahasa baku.

Persis di sinilah, tokoh Gloria muncul. Ia adalah representasi dari kelompok masyarakat yang tersisihkan. Tapi, Gloria bukan sekedar ‘korban’ yang tidak berdaya. Ia berani membentuk dirinya sendiri dengan ‘memberontak’ dan tidak takut stigma masyarakat atas pilihan hidupnya. Ia bahkan melihat tokoh Eric sebagai representasi kelas menengah yang sekedar ikut arus dan sia-sia mempertahankan gengsi-sosialnya.

Membebaskan diri dari Kolonialisme bahasa

Penggunaan FCC yang meluas di kalangan anakmuda keturunan imigran juga menandakan adanya unsur sejarah kolonialisme. Hal ini serupa dengan ‘slang’ dalam bahasa Inggris di Britania Raya yang muncul di kalangan anakmuda keturunan imigran dari bekas negara-negara jajahan, dan juga ‘straattaal’ (bahasa jalanan) dalam bahasa Belanda di kalangan anakmuda keturunan imigran dari Suriname dan Antillen di kota-kota besar Belanda.

Tentu hal ini berbeda dari ‘slang’ dalam bahasa Inggris di Amerika Serikat, meskipun banyak juga muncul di dalam musik hip-hop kulit hitam di Amerika Serikat. Musik hip-hop memang digemari luas di kalangan anakmuda penutur FCC, dan juga menjadi penanda identitas-diri mereka. Mereka melihat bahasa Perancis baku sebagai suatu bentuk kolonialisme bahasa – meskipun sesungguhnya mereka adalah juga warga negara Perancis dan berbahasa ibu Perancis. Mereka punya identitas-diri yang berbeda dari proyeksi “ke-Perancis-an” yang umumnya berpijak pada kelas menengah (yang umumnya, kulit putih), kaum terdidik perkotaan, dan penutur bahasa baku (dan pendengar lagu-lagu non hip-hop).

Berbeda dari FCC yang bercirikan perlawanan sosial dan politik,  ‘bahasa gaul’ dalam bahasa Indonesia sangat bercirikan kemajuan ekonomi yang dialami Indonesia sejak 1980-an, dan pasca 1998. Ia ‘diciptakan’ terutama oleh kelas menengah perkotaan (berpusat di Jakarta), dan kental dengan nuansa misoginis. Ia menjadi bentuk “kolonialisme” budaya kelas menengah (yang patriarkis) atas mereka yang tidak memahami atau mempergunakan ‘bahasa gaul.’ Karena berbeda kelas, mereka yang tidak memahami atau mempergunakan ‘bahasa gaul’ dianggap “kurang pergaulan” sehingga perlu “memperluas pergaulan”. Yakni, dengan mengabaikan bahasa baku dan mengadopsi ‘bahasa gaul’ di dalam percakapan, agar dapat diterima sebagai anggota kelas sosial tertentu (baca: kelas menengah perkotaan) di dalam negara Indonesia.

Meluas sejak 2005

Novel Bye Bye Blondie adalah bagian dari gelombang arus karya fiksi yang menggunakan FCC, yang terbit sejak 2000-an. Kebanyakan fiksi ini adalah karya anak muda imigran yang tinggal di pinggiran kota. Misalnya: novel Kiffe kiffe demain karya Faïza Guène (2004), Sarcelles-Dakar karya Insa Sané (2006), dan Viscéral karya Rachid Djaïdani (2007). Selain itu, ada juga beberapa fiksi karya penulis kulit putih kelas menengah yang bersimpati dengan perlawanan sosial, misalnya: Entre les murs karya François Bégaudeau (2006).

Kebanyakan novel-novel ini memang naik daun setelah peristiwa keresahan sosial di Paris pada bulan Oktober-November 2005. Peristiwa tersebut dipicu dari perlakuan brutal polisi atas anak muda imigran yang tinggal di pinggiran kota Paris. Peristiwa ini membuka peluang bagi dunia industri penerbitan untuk menerbitkan karya-karya fiksi yang menggambarkan kehidupan sosial kaum pinggiran, termasuk penggunaan FCC dalam kehidupan sehari-hari mereka, untuk masuk ke dalam dunia sastra Perancis – yang selama ini berpijak pada bahasa baku.

Tidak terbatas dalam dunia sastra, penggunaan FCC juga sudah masuk dalam dunia layar lebar. Misalnya, film Les Misérables (2019) yang menggambarkan pergolakan kehidupan di sebuah daerah pinggir kota yang didominasi anak muda imigran, dan penggunaan FCC yang meluas (juga, lintas generasi) sebagai identitas diri mereka.

bahasa gaul dalam sastra perancis

Krisis dalam dunia sastra?

Di Perancis (dan negara Eropa lainnya), penggunaan bahasa baku adalah penanda kaum terdidik dan kelas menengah, yang melihat diri mereka sebagai pengusung utama keagungan dunia sastra. Masuknya ‘bahasa gaul’ di dalam dunia sastra Perancis di awal abad ke-21 ini bukan hanya mencerminkan kehidupan budaya yang berubah, tapi juga menjadi penanda awal pergeseran sosial dan politik.

Apakah ‘bahasa gaul’ memperkaya atau memiskinkan dunia sastra? Dalam konteks dunia sastra Perancis, FCC punya potensi perlawanan atas dunia sosial-politik kelas menengah/ elit yang berbahasa baku. Sebagaimana digambarkan dalam novel Bye Bye Blondie, FCC menantang dominasi bahasa baku. Penutur FCC seperti tokoh Gloria tidak melihat penutur bahasa baku sebagai model ideal yang mereka harus tiru, capai atau impikan. Penggunaan FCC yang meluas menandakan bahwa bahasa baku bukanlah segalanya. Jadi, FCC justru memperkaya nuansa dunia sastra yang selama ini mungkin terlihat angkuh dan abai atas peran dan fungsi mereka di dalam masyarakat, terutama di kalangan mereka yang terpinggirkan.

Sementara dalam konteks dunia sastra Indonesia, kosakata bahasa gaul yang berpusat dari dan pada kelas menengah perkotaan nampaknya hanya akan melanggengkan dan mengukuhkan kelas sosial mereka, dengan mengasingkan kelas sosial lainnya (baca: kelas bawah) dalam dunia sastra kita. Hal ini bukan berarti berbahasa Indonesia baku adalah bentuk perlawanan sosial, sebab bahasa baku kita belum terbebaskan dari dominasi aparatur negara (yang masih reaksioner). Boleh jadi, masuknya ‘bahasa gaul’ dalam dunia sastra Indonesia adalah penanda awal krisis dalam dunia sastra kita.(*)

[i] Gloria fait des bouffes, passe manger à la maison, se fait un restau, mais elle ne « dine » guère et le mot la fait bien rigoler, impression subitement d’être dans un film français (2004:149-150).

Terjemahan bahasa Inggris (2016:149): Gloria cooks, goes home to eat, sometimes has a meal in a restaurant, but she doesn’t usually “dine.” And the word makes her laugh, she feels suddenly as if she’s in a French film.


Baca juga:
Sepuluh Buku Merayakan Kasih Sayang a la Parisienne
Puisi-Puisi Adhimas Prasetyo – Sekelebatan Memori Patah Hati

Bagikan artikel ini ke: