Menu
Menu

Resolusi menjadi kata yang tidak lagi ingin dikatakan oleh seorang teman setelah beberapa tahun terakhir dia hanya mengulang-ulang resolusi yang diniatkannya pada tahun 2015.


Oleh: Armin Bell |

Pemimpin redaksi bacapetra.co. Tulisannya yang lain dapat dibaca di ranalino.id. Dua buku kumpulan cerpennya adalah “Telinga” (2011) dan “Perjalanan Mencari Ayam” (2018).


Karena catatan ini disiarkan menjelang pergantian tahun, maka saya sungguh berharap agar kita bersepakat bahwa resolusi yang dibahas hari ini adalah yang bermakna niat atau harapan yang sungguh-sungguh dari pribadi seseorang.

Ya. Penting rasanya mengingatkan soal itu di paragraf awal agar perbincangan tentang resolusi ini tidak membuat kita memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan tingkat ketajaman gambar yang dihasilkan oleh pencetak atau monitor, yang merupakan arti kata itu di bidang komputer. Jangan pula berpikir tentang proses atau tindakan memisahkan materi seperti senyawa kimia atau sumber radiasi elektromagnetik ke dalam bagian penyusunnya. Yang itu juga arti kata resolusi, tetapi di bidang yang lain; jelas tidak berhubungan dengan tahun baru.

Resolusi sendiri, selain arti di bidang komputer dan fisika tadi, dalam KBBI juga berarti putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal. Ini arti pertama sebelum dua yang lain tadi. Dalam tafsir sesuka hati, bolehlah kalau arti resolusi yang pertama inilah yang jadi dasar lahirnya makna ‘harapan yang sungguh-sungguh’ tadi.

Anggaplah begini. Setelah melakukan rapat dengan dirinya sendiri, yang diwarnai oleh perdebatan-perdebatan dengan diri sendiri, seseorang, melalui proses menimbang dan memperhatikan, kemudian memutuskan sebuah niat. Dan berhubung ‘rapat internal’ itu dilakukan menjelang akhir tahun karena diniatkan sebagai momen evaluasi pencapaian setahun, maka resolusi itu lalu disampaikan pada malam pergantian tahun: niat atau harapan yang sungguh-sungguh tentang hidupnya pada tahun yang baru nanti.

Namun, oleh karena resolusi (tentang tahun baru) yang lebih sering tidak terwujud, kata itu tidak lagi ingin dikatakan oleh seorang teman. Beberapa tahun terakhir, dia hanya mengulang-ulang resolusi yang diniatkannya pada tahun 2017. Persis seperti yang ada di meme-meme: resolusi tahun 2020 adalah mewujudkan resolusi tahun 2019 yang merupakan resolusi saya pada tahun 2018 yang saya niatkan sebagai penegas dari resolusi saya di tahun 2017. Duh! Kok kita sama ya?

Maksud saya, resolusi yang saya niatkan dapat terwujud pada tahun 2020 adalah menyelesaikan novel. Novel itu, cikal bakalnya telah ada pada tahun 2013. Skemanya dimantapkan pada tahun 2014. Tahun 2015 adalah kesempatan pertama saya memasukkan itu pada daftar resolusi awal tahun. Sejak saat itu, setiap tahun, termasuk awal tahun 2019 kemarin, saya mengulang-ulang mengungkapkan niat itu pada setiap malam pergantian tahun. Ternyata belum berhasil. Maka saya, tidak seperti teman saya tadi yang dengan segera menjadi malu, mengungkapkannya lagi kali ini. Saya merasa tidak menyesal telah mengatakannya, tidak juga malu, sebab saya memiliki alasan-alasan.

Pertama, semua orang melakukannya!

Percayalah, tidak ada seorang pun yang akan menghakimimu di akhir tahun hanya karena resolusimu, yang kau ceritakan berapi-api padanya di awal tahun, tak berhasil terwujud. Mengapa demikian? Karena tidak berhasil mewujudkannya bukanlah sebuah kesalahan dan hampir semua mengalaminya. Dia bukan kejadian tidak biasa.

Coba simak ini. Semakin banyak orang melakukannya, akan semakin dianggap benarlah sesuatu itu. Kalau toh tidak sepenuhnya demikian, bahwa ada juga beberapa orang yang berpendapat bahwa itu adalah sesuatu yang salah–korupsi misalnya, toh selalu ada pemakluman yang menyebabkan sesorang tidak lagi merasa malu melakukan atau mengalaminya: korupsi, eh, maksudnya resolusi yang gagal terwujud adalah sesuatu yang biasa dan bisa dilakukan oleh banyak orang dan olehnya karenanya dapat saja dianggap sebagai hal yang benar.

Kedua, bukan perbuatan melawan hukum!

Perbuatanmu akan dianggap melawan hukum jika kau melanggar sumpah. Sumpah jabatan misalnya. Demi Allah, saya bersumpah. Akan berlaku adil bla bla bla. Sumpah seperti itu disampaikan dengan mengangkat dua jari tangan kanan, dengan tangan kiri diletakkan di atas kitab suci, dan seorang pendamping rohani berdiri di samping kiri.

Lalu bayangkan. Yang setelah mengangkat sumpah seperti itu saja belum tentu bisa menjalankannya (dan oleh karenanya tentu saja telah melakukan perbuatan melawan hukum) tidak akan mendapat sanksi apa-apa, mengapa pula kau menyesal dan malu hanya karena tidak berhasil mewujudkan resolusimu?

Ketiga, kalau terwujud itu pasti karena kekuatan lain!

Begini. Saya berteman dengan seseorang yang selalu percaya bahwa setiap keberhasilannya adalah campur tangan pihak lain. Bahkan jika keberhasilan itu adalah hasil kerja kerasnya sendiri, dia selalu percaya bahwa pihak lain berkontribusi lebih besar pada pencapaiannya itu. Resolusinya sendiri, yang setelah dia ungkapkan lalu diikuti dengan kerja kerasnya sendiri, seperti tidak dianggap pernah ada.

Menyedihkan memang, tapi ada yang begitu. Padahal, semoga kita sepakat, tangan-tangan lain hanya bertugas membantu. Yang penting adalah tidak melakukan pekerjaan menunggu sebab hidup tidak semata perkara menunggu.

Keempat, tidak ada tahun baru tanpa resolusi!

Ayolah! Akui saja. Meski tidak kau ungkapkan, kau memilikinya dalam hati. Resolusi. Tahun 2020, saya harus punya bla bla bla. Kau mengatakan itu tepat ketika tiang listrik dipukul pemabuk tahun baru berkali-kali pada pukul 00.00 pada malam pergantian tahun. Mengapa harus menyesal dan malu hanya karena kau tidak berhasil mewujudkannya? Tahun lalu mungkin belum berhasil. Siapa tahu tahun ini bisa?

Bayangkan jika oleh karena pernah gagal seseorang lalu tidak mau mencoba lagi, apakah kau yakin akan ada sesuatu yang baru dapat ditemukan di muka bumi ini? Saya sampaikan itu pada teman saya tadi, yang memutuskan tidak lagi menceritakan resolusinya. Dia manggut-manggut. Lalu dengan malu-malu mengatakan bahwa resolusinya tahun ini adalah resolusinya tahun lalu yang adalah resolusinya tahun sebelumnya. Saya mendoakannya dengan tulus agar dia dapat mewujudkannya—melihat sejarah perbuatannya tahun ini saya menduga dia akan perlu waktu lama sekali untuk sampai di titik itu—dan mengingatkannya bahwa yang tak kalah penting dari menceritakan niat itu adalah kerja yang serius.

Kelima, ini sa pu resolusi!

Sebagai penggemar buku, saya punya resolusi di bidang itu. Selain soal menyelesaikan novel, saya berharap dapat bercerita lebih banyak tentang buku-buku yang saya baca agar orang-orang di sekitar saya menjadi tertarik lalu ikut membaca. Hal paling mulia dari cita-cita ini adalah agar hitung-hitungan tentang minat baca di negeri ini dapat meningkat. Hal paling sederhana adalah agar kelak saya punya teman ngobrol yang lebih banyak tentang buku-buku itu.

Penggemar buku yang saya maksudkan adalah orang-orang yang gemar membaca buku, yang sering mengalami sakit kepala akut ketika mereka sedang ada di toko buku—sebab tak mampu memilih buku mana yang harus dibeli agar isi dompetnya tidak mendadak raib; yang harus kucing-kucingan dengan suami/istri/pacar ketika sedang merasa lebih penting membeli buku daripada baju untuk hari raya.

Bercerita tentang isi buku-buku itu tentu saja hanya akan terwujud jika saya benar-benar membaca. Membeli buku lalu membacanya. Kalau tidak membaca, bagaimana saya dapat bercerita?

Di bacapetra.co, tersedia rubrik SAYA DAN BUKU. Dari rubrik itulah saya tahu bahwa ada buku berjudul Rumah Kertas. Ditulis oleh Carlos María Domínguez dan diterjemahkan oleh Ronny Agustinus. Dustan Obe dari Komunitas Dusun Flobamora menuliskan hasil pembacaannya dan saya lalu tertarik dengan novel tipis itu. Itu kira-kira alasan mengapa salah satu resolusi saya untuk tahun 2020 adalah dapat bercerita lebih banyak tentang buku-buku yang saya baca. Dan, sebagai yang dipercaya memimpin tim redaksi bacapetra.co, saya berharap website ini jadi tempat kita bercerita. Kirim tulisan kalian untuk rubrik baik ini. Ayo!

Saya pikir, saya tidak akan menyesal dan malu jika di tahun 2021 nanti saya mengulang hal yang sama. Toh, sudah semestinya begitu. Toh, website ini juga baru terwujud bulan Maret 2019 padahal niat seperti ini sudah lahir di kepala para redaktur sejak bertahun-tahun silam. Beberapa hal memang harus berulang-ulang diungkapkan. Agar dia benar-benar yakin. Misalnya: Sa sayang kau! Sa mau jadi kaup pacar! Kali ini sa tir menyesal dengan sap pilihan; sa pilih kau! Bukankah begitu, Mar? Eh? Kalau tir berhasil, masih ada tahun depan. Untuk itulah kita wajib berdoa: semoga diberi umur yang panjang.

Selamat tahun baru. Terima kasih telah bersama kami selama ini. Salam banyak dari seluruh keluarga bacapetra.co. Suatu hari selepas hari ini, kita akan tertawa bersama sebab resolusi kita terwujud. (*)


Ilustrasi: Foto karya Kaka Ited

Baca juga: MINAT BACA KITA DI MESIN PENCARI

Bagikan artikel ini ke: