Menu
Menu

Oleh: Iyut Fitra |

Lahir dan menetap di Payakumbuh, Sumatra Barat. Buku puisinya yang sudah terbit: Musim Retak (2006), Dongeng-dongeng Tua (2009), Beri Aku Malam (2012), Baromban (2016), Lelaki dan Tangkai Sapu (2017), Mencari Jalan Mendaki (2018).


sebuah buku pada hari pembakaran

_____bersama tumpukan yang lain ia telah diculik terang-terangan
kejadian yang berulang. barangkali telah beralaf-alaf lamanya
tembakan artileri. bom yang merubuhkan gedung-gedung
atau luas lapang tempat pembakaran. bagai kesunyian yang tersimpan
dalam brankas dingin. di antara rak-rak yang bersedih
malam itu di sela gugu burung hantu. sebuah tempat penyelesaian
ia menekur. tanpa rasa takluk dan tunduk
mendekap kata-kata dan alinea. gambar-gambar maupun sketsa
dingin berangin-angin
di depannya hantu berseragam kekuasaan, senjata laras panjang, bahkan panser
berbaris tanpa perkabungan

lembar-lembar yang gempal. halaman ingatan yang dituduh merecoki
membuka liang-liang sejarah. gua rahasia yang menyibak aib dunia
kucatatkan semua. kusimpan sebagaimana mereka menggilai kasih sayang
jika hari ini harus bertekuk
menerima akibat dari huruf-huruf. bukankah penghancuran buku serupa menutup
payung langit. unta-unta akan berjalan di dalam kelam
katanya menatap cakrawala
ia tak berdoa. tapi ia merasa bahagia

bunga api menari-nari di angkasa
kertas-kertas menghitam juga menari
tarian yang kemudian membentuk lubang-lubang aneh
lubang di kepala-kepala yang kosong
di bumi yang kosong

pada hari yang barangkali tak perlu dicatat. seketika ia ingat kota-kota
tempat aksara demi aksara menjadi abu. menjadi beku
pelan-pelan membunuh segala masa lalu

. iyut fitra

los terang bulan

_____namaku terang bulan. kuingat kekanak berlari sepanjang lorong gelap
memungut karton pemintal kain. berebut karet gelang
(kendati mereka tidak menyangka bahwa suatu saat tempat itu akan lenyap)
barangkali karena api. atau derap yang menderu menuju kota
hei, aku dapatkan gulungan sebesar teropong. di dalamnya
ada gambar masa depan!
teriak salah seorang dengan paras bimbang. setengah tersenyum
selebihnya mungkin gurat getir kehilangan
aku merasakan ada yang tiba-tiba berdarah. bagai gulungan coklat tua
warna-warni perca-perca. aku juga merasa tergolek di sebelah tong sampah
melihat wajah sendiri yang tak kutemui lagi di cermin-cermin

bau cangkul, linggis, segala besi dan bau buku-buku bekas
sesekali terdengar lengking suara penjaja. sesekali tawa bercanda-canda
pedagang menanti pembeli. atau menunggu segelas kopi dan kacang hijau
yang dipikul penggalas-penggalas tua
kutampung semua. kubiarkan segalanya bergayut pada segala mimpi

kurun demi kurun gugur bersama hitungan
lalu tahun-tahun tumbuh. dalam teropong gedung-gedung pun tumbuh
kota beranjak dewasa. kanak-kanak tak pernah lagi ke tempat itu
mungkin juga telah dewasa
untuk hari esok, hari kemarin harus dibakar
bahkan tak terkecuali hari ini. menjadi abulah bersama sejarah!
barangkali demikian bunyi surat yang tak sempat dikirimkan
aku menemukan pada runtuhan kata-kata. Juga di antara lengan yang hangus

di pasar bertingkat yang kemudian menukar sejarah
masihkah kanak-kanak mencari karet gelang dan karton pemintal kain
lalu meneropong
setiap hari semua berubah meski kenangan yang tertinggal tak bertukar
begitu kata-kata dalam potongan surat berikutnya
seolah memanggil siapa saja untuk kembali datang. ke lorong gelap itu
tempat kenangan dan harapan ingin saling berduluan

aku bersitungkin menahan tangis. aku adalah los itu. namaku terang bulan

. iyut fitra

mesin ketik

_____dalam sebuah gudang. di antara kardus-kardus, mainan rusak,
baju usang, dan tumpukan kertas. ia tertimbun kesunyian
melawan dingin dan jaring laba-laba. lama ia tak lagi berketak-ketik
teronggok bagai bangkai-bangkai tak berkutik
telah aku antarkan ribuan kata. bahkan bertimbun-timbun kata
bila arti tak sampai mengapa aku yang dipenjara? ucapnya satu ketika
bersamaan dengan huruf-huruf yang berloncatan. menggelembung di udara
menjelma kias. membentuk sayap-sayap
lalu menerbangkan barisan kalimat menuju bahasa

bahasa yang kemudian menjulur ke jalan-jalan. membangun poster
dan slogan-slogan. adalah kelahiran yang tak pernah ia harapkan
ia ingat satu ketika. sebelum perayaan perpisahan dengan selembar kertas
mereka pernah bersepakat pada sebuah pepatah
lalu menulisnya bersama; yang baik-baik dipegang mati,
yang buruk-buruk dibuang jauh
kata yang dicetak miring itu melambai-lambai sepanjang angkasa
menidurkan umur demi umur. mendewasakan ribuan para pejalan

tapi semenjak ia terkurung di gudang itu. semuanya menjadi liar
huruf-huruf, kata, kalimat, bahasa yang membentuk pepatah
semua berpanjatan menuju dinding-dinding
memeluk apartemen, gedung, kantor-kantor pemerintah,
lalu bersekongkol untuk menumpahkan darah dan airmata

mesin ketik itu memangil-manggil kertas
ia ingin menuliskan sesuatu: anak harimau bila sudah besar pun
tetaplah harimau

. iyut fitra

jam kuning gading

_____mengapa kau berjalan terlalu lamban, tanya jarum panjang
pada jarum pendek. suatu masa ketika hujan dan angin kencang
pintu-pintu ditutup. suara sirene
dari jendela wabah terus mengintip. tak sekalipun berkedip
jam itu berwarna kuning gading. sejak kapan jarum panjang dan jarum pendek
berumah di situ, tak ada yang tahu
aku justru merasa lebih cepat dari langkahmu. dari setiap hela napas
kita begitu saja menjadi tua dan saling menunggu
tidakkah kaulihat di udara setiap hari pesan-pesan keberangkatan beterbangan
tak menanti detak-detik kita
entah berapa lama sudah keinginan terkepung
loteng, lukisan hitam putih di dinding, karpet lembab,
dan sebuah gitar usang yang terbengkalai. semua menatap atau berharap
karena gerak kita adalah usia

sekali waktu aku ingin berhenti, gumam jarum pendek
tetapi matahari selalu terbit
semuanya tiba-tiba bergegas entah ke mana. adakah menuju abadi
atau hanya sekadar hidup yang pura-pura

sekali waktu aku ingin kita jalan bersisian, balas jarum panjang
bersama-sama membantah waktu yang memaksa
agar memberi kita jeda untuk berdoa

dan pada suatu waktu rindu mereka pun bertemu
jarum pendek dan jarum panjang itu berpelukan. berhimpitan
mereka bercerita tentang rasa cemas, hujan, dan angin kencang
tentang sirene dan wabah yang terus mengintip
tunggu aku, tunggu aku, teriak jarum pendek ketika jarum panjang
kembali meninggalkan
tapi sesungguhnya mereka sama-sama menuju kematian

. iyut fitra

hari tua sebuah kelewang

_____kelewang itu tergeletak di tepi sungai. telah lama
bekas darah di tubuhnya mengering. bahkan ada yang mengeras dan hitam
ia ingin membasuhnya. berharap diri kembali menjadi sedia kala
kilat dan berkilau. bersih tak berlunau
tersangkut di dinding. tidak terlibat sengketa dan huru-hara
satu-satunya rindu yang kurawat adalah tentang kedamaian, gumamnya
pada air yang mengalir
tapi sungai di hadapannya tertawa. sinis dan tidak percaya

dengan perih ia bongkar ingatan itu. bila hari telah beranjak malam
rombongan menuju parak-parak tepi sungai. atau sumur di ladang tebu
perintah dengan bermacam isyarat. sergah dalam ragam bahasa
saat itu ia tak sendiri
celurit, parang, badik (dan mungkin pelor) juga telah menunggu
merih-merih pasrah tiada berdaya. merih-merih menanti ajal tiba
lalu di sepanjang sungai mayat-mayat tanpa kepala mengambang
sebagian dengan paras tersenyum. selebihnya mungkin mengumbar dendam
kemudian dari jauh terlihat api berkobar. seolah menyempurnakan sebuah pesta

begitu setiap malam. pada bulan-bulan kelam
ia pergi dan kembali dini hari
kadang tak sempat menyelesaikan airmata
karena mayat-mayat yang mengambang tanpa kepala adalah saudara
atau tetangga
sudah lama aku ingin melupakan. tapi bayangan-bayangan terus mengejar,
isaknya pada hari-hari tersisa yang tak lagi bermakna

kelewang itu tergeletak di tepi sungai. telah lama

. iyut fitra

stasiun parit rantang

_____matahari baru mula naik. aku berangkat! ucap sebuah kereta api tua
kepada stasiun yang telah menjaganya sejak lama
di udara asap hitam berlambai-lambai. seolah mengucap perpisahan pada loket,
bangku-bangku, juga para pengantar yang telah menyiapkan airmata
dan sang induk pun langsir sebatas tulisan satu spur awas kereta api
rambu yang bersilang. cat hitam yang mulai coklat karat. tepatnya di tonggak bendera
jaga gerbong-gerbongmu, manusia selalu ingin menguasai benda-benda
kata stasiun ketika keberangkatan itu terjadi juga
angin memiuh. dada-dada terasa lintuh

lalu deretan paku 4-5 cm. leleh aspal yang disebut palangkin
sepanjang rel anak-anak membuat pisau mainan. merebut masa kecil
sorak-sorai berserak-serak bagai rambai. tanpa perduli kereta menuju ke mana
ke kota atau ke sebuah masa
kelak semua akan dikisahkan sebagai sejarah.

lalu diburu pohon-pohon. hamparan hijau-kuning sawah
petani-petani bertopi pandan menghadang matahari. bercerita tentang harga pupuk,
hama, serta utang yang membelenggu
burung-burung terbang rendah. menyusu di rumpun padi
menabung ragam-macam mimpi

lalu lubang kelam. zaman-zaman masih berpenyamun
kereta api tua makin menjauh. memasuki dan meninggalkan kota-kota
derap besi beradu-adu menjelma sajak. bunyi kata-kata
catatlah namaku, ucapnya pada sebuah stasiun persinggahan
kelak akan tiba segala sesuatu menjadi tak ada
kelak akan tinggal alamat dan nama saja

beberapa tahun setelah keberangkatan itu. setelah perpisahan itu
stasiun yang dulu melepas kepergian kereta api tua
tak pernah menyambutnya lagi
kereta tak pernah kembali
selain lengking sayup-sayup dibawa angin; manusia selalu tergesa!

. iyut fitra

kepadamu kami bicara

_____kami adalah desing peluru, barisan pedang, dan tajam tombak
ditunggangi bagai kuda di gelanggang. dengan berbagai lagu perang
kami tak boleh bersedih. jangan bersedih!
sebab perintah, pesan singkat yang dibawa selembar telegram, atau telepon
yang berdering sebelum subuh. adalah airmata dan penyesalan
yang harus disingkirkan
di udara kabut menebal di antara awan yang pucat. para perempuan menangis
berjalan menuju hutan-hutan. atau pengungsian
meninggalkan rumah-rumah yang terbakar
mimpi yang terlantar

kami adalah meja, kursi-kursi kantor, dan map-map yang tersusun rapi
setiap hari terdengar perundingan. bahasa-bahasa rahasia
disimpan dalam gedung tanpa ventilasi. hanya udara terasa dingin
sedingin peristiwa demi peristiwa yang kemudian diciptakan
kami diminta menutup mata
sebab bicara adalah kata-kata yang dekat dengan penjara

kami adalah wabah-wabah yang dijaga
di pintu dan jendela yang terkunci. segala terus menetas
menyemai kecemasan dan kematian. membelenggu akal dan pikiran
jadi teror. menjadi malam-malam ganjil kehilangan harapan

kami adalah mata pelajaran sejarah yang tak boleh diubah
dimana angka-angka telah ditetapkan. tempat-tempat dikeramatkan
lagu tentang pahlawan berkumandang dari pagi hingga petang
di antara deretan nama-nama yang dilupakan

kami adalah truk sampah setiap pagi, sapi yang dihela bajak,
domba-domba kurus, stasiun penuh lalat, tanah bersengketa,
rumah-rumah digusur, halaman kantor parlemen,
pos ronda yang ditinggalkan, peti mati, dan mungkin trumpet terakhir
membelah angkasa. dimana telinga demi telinga mendadak tuli

kami adalah mulut yang teramat banyak
berhenti menganga dan letih berteriak. karena podium berdebu
kami telah bisu

kami adalah puisi-puisi yang tak pernah diberi arti
meski kami datang dengan hati

iyut fitra


Ilustrasi: Photo by Vlad Bagacian from Pexels

Baca juga:
– Boko dan Wakyat: Cerpen yang Menyindir…
– Nampan dari Surga – Cerpen Yusuf Idris
– Menyerbu Perpustakaan – Esai Javier Marías

Bagikan artikel ini ke: