Menu
Menu

Masa-masa emas adalah yang dikejar banyak orang tetapi juga kadang dilewati begitu saja.


Oleh: Armin Bell |

Pemimpin Redaksi Bacapetra.co. Anggota Klub Buku Petra dan Komunitas Saeh Go Lino. Tinggal di Ruteng. Mengelola www.ranalino.id.


Beberapa bulan lalu, Daeng Irman, desainer grafis kami yang selera warna dan komposisinya mengagumkan itu, mengusulkan agar sekali-sekali, soal musik dibahas di Jangka.

Saya mengangguk saja ketika mendengar usulan itu sebab ada ribuan lagu yang saya kagumi di dunia fana ini sehingga memilih (katakanlah) satu lagu untuk diutak-atik sebagai bahan tulisan tentu akan membutuhkan waktu yang panjang. Belum lagi jika soal mood ikut dibawa-bawa; saya sedang ingin menulis tentang lirik-lirik yang gelap tetapi nasib baik sedang menimpa saya sehingga saya ceria sepanjang satu pekan, juga sebaliknya. Akan susah sekali, bukan?

Ini belum sampai di satu soal pelik lainnya, yakni soal tir enak hati. Bayangkan! Usulan itu datang dari seorang OI. Di sela menyampaikan ide (yang dia anggap brilian) itu, Daeng Irman nyanyi lebih dari sepuluh lagu Iwan Fals sekali duduk. Dia pilih dari beberapa album. Mulai dari Sore di Tugu Pancoran (1985), Wakil Rakyat (1987), Antara Aku, Kau dan Bekas Pacarmu (1988), dan lain-lain.

Biasa saja sebenarnya kalau dia menyanyikannya dengan cara yang biasa-biasa sebagaimana biasanya. Namun, entah dalam rangka mengintimidasi—agar jika memutuskan bahas soal musik di Jangka saya tir bole lupa Iwan Fals—atau karena alasan lainnya, Daeng menyanyi sepenuh hati sekali rasanya. Lengkap dengan penghayatan paripurna ketika menyanyi: tutup mata, sedikit mendongak, sesekali angkat tangan kanan dan acungkan dua jari, telapak tangan kirinya menebah dada.

Saya, yang malam itu pegang gitar, serentak heran, mengalami disorientasi: apakah kami sedang ada di sebuah persekutuan doa? Intimidatif sekali momen itu, yang untungnya tidak berlangsung sepanjang malam. Beberapa saat setelahnya kami segera berpindah topik. Tentang masa-masa emas. Bahwa, seseorang, siapa saja, pasti pernah punya masa-masa emas dalam hidupnya: dia berkarya dengan energi yang sangat baik, bekerja di dunia yang dipahami dan disukainya, mewujudkan apa yang menjadi ‘cita-cita terdalamnya’, dan bahagia.

Hanya saja, tidak semua orang memiliki kesadaran yang baik soal masa-masa emas itu. Entah karena merasa bahwa ’emas’ yang dia miliki tidak secemerlang kemilau emas di kebun tetangga atau karena orang-orang di dekatnya merasa bahwa ‘dia tidak sedang diselimuti emas’, beberapa orang melewati masa emas mereka begitu saja. Lalu menyesal. Kemudian menangis sebab dari kotak ingatan mereka keluar sebuah puisi. Puisi Ali Hasjmy, “Menyesal”:

Pagiku hilang sudah melayang,
Hari mudaku sudah pergi
Kini petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi

Aku lalai di hari pagi
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu, miskin harta

Ah, apa guna kusesalkan
Menyesal tua tiada berguna
Hanya menambah luka sukma

Kepada yang muda kuharapkan
Atur barisan di hari pagi
Menuju arah padang bakti.

Lalu saya ingat Alexis. Yang menumpang di kapal Zeta, meninggalkan Pulau Mauritius karena ingin mencari harta karun di Pulau Rodrigues. Sebuah pencarian yang panjang, tiga puluh tahun lamanya, sebelum akhirnya tokoh ciptaan Jean-Marie Gustave Le Clézio dalam novelnya “Mencari Emas” itu sadar bahwa harta karun (emas) tidak pernah jauh; ada dalam diri.

Beberapa pekan setelah Daeng Irman menyampaikan usulan itu, Kaka Ited datang. Malam-malam.

Kaka Ited adalah teman dari masa tir enak: zaman SMA. Tir enak buat saya karena jadi anak kampung yang sekolah di kota. Awalnya begitu. Sebelum kota Ruteng menjadi asyik-asyik saja bagi saya karena anak kotanya, si Ited itu, punya selera musik yang (menurut saya) bagus. Itu tahun ’90-an akhir. Dewa 19 sedang bagus-bagusnya dan Ited adalah salah satu dari sedikit sekali penggemar pukulan drum Wong Aksan (Aksan Sjuman) ketika sebagian besar remaja di kota kami ramai-ramai membeli poster Stinky dan berlomba-lomba menghafal lagu Paint My Love-nya Michael Learns To Rock.

Ketika Ited datang, saya sedang mendengar “Aku di Sini Untukmu”, salah satu lagu Dewa 19 dari album Pandawa Lima. Dan jadilah, malam itu, sebab merasa Pandawa Lima adalah album terbaik Dewa 19 (selain Terbaik-Terbaik—kami tidak lupa peran Rere Reza di bagian ini), kami berbagi cerita tentang masa-masa emas; Dhani mengalaminya ketika menggarap dua album itu.

Obrolan berlanjut, dengan topik yang sama, tetapi dengan tingkat yang rasanya lebih serius: bagaimana menyadari masa-masa emas? Alexis memerlukan waktu tiga puluh tahun. Yang lain mungkin hanya butuh setengah waktu Alexis. Ada yang bahkan hanya perlu sedetik. Tak ada takaran pasti. 

Ada yang tentu saja menyadarinya; saya sedang emas sekarang. Yang jadi soal adalah bagaimana bertahan? Godaan media sosial, berikut dorongan agar mendapat pencapaian-pencapaian baru demi like, membuat kita tidak sempat beristirahat. Setiap hari adalah kerja-kerja penciptaan: membuat karya baru sebagai pernyataan eksistensial (baca: pengumuman bahwa saya tetap ada).

Kemudian situasi menjadi semakin rumit. Oleh karena dorongan mendapat ratusan like, kita menjadi kompromis(?). Karya-karya diciptakan berdasarkan permintaan pasar. Ketika selera pasar berubah dan kita telah tua dan lelah tetapi  menolak beristirahat, kita tahu apa yang kita hasilkan; masa-masa emas raib begitu saja. 

Hari sudah larut. Anjing melolong. Ingin kawin. Kita bisa apa?

Beristirahatlah. Tiba-tiba saja udara penuh nasihat itu. Bahwa seseorang, untuk menyadari masa-masa emasnya, perlu (baca: harus) sejenak mengambil jeda. Menonton karyanya dari jauh. Misalkan itu emas, dia akan tahu apa saja yang telah dia lakukan untuk tiba di titik itu: sebuah titik sadar.

“Terlampau sering “berkarya” membuatmu berjuang terlalu keras agar tetap diakui ada, dan semua yang “terlalu” itu tidak baik.” Ada suara begitu di udara. Dan saya tetap tidak ingat lagu-lagu Iwan Fals yang dia buat setelah tahun ’90-an. Sa minta maaf, Daeng!

Semua orang wajib memastikan: kapan su sap waktu emas? (*)


Baca juga: JANGAN MALU DAN MENYESAL HANYA KARENA RESOLUSI TAHUN LALU GAGAL.

Bagikan artikel ini ke: