Menu
Menu

Sungguh ini pengakuan yang mengagetkan. Tapi Che tetaplah Che.


Oleh: Margareth Ratih Fernandez |

Lahir di Kupang, 9 April 1992. Sejak 2010 menetap di Yogyakarta dan saat ini bekerja sebagai staf redaksi pada sebuah penerbit. Sejak 2018 bergabung dengan Perkawanan Perempuan Menulis, sebuah kolektif yang beranggotakan enam orang perempuan penggiat literasi dari enam provinsi berbeda di Indonesia. Kolektif ini telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen tentang pengalaman para perempuan di daerah pasca perubahan rezim 1998 yang berjudul Tank Merah Muda.


Awalnya dia menarik napas dalam-dalam di seberang sana. Lalu menghembuskannya begitu saja. Jantungku mulai berdegup tak karuan. Tak bisa benar-benar memperkirakan apa yang hendak ia ceritakan, tetapi aku diliputi perasaan khawatir bukan main.

Tinggal di pulau berbeda membuat komunikasi via telepon adalah yang paling memungkinkan untuk menjaga hubungan persahabatan kami. Biasanya kami banyak membincangkan hal-hal lucu tentang masa-masa SMA dulu. Tentang tugas-tugas aneh dari guru-guru. Tentang hubungan-hubungan cinta teman-teman kami, lengkap dengan skandal-skandalnya.

Tapi malam ini ada yang beda. Dia menelepon saat hari sudah menginjak tengah malam, tidak seperti biasanya di jam-jam tak lama setelah azan magrib berkumandang. Dan tanpa tedeng aling-aling, dia membuka percakapan itu dengan kalimat yang mengagetkan.

“Aku mau mengakui sesuatu padamu. Sesuatu yang menganggu hari-hariku sejak dulu.”

Jantungku masih berdegup tak karuan saat dia menarik dan menghembuskan napas untuk kesekian kalinya. “Kamu sudah tahu kan semua cerita tentang pacar-pacarku selama ini. Tentang relasi kami baik emosional maupun seksual. Tapi aku punya rahasia lain.”

Rahasia lain? Mungkinkah ada hubungan gelap yang dia jalani selama ini? Dia mengambil jeda sebentar. Dan dalam waktu sependek itu, aku memikirkan banyak hal. Jangan-jangan dia pernah jadi simpanan tante-tante. Atau skandal lain semacam berselingkuh dengan perempuan yang juga punya pacar, atau sejenisnya lah. Tapi itu semua buyar ketika dia melanjutkan pembicaraannya.

“Aku pernah punya hubungan juga dengan laki-laki. Sama, secara emosional maupun seksual.”

Jantungku sudah tak berdegup kencang. Tapi aku belum benar-benar bisa mencerna apa yang dia katakan. Jadilah keluar begitu saja “maksud kamu apa?” dari mulutku.

“Ya kayaknya aku suka cewek dan cowok sekaligus. Kayaknya aku biseksual.”

***

Che adalah karibku di masa remaja. Kami sudah saling kenal baik sejak kelas satu SMA. Namun baru di tahun ketiga kami benar-benar akrab, setelah kepala sekolah memutuskan untuk menggabungkan para siswa dari dua kelas jurusan Bahasa yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Che sama tinggi denganku. Badan pun tampak sama kurusnya. Tetapi kami pernah menimbang berat badan di ruang UKS dan ternyata Che lebih berat 5 kg dariku. Jarum timbangan berhenti di angka 39 saat aku menimbang badan.

Tubuh Che kurus dan gerak tubuhnya tampak seperti “nyiur melambai”, membuat Che tampak agak berbeda dari murid yang lain. Ia kerap jadi sasaran bulan-bulanan kakak kelas maupun teman-teman lelaki seangkatan kami. Waktu SMA aku belum tahu istilah catcalling. Tapi kami berdua, kerap kali mengalaminya tiap lewat di tempat-tempat yang banyak anak lelakinya. Hanya saja, kalau padaku, mereka hanya sebatas memanggil nama dan menanyakan hendak ke mana. Sementara pada Che, pelecehan bisa terjadi lebih jauh lagi. Ia kerap dicolek. Pernah di pinggang, pernah juga di dagu.

Aku tak punya banyak teman lelaki, apalagi yang bisa jadi tempat cerita hal-hal pribadi. Che hadir, membuat lingkup pertemananku lebih variatif. Akhirnya, aku punya kawan pria untuk curhat soal cowok-cowok keren di sekolah. Soal kakak kelas idola yang sempat kutaksir, tapi tak kunjung menembakku. Atau tentang adik kelas lelaki yang suka mengirimiku surat, tapi ketika kuajak pacaran malah pergi menjauh. Begitulah Che yang kekal di memori usia belasanku.

Delapan tahun berselang, tak kusangka-sangka, hubungan pertemanan kami menghasilkan pembicaraan-pembicaraan yang menarik, yang selalu jadi bahan renunganku secara personal. Che sudah jadi perawat yang tangkas dan menurutnya sendiri cukup trengginas membabat jam-jam piket malam yang melelahkan. Oh ya, dia bekerja di salah satu rumah sakit swasta di pulau terluas di timur sana. Beda waktu dua jam, tak membuat dia pantang menelponku di jam-jam istirahat manusia pada umumnya.

Salah satu pembicaraan serius di antara kami di masa-masa dewasa ini adalah; orientasi seksual. Sebuah topik yang dahulu terasa begitu tabu, tetapi di sisi lain juga begitu mudah memancing tawa kami sebagai remaja naif yang minim pengetahuan tentang hal itu. Seksualitas, secara keseluruhan, nyaris tak pernah jadi bahan pembicaraan kami dulu. Paling kami hanya membahas topik ‘naksir-naksiran’. Itu pun hanya sebatas ketertarikan tampang dan sifat-sifat yang menarik perhatian. Pada Che, aku tak pernah membicarakan bentuk tubuh lelaki-lelaki yang kutaksir. Tak pernah membicarakan bentuk bokongnya apalagi bentuk bibirnya. Apa cukup menarik untuk dipagut atau tidak. Tidak pernah. Pun sebaliknya. Che tak pernah membicarakan bentuk tubuh perempuan yang dia taksir. Bagaimana bentuk buah dadanya, bokongnya, dan lain-lain.

Tapi bertahun-tahun kemudian, tak hanya membicarakan bentuk tubuh lawan jenis yang kami sukai, kami bahkan lebih dalam membicarakan pengalaman seksual masing-masing. Ya, sampai pada malam itu, ketika tiba-tiba dia mengaku kecenderungan menyukai lelaki sekaligus perempuan.

Tetapi lalu pengakuan itu dia goyahkan sendiri dengan sebuah pertanyaan yang sangat hati-hati ia lontarkan. “Menurutmu, normal kalau aku punya ketertarikan juga ke laki-laki?”

Aku sempat diam beberapa detik. Lalu menjawabnya, bahwa sebenarnya semua orang, baik laki-laki dan perempuan, punya potensi untuk menjadi hetero maupun homo. Jadi, apa yang dia alami bukan hal buruk. Namun dia bertanya itu normal atau tidak. Mungkin memang tidak normal, tetapi itu bukan hal buruk, jawabku. Che lalu bercerita tentang petualangan asmaranya selama ini. Khususnya setelah kami tak bertemu pasca lulus SMA.

Che kemudian bercerita tentang hubungannya dengan beberapa laki-laki. Hubungan-hubungan itu ada yang dijalin bersamaan dengan hubungannya dengan perempuan. Ada juga yang tidak. Cerita-cerita yang membuatku tertawa geli. Kemudian aku sadari, aku tak pernah benar-benar paham apa yang membuatku tertawa.

Lebih jauh, Che bercerita tentang siapa saja teman perempuan kami di SMA yang kerap membuatnya “berdiri”. Tak cuma itu, aku dapat “bonus super spesial” yang tak pernah kuduga; cerita tentang teman-teman lelaki kami di masa SMA yang pernah juga memberi pengalaman seksual tak terlupakan bagi Che.

Sebut saja namanya Pandri, kakak kelas tampan, atlit voli, dan selalu wangi. Ia adalah manusia pertama yang memberi ciuman pertama kepada Che seumur hidupnya. Che menceritakannya dengan kehebohan suara yang sulit kugambarkan. Seperti bersukacita, tetapi geli sekaligus ada jenakanya, lucu dan aku hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal. Apa yang aku tangkap dari Che, semula dia tidak ingin dicium. Namun si Pandri memaksa. Hanya saja “paksaan” Pandri tidak disertai kekerasan. Sangat persuasif hingga membuat Che tak bisa mengelak keinginannya untuk dicumbu juga. Lalu terjadilah adegan itu. Bibir mereka berpagutan, di depan kapela setelah doa harian selesai. Oh iya, Che dan Pandri adalah salah dua penghuni asrama putra sekolah kami. Bukan asrama yang diwajibkan, karena untuk murid sepertiku yang rumahnya hanya berjarak 2 km dari sekolah, aku tidak masuk asrama.

Che lalu bercerita lebih jauh tentang bagaimana aktivitas seksual terjadi dalam kehidupan di asrama putra yang dia jalani dulu.  Ada kontak seksual, selain tentu saja adegan ciuman Che-Pandri. Che tidak menyebutkannya dengan gamblang meski aku benar-benar bertanya apakah kontak seksual itu termasuk penetrasi penis ke dubur atau mulut. Namun, sepertinya demikian. Anak-anak lelaki seperti Che yang kemayu dan tidak terlalu kuat secara fisik kerap jadi sasaran pelampiasan itu. Satu di antaranya ada yang tidak betah dan akhirnya memutuskan keluar asrama. Sementara yang lain bertahan saja.

Di saat Che menceritakan tentang hal ini, aku jadi ingat pernah tak sengaja melihat foto bugil seorang anak asrama putra di hp teman lelaki sekelasku yang juga anak asrama putra. Hanya saja, bangunan moral di kepalaku menuntun jempol kananku untuk menekan tombol back sampai muncul kembali layar wallpaper hp-nya.

Satu hal yang masih sibuk kuanalisa sampai hari ini adalah; kenapa Che menceritakannya sembari tertawa-tawa seolah-olah itu kenangan lucu. Padahal kalau dilihat-lihat, Che dan beberapa teman kemayu itu tampak seperti korban pemaksaan. Entahlah. Mungkin juga itu hanya intepretasiku saja karena bisa jadi mereka tidak merasa jadi korban. Atau dibuat merasa tidak jadi korban? Entahlah.

***

“Elin, kamu tetap mau berteman denganku kan setelah dengar pengakuan ini?”, tanya Che.

Aku tak langsung menjawab dan hanya mengeluarkan suara “eeeee” yang panjang sembari memikirkan jawaban apa yang paling tepat.

Tentu saja aku tidak akan menjauhi Che. Dia akan tetap jadi kawan baikku yang tak tergantikan, karena hanya ada satu temanku yang seperti dia. Aku mengatakan hal itu padanya dan dia lega, lalu mengucapkan terima kasih dengan nada yang sangat tulus.

Sungguh ini pengakuan yang mengagetkan. Tapi Che tetaplah Che. Aku sayang padanya, dan tahu di luar sana tak banyak orang sebaik dia. Mungkin suatu saat dia juga akan kaget mendengar pengakuanku. (*)


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung

Baca juga:
Usaha Memahami Pengalaman Membaca Buku Jingga
Jalan Tak Ada Ujung: Sepanjang-panjangnya Jalan adalah Ketakutan

Bagikan artikel ini ke: