Menu
Menu

Tidak ada internet di kampung. Apa kabar kuliah dan sekolah online yang ramai dibicarakan itu?


Oleh: Armin Bell |

Pemimpin Redaksi. Anggota Klub Buku Petra dan Komunitas Saeh Go Lino. Tinggal di Ruteng. Buku kumcernya berjudul “Perjalanan Mencari Ayam”. Mengelola www.ranalino.id.


I

Tidak ada internet di kampung. Kalau toh ada, tidak semua orang tua di kampung memiliki perangkat yang memadai.

Saya memikirkan itu ketika istri saya, Celestin sedang membantu Rana, anak kami yang pertama. Celestin membacakan soal yang dikirim guru kelas Rana via WhatsApp dan Rana mengerjakannya sambil sesekali bertanya. Beberapa saat setelahnya, setelah seluruh tugas itu beres, Celestin ‘mengubah’ kertas-kertas pekerjaan itu ke file *pdf. Lalu dikirim via WA ke guru kelas III B SDK Ruteng V.

Kecuali hari Minggu dan hari libur lainnya, setiap hari Rana bersekolah dengan cara demikian. Selama masa Covid-19 ini, mereka memang harus sekolah di rumah. Sebuah keputusan yang baik sekali sebab dengan demikian tidak ada kegiatan berkumpul di sekolah dan berarti anak-anak dan para guru terhindarkan dari corona. Juga semakin baik sebab di saat yang sama orang tua yang bekerja juga mendapat kesempatan WFH. Work from Home. Orang tua dan anak-anak sama-sama berada di rumah; interaksi dan relasi yang selama ini hanya terjadi pada waktu-waktu pasca-ngantor menjadi lebih banyak terjadi. Begitu kira-kira yang dibayangkan.

Namun tentu saja yang terjadi tidaklah selurus itu. Saya dan istri saya tidak mendapat kesempatan WFH itu. Beberapa alasan, juga terkait Covid-19, membuat kami tetap bekerja sebagaimana biasa. Ke kantor. Di kantor.

Maka ‘situasi yang dibayangkan’ tidak benar-benar terjadi di rumah. Menjadi lebih sulit? Entahlah. Rasanya, mengeluhkannya pada situasi seperti sekarang ini di mana sebagian besar orang merasa menjadi yang paling menderita, bukanlah pilihan yang baik. Maksudnya, kalau kami yang ada di kota dan memiliki kemewahan akses internet yang cepat meski tak murah mengeluh, bagaimana dengan mereka yang ada di kampung?

Di kampung tidak ada internet. Kalau toh ada, membeli pulsa paket data sama sekali bukan kebutuhan terutama mereka. Hasil kebun tak bisa dijual selancar biasa sebab daya beli masyarakat menurun. Beli pulsa paket atau sabun mandi dan garam?

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) pada tanggal 24 Maret 2020 lalu menggelar jumpa pers. Judulnya: ‘Meracik Vaksin Ekonomi Hadapi Pandemi’. Dilaksanakan di Jakarta. Kepala Center of Macroeconomics and Finance lembaga itu, M. Rizal Taufikurohman, mengungkapkan situasi: virus corona atau Covid-19 berdampak terhadap indikator ekonomi makro nasional baik jangka pendek dan panjang. Salah satunya daya beli masyarakat. “Indikator yang terbesar menurun adalah indikator konsumsi rumah tangga,” tutur Taufikurohman yang juga menjelaskan bahwa skenario paling besar penurunannya terjadi pada skenario penanganan wabah covid-19 selama 6 bulan (selengkapnya dapat dibaca di sini).

Mengetahui informasi tersebut membuat saya merasa tak layak mengeluh meski sedih setiap kali melihat Celestin harus menambah energinya (terutama di bidang kesabaran–sebab orang-orang yang lelah akan lebih lekas tak sabar) agar mampu menjadi ‘guru yang baik’. “Kita masih baik, Ma. Ada internet dan gurunya tetap ‘mengajar’,” saya bilang begitu. Dalam hati saja. Saya tidak berani mengatakan penghiburan semacam itu secara langsung karena tak baik membanding-bandingkan kesusahan. Tingkat ketahanan tiap orang terhadap kesusahan berbeda-beda, bukan?

Beberapa orang merasa bahwa hidupnya berat sekali karena stok pertamax habis. Dia memikirkan nasib mesin mobilnya. Kita tidak berhak mengatakan padanya bahwa hidupnya masih lebih baik karena meski pertamax habis toh dia masih bisa isi dengan pertalite lalu mengemukakan pembanding (yang kita rasa lebih berat): banyak orang di India yang harus berjalan kaki ratusan kilometer agar bisa pulang kampung setelah negeri itu menghentikan beroperasinya seluruh angkutan publik (bdk. Arundathi Roy: ‘The pandemic is a portal’). Tingkat ketahanan (atau kemanusiaan?) kita berbeda-beda.

Yang justru saya pikirkan ketika melihat keduanya ‘belajar mengajar’ dalam aneka suasana adalah hal yang lain: setelah covid-19 ini apakah sistem pengajaran kita benar-benar menjadi baru atau akan kembali seperti sediakala? Sebut saja pandemik ini adalah benar-benar sebuah portal, mungkinkah salah satu pintu yang akan terbuka adalah sistem pendidikan kita: internet ada di semua tempat, dapat diakses dengan mudah dan murah, para guru di kampung bisa melakukan hal yang sama seperti guru di kota?

II

Zlo Florez menceritakannya kepada saya. Rapper itu kini menjadi pengajar di salah satu kampung kecil di Kabupaten Manggarai Barat. Guru SD. Yang sekolahnya juga ‘diliburkan’. Di kampung yang jaringan internetnya kembang kempis, yang smartphone tidak ada di setiap rumah, yang di rumah ber-smartphone pulsa data bukan prioritas. Apa kabar mereka selama pandemik ini?

“Kegiatan selama pandemi ini justru di kampung lebih gencar, Kae. Beberapa teman guru di sekolah kami masih intens memberikan tugas serta pengawasan ekstra terhadap anak didik karena banyak laporan dari orang tua yang “tidak sanggup” mengurus anak-anaknya di rumah (sejak ‘libur pandemik’ ini berlangsung),” cerita salah satu pentolan Rapublic Ruteng Clan ini.

Murid-murid Zlo adalah wajah paling nyata bagaimana ‘sekolah di rumah’ berlangsung di kampung-kampung. Mereka keluyuran sejak pagi sampai sore. Tidak ada pelajaran dalam jaringan (daring/online) dan karenanya orang-orang seperti Zlo harus berkunjung dari rumah ke rumah, menggelar kegiatan belajar mengajar di bawah panji-panji protokol kesehatan covid-19. “Di sini ju tiap rumah disediakan tempat cuci tangan, Kae. Makanya kami masih berani melakukan kunjungan rumah dan tidak khawatir berlebihan,” kata Zlo.

Tetapi tidak semua guru. Hanya beberapa saja yang bersemangat melakukan kunjungan rumah dan program pembelajaran selama pandemik corona. “Kenapa, Zlo?” Tanya saya.

Begini. Ini masa yang sulit dan sepertinya terlampau tiba-tiba. Saya memikirkan itu ketika pertanyaan tadi melintas. Dan memang demikian rasanya. Atau barangkali lebih sulit dari yang saya bayangkan. Ada soal hidup-mati, dalam arti sesungguhnya, yang sedang berlari di lintasan yang sama. “Selain koordinasi yang lemah dari masing-masing kepala sekolah, kemudian mungkin karena gaji juga belum diterima sampai hari ini, Kae. Sejak januari 2020. Sudah lima bulan guru komite tidak menerima gaji. Kasihan teman guru yang dua-duanya (suami dan istri) bekerja sebagai guru komite.”

Membaca pesan Zlo itu, bayangan tentang betapa hebatnya dunia pendidikan kita pasca-pandemik sebab portal baru bernama sekolah daring akan terbuka, mendadak menguap. Setelah udara menjadi bersih kembali, sebuah pertanyaan, yang semuanya ditulis dalam huruf kapital, muncul di langit: bagaimana guru komite dapat hidup?

“Kalau saya, apa yang bisa saya buat sa tetap gas, Kae. Selama itu masih mungkin untuk dikerjakan dan tidak terlalu mengeluarkan biaya banyak, paling hanya print laporan dan lembar kerja siswa, dibuat di rumah sendiri karena kantor ju tutup,” tulisnya. See? Sekolah di rumah, di beberapa tempat telah diterjemahkan sebagai liburan sekolah. Kepala sekolah pulang kampung, membawa serta kunci sekolah. Sedih? Iya! Salah? Belum tentu.

Zlo menceritakan hal lain. Yang juga saya dengar dari beberapa orang lainnya. Yang juga adalah situasi yang ada di semua kampung sejak dulu kala. Yang membuat saya terheran-heran membaca berita tentang Nadiem Makarim yang kaget ketika tahu bahwa ada banyak desa yang tidak ada sinyal dan listrik. Ketika membaca berita itu (di sini) saya bertanya: Mas Menteri ini tinggal di mana selama ini?

Zlo Florez bilang: “Kalau kesulitan guru di kampung, Kae, berkaitan dengan informasi. Baik yang dari Kementerian dan juga Dinas PKO di daerah. Mereka sering membagikan informasi lewat WhatsApp tanpa memikirkan teman-teman guru yang ada di kampung. Seperti penerbitan NUPTK yang sampai sekarang masih menjadi polemik. Penyaluran tunjangan KIAT GURU (guru di daerah yang susah dijangkau teknologi) yang tidak adil karena yang menerima tunjangan harus memiliki NUPTK, sementara penerbitan NUPTK banyak memiliki kendala. Contohnya, saya yang sudah lima tahun mengajar baru mendapatkan NUPTK Januari 2020. Sementara ada yang baru mengajar tiga tahun sudah ada NUPTK sejak tahun lalu. Mereka enak dapat KIAT GURU tiap semester sejak tahun lalu. Ami ga dango. Kami ‘kering’.”

Halooo, Mas Menteri. Misalkan pandemik ini benar-benar adalah sebuah portal, semoga salah satu yang akan terbuka adalah gerbang bernama listrik-laptop-internet untuk semua guru. Agar mereka dapat melayani murid-murid dengan baik. Murid-murid yang mereka rindukan. Yang mereka kunjungi dari rumah ke rumah selama pandemik ini.

III

Yani juga merindukan murid-muridnya. Para mahasiswa di kampus mereka. Yani adalah dosen di salah satu lembaga pendidikan tinggi di Ruteng. Di kota kami ini.

Yani merasa, ada atmosfer yang hilang oleh karena seluruh kuliah di tengah wabah ini harus berlangsung dalam jaringan. Kelas yang juga tidak berjalan terlampau efektif di tempat di mana internet, di mata para mahasiswa, masih dilihat sebagai sesuatu yang mewah. Infrastruktur untuk proses kuliah daring/online sudah ada, tapi daya ekonomi peserta didik ‘belum sampai di sana’.

Itu belum digabung dengan soal lainnya. “Tanpa tatap muka, fungsi kontrol langsung sebagaimana yang sering dilakukan sangat sulit dijalankan. Apalagi kalau peserta didik kurang proaktif atau belum ada kesadaran akan pentingnya kegiatan belajar mengajar. Kadang tidak ada proses timbal balik. Mahasiswa tidak bertanya sehingga pengajar tidak tahu bagian mana yang masih belum dipahami mahasiswa. Kalau tatap muka, ekspresi mahasiswa setelah penjelasan bisa menjadi petunjuk bahwa mereka menangkap hal yang diajarkan atau tidak,” kata Yani.

Saya menulis ini, sebagai peringatan akan Hari Pendidikan Nasional tahun 2020, dengan bayangan tentang pidato heroik pada pembesar di mana saja mereka sempat bicara: “Kita sudah masuk ke era 4.0. Di mana teknologi akan mengambil alih dan kita harus berjuang mengendalikannya dengan baik! Yang berhasil akan keluar sebagai pemenang!” Mereka mengatakan itu dengan tangan dikepal dan senyum dikembang. Mereka mungkin tidak pernah tahu, tidak ada internet di kampung.

Semoga pandemik ini membuka gerbang yang itu. Yang di sebelahnya kita akan berjumpa dengan tulisan besar: TIDAK ADA INTERNET DI KAMPUNG, BANGSAKU! Merdeka. (*)


Foto: Zlo Florez dalam salah satu kegiatan belajar mengajar “kunjungan rumah”. (Ps: Karya Zlo Florez bersama Rapublic Ruteng Clan dapat dinikmati di sini).

Baca juga:
– Jangan Malu dan Menyesal Hanya Karena Resolusi Tahun Lalu Gagal
– Masa-Masa Emas

Bagikan artikel ini ke: