Menu
Menu

Munmun semakin sering datang ke rumah Sansan. Ibunya selalu tidak ada di rumah…


Oleh: Bulan Nurguna |

Lahir di Mataram, Lombok, 4 Juni 1990. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Pernah memimpin Teater Koin di almamaternya. Kini bergiat di Akarpohon Offschool, Mataram, Nusa Tenggara Barat.


Nanti delapan tahun lagi, mereka akan jadi sepasang kekasih. Sekarang belum. Sekarang mereka di kelas 6 SD.

Anak lelaki itu duduk di belakang anak perempuan itu. Dia suka dekat dengan guru dan papan tulis, namun ingin tetap punya sedikit jarak, agar di tengah-tengah pelajaran bisa sekali dua kali bercakap dengan teman di sebelahnya. Agar ketika ulangan dia punya sedikit kesempatan memberi dan menerima jawaban dari teman di sampingnya. Anak perempuan di depannya adalah tameng dari kuasa di depan sana. Anak lelaki itu bernama Sansan.

Sementara anak perempuan itu, senang berhadap-hadapan dengan guru. Ia suka menjadi yang paling jelas mendengar dan melihat. Ia suka bahwa ia tidak mendapat banyak gangguan dalam menerima pelajaran. Yang ia paling suka di dalam kelas adalah gurunya. Dan ia adalah murid kesayangan. Ia suka melihat kekuasaan bekerja dari dekat sekali. Nama anak perempuan itu adalah Munmun.

Teman-teman di dalam kelas terlalu banyak bermain, pikir Munmun. Mereka bermain hampir sepanjang hari, tidak terkecuali di dalam kelas ketika guru menerangkan. Itu membuatnya terganggu. Ada saja yang mereka tertawakan, ada saja yang mereka ajak bercanda, dan ada saja yang mereka kerjai. Mereka juga suka berkelahi untuk hal-hal yang tidak sebanding dengan sakitnya perkelahian itu. Ada yang berkelahi karena kalah bermain kasti, ada yang berkelahi karena dirinya dipanggil dengan nama ayahnya, dan ada yang berkelahi hanya karena ingin berkelahi.

“Heh kamu, nanti pulang sekolah saya tunggu di heler. Saya tantang kamu,” kata anak lelaki yang duduk di pojok belakang.

“Oke, berani kamu sama saya,” kata anak lelaki lain yang duduk di belakang Sansan.

Begitulah, perkelahian bisa muncul tanpa sebab yang jelas. Munmun, dan kebanyakan anak perempuan di dalam kelas tidak suka perkelahian. Jadi mereka tidak pernah pergi menonton ke Heler. Munmun sering heran, kenapa para anak lelaki suka kekerasan, mengambil risiko yang sebenarnya tidak perlu. Mungkin sangat penting bagi anak lelaki menjadi jagoan di antara yang lain.

Tapi Sansan berbeda. Dia punya dunia sendiri. Dunia yang lebih kecil. Dunia menggambar. Sering dia hanya sendiri di bangkunya menggambar sepanjang waktu, sementara anak-anak lain sudah sejak tadi keluar istirahat atau bermain bola. Dia menggambar hal yang berbeda dari semua teman di kelasnya. Bukan gunung, sawah, dan matahari. Tapi binatang-binatang yang tampak sangat hidup. Ada harimau yang marah, kelinci yang senang, kura-kura yang malu-malu.

Pernah dia mengikuti sebuah lomba. Dia mendapat juara dua. Gambarnya diterbitkan di kalender Kementerian Pendidikan. Mungkin Sansan punya juga keinginan menjadi jagoan, hanya saja di dunia yang lebih luas, bukan di dunia orang-orang yang suka saling memukul.

Sebenarnya, Munmun adalah anak yang belakangan datang ke sekolah itu. Ia pindahan dari kota madya. Baru sejak kelas 5 SD ia ada di situ. Karena jarak dari rumah yang baru dibeli orang tuanya terlalu jauh, maka hal efisien yang bisa dilakukan adalah memindahkan Munmun ke sekolah yang lebih dekat.

Sering Munmun merasa terasing. Kadang ia melihat wajah benci teman-temannya, misalnya saat Munmun  menjawab pertanyaan guru Bahasa Inggris dengan benar. “Kalian ini, sukanya tertawa saja. Kalau tidak tertawa, berkelahi. Kapan kalian bisa pintar seperti Munmun.” Munmun sedikit senang dengan pernyataan itu, tapi perasaan menjadi orang asing lebih dominan. Unggul membuat ia menjadi kesepian.

Maka ia mulai sering ke perpustakaan, tempat ia bisa bercakap-cakap dengan buku. Tapi buku anak-anak baginya sangat membosankan. Tokoh-tokoh yang hanya setengah manusia; hanya punya rasa benci atau hanya punya rasa cinta. Semua tokoh yang ada dalam buku-buku itu seperti berkomplot untuk membohonginya. Semuanya begitu kaku. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Kebohongan yang tidak meyakinkan.

Di antara kebosanan pada perpustakaan dan teman-temannya, bagi Munmun, Sansan selalu punya hal yang mengejutkan. Pernah suatu kali, Sansan membawa foto ukuran kartu pos, sebuah foto berwarna yang sepertinya diambil oleh seorang profesional. Foto orang mati yang kepalanya nyaris hancur seluruhnya, hanya menyisakan rambut dan kulit kepala, serta darah yang sungguh merah membasahi baju kaos dan celana jeansnya. Tangan kanannya di atas rumput, sedang tangan kirinya memegang perut. Kaki kirinya lurus, kaki kanannya menekuk ke samping kanan. Sungguh, seperti foto model yang bergaya, tapi tanpa kepala.

Sansan bercerita, foto itu dibuat di hutan, dan manusia yang ada dalam foto itu tewas karena kepalanya dimakan harimau. Sebuah foto yang memuaskan, pikir Munmun. Sebab sungguh berkesan. Sansan memamerkannya sambil tertawa. Teman-temannya terperangah dan Munmun merasa hidup. Ia suka rasa ganjil ini. Entah kenapa.

Sansan mendapatkan foto itu mungkin dari kamar ayahnya yang seorang wartawan televisi. “Dia mengambilnya diam-diam,” tebak Munmun dalam hati, dan spekulasi itu membuatnya bertambah gembira, sebab keputusan Sansan membawa foto itu ke sekolahnya tak perlu persetujuan ayahnya. Ia senang bahwa kenakalan itu adalah inisiatif Sansan.

Pernah juga Sansan membawa robekan majalah bergambar seorang perempuan blonde dengan pakaian renang. Pinggul dan payudaranya besar. Kulit wajahnya kasar dengan bedak yang tipis dan berlipstik merah. Anak lelaki berkumpul di meja Sansan. Tapi Munmun tidak tertarik. Munmun benci pada gambar itu. Ingin ia buang gambar itu ke dalam sumur di samping mushola. Tapi dari situ ia coba memahami untuk menemukan cara agar bisa lebih dekat dengan Sansan.

Suatu kali Munmun berperan sebagai penjual keliling di kelas ketika gurunya tidak datang dan hanya memberi tugas. Ia mengambil kotak krayon sebagai properti. Ia berdiri ke arah meja Sansan dan berlagak seperti sedang berada di pasar. “Ya bapak-bapak semua. Ini adalah produk terbaru kami. Jika bosan dengan warna yang alami, bapak-bapak bisa ganti warna kelamin dengan 24 warna ini.”

Anak-anak perempuan tidak ada yang tertawa, malah terlihat agak jijik. Anak-anak lelaki banyak yang memandang aneh seperti tidak menyangka bahwa Munmun yang sering dipuji, anak yang sopan di depan guru-guru, bisa berkata-kata seperti itu. Hanya Sansan yang tertawa dan bagi Munmun itu sudah cukup.

Memang, ketika guru sedang ada di dalam kelas Munmun akan menjadi anak yang serius, dan itu membuat Sansan gemas. Karenanya Sansan suka mengganggu Munmun.

“Munmun,” panggil Sansan ketika guru mereka keluar sebentar untuk mencari kapur tulis ke ruang guru.

“Apa,” jawab Munmun datar.

“Nanti kita ke belakang kelas yuk.”

“Ngapain?”

“Ciuman. Saya sudah tahu caranya.” Munmun hanya menoleh dengan wajah heran. Sansan tertawa.

Suatu hari, Munmun minta dibuatkan gambar kambing agar nilai menggambarnya tidak hanya tujuh puluh seperti biasa. Awalnya, Munmun menggambar matahari, gunung, dan sawah. Gambaran khas anak SD. Ia sadar, ia butuh sedikit pembeda dibanding anak lain dan gambar-gambarnya yang terdahulu. Maka mintalah ia pada Sansan. Dengan senang hati Sansan memenuhi permintaannya. Pertama-tama dia menggambar tubuh binatang itu, lalu bulatan wajah, lalu apa-apa yang ada di wajah, dan terakhir ekornya. Sungguh kaget Munmun ketika melihat binatang itu ternyata bukan kambing, melainkan babi. Dan ekornya melingkar-lingkar khas babi. Binatang itu terlihat tidak pantas berdiri di atas sawah yang telah digambarnya.

Munmun sedikit kesal, tapi ada juga rasa gembira karena hal yang tak disangka-sangka dari gambar itu membuat mereka berdua tertawa. Tertawa yang hanya milik berdua.

***

Ini sudah delapan tahun, mereka sudah menjadi sepasang kekasih. Tidak susah bagi Sansan untuk mendapatkan hati Munmun, sebab dia telah menabung curriculum vitae yang mengesankan sejak lama sekali, sejak Sansan duduk di belakang Munmun. Munmun juga seperti tak perlu melakukan apa-apa seperti yang dilakukan oleh perempuan agar ideal di mata lelaki, ia juga tak perlu menjadi perempuan blonde yang dulu gambarnya dibawa Sansan. Rambut hitamnya dan kulit cokelatnya sudah cukup, sebab Sansan akan selalu tertarik pada hal-hal yang sudah melekat lama pada Munmun: selera humor yang dingin dan segala ingatan di masa kecil.

Pernah suatu kali karena kesepakatan bersama, Munmun ikut ke rumah Sansan. Waktu itu tepat pukul dua belas malam. Mereka baru pulang dari taman kota, tempat Sansan sering berkumpul bersama teman-temannya, dan kali ini mengajak Munmun. Motor Sansan langsung diparkirkannya di belakang rumah, lalu seperti memang kebiasaannya, dia akan masuk lewat pintu belakang yang tidak dikunci daripada harus lewat pintu depan dan merogoh kunci, lebih-lebih kali ini dia datang dengan Munmun.

Terdengar suara batuk ibunya dari dalam kamar yang menghadap ruang tengah, dan ibunya pun mendengar suara motor dan suara pintu yang dibuka. Mereka saling menyapa tanpa melihat wajah masing-masing di dalam rumah yang hanya terang di bagian ruang tengah sekaligus ruang makannya itu. Dengan instruksi telunjuk dan kedua mata, Sansan meminta Munmun untuk naik ke lantai atas terlebih dahulu.

Di lantai atas ada sebuah ruangan dengan beranda yang menghadap ke sawah, bagian belakang rumah Sansan. Bila saja Munmun ada di sana ketika sudah ada matahari, maka pemandangan itu akan terlihat begitu terang dan indah, seperti lukisan masa sekolah. Ada gunung yang memisahkan satu kabupaten dengan kabupaten lainnya, ada sungai, ada sawah, dan kadang ada binatang ternak seperti kambing yang berjalan lewat pematangnya yang paling besar.

Sepuluh menit kemudian Sansan menyusulnya ke atas. Rupanya lantai dua itu sedang dalam pengerjaan dan baru setengah jadi, baru sampai tahap menyusun bata-batanya, belum diplaster apalagi dicat. Di antara merahnya bata-bata yang tersusun rapi, dan gelapnya malam yang hanya diterangi sinar bulan, Sansan muncul dari balik pintu, tanpa berkata apa-apa langsung menghambur ke arah Munmun, memeluk dan menciumnya, seperti manifestasi dari obrolan ketika mereka SD dulu, ketika Sansan mengajaknya berciuman di belakang kelas. Cinta mereka, lebih merah dari bata-bata itu. Menerangi dan membakar mereka di gelapnya malam. Tentu saja, dengan latar belakang pemandangan seperti dalam lukisan masa sekolah.

Setelah malam itu, Munmun semakin sering datang ke rumah Sansan. Ibunya selalu tidak ada di rumah pada jam-jam Munmun datang, karena sebelumnya Munmun dan Sansan memang telah merencanakannya.

Suatu hari di kamar, Sansan bercerita tentang buku yang baru saja dibacanya, buku tentang Hitler. Dia begitu terkesan dengannya, karena memimpin begitu banyak orang. Sebenarnya itu keterkesanannya yang kedua, tetapi yang utama adalah bahwa Hitler membunuh orang-orang Yahudi. Munmun langsung berbeda pendapat, sebab dulu pernah ia membaca buku tentang Anne Frank dan sejak semula ia tidak pernah setuju pada kekerasan, perang, apalagi pembunuhan dan genosida. Munmun berpihak pada Anne Frank, pada anak perempuan itu. Sansan membela Hitler, lelaki berkuasa itu.

“Kenapa kamu setuju orang-orang Yahudi itu dibunuh, Sansan?”

“Karena orang Yahudi musuh agama kita, Munmun.”

“Kita tidak pernah mengenal orang Yahudi satupun.”

“Tapi agama kita sungguh mengenalnya, mereka orang-orang cerdas yang culas.”

Sejak saat itu Sansan sering menggambar Hitler, bukan lagi gambar wajah Munmun, binatang-binatang, atau hal-hal yang menyenangkan. Gambar itu sebenarnya gambar yang indah; seorang lelaki tampan, lebih tampan dari foto aslinya, sedang mengangkat tangan kanan ke depan setinggi pundaknya dan di atasnya tertulis,”Fuhrer. Fuhrer. Fuhrer.”

Munmun sebenarnya tidak ada masalah dengan itu semua. Hitler dan semua yang dia tidak setuju dari Sansan adalah gelembung-gelembung kecil terbuat dari sabun yang mudah pecah begitu saja oleh waktu yang sebentar. Sedang Sansan adalah mataharinya, ia melihat Sansan seperti melihat api cinta dan selalu dirasakannya panas asmara.

Pernah suatu hari Munmun bertanya ke mana ayah Sansan, Sansan jawab ayahnya memang tidak pernah ada. Munmun penasaran sebab dahulu lelaki itu sepertinya ada, malah menjadi penyedia bagi foto orang tak berkepala, tapi Sansan malah membentak sambil meninju tembok di belakang Munmun, “Pergi kamu dari sini. Kamu tidak berhak tahu!” Munmun tidak menyangka Sansan bisa sekasar itu.

Tidak sampai satu hari berlalu sejak kejadian itu, Sansan sudah kembali lagi pada Munmun. Ia meminta maaf lalu menceritakan semua, bahkan yang Munmun belum terpikir apakah ia ingin tahu atau tidak. Mungkin itu cara Sansan membayar kesalahannya, menghamburkan cerita-cerita sebab pernah marah hanya karena Munmun ingin sebuah cerita.

Ada yang aneh sejak saat itu, Sansan semakin sering bercerita tentang kehidupannya, lebih tepatnya, nasib dan kesedihannya. Tetapi setelah dia bercerita, dia akan tiba-tiba menghilang tanpa kabar berminggu-minggu. Bila Munmun menghubunginya, dia tidak pernah mau menjawab. Tetapi tiba-tiba dia akan muncul, dan penuh dengan kejutan-kejutan, seperti kebiasaannya sejak kecil. Pernah suatu kali dia tiba-tiba membawa berita, ”Sekarang saya membuat sebuah band, namanya Bintang Utara.” Lain kali dia datang lagi dan berkata, ”Sekarang saya membuat band selingkuhan, namanya Anggrek Bulan.” Satu hari lagi dia kembali dan berkata, ”Sekarang saya mempoligami band saya, yang termuda bernama Pemuja Matahari.”

Munmun sebenarnya mulai bosan dengan pola seperti itu, ia merasa seperti pemuka agama yang harus siap mendengar masalah-masalah seorang umat, dan bila umat tersebut telah dalam kondisi normal dan mulai bisa bahagia, ia akan ditinggalkan. Dan umat itu akan kembali kepadanya bila bermasalah lagi. Cerita-cerita yang dulu ia sukai, berubah menjadi kutukan yang rutin.

Munmun pikir, ia juga punya kehidupan yang menyenangkan. Ia punya uang lebih banyak dari Sansan, punya teman-teman yang lebih pintar dari Sansan, punya keluarga yang lebih lengkap dari Sansan, punya perasaan dan emosi yang lebih stabil dari Sansan, punya bacaan dan wawasan yang lebih luas dari Sansan. Tetapi mengapa ia masih di sini? Mungkinkah yang menyenangkan saja tidak cukup? Sehingga perlu ditambah dengan yang mengejutkan, dan itu biasanya hanya berasal dari Sansan?

Seakan menjawab pertanyaan Munmun, suatu hari Sansan mengundangnya ke sebuah kafe. Kafe itu baru. Bau catnya masih tercium, seragam karyawannya baru dan cerah, juga furnitur yang ada di dalamnya.

Baru kali ini Sansan mengundangnya ke sebuah kafe. Biasanya, mereka akan pergi bersama, makan di kaki lima. Dan di tempat makan tersebut Munmun yang akan membayar makanan, dan Sansan akan membayar minuman yang biasanya dijual di samping pedagang makanan. Pikir Munmun, curang sekali Sansan, memilih pos pembayaran yang lebih murah. Tetapi, itu sekaligus lucu bagi Munmun, ketika melihat cara Sansan berterima kasih sambil tertawa, persis seperti cara tertawa ketika kecil dulu.

Kali ini agak berbeda, sebab Sansan yang mengundang, bukan pergi bersama. Mungkinkah dia akan membayar makanan dan minuman? Atau Munmun yang akan membayar semuanya? Atau seperti biasanya, Sansan membayar minuman dan Munmun membayar makanan?

Ternyata tidak ketiganya. Ketika ia sampai, Sansan telah duduk dan di depannya ada segelas es teh.  Sansan lalu bilang pada Munmun bahwa cara memesan di kafe itu adalah langsung pergi ke kasir dan membayar. Wow, bahkan dalam urusan memilih kafe saja Sansan bisa di luar dugaan. Akhirnya, Munmun ke kasir dan membayar minumannya sendiri.

Belum sampai lima menit soda gembira berwarna merah datang di hadapan Munmun, Sansan sudah mulai berbicara. Dia mengatakan hal yang tak disangka-sangka. Ya, hal yang benar-benar tak disangka-sangka, seperti memang sudah karakternya.

Sansan ingin berpisah. Munmun yang terkejut tentu saja bertanya mengapa hal ini bisa terjadi. Sansan mengatakan bahwa mereka sudah tidak sejalan. Dia dan Munmun begitu berbeda dalam pemikiran. Sansan ingin berserah, sedangkan Munmun selalu ingin melawan. Munmun sungguh bingung apa yang hendak dilawannya, sebagaimana ia juga bingung ke mana Sansan ingin berserah.

Lalu mulailah Sansan mengurai cerita, dia selalu jadi pihak yang bercerita dan menyimpulkan, dan Munmun -semacam sudah menjadi kesepakatan di antara mereka- adalah pendengar yang sesekali bertanya. Sansan bercerita bahwa kini dia ingin sekali dekat dengan Tuhan. Tetapi semua yang ada di sekitarnya seperti menghalanginya, teman-temannya, band-bandnya, dan juga Munmun. Munmun semakin tidak mengerti, bukankah bila Sansan ingin dekat dengan Tuhan dia tidak harus jauh dari yang lain? Tapi Sansan sepertinya sudah punya keputusan, Munmun tidak ingin memaksa, walaupun hatinya terbakar dan uap api itu tiba tiba menjelma menjadi air mata. Tapi cepat-cepat disekanya, ia tidak sudi menangis di depan orang yang biasanya mengajaknya tertawa.

Sansan menyatakan dia ingin hijrah. Munmun ingin bertanya, apakah Sansan merasa kalah? Sebab kalah memaksa kita untuk pindah.

Munmun teringat cerita-cerita dari Sansan. Tentang ayahnya yang poligami dan ibunya adalah istri ketiga. Tentang ibunya yang diceraikan, sakit batuk yang menahun dan mencuci baju milik tetangga. Tentang kematian ayahnya yang meninggalkan persoalan warisan, bahwa kakak tirinya dari istri pertama ayahnya yang akhirnya berhak atas rumah bagian depan yang sebelumnya ditinggali Sansan. Dan Sansan yang sejak kecil rumahnya berada di jalan yang besar, akhirnya diberikan gang kecil yang cukup untuk dilalui motor untuk masuk ke rumahnya yang mengecil di bagian belakang. Tetapi mungkin poin sebenarnya bukanlah semua kesedihan Sansan, melainkan perbedaan di antara mereka, yang bagi Sansan, lebih besar dari berharganya keberadaan Munmun dalam hidupnya.

Tiba-tiba Munmun teringat pada lukisan masa sekolah. Ia menjelma babi itu. Ia merasa terusir dari sana, sebab di sana seharusnya ada kambing, bukan ia, babi yang mengundang tawa, babi yang kalah. Ia binatang haram dalam lukisan, juga perempuan haram bagi masa kini dan masa depan Sansan. Ia sadar, ia yang paling kalah.(*)


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung

Baca juga:
– Mimpi, Istri, dan Serigala – Cerpen Giovanni Boccaccio
– Meg dan Pria-Pria Brengsek – Cerpen Fitriana Hadi

Kunjungi juga opinisehat.com.

Bagikan artikel ini ke: