Menu
Menu

Hikmah bisa kita peroleh dari mana saja. Juga dari masa-masa sulit seperti sekarang ini. Meski tentu saja ada juga yang mendadak menjadi ahli kesehatan sebab begitu khawatirnya mereka oleh wabah ini, tetap saja, kita bisa mengambil hikmah dari setiap peristiwa.


Oleh: dr. Ronald Susilo |

Pendiri Klub Buku Petra, Ruteng. Menulis sejumlah artikel kesehatan di berbagai media, kini artikel kesehatan dan tulisan lainnya dapat diakses di opinisehat.com. Penanggung jawab umum bacapetra.co.


Setelah sekian lama tidak mengisi rubrik DARI RUMAH, salah satu rubrik yang diperuntukkan bagi redaktur bacapetra.co—khususnya Penanggung Jawab dan Pimpinan Redaksi, saya akhirnya diberi ultimatium untuk segera mengisi edisi bulan ini.

Saya menemukan bahwa, setelah absen cukup lama, ternyata banyak sekali yang ingin saya sampaikan, salah satunya adalah saya sedih sebab ulang tahun pertama Bacapetra yang harusnya dirayakan pada tanggal 20 Maret 2020 yang lalu, tidak bisa dilaksanakan. Kita semua berada di masa-masa yang paling tidak menyenangkan; diwajibkan untuk tetap tinggal di rumah saja, demi mencegah penularan Virus Corona.

Sebelum melanjutkan tulisan ini, mewakili Tim Redaksi Bacapetra, saya ingin menyampaikan banyak terima kasih kepada seluruh pihak, para penulis dan penyair, yang telah mengirimkan karyanya selama satu tahun ini, juga kepada para pembaca setia yang terus menikmati cerpen, puisi, ulasan, dan tulisan-tulisan lainnya di www.bacapetra.co. Mari bersama mendoakan agar Baca Petra tetap konsisten di tahun-tahun mendatang.

Covid-19

Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, saya sedih karena pada ulang tahun pertama bacapetra.co, tim redaksi tidak bisa berkumpul. Namun demikian, ada banyak sekali yang patut kita syukuri di tengah-tengah kegalauan menjalankan Social dan Physical Distancing akibat pandemi ini.

Saya ingin sekali mengajak kita semua untuk memikirkan hal-hal yang positif saja. Yang negatif gampang kita dapatkan di media sosial atau ruang obrolan di grup WhatsApp. Dan sebagaimana kita ketahui, hal-hal negatif itu lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Virus ini sungguh menyeramkan, ditambah lagi penyebaran berita-beritanya yang justru lebih menakutkan. Kita seperti diteror. Jangan panik berlebihan, tetap di rumah saja bersama keluarga tercinta.

Dari hasil bertapa selama kurang lebih dua minggu di rumah, saya akhirnya menemukan beberapa hal menarik yang saya simpulkan sebagai hikmah di balik munculnya wabah Virus Corona. Mudah-mudahan apa yang saya refleksikan ini, bisa menjadi inspirasi sahabat-sahabat Baca Petra di mana saja berada.

Pertama, Kita Jadi Lebih Memperhatikan Masalah Kesehatan

Sebelum munculnya wabah Covid-19, kebanyakan dari kita acuh tak acuh dengan cara-cara hidup bersih dan sehat. Seakan-akan yang perlu melakukan hal tersebut hanyalah orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan.

Contoh yang paling mudah adalah saat kita mengalami batuk dan flu. Walaupun sakit, kita tetap keluar rumah. Batuk dan bersin seenaknya tanpa beban, tanpa menyadari bahwa cara itu akan menularkan penyakit kepada orang lain yang ada di sekitar kita; terkadang diikuti tawa lepas setelahnya.

Contoh lain adalah, tentang pola hidup yang tidak teratur. Setiap hari begadang, tidur pada jam-jam yang sudah terlampau larut, bahkan dini hari. Keesokan harinya, badan terasa tidak enak, batuk dan flu pun mulai menyerang.

Pikiran pertama yang muncul adalah, segera ke dokter untuk mendapatkan obat. Itu pikiran yang keliru! Hal pertama yang seharusnya dilakukan adalah, ubahlah pola hidup kita menjadi teratur. Makan teratur, tidur di jam yang benar dan cukup, niscaya kesehatan akan kita dapatkan.

Di masa-masa Covid-19 menyerang seperti sekarang ini, barulah kita menyadari hal-hal semacam itu sungguh penting. Kita disarankan untuk bekerja dari rumah, banyak istirahat, makan makanan yang bergizi serta tidak lupa mencuci tangan. Akan tetapi, meskipun saran tersebut dianjurkan oleh negara, tetap saja, masih banyak orang yang merasa itu berlebihan dan memilih untuk tidak patuh.

Semakin memperhatikan masalah kesehatan, bukan berarti semua orang harus menjadi dokter atau ahli kesehatan. Cukup mempraktikkan pola hidup sehat dan bersih, sisanya biarkan para ahli kesehatan yang memikirkan.

Nah ada juga yang keliru menanggapi anjuran saya di atas. Kita memang diminta untuk peduli terhadap kesehatan, tetapi harap tidak berlebihan. Sejak adanya wabah Covid-19 ini, hampir seluruh masyarakat kita mendadak menjadi dokter, perawat atau bidan bagi dirinya sendiri, keluarga, dan orang-orang lain di sekitarnya. Bahkan ada yang mendadak menjadi ahli virus, menjadi juru bicara Kementerian Kesehatan, juga terlihat seperti perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia. Semua orang ingin bersuara! Benar bahwa, ingin bersuara untuk kebaikan orang banyak adalah ibadah. Namun, tetap harus cerdas dalam membaca dan menyebarkan berita-berita yang bukan bidang keahlian kita.

Beberapa pekan lalu, saya mendengar kabar bahwa persediaan obat klorokuin habis di pasaran. Diborong oleh mereka yang merasa telah menjadi dokter dan ahli kesehatan tadi. Menurut orang-orang ini—setelah membaca dan menonton berita dari sana sini, klorokuin, obat untuk membunuh plasmodium, bisa mengobati penyakit akibat virus corona.

Pertanyaannya adalah: apakah sudah tahu kapan klorokuin itu harus diminum? Berapa dosis yang tepat? Apa efek sampingnya? Apakah ada interaksi dengan obat lain jika dipakai bersama? Tahukah Anda bahwa dengan cara pemakaian obat demikian akan menimbulkan resitensi yang luas? Penyakit yang dulunya mempan dengan obat tersebut, bisa jadi tidak akan mempan lagi. Bakteri, virus, dan plasmodium merajalela, dan, akhirnya kita tewas karena keteledoran sendiri.

Semua berita yang belum diketahui kebenarannya disebarkan secara masif, yang terpenting siapa yang menyebarkannya paling cepat.

Contoh hoax lainnya: ada gelang dan kalung yang dapat membebaskan kita dari serangan Covid-19. Anda masih sehat? Saat ini yang kita lawan ini adalah virus! Ilmu gaib mana pun tidak akan bisa menanggulanginya.

Ada pula yang mengunggah dan atau membagikan berita-berita tentang tips mengonsumsi makanan tertentu agar tidak terserang Covid-19. Seperti bawang merah, bawang putih, serta telur ayam. Hasil akhirnya, stok bahan-bahan makanan tersebut habis terjual di pasaran. Efek kesehatan tidak ditemukan, sebaliknya efek krisis bahan makanan yang muncul. Beberapa bahan makanan memang dipercaya berkhasiat meningkatkan daya tahan tubuh. Namun, itu adalah tambahan. Hal utama yang harus kita lakukan adalah, makan teratur dan bergizi, istirahat yang cukup serta teruslah bekerja. Bekerja selain adalah ibadah, juga merupakan sumber penghasilan yang akan digunakan untuk membeli makanan.

Saya pikir, saya sudahi dulu keluh kesah ini. Saya ingin berbagi hikmah bahwa, dengan adanya wabah Virus Corona ini, banyak orang semakin sadar bahwa segala sakit penyakit, tentu ada penyebabnya. Tidak muncul begitu saja, apalagi disebabkan oleh hal-hal yang magis dan misterius. Wabah kali ini disebabkan oleh virus, bukan oleh setan, kurang berdoa atau bahkan sengaja dibuat oleh orang-orang yang membenci. Bukan. Ingatlah hal itu agar tidak terjadi gagal paham di antara kita.

Kedua, Memiliki Banyak Waktu Bersama Keluarga

Manfaat lain dari hadirnya wabah Covid-19 adalah, kita memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga yang ada di rumah. Hal seperti ini, bagi sebagian orang adalah hal yang langka dan patut disyukuri.

Coba kita bayangkan mereka yang bekerja di kota-kota besar; berangkat dari rumah sejak subuh dan balik pada malam hari saat anggota keluarga yang lain sudah tidur. Kemudian keesokan hari melakukan hal serupa, sepanjang tahun. Jadi, Work From Home merupakan anugerah indah di tengah-tengah wabah Covid-19.

Sekolah-sekolah diliburkan, anak-anak belajar di rumah bersama orang tua. Satu hari tidak masalah. Dua hingga tiga hari kemudian, orang tua mulai kewalahan. Saat itulah para orang tua baru menyadari, profesi guru adalah sesuatu yang penting. Tidak semua orang bisa menjadi guru. Itu adalah “panggilan”. Dalam hati kecil setiap orang tua, mengajar anak-anak, khususnya tingkat Taman Kanak-Kanak sampai dengan Sekolah Dasar adalah hal yang mudah. Ternyata tidak demikian. Yang kita pikir mudah itu materinya. Tetapi proses belajar mengajarnya butuh kesabaran dan napas yang panjang. Maka dari itu, bersyukurlah kita dapat memahami hal tersebut di saat-saat seperti ini.

Rasa syukur tersebut, saya nikmati dengan mulai membacakan lagi dongeng-dongeng untuk anak laki-laki saya yang saat ini duduk di kelas 2 SD. Suatu ketika, saat selesai membacakan sebuah dongeng, Michael, anak saya, mengajukan beberapa pertanyaan. Saya sedikit kelimpungan menjawabnya sebab dunia dongeng sangat berbeda dengan dunia generasi zaman ini.

“Mengapa Si Raja hutan tidak pakai facebook saja untuk mengumumkan perlombaan di hutan itu?”

“Zaman dahulu tidak ada handphone, Nak.”

“Pasti Virus Corona gampang menular di zaman dulu. Iya kan, Pa?”

“Iya, bisa jadi begitu.”

Selain lebih memperhatikan masalah pendidikan anak di rumah, masalah ibu rumah tangga juga menjadi pemahaman yang baru bagi saya. Ternyata, setiap hari istri saya harus memutar otak mencari menu masakan apa untuk sarapan pagi, makan siang, dan makan malam. Selama ini, ia tidak pernah menanyakan hal itu, dan juga tidak pernah terpikirkan oleh saya. Saya sibuk dengan urusan pekerjaan yang lain di luar rumah. Turut serta memikirkan menu masakan seperti itu, ternyata membuat kepala saya berdenyut kencang. Rupanya masing-masing dari kita, mempunyai peran penting dalam keseharian sehingga semuanya dapat berjalan baik dan lancar. Terima kasih Virus Corona, sudah membantu kami untuk memahami semua ini. Hikmah.

Ketiga, Bekerja Sama

Manusia adalah makhluk sosial. Artinya, manusia membutuhkan orang lain agar hidupnya lebih bermakna. Kurang lebih begitu kata Aristoteles, sang filsuf Yunani yang terkenal itu. Sebagai makhluk sosial, manusia sudah seharusnya memperhatikan, peduli, serta solider terhadap orang lain. Terbukti, di tengah-tengah wabah Covid-19, semakin banyak orang yang saling mengingatkan satu sama lain untuk tetap tinggal di rumah. Saling berbagi mengenai cara mencuci tangan yang benar, cara memakai masker yang tepat, dan lain sebagainya.

Hubungan antar-sesama manusia pun semakin erat. Begitu juga hubungan antar-negara. China yang menyatakan dirinya telah keluar dari cengkeraman Covid-19, mulai mengirimkan bantuan ke negara-negara lain, termasuk ke Indonesia. Ini membuktikan bahwa manusia adalah makhluk sosial, tidak bisa hidup dengan tenteram jika orang lain susah, sakit, bahkan mati.

Di sekitar kita banyak relawan yang bergerak mengumpulkan Alat Pelindung Diri untuk disumbangkan ke rumah sakit agar para perawat, bidan, dan dokter dapat menjalankan tugas dengan aman. Sementara itu, aktivis kemanusian lainnya mulai memikirkan cara untuk membantu kalangan tak mampu serta para pekerja atau buruh yang mendapatkan upah harian. Bukankah hal-hal seperti ini sangat indah? Jadi, di saat memerangi musuh yang sama, kita menjadi lebih memperhatikan, peduli serta solider terhadap orang lain walaupun kita sendiri tidak tahu kapan kita akan diserang virus ini.

Lebih dari itu semua, kita memberikan kesempatan kepada bumi, planet tercinta kita ini, untuk beristirahat sejenak dari polusi udara, polusi bunyi, dan hal-hal buruk lain yang kita hasilkan setiap harinya. Akibat virus corona menjangkiti penduduk kota Wuhan sejak Desember 2019, pemerintah Cina menghentikan semua aktivitas penduduknya, menyetop penerbangan, menghentikan kerja pabrik-pabrik yang menyemburkan polusi dan mengotori udara. Hasilnya, dalam dua pekan setelah lock down sejak 23 Januari 2020 itu, setelah 80.000 orang terinfeksi dan 3000 orang meninggal, setidaknya 200 juta ton karbon berkurang. Menurut perhitungan Carbon Brief, emisi sebanyak itu sama dengan seperempat emisi setahun yang dilepas Cina. Satelit NASA memotret udara Cina lebih bersih dibanding sebelum karantina total (sumber: Forestdigest.com).

Bayangkan, jika negara-negara lain yang mengalami pandemi ini, melakukan hal yang sama. Selain membeli waktu demi keselamatan bersama, kita juga turut serta menyelamatkan bumi yang akan dihuni oleh anak cucu kita di masa yang akan datang. Hikmah.

Keempat, Menjalankan Hobi yang Lama Tertunda

Begitu mendengar himbauan pemerintah untuk tetap di rumah selama 14 hari, tentu banyak di antara kita merasa bingung. Kebingungan itu tentu saja karena tidak tahu harus melakukan apa di rumah selama itu.

Banyak kantor membolehkan bekerja dari rumah walaupun sebagian besar masih ragu-ragu. Untuk mereka yang memang sudah terbiasa bekerja dari rumah, himbauan itu akan terasa biasa-biasa saja. Namun, tidak demikian bagi mereka yang terbiasa bekerja di kantor. Akan tetapi seiring waktu berjalan, adaptasi menghilangkan semua kekakuan itu. Kini dengan bekerja dari rumah, kita juga bisa mengerjakan lebih banyak hal lain.

Sebagian dari kita mungkin mulai membuka-buka kembali lemari penyimpanan buku koleksi pribadi. Membaca judul-judul di punggung buku sambil membayangkan isi buku tersebut. Mengambil satu dua buku untuk disampul karena sejak lama belum ada waktu melakukannya. Kegiatan lain misalnya, membersihkan rak-rak buku dari debu kemudian menaruh beberapa potong kapur barus agar tidak didekati ngengat. Tanpa terasa kegiatan-kegiatan seperti ini adalah pembunuh waktu yang baik.

Beberapa teman saya membentuk grup di Whats App yang terdiri dari empat hingga lima orang untuk mengerjakan proyek menulis. Setiap hari mereka bersepakat menulis sebanyak 1.000 kata dengan tema bebas. Hingga saat ini, mereka telah menghasilkan 15 hingga 16 tulisan yang jika dikumpulkan dapat menjadi sebuah antologi. Luar biasa. Sungguh kreatif dan produktif.

Bagi kamu yang sedang membaca tulisan ini, apa hobimu yang belum terlaksana selama ini? Barangkali sama seperti saya, mempunyai hobi membeli dan menyimpan buku tanpa pernah ada waktu untuk membacanya. Kini, sudah saatnya, kita mulai membaca buku-buku itu. Hikmah.

Selamat mengerjakan kesenangan-kesenangan kalian di rumah dan tetap memperhatikan kesehatan. Jangan lupa berdoa bagi tenaga kesehatan; dokter, perawat, bidan serta petugas kesehatan lain, agar mereka tetap sehat, kuat dan semangat selama melayani saudara-saudari kita yang terinfeksi Virus Corona.

Salam dari Ruteng!

Karot, 30 Maret 2020.


Ilustrasi: Foto Kaka Ited

Baca juga tulisan-tulisan lain Ronald Susilo:
– TENTANG PETRA, TIGA HAL HARUS SAYA CERITAKAN
– NH. DINI TELAH PERGI KE TEMPAT YANG LEBIH TINGGI DARI GUNUNG UNGARAN

Bagikan artikel ini ke: