Menu
Menu

Bunyi dentuman logam terdengar nyaring di siang yang teramat sepi. Benda tipis nan solid itu kini telah menyatu dengan daging. biru


Oleh: Nariyati |

Alumnus Sastra Indonesia, UI. Saat ini sedang sibuk mengisi waktu dengan menulis.


“Ayah menyuruhku kawin!”

Galang. Namanya Galang Gagah.

Siapa yang menyangka jika tragedi mengerikan itu justru diawali dengan tiga kata sederhana.

Tak seperti hari-hari biasa, saat itu Galang tampak muntab. Ada tumpukan gundah yang tak mampu lagi ditampungnya. Maka, dengan tekad untuk keluar dari masalah yang menjeratnya selama dua tahun belakangan, ia mendatangi sang kekasih. Bukan oleh-oleh ataupun buah, melainkan telah ia siapkan di saku celana, sebuah kabar kurang sedap yang sudah hampir masak. Tinggal menunggu waktu bagi mereka berdua hingga kabar itu siap untuk disantap dan menjelma menjadi lemak jahat yang dinamakan realita.

“Lantas?” Tanya sang kekasih.

“Kau tak mau menahanku?”

“Lebih baik kau turuti Ayahmu.”

“Kau mau aku menikah?”

“Aku tak peduli kau mau melakukan apa.”

“Kita? Bagaimana dengan kita?”

Toko material itu sedang sepi. Etalase penuh dengan kaleng cat, balok kayu, dan lempeng logam yang bertumpuk-tumpuk. Tugas si kekasih adalah melakukan hitungan. Ia terus mengolah angka dengan jemari dan intuisi di kepalanya. Namun, keberadaan Galang yang hanya berjarak tiga langkah, telah mengacaukan semua. biru

Ditatap olehnya lelaki itu dalam-dalam.

“Dengar ini baik-baik, kita adalah kesalahan! Kita bukanlah apa-apa! Pergi dan jangan ganggu aku bekerja!”

Galang ternganga tak percaya.

“Kesalahan?”

“Kau tak dengar?”

Katakan itu pada dirimu yang mabuk berat tempo hari dan merengek untuk dikasihi. Katakan kalimat itu sekali lagi pada ranjang atau plastik yang sesak dengan air mani kita berdua saat malam akan berganti pagi. Atau katakan hal yang sama pada pernyataan cinta yang berulang kali kau ucap kala matamu sedih namun jantungmu tak kuasa mengingkari.

“Aku dengar, tentu saja. Hanya tak menyangka kau dapat mengucapkannya dengan mudah.”

“Pergilah sekarang. Aku sedang bekerja.”

Galang tak sudi beranjak. Ada urusan yang belum tuntas dan menuntut sudah.

“Namanya Tari. Perempuan yang akan kunikahi.”

“Aku tak peduli.”

“Lulus S1 dari kampus ternama. Sekarang bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan besar. Kulitnya putih bersih. Bibirnya pucat penuh. Alis dan bulu matanya rimbun. Cantik. Tapi, kau, di antara semua orang adalah yang paling tahu kalau aku tak pernah menyukai perempuan sebagaimana aku menyukai dirimu atau lelaki lain yang terdahulu.” biru

Kalimat itu adalah prolog dari permintaan belas kasih yang tersirat, Galang tengah mengemis dan memelas agar dirinya dilepaskan dari jerat matrimoni dengan orang yang sama sekali tidak ia cinta. Tangannya kini menggapai udara, berusaha keluar dari lilitan air bah yang akan menenggelamkannya bulat-bulat.

“Kau mau aku menikah?” Setetes air jatuh dari sebelah matanya yang kanan.

“Terserah.”

“Kau mau aku membagi kemaluanku dengan siapa saja?”

Sang kekasih tetiba murka, “Dengar, bajingan! Kau dapat menikahi perempuan, kerbau, atau keledai. Sialan, kau dapat menikahi liang! Aku tak peduli. Jangan datang padaku lagi!”

“Kalau begitu, apa yang bisa membuatmu peduli?”

Galang tak mengira bahwa kalimat itu akan membawanya pada kehancuran.

“Kau mau tahu?”

Galang mengangguk.

“Benar-benar ingin tahu?”

Mereka dikuasai hening yang sangat keras. Dua pasang bola mata yang legam saling adu bebal dan ketangguhan, siapakah yang akan menang dari pertarungan sengit di antara keduanya? biru

Sang kekasih kemudian menghilang sebentar. Ia kembali setelah beberapa saat dengan paku dan palu di tangan. Sekuat tenaga, disudutkannya Galang di dinding yang pucat. Lalu ia tancapkan ujung benda runcing itu tepat di bukit kecil yang menyembul di kerongkongan Galang. Katanya, dengan nada penuh ancam, “Kalau kau mau aku peduli, maka kau harus menghilangkan ini.”

Bunyi dentuman logam terdengar nyaring di siang yang teramat sepi. Benda tipis nan solid itu kini telah menyatu dengan daging. Meretakkan segala tulang, dan membuat darah mengucur deras seperti air mancur yang keluar dari pipa berlubang.

Palu masih berkali-kali dihantamkan.

Galang bahkan tak mampu lagi untuk berteriak karena rasa sakit yang luar biasa. Sebuah paku menancap di kerongkongannya. Tepat di puncak jakunnya yang getar. Benda itu merobek pembuluh dan urat-urat yang bersilangan di balik kulitnya. biru

Kau membunuhku? Sorot matanya nanar.

“Aku tak membunuhmu, aku mengubahmu.”

Sang kekasih kemudian melucuti celana yang dikenakan Galang. Meninggalkan kemaluannya terbuka dan disapu oleh sepoi angin siang. Diambilnya sebilah gergaji. Ia kemudian menunduk dan menatap mata Galang yang banjir. Katanya, “Untuk membuatku peduli, kau harus membuang ini.”

Ia menyayat bagian vital itu dengan gigi gergaji yang runcing dan berkarat. Galang terkapar di lantai. Matanya terbuka lebar. Lidahnya terjulur ke luar. Kakinya kejang.

Ia masih hidup sampai batang kemaluannya benar-benar lepas dari selangkangan. Tak ada satu kata pun yang sempat terlontar.

Galang mati.

Dalam keadaan terlampau mengenaskan untuk diceritakan kembali.

Dibunuh oleh kekasih yang paling dicintainya sendiri. biru

***

Sebuah kresek berwarna hitam tergeletak di bawah pagar. Ia pikir itu hanyalah sampah yang dibuang oleh orang tak bertanggung jawab. Tapi nyalak anjing peliharaannya tak juga reda sejak plastik itu pertama kali ditemukan.

“Siapa yang buang sampah di rumah orang lain?”

Ia hendak memungutnya dengan langkah yang gontai dan malas. Namun, di atas plastik itu, tertempel secarik kertas putih yang bertuliskan coretan tangan.

Plastik dibuka, dan ia tak kuasa menahan jeritan yang sangat hebat. Jerit yang lebih keras dari nyalak anjing atau hewan apa pun juga. Lebih pilu dari dengung musik yang mengiringi kematian. Lebih perih dari luka yang ditetesi asam. Tari menangis sejadi-jadinya sambil merasakan badannya yang mulai kehilangan daya untuk bergerak. biru..

Tertulis di sana,

Kuberikan kemaluan calon suamimu ini sebagai hadiah pertunangan kalian.

(*)


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung

Baca juga:
– Mimpi, Istri, dan Serigala – Cerpen Giovanni Boccaccio
– Pengakuan – Cerpen Ken Hanggara

Bagikan artikel ini ke: