Menu
Menu

Meskipun, saya bilang tanpa buku, saya sekarang sadar bahwa ruangan itu, kenyataannya, berisi dua ratus buku Simenon yang ayah saya kumpulkan dengan cermat dan penuh pengabdian (Javier Marías).


Oleh: Mario F. Lawi |

Menerjemahkan karya-karya sastra dari bahasa Latin, Italia dan Inggris untuk Bacapetra.co. Buku-buku terjemahannya yang telah terbit adalah “Elegidia: Elegi-Elegi Pendek” karya Sulpicia, satu-satunya penyair perempuan era Latin Klasik (2019) dan “Puisi-Puisi Pilihan Catullus“, penyair Latin Klasik pelopor puisi-puisi cinta (2019). Dua terjemahan terbarunya yang telah terbit adalah “Dua Himne” karya Sedulius, penyair Latin Kristen, dan “Ecloga I” (diterjemahkan bersama Saddam HP) karya Vergilius, penulis epik Aeneis dan penyair Romawi terbesar dari era Latin Klasik.


Seperti semua apartemen lain yang pernah saya tinggali, apartemen yang saya tempati waktu kecil penuh dengan buku. Namun, kata “penuh” tidak terlalu tepat, begitu pula kata-kata “berjejalan” atau “sesak,” karena bukan saja setiap dinding ditutupi dengan rak-rak, yang masing-masing penuh dengan buku-buku dari setiap abad yang dapat dibayangkan, tetapi buku-buku tersebut terkadang juga berfungsi sebagai permadani, meja, sofa, kursi, bahkan nyaris berfungsi sebagai tempat tidur. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa tidak ada perabotan di apartemen dan bahwa kami duduk di tumpukan buku atau makan di atas tumpukan lain yang lebih tinggi—dengan sensasi gelisah yang konsekuen karena perubahan yang terus-menerus— tetapi karpet, meja, sofa, kursi, dan bahkan tempat tidur sering terkubur di bawah buku-buku, misalnya, karya yang begitu lengkap dan kaya dari filsuf periode Renaisans akhir, Francisco Suárez. Saya secara khusus ingat buku-buku tersebut karena, suatu ketika, saya harus bergulat selama berjam-jam dengan filsuf Suárez dan Condillac untuk menciptakan ruang yang cukup lapang di lantai agar saya dapat bermain dengan tentara-tentara mainan. Ingatlah bahwa ukuran tubuh saya pada saat itu (saya berusia tujuh atau delapan) tidak benar-benar mendukung saya untuk memindahkan buku-buku tebal abad ketujuh belas atau kedelapan belas itu dari arena permainan yang tidak bersalah.

Kenyataannya, bagi saya dan ketiga saudara saya, rumah itu jadi salah satu arena halang rintang yang panjang—hampir dua ratus meter—dan rintangannya selalu berupa buku. Itulah sebabnya, sejak usia dini, saya sudah terbiasa menimbang kata-kata para filsuf dan penulis besar, dengan hasil yang jelas bahwa saya kurang memiliki rasa hormat yang mendalam terhadap siapa pun yang menulis, termasuk diri sendiri. Saya masih terkejut ketika melihat bagaimana orang lain (terutama para politisi dan komentator) bersujud kepada penulis atau berjuang untuk muncul dalam foto disertai dengan beberapa penulis atau lainnya, atau ketika negara bergegas memberikan bantuan kepada para penyair yang sakit dan hancur, mengistimewakan mereka dengan perlakuan yang hanya mendatangkan penghinaan terhadap para pembersih jalan, pengusaha, pelayan, pengacara dan tukang sepatu yang juga sama-sama sakit dan hancur. Sedikit rasa hormat terhadap kecakapan yang saya miliki (dari yang paling lawas, akademisi, hingga yang paling muda, tukang fitnah) datang dari rumah masa kanak-kanak tempat, seperti sudah saya bilang, saya tumbuh dengan salah urus dan salah pakai hampir semua teks-teks sumber sejarah budaya. Punya terlalu banyak rasa hormat terhadap jenis orang yang memurungkan masa kecil saya dan menginvasi wilayah yang saya gunakan bermain tutup botol, bagi saya, tampak sangat masokistis.

Meski kembali menggambarkan keadaan rumah masa kecil saya, semuanya tidak berhenti di situ. Maksud saya, orang tua saya, yang tidak puas dengan cinta berlebihan terhadap buku, merasakan hal yang sama terhadap lukisan. Sulit untuk mengerti bagaimana kedua cinta tersebut bisa akur, terutama ketika engkau menganggap bahwa tidak ada dinding kosong yang dapat ditemukan di rumah masa kecil saya. Kebiasaan aneh menggantung lukisan di kamar mandi dan dapur belum muncul, dan mengingat bahwa hal itu adalah kebiasaan, maka memiliki dua pembantu (juru masak dan pekerja rumah tangga yang kerap bertengkar keras), tidak mungkin orang dapat menyisihkan ruang untuk lukisan (seperti yang dilakukan oleh dokter gigi dan notaris), layaknya museum mini: satu-satunya ruangan yang bisa digunakan untuk tujuan tersebut, dan satu-satunya ruangan tanpa buku tersebut selalu diperebutkan dengan sengit antara juru masak dan pekerja rumah tangga, yang menurut hukum penaklukan misterius, selalu dimenangkan oleh sang juru masak. Meskipun, saya bilang tanpa buku, saya sekarang sadar bahwa ruangan itu, kenyataannya, berisi dua ratus novel karya Simenon yang ayahanda kumpulkan dengan cermat dan penuh pengabdian. Tentu saja, novel-novel tersebut dalam bahasa Perancis, tetapi saya kira itu adalah kasus dari apa yang kemudian disebut peringatan subliminal, sehingga juru masak dan pelayan tidak akan saling menghunus pisau saat bertengkar atau tergoda untuk mencuri benda-benda non-sastrawi saat mereka dipecat di kemudian hari. Inspektur Maigret mengawasi mereka.

Antusiasme orang tua saya terhadap lukisan membuat mereka menempatkan lukisan-lukisan yang mereka peroleh di atas buku, menggunakan cara sinting mengubah kanvas menjadi pintu gantung kecil. Gambar-gambar digantung hanya di sisi kiri, sehingga dapat dengan mudah “dibuka” untuk menampilkan buku-buku yang biasanya diselubungi. Salinan indah lukisan Kabar Gembira karya Fra Angelico yang dilakukan oleh Daniel Canellada, sejumlah lukisan Ricardo Arredondo seniman abad ke-19, sebanyak pula lukisan karya Alfredo Ramón sang pelukis dan teman keluarga kami, beberapa lukisan mini Vicente López, beberapa lukisan potret karya Vázquez Díaz, beberapa karya Benjamín Palencia dan beberapa karya Eduardo Vicente, semuanya menjuntai aneh dari rak-rak tertinggi, menghilangkan lebih banyak ruang lateral di kamar. Karena itulah, saya menjadi terbiasa melihat lukisan digantung bukan pada latar yang halus, putih, polos, tetapi dikelilingi oleh punggung dan tepi jilidan buku, yang mungkin menjadi alasan mengapa saya memiliki rasa hormat yang sama terhadap pelukis. Memang, setiap kali saya melihat lukisan di sebuah pameran atau museum, saya harus menekan dorongan awal untuk “membuka” dan “menarik keluar” sebuah buku karya Kierkegaard atau Aristoteles, seakan-akan lukisan-lukisan tersebut hanyalah pintu kotak yang menyembunyikan harta karun bibliografi di baliknya. Hanya setelah kesan pertama itu, yang mengubah setiap mahakarya menjadi pintu dekoratif kecil, saya bisa berkonsentrasi dan melihat apa yang mesti dilihat.

Kebenarannya, terlepas dari semua ketidaknyamanan tersebut, saya masih tidak dapat membayangkan tempat tinggal yang nyaman yang dindingnya tidak dilapisi dengan buku-buku dan lukisan yang menyatu, dan meskipun berbagai apartemen yang telah saya tempati berbagai negara selalu sangat sementara dan tentu saja bukan milik saya, saya tidak pernah bisa sedikit pun merasa nyaman di dalamnya, sampai saya mendapatkan beberapa buku dan meletakkannya di rak, sebuah refleksi pucat hadiah masa kecil. Baru setelah itulah saya mulai merasa tempat tersebut (baik Inggris, Amerika Serikat atau Italia) layak dihuni: sebuah apartemen terdiri atas lantai, langit-langit dan dinding, dan meskipun saya lebih suka dua yang pertama tetap rapi atau, setidaknya, dihiasi dengan permadani atau lampu, seluruh tembok harus tertutup buku-buku sehingga mereka dapat berbicara kepada saya melalui mulut tertutup mereka, melalui punggung-punggung mereka yang beraneka ragam, beraneka warna, dan begitu sunyi.

(1990)

***

Tentang Javier Marías

Javier Marías lahir di Madrid pada 1951. Ia telah menerbitkan belasan novel dan meraih berbagai penghargaan internasional. Novelnya Corazón tan blanco (Hati Begitu Putih) meraih Penghargaan Sastra Internasional Dublin. Esai di atas diterjemahkan dari versi Inggris berjudul “The Invading Library” dalam buku Between Eternities and Other Writings (2017: 24-27, terjemahan Inggris dikerjakan Margaret Jull Costa). Javier Marías


Image dari The New York Times

Baca juga:
– Antoninos Liberalis – Empat Kisah tentang Asal Mula Burung-Burung
– Esai Alberto Manguel – Suara Kassandra

Bagikan artikel ini ke: