Menu
Menu

hujan turun,/ketika itu sudah pagi/dan kali itu bukan lagi/soal barangkali. puisi adhimas prasetyo


Oleh: Adhimas Prasetyo |

Penulis. Karya-karyanya telah dimuat di beberapa media, antara lain: Indopos, Suara NTB, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Basabasi.co, dan Tempo. Buku puisinya adalah “Sepersekian Jaz dan Kota yang Murung” (Penerbit Buruan, 2020).


Di Minimarket Ring Road Barat, Yogyakarta

kau berpikir malam begitu kosong. sebentar kemudian kau berpikir lagi, malam begitu penuh dalam konteks lain.

kau terlalu memikirkan banyak hal: wabah, perang dunia, kebakaran hutan, air bah, gunung meletus, kemiskinan, buruh yang diperas, kealpaan pemerintah, dirimu yang tak bisa berbuat apa-apa, dirimu yang tak melakukan apa-apa. semua orang menderita dengan caranya masing-masing, dan kau saat ini menderita hanya dengan memikirkannya.

sementara kau menyaksikan hujan yang tipis turun, aspal berkelap-kelip.

kau menenggak lagi kopi kalengan di satu minimarket Yogyakarta, kota yang kau singgahi untuk merasakan kepedihan yang sama seperti di kota-kota lainnya. Yogyakarta, bagimu cuma nama dari satu latar peristiwa, di mana segalanya terasa begitu penuh dan kosong.

sekali-dua deram kendaraan melesat di jalanan.

kau jejalkan earphone pada dua lubang telingamu, lalu memutar jaz dari telepon pintar.

kau begitu menginginkan derap drum yang gegas, rengek trompet yang bising, ritme piano yang terpatah-patah, dentum bas yang berkeliaran. kau begitu menginginkan bunyi-bunyi yang berisik.

meskipun akhirnya, kau tetap merasa dirimu begitu penuh dan begitu kosong dalam konteks lain.

2020

.

Surat kepada Seorang Tokoh Cerpen

—setelah cerpen Mei dan Seorang Lelaki, Hilda Fauziah

Mei,
pada penghujung April ke berapa
kau akan berhenti menanti.

bukan. bukan berarti aku melarangmu.
hanya saja, begini menyakitkan
melihatmu mengalami penderitaan
yang begitu panjang.

cobalah untuk berhenti, Mei.
kau tak perlu mencari tahu lebih banyak.
sebab kenyataan, memang begini licik.
barangkali satu-satunya yang perlu kau takuti
hanyalah harapanmu sendiri.

bukankah kau telah memahami hal ini,
mencari dan menanti sama melelahkan.

sedangkan masa depan,
adalah hal yang harus kau susun dengan rapi,
seperti ketika kau menyusun baju-baju
dalam lemari pakaianmu selama ini.
pikirkanlah pakaian mana yang harus
kau kenakan untuk akhir pekan nanti.

perihal mimpi burukmu,
98 cuma tahun yang sama.
sama seperti tahun-tahun
yang kau lewati belakangan.

negara, selalu punya cara sendiri
untuk membasuh amis sejarahnya.
seperti kata sebuah pepatah,
menyerahlah pada pertempuran
yang tak bisa kau menangkan.

Mei, tidurlah dengan aman dan nyaman.
percayalah, bahwa aku dan masa lalu
tak akan pernah lagi
datang kepadamu.

2019

.

Beginilah Kita pada Sepotong Pagi

—Da

beginilah kita pada sepotong pagi, ketika benang-benang
cahaya yang lembut berpilin dari balik jendela. kudapati
lengkung punggungmu yang lemah dan lelah menatapku.

beginilah kita pada sepotong pagi, ketika jemariku
menghitung bunga-bunga kuncup pada sepetak daster,
seperti menghitung tanggal-tanggal yang telah tertinggal.

beginilah kupahami sepotong pagi, ketika kita siap
memulai lagi satu perdebatan tentang siapa yang kelak
lebih dulu pergi dan siapa yang paling menderita.

2019

.

Kecemasan setelah Mendengar Bloom, Radiohead

beginilah kini, kau serahkan dadamu yang
sesak dan sekarat pada kalut keresahan laut.

sementara dengan lembut, dan semakin lembut,
riak jemari laut menanggalkan nyawamu sepotong
demi sepotong.

seutuhnya, segenggam jantungmu tinggal
cangkang-cangkang penyu yang menanti remuk.

kau menjadi genap—dan kalian saling menggenapkan,
pada kegelapan yang belum pernah kau kenal.

maka beginilah kini, telah kau teguk baik-baik
rasa asin dari kepedihan maut.

2020

.

Prolog Penyiar Radio FM Tengah Malam

—sebelum memutar lagu Video Killed The Radio Star, The Buggles

selamat malam pendengar setia xxx.xx FM. meski sekarang memang malam, tapi saya tahu sebenarnya nggak ada satu pun di dunia ini yang selamat dan patut diselamatkan loh! ehehe, benar nggak?

apa tadi saya bicara soal kesetiaan? saya sendiri ragu kalau kamu-kamu ini benar-benar pendengar setia. kalau boleh jujur, sekarang saya sudah nggak bisa lagi membedakan antara kesetiaan dan keputusasaan. semuanya sama saja, barangkali memang beda, tapi intinya sama.

saya tahu, kamu-kamu yang mendengar ceracau saya sebenarnya lagi kesepian. memang siapa coba yang mendengar radio pada tengah malam seperti sekarang ini?

kamu tahu lagunya The Buggles? barangkali, para bintang radio telah mati. tapi sekarang kita lihat sisi baiknya, sesuatu yang sudah mati nggak harus takut mati untuk kedua kalinya kan?

ternyata lumayan panjang juga racauan saya. saya langsung putar saja lagu pertama ya!

kamu mau dengar lagu apa nih? The Beatles, Bee Gees, Duran Duran, The Cure, U2, atau apa? kita putar lagu-lagu lawas saja ya? dengar lagu lawas itu, menurut penelitian yang saya karang sendiri, bagus buat kesehatan loh, hehe. kasih tahu saya, nomor teleponnya tahu kan?

tapi, karena tadi saya sudah bilang The Buggles, saya putar lagu itu dulu ya? selamat mendengarkan!

2020

.

Narasi Segenggam Apel

—setelah lukisan Frau Mit Apfel, Barbara Kroll

telah ia genapkan tubuhnya sebagai gemetar garis-garis
yang berdiri canggung. ia, seorang wanita yang kerap
menatap tanpa sepasang retina.

telah ia curi apel dari satu bilik dadanya. apel serwarna
darah yang mulai hitam mengental. ia biarkan tubuhnya
menjadi pucat dan habis.

sehampar kesunyian yang abstrak menghambur kasar di udara.

pada muka sepotong panel, ia tawarkan kepada siapa saja
untuk mengoyak segenggam apel yang ia petik
dari bilik dadanya.

2020

.

Sekelebatan Memori Patah Hati

—dari tokoh 223, Chungking Express, Wong Kar Wai

hampir Mei, malam itu
ia dapati dirinya
tersesat di tengah
sebentang jarak.

di kejauhan
turutan awan
melintas
pelan-pelan.

baginya, jarak
tinggal dua perihal:
suatu yang harus dijaga
atau dilipat.

pada lorong-lorong mansion
remang merah-merah neon
berusaha payah
membendung gelap.

malam itu juga
ia begitu berharap
bisa berbisik pelan
yippii ka yey, madafaka!
di telinga Bruce Willis.

barangkali hujan
akan turun saat itu,
atau barangkali
juga tidak.

seperti tokoh putus asa
dari sebuah folklor,
ia berjanji akan
menaruh hatinya
pada wanita pertama
yang ditemuinya di sebuah bar.

bar memutar lagu berisik,
sementara pengunjung
mendengar kesunyiannya
masing-masing.

dan begitulah kemudian,
ia menaruh hatinya
kepada seorang wanita
yang mengenakan
wig pirang dan mantel hujan.

hujan turun,
ketika itu sudah pagi
dan kali itu bukan lagi
soal barangkali.

pagi itu ia menyimpan
sebuah memori
ke dalam kaleng nanas
yang telah kedaluwarsa.

pada pagi yang sama,
hari pertama Mei,
sebuah pesawat lepas landas.

ia, tokoh kita itu,
sama sekali tidak tahu
seorang wanita, sekali lagi,
lepas dari dirinya.

2020


Ilustrasi: Photo by Wendelin Jacober from Pexels

Baca juga: adhimas prasetyo puisi adhimas prasetyo
Puisi-Puisi Servasius Hayon – Melihat Pahamu
Puisi-Puisi Ricky Ulu – Delapan Cara Mencintai Secara Ponu
Puisi-Puisi Mario D. E. Kali – Hari Tuhan Bagi Kalanuk

Bagikan artikel ini ke: