Menu
Menu

Di novel Srimenanti ini, saya menyukai gaya bertutur Jokpin yang kaya akan diksi-diksi menakjubkan.


Oleh: Maria Pankratia |

Notulis


Seusai melantunkan tembang Asmaradana, Nasirun mengibaskan rambutnya ke kanan dan ke kiri. Saya pikir, setelah itu dia langsung melukis. Ternyata tidak. Dia duduk ongkang-ongkang di atas lincak. Saya tidak berani mengajaknya bicara, khawatir mengganggu konsentrasinya. Justru dia yang menyapa saya dengan berkata, “Kepalaku sedang penuh. Aku ingin melukis kekosongan.” (Srimenanti, halaman 23)

Setelah satu bulan membiarkan kekosongan melukis dirinya sendiri di antara kepala-kepala yang makin penuh dengan berbagai kekhawatiran akibat Covid-19, Bincang Buku Petra akhirnya dilaksanakan kembali pada 23 April 2020.

Bincang buku Srimenanti, novel pertama Joko Pinurbo yang sedianya dilaksanakan bulan Maret 2020, terpaksa diundur sebulan. Melewati berbagai pertimbangan, pertemuan dilakukan melalui aplikasi rakyat sejagat di masa pandemik ini, zoom cloud. Sayangnya, karena satu dan lain hal, Pater Wilfrid Babun yang semula akan menjadi pemantik edisi kali ini, tidak dapat bergabung dalam diskusi.

Ada sembilan peserta yang mengikuti diskusi malam itu: Armin Bell, Yuan Jonta, dr. Ronald Susilo, Hermin Patrisia, Febhy Irene, Maria Pankratia, Fr. Lolik, Alfred Tuname, Ajen Angelina, dan Daeng Irman. Dokter Ronald bertindak sebagai moderator menggantikan saya yang mengalami kendala jaringan dan hanya bisa mengikuti diskusi ketika sudah mendekati akhir. Dari sembilan peserta tersebut, hanya lima peserta yang telah membaca Srimenanti hingga selesai, sementara peserta lainnya hanya ikut menyimak dan mengomentari karya-karya Joko Pinurbo secara umum.

Hermin mendapatkan kesempatan pertama menyampaikan hasil pembacaannya. Novel Srimenanti adalah karya pertama dari Joko Pinurbo yang ia baca dan menggugah rasa penasarannya pada karya Jokpin yang lain. Menurut Hermin, novel ini sarat makna. Mulai dari sampul hingga pada permainan kata yang sangat ‘menawan’. “Pengalaman saya ketika membaca novel ini sungguh menyenangkan,” tutur Hermin.

Sejak halaman pertama Hermin takjub. Adalah frasa “wajahnya milik trauma” yang menjadi penyebabnya; bagaimana penulis ingin menggambarkan kepada pembaca bahwa apa pun yang dialami, meski disimpan rapat-rapat di dalam diri, tetap tidak bisa disembunyikan. Raut wajah mampu menjelaskan semuanya, baik itu senang maupun sedih. Frasa “wajahnya milik trauma” sendiri diambil Joko Pinurbo dari puisinya berjudul “Laki-Laki Tanpa Celana” (Selamat Menunaikan Ibadah Puisi, 2016).

Bagi Hermin, plot novel ini menarik karena penulis membuka teka-teki demi teka-teki lewat permainan kata yang asyik serta menggunakan struktur cerita bersambung. Permainan kata yang menarik itu membuat Hermin justru mengabaikan jalan cerita dan klimaksnya. Hermin mengakui, pengalaman membaca ini berbeda dari pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Beberapa kalimat yang menginspirasi Hermin di dalam novel ini, antara lain: Kebahagiaan terbuat dari kesedihan yang sudah merdeka dan kesedihan dapat digunakan untuk menggarisbawahi kebahagiaan. Juga ucapan Nasirunn: Kalau mau melukis, melukis saja. Tidak usah mikir yang rumit-rumit. Semuanya bisa dipelajarai sambil jalan. Melukis itu intinya mewarnakan gerak-gerik dan suasana jiwa. Kalimat ini mengingatkan Hermin pada Dokter Ronald—teman seperjuangannya dalam belajar menulis. Selama ini Dokter Ronald mendorongnya untuk terus menulis; “Kalau mau tulis ya tulis saja. Bagus tidaknya urusan belakangan.”

Hermin kemudian bercerita tentang proyek menulis hariannya bersama Dokter Ronald dan beberapa kawan yang telah berjalan kurang lebih dua bulan.

Selesai Hermin, dr. Ronald Susilo—yang tengah menjadi moderator dan terharu oleh kesaksian Hermin—mendapat giliran menyampaikan hasil pembacaannya. Bagi Ketua Yayasan Klub Buku Petra ini, Srimenanti ditulis dengan diksi yang indah; kita seperti sedang membaca puisi yang sangat panjang. “Dari novel ini kita memahami bahwa tidak ada awal dan akhir dari sebuah kreativitas. Berbagai topik dibahas oleh penulis di dalam novel ini, dari puisi, kopi, kesedihan, politik dan stigma yang berkembang di masyarakat, penculikan dan pengkhianatan, proses kreatif seorang seniman, relasi dalam berteman, hingga ketakutan menjadi tua,” paparnya.

Ditambahkannya, “Ada dua seniman yang menguasai dua bidang yang berbeda di dalam kisah ini, yang satu penyair dan yang satu pelukis. Masing-masing memiliki idola dan tengah menjalani proses belajar bersama mentornya. Srimenanti pada Nasirun, dan Sang Penyair pada Sapardi.”

Bagi Dokter Ronald, tokoh-tokoh di dalam buku ini digambarkan sangat menarik melalui masalah mereka masing-masing. Ada tokoh lain yang hanya ada di dalam kepala Srimenanti, Eltece. Demikian pula dengan Marbangun, kawan yang aneh dari sang narator. Cerita tentang Marbangun ini sudah pernah dibahas di Bincang Buku Petra di bulan Desember 2019 (cerpen Jokpin berjudul Ayat Kopi tergabung dalam Cerpen Pilihan Kompas 2018).

Di dalam buku ini juga terdapat simbol-simbol seperti burung berbulu biru, atau botol berisi hujan dan senja, yang kemudian bisa kita lihat sebagai ide kreatif penulis untuk terus membuat cerita di dalam novel ini berkembang hingga akhir,” tutup Dokter Ronald.

Selanjutnya, Armin Bell menyampaikan hasil pembacaannya pada Bincang Buku virtual itu. Menurutnya, novel ini sangat kuat dari sisi diksi tetapi tidak terlampau baik bangun ceritanya. “Novel ini seperti dikerjakan dengan terburu-buru. Saya khawatir ini adalah proyek penerbit dan bisa jadi akan menurunkan kekaguman kita terhadap penulis-penulis yang telah hebat di mata kita,” tutur Armin.

Menurutnya Jokpin tidak memiliki energi yang bagus untuk menulis novel. “Sebaiknya tetap di puisi,” pungkasnya.

Bincang buku kemudian dilanjutkan dengan mendengarkan hasil pembacaan dari Yuan Jonta yang mengaku bahwa saat membaca bagian awal novel Srimenanti, ia merasa agak lebay (kata-katanya). Tetapi lama-kelamaan, setelah melewati satu-dua bab, ia akhirnya mengerti, ini mungkin Jokpin punya ciri khas sudah. Selanjutnya Yuan menikmati novel ini sebagai sebuah kisah dengan gaya bercerita yang unik. “Keunikannya ada pada kata-kata yang puitis dan jenaka. Di sini Jokpin menggunakan permainan kata sebagai kekuatannya. Menarik saja, misal: pada suatu sedih,” komentar Yuan.

Ada juga gaya bercerita lain yang kemudian sangat berkesan bagi Yuan. Ketika Jokpin menggunakan peristiwa-peristiwa sepele yang terjadi di kehidupan sehari-hari, misalnya alasan terlambat waktu ke rumah Hanafi (hal. 33). Bagian-bagian ini awalnya ia anggap tidak terlalu penting, Jokpin seperti kehabisan bahan untuk bercerita. “Tetapi jika dicermati dengan baik, jika bagian tersebut tidak ada, sisi jenaka Jokpin yang kita rasakan ketika tengah membaca kisah ini malah tidak terjadi,” tutur Yuan yang merasa bahwa melalui novel ini Jokpin sedang menggambarkan hidup seniman yang sepertinya penuh dengan drama.

“Jokpin sedang menceritakan dirinya sendiri. Cara ia merekam sesuatu ketika bertemu seseorang, hal yang unik/khas itu, terpantul ke dalam dirinya sendiri. Jokpin juga memasukkan nama-nama orang terkenal, yang membuat kita terkadang bertanya-tanya, apakah mungkin kisah ini nyata? Jokpin membuat saya meyimpulkan bahwa, ia masuk dalam kategori manusia yang bisa bercanda di hadapan siapa saja tetapi tidak akan pernah dimarahi,” tutup Yuan.

Giliran selanjutnya adalah Fr. Lolik, seorang calon imam yang saat ini tengah menjalani kuliah tingkat enam di STFK Ledalero, Maumere. Lolik berasal dari Ruteng, dan selama pandemik ini, ia dan kawan-kawannya mengikuti perkuliahan dari rumah masing-masing hingga bulan Agustus mendatang. Ini merupakan pengalaman pertamanya bergabung di Bincang Buku Petra. Ia mengakui belum sempat membaca novel pertama Joko Pinurbo tersebut, akan tetapi sudah sering menikmati puisi-puisi Jokpin. Dari komentar peserta lainnya, ia membuat kesimpulan sementara bahwa, tidak ada perbedaan antara novel Jokpin ini dengan puisi-puisinya yang sudah pernah ia baca. Jokpin masih menggunakan pola yang sama di dalam puisinya untuk menulis novelnya, Srimenanti.

Tentang puisi-puisi Jokpin, menurut Lolik, kata-katanya sederhana sehingga kadang membuatnya bertanya-tanya: apakah seharusnya begini bahasa sastra? Mudah dimengerti oleh siapa saja; seringkali kita temukan kata-kata yang sama di keseharian kita tetapi tidak pernah kita sadari. “Barangkali Jokpin secara sengaja memanfaatkan sisi alam bawah sadar kita. Ketidaksadaran kita bahwa kata-kata sederhana yang kita gunakan sehari-hari itu, sebenarnya memiliki makna tersendiri. Setelah kita membaca puisi-puisi Jokpin, kita lalu mengerti bahwa, ternyata kata-kata tersebut dapat menjadi puisi yang berkesan,” ungkapnya.

Lolik kemudian menyebut beberapa kata yang akrab dalam puisi Jokpin seperti celana, sarung, burung, dan lain sebagainya. “Idiom yang Jokpin pilih, terkesan biasa saja. Namun demikian ketika kita membaca puisi-puisi Jokpin, kita dibuat tersentak. Juga sisi jenakanya adalah keunggulan yang lain, yang membuat kita terus ingin membacanya. Sebagai orang yang belajar Teologi, bicara tentang hal-hal lucu, humor atau kejenakaan, kami selalu memiliki lelucon bahwa setan tanpa kita sadari selalu masuk melalui orang-orang yang lucu. Jokpin adalah salah satunya, yang menyesatkan kita ke dalam belantara puisi,” tutup Lolik.

Febhy dan saya adalah dua orang yang cukup tersiksa malam itu karena sinyal internet di daerah kami yang kurang bersahabat. Hasil pembacaan saya dan Febhy disampaikan paling akhir dan terputus-putus. Untuk mengatasinya, saya kemudian meminta Febhy menuliskan saja hasil pembacaannya.

Berikut adalah komentar Febhy tentang Srimenanti:

“Hal pertama yang ingin saya sampaikan adalah rasa suka saya pada sampul buku novel ini. Awal melihatnya, saya mengira banyak hal termasuk: buku ini pasti akan kaya imajinasi yang lebih khusus tentang kesunyian, keheningan, perempuan, lelaki dan lukisan (sebab ada gambar kuas juga) dan burung saya artikan sebagai kehadiran sosok lelaki. Meski di awal cerita saya sedikit bingung karena tidak bisa membedakan siapa yang sedang bercerita, tetapi kemudian semua terjawab saat kita terus membacanya.”

“Membaca novel Jokpin rasanya seperti masih membaca buku puisinya. Seperti yang saya katakan di awal, buku ini kaya akan imajinasi. Namun menariknya, Jokpin justru menyelipkan karya; sajak-sajak Sapardi Djoko Damono “Pada suatu Pagi Hari” dan “Gadis Kecil” dari awal yang kemudian menjadi perantara untuk menjelaskan cerita yang ingin disampaikan Jokpin (hal. 1-2) ataupun beberapa sajak dari penyair lainnya.”

Febhy juga berpendapat bahwa sama seperti banyak tema dalam karya Jokpin, pada Srimenanti ia juga menyelipkan banyak hal sederhana yang tidak jauh dari kehidupan harian, seperti hujan, kopi, malam, jingga, dan lain sebagainya. “Jadi saya kira, novel ini adalah satu kesatuan dari semua karya yang telah Jokpin ciptakan sebelumnya yang kemudian ia rangkai ke dalam bentuk cerita yang panjang. Pada beberapa bagian, misalnya saat Jokpin berbicara tentang Kopi (Hal. 19-20) saya pun teringat akan buku kumpulan puisinya Surat Kopi,” terang Febhy.

Menurutnya, bagi yang mungkin kurang menyukai puisi, selain cerpen, novel ini seperti menjadi alternatif lain dari Jokpin untuk menyampaikan banyak hal dari apa yang telah ia tuliskan pada karya-karya sebelumnya. Febhy menutup komentarnya dengan mengungkapkan bawah Srimenanti menjadi tidak biasa: tidak seperti novel pada umumnya. “Jokpin menampilkan berbeda tanpa menghilangkan keunggulannya sebagai seorang penyair.”

Sementara itu, bagi saya, seperti biasa, selalu menyenangkan membaca karya-karya Jokpin. Hampir semua puisi-puisinya sudah pernah saya baca. Saya mengoleksi beberapa buku puisinya, tentu saja.

Di novel Srimenanti ini, saya menyukai gaya bertutur Jokpin yang kaya akan diksi-diksi menakjubkan. Saya selalu merasa seperti mendapatkan tanda heran ketika menemukan kata-kata atau kalimat ajaib yang Jokpin ciptakan dalam karya-karyanya. Akan tetapi, di novel ini, saya tidak menemukan adanya konflik yang berarti yang membuat saya terpancing untuk terus membacanya hingga selesai dalam satu waktu. Saya bisa membacanya sekarang, lalu beberapa jam lagi saya berhenti dan membiarkannya hingga berhari-hari, baru kemudian membacanya lagi.

Saya juga menemukan, beberapa bagian di dalam novel ini, diambil dari puisi-puisi lama Jokpin pada buku kumpulan puisi Celana Pacar Kecilku, dan Surat Kopi. Pada akhirnya, sejujurnya, saya lebih menikmati ketika karya-karya Jokpin dihadirkan dalam bentuk puisi, ketimbang novel seperti Srimenanti.

Novel Srimenanti karya Joko Pinurbo ini diberi bintang tiga oleh para peserta yang hadir dan membacanya hingga selesai. Buku selanjutnya yang akan dibahas di Bincang Buku Petra adalah: Tango dan Sadimin karya Ramayda Akmal, yang merupakan Pemenang II UNNES International Writing Contest 2017. Sampai jumpa di agenda diskusi berikutnya, Kamis 28 Mei 2020. (*)


Baca juga:
– Cerpen Gabriel García Márquez: Seseorang Telah Mengacak-acak Mawar-Mawar Ini
– Cerpen Bulan Nurguna: Munmun dan Sansan

Bagikan artikel ini ke: