Menu
Menu

Jalan Tak Ada Ujung adalah novel karya Mochtar Lubis.


Oleh: Afitasari Mulyafi |

Lahir di Tegal, 9 Maret 1998. Mahasiswa Farmasi yang selalu mengobati diri sendiri dengan menulis.


Identitas Buku “Jalan Tak Ada Ujung”

Judul: Jalan Tak Ada Ujung
Penulis: Mochtar Lubis
Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Cetakan ulang: Februari 2016
Tebal: 168 halaman

***

Sang penulis, yang juga pendiri majalah sastra Horizon ini, mungkin ingin bilang kalau ketakutan merupakan hal yang tak pernah bisa ditemui ujungnya. Ketakutan akan terus ada. Di rumah, di sekolah, di perjalanan, di tempat maupun situasi apa pun. Rasanya tidak mungkin ada seseorang yang hidup tanpa ketakutan. Mochtar Lubis menggambarkan itu pada sosok Guru Isa di buku ini.

Demikian perasaan saya ketika membaca jalan hidup Guru Isa, guru sekolah dasar yang hidup di tengah seteru peperangan. Tapak kakinya menuju sekolah dihiasi gambar nyata merah darah, laras panjang senjata, dan bunyi peluru yang melesat dari moncongnya. Hari-hari Guru Isa penuh takut, bisakah hidup ia jalani hari ini. Bukan sekadar di jalanan, Guru Isa takut juga ketika berada di rumah. Wajahnya tak pernah tegap menatap, punggungnya lebih suka merendah, langkahnya penuh ragu-ragu. Jalan Tak Ada Ujung.

Buku ini mengisahkan jalan hidup Guru Isa yang dipenuhi ketakutan. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1952, Jalan Tak Ada Ujung bertutur dengan latar peperangan pasca kemerdekaan. Di sini Mochtar Lubis menggambarkan tokohnya sebagai gerilyawan yang terpaksa ikut turun di medan tempur. Tidak seperti pejuang yang kerap saya kenali, Guru Isa menjadi sebaik-baiknya penggambaran bahwa manusia pun memiliki rasa takut sekalipun ia dikenal sebagai pejuang.

Guru Isa seperti saya atau saya seperti Guru Isa, sama saja. Sama-sama penuh dengan ketakutan. Saya takut kalau sapaan saya kepada seseorang akan mengganggunya. Saya takut kehilangan. Saya takut tidak bisa memenuhi harapan banyak orang. Saya takut keberadaan saya tidak diharapkan. Saya terlalu takut mengambil langkah. Takut pada apa pun yang akan muncul dan harus saya hadapi.

Banyak sekali ketakutan yang muncul jika seseorang hidup di bawah bayangan persepsi orang lain. Jika seseorang tidak pernah percaya pada dirinya sendiri, mungkin hidupnya hampir serupa kematian itu sendiri. Pun itu tidak menjamin seseorang akan hidup di benak yang lain. Manusia tidak akan pernah lebih peduli pada orang lain, selain pada dirinya sendiri.

Meskipun saya bilang lebih sering memikirkan orang lain daripada diri saya sendiri, tetapi sejujurnya itu bukan bentuk kepedulian saya terhadap mereka. Rasanya tidak setulus itu. Saya mungkin hanya tidak enak hati ketika harus menolak permintaan orang lain. Mungkin saya hanya tidak rela jika saya dianggap egois oleh orang lain. Saya lebih peduli pada bagaimana figur atau citra saya terpatri pada pikiran seseorang daripada kebutuhan orang itu.

Bagi saya, Guru Isa juga adalah salah satu gambaran seperti yang saya jelaskan di atas. Suatu hari Guru Isa diajak Hazil, teman dekatnya, untuk ikut bergabung dalam organisasi pergerakan. Guru Isa yang lugu, tentu tak enak hati apabila mengatakan tidak kepada teman bermain biolanya itu. Lagipula, Hazil sudah kadung ia kagumi dan ia takut kalau-kalau penolakannya akan berdampak pada relasinya selama ini.

Akan menyenangkan bertemu seseorang seperti Hazil. Sayangnya bagi seorang penakut seperti Guru Isa ataupun saya, itu berarti sama saja membuat saya menjadi tidak mengenal diri saya sendiri. Jalan Tak Ada Ujung.

Guru Isa dan Hazil memiliki kesamaan hobi menggesek biola. Mulanya Hazil bertandang ke rumah Guru Isa untuk berlatih biola. Semakin hari, intensitas bertemu semakin tinggi hingga mereka menjadi teman untuk satu sama lain. Bagi Guru Isa, Hazil adalah anomalinya. Hazil teguh berpendirian, cakap bicara, apa pun yang ada pada dirinya akan ditunjukkannya sebaik mungkin. Tak ada perasaan enggan, tak ada takut. Bagi Guru Isa, Hazil adalah apa yang ia harapkan selama ini ada di dalam dirinya. Begitu juga bagi saya pribadi ketika membaca tentang sosok Hazil.

Saya pernah mengenal seseorang seperti Hazil dan mengajukan pertanyaan bodoh seperti, mungkinkah ada ketakutan di dalam hidupnya. Saat itu ia hanya tersenyum dan hari-hari berlanjut hingga saya ketahui bahwa, baginya ketakutan itu memang ada. Ia tak jauh beda dengan saya. Perasaan kagum yang menggebu pun bisa saja luluh ketika seseorang mengetahui keburukan dengan versi lain di dalam diri orang lain. Kita semua berbuat dosa, hanya saja beda bentuknya.

Hari demi hari, Hazil bertandang ke rumah Guru Isa. Tak lagi hanya tentang biola, ia menaruh ketertarikan pada istri Guru Isa, Fatimah. Ketertarikan di antara Hazil dan Fatimah tak luput dari bibir yang berpagut bahkan desah di ranjang, tempat Guru Isa juga selalu meletakkan kepalanya untuk beristirahat. Sebuah aksioma berkata bahwa, sepandai apa pun kita menyembunyikan bangkai, akhirnya akan tercium juga. Sabda aksioma ini bertaut dengan nasib Guru Isa. Ia tahu kalau istrinya sudah berurusan soal nafsu dengan temannya. Jalan Tak Ada Ujung.

Kejadian itu tidak juga membuat Guru Isa berjarak dengan Hazil. Seakan tak apa baginya sang istri bersetubuh dengan laki-laki lain. Guru Isa hanya diam. Tahu tetapi tidak pernah ingin bertanya langsung kepada du orang terdekatnya itu. Suami dari Fatimah ini hanya menerima nasib. Bagi saya, seharusnya Guru Isa sadar bahwa ia adalah seorang suami. Jika memang kekerasan tidak ada di benaknya, setidaknya berjarak dengan Hazil dapat menjadi tanda bahwa ia masih memiliki harga diri sebagai seorang suami. Akan tetapi, ini tentang Guru Isa yang penuh rasa takut, termasuk pada kesadarannya tidak lagi mampu membuat Fatimah bahagia.

Guru Isa masih berhubungan dengan Hazil. Mereka berkomplot untuk mengebom sebuah bioskop. Demi memperjuangkan bangsa, kata mereka. Tapi mungkin sebenarnya tidak seagung itu bagi Guru Isa. Tak mungkin seseorang yang penuh ketakutan melakukan sesuatu dengan heroik. Ia hanya terus mengikuti lika-liku arus yang ada di hadapannya. Masuk bioskop dengan rasa takut, keluar dengan rasa takut. Sampai pada kenyataan Guru Isa harus mendekam di penjara karena Hazil, yang tertangkap lebih dulu, dan melaporkan tentang Guru Isa.

Guru Isa, yang tak pernah berkuasa atas kehendaknya sendiri, hidup bersama ketakutan-ketakutan. Ketakutan yang terus berkelindan, dengan sedikit harapan bahwa akan tiba hari di mana ia merasa bosan dan berhenti.(*)


Baca juga:
– Mimpi, Istri, dan Serigala – Cerpen Giovanni Boccaccio
– Membaca Musashi

Bagikan artikel ini ke: