Menu
Menu

Hujan berkemas pergi. Tak ada yang kita tunggu lagi./ Selain hanya ingin melupakan nyeri di ulu hati./ Apa pepohonan pernah merasa sakit? Khoer Jurzani


Oleh: Khoer Jurzani |

Lahir di Bogor, 22 Maret 1987. Ia memperoleh beasiswa kuliah dari STAI Al-Azhary Cianjur hingga lulus S1, saat ini aktivitasnya mengajar di SMA Pelita Madania, Sukabumi. Kaki Petani, Ode Bagi Pejalan adalah buku kumpulan puisinya yang diterbitkan Basabasi Yogyakarta pada tahun 2019.


Maharani 1*

Jika anak kita tak juga tiba, akankah kantuk menjerat cemas
______ke dalam lelap?
Seekor kucing kampung singgah ke dapur,
dan tak mendapati apa pun untuk dimakan.

Hujan masih turun, lampu yang menggantung itu matamu.
Malam menjadi juru dongeng paling bijak
ketika ketakutan mulai merayap.

Kita akan mengenang apa yang mesti kita kenang:
______Arus Sungai Sempor!
Kita tutup telinga, tutup mata kita.
Biar yang mengadu cuma angin, yang berjaga cuma dingin.

Ingatan buruk kita maknai sebagai kembang turi hanyut
ke tepi estuari. Sepanjang riak sungai
yang anak kita susuri, seekor kucing kampung berjalan
dalam sunyi hujan.

2020

.

Maharani 2

Siapa yang patut kita sebut sebagai dahan pohon?
Saat jenazah anak kita ditemukan mengambang,
kita cuma bisa membenamkan separuh
rasa sakit ke dasar parit.

Hujan berkemas pergi. Tak ada yang kita tunggu lagi.
Selain hanya ingin melupakan nyeri di ulu hati.
Apa pepohonan pernah merasa sakit?

Petang datang. Di seberang kisi jendela
kita rebah menata usia. Kau bertanya,
apa anak kita akan pulang?
Seekor kedasih telah bertengger di atap rumah.
Katamu, anak kita menginginkan sepatu.

2020

.

Maharani 3

Kita tanggalkan penyesalan di jalan becek kemiskinan.
Bukankah rasa sedih ingin kita tuntaskan
sebelum tiba fajar?

Anak kita menginginkan sepatu, katamu.
Seekor kedasih mengabarkan luka.
Dinding rumah tak pernah mengeluh basah.

Kupu-kupu kuning hinggap di setangkai mawar kebun rindu.
Anak kita tiba. Rasakan kehadirannya.
______Istriku, rasakan kehadiran anak kita.

Cinta menjelma menjadi cahaya.
______Meninggalkan ini tubuh.
Meninggalkan rumah yang nyaris runtuh.

2020

Catatan:
Yasinta Bunga Maharani adalah salah seorang siswi SMPN 1 Turi Sleman, DIY yang tewas saat kegiatan susur Sungai Sempor pada Jumat, 21-2-2020.

.

Pak Guru

Pak guru, pelajaran
cuma ruas jalan penuh
rumah-rumah kumuh.
Kami ingin bernyanyi.

Di kelas kami adalah
sebongkah nisan.
Matamu
serupa sepasang mata
induk ayam menatap
anak-anak cacing
menggeliat di halaman.

2020

.

Kau Tidur Sepanjang Hari

Kau tidur sepanjang hari.
Hujan jatuh dan rumus matematika menjauh.
Kelas demikian murung. Tidak ada angin gunung.
Kau ingin lelap di sisi sungai gunung.

Mengingat rumus matematika,
kau mengingat kelopak kamboja.
Maut gentayangan. Di luar sunyi sekali.

Kau tidur sepanjang hari.
Kelas ini: sebuah tenda pengungsi.

2020

.

Juan

Duduklah,
aku nyala tungku
buat gigilmu.
Meski hidupku
tak kunjung menyala,
tapi duduklah,
duduklah di sini,
sebelum hengkang,
menyalami dedaunan
yang digugurkan angin.

Kaubilang selamat pagi,
Kaubilang
ingin menjadi matahari.

Duduklah,
bukankah untuk tiba
di ini gerbang derita
perlu banyak sekali
kerikil sepi?

Pagi akan musnah
akan patah
dikecup retak papan tulis,
dan keringatmu yang merembes
di ujung seragam
akan menguarkan
lebih banyak
bintik merah kesedihan
dari yang pernah kaubayangkan.

2020

Pertapa Sabari

/1/
“Menjemur mata basah bagaimana Ibu,
di luar belum ada matahari.”
______“Nak, rambutmu kian layu,
kulit buah bidara lebih bercahaya.
Pantang terlihat miskin.”
“Memang kita miskin, Bu.”
“Jangan memelas, kita masih waras.”
“Seperti tak punya rumah.
Bu, aku berjalan kaki ke sekolah.”
“Buruk sekali seragammu. Ibu malu,
Kau tak punya uang saku
layaknya anak kupu-kupu.”
“Mata orang-orang mengerat mataku.
Ibu, aku tak bisa marah.”

/2/
“Seperti pertapa Sabari, tidak marah
meski mata kerap basah.”
______“Martabat keluarga luntur.
Ibu, ini belau dan detergen.”
“Bukankah kaubutuh deodoran,
kuota internet, pembalut buat luka menyayat?”

/3/
“Pernah Ibu iba pada diri sendiri?
Badan Ibu mengempis, tetes darah jatuh
dari sepasang mata rapuh!”
“Bapakmu berkhianat. Ia terlampau
cerewet pada ketakadilan hidup.”
“Ibu, Bapak hilang. Pikirannya runcing!”
______“Akhirulkalam kemiskinan, Nak,
__________akhirulkalam kemiskinan.”

2020


Khoer Jurzani Ilustrasi: pexels.com

Baca juga:
Puisi Ovidius – Amores, 1.9
Cerpen – Hikayat Kelewang Pusaka Bes Ma’tani
Jangka – Hikmah 

Khoer Jurzani

Bagikan artikel ini ke: