Menu
Menu

Tiba-tiba pintu dibuka dan masuklah seorang pria muda. Entah bagaimana, aku tahu bahwa ia jugalah seorang buruh ….


Oleh: Surya Gemilang |

Lahir di Denpasar, 21 Maret 1998. Saat ini ia sedang menjalani tahun terakhir kuliahnya di Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta. Buku-bukunya antara lain: Mengejar Bintang Jatuh” (kumpulan cerpen, 2015), “Cara Mencintai Monster” (kumpulan puisi, 2017), “Mencicipi Kematian” (kumpulan puisi, 2018), dan “Mencari Kepala untuk Ibu” (kumpulan cerpen, 2019). Karya-karya tulisnya yang lain dapat dijumpai di lebih dari sepuluh antologi bersama dan sejumlah media massa, seperti: Kompas, Koran Tempo, Suara NTB, Bali Post, Riau Pos, Basabasi.co, dan lain-lain.


1/

Aku menemukan rumah tua berukuran kecil ketika sedang berjalan-jalan entah atas tujuan apa di padang rumput ini. Penampakan rumah itu membuatku mual. Namun aku merasa tak memiliki pilihan lain selain masuk ke sana, berhubung hujan tampaknya akan tiba tak lama lagi, dan kehujanan bukanlah hal baik sebab demam membuat pekerjaanku di pabrik besok menjadi semakin tak menyenangkan.

Di dalam rumah ini hanya ada satu ruangan, berbentuk balok. Berdasarkan ukuran rumah yang kulihat dari luar, ruangan ini jauh lebih besar dari yang seharusnya dapat ditampung rumah ini. Langit-langitnya tinggi sekali, dan di permukaan langit-langit terdapat tanaman rambat yang bebunganya warna-warni—istriku pasti akan senang jika kupetikkan beberapa buatnya, tapi aku yakin tak akan bisa menggapai bunga-bunga itu.

“Temani aku bermain, Pria Muda,” kata seorang wanita tua yang duduk di kursi roda, menghadap sebuah meja di tengah ruang.

Di atas meja itu terdapat papan catur. Berhubung aku lumayan suka catur, aku segera berdiri menghadapnya—ya, berdiri, sebab tak ada kursi untuk kududuki. Tetapi ada yang salah dengan buah-buah catur itu: kesemua buah putih, yang akan kumainkan, terdiri dari pion; sedangkan kesemua buah hitam terdiri dari menteri.

Tiba-tiba wanita tua itu menggerakkan salah satu menteri untuk membunuh salah satu pionku.

“Hei! Harusnya saya mendapat giliran pertama!” Protesku.

“Ini papan caturku, dan akulah yang membuat keputusan,” balasnya, tanpa perasaan bersalah. “Sekarang, giliranmu.”

Kemudian aku tersadar: sang wanita tua mengenakan kalung dengan liontin emas berbentuk buah catur raja. Liontin itu seketika membuatku merasa tak berdaya.

Aku segera mengalihkan fokus dari kalung wanita itu.

Aku pun membunuh menteri yang barusan membunuh pionku.

Ia membunuh pionku lagi.

Aku membunuh menterinya lagi.

Dan begitulah terus, sampai akhirnya pion-pionku berada dalam posisi yang tak memungkinkan untuk membunuh. Maka, tinggal menunggu waktu sampai para menteri menghabisi para pionku.

“Menyerah?” Tanya wanita tua itu.

Aku mengangguk.

“Nah! Sebagai gantinya, kau harus memetik bunga-bunga di atas sana untukku.”

“Apa? Tapi itu tinggi sekali!”

“Melompatlah!” buruh

Aku tahu aku tak akan bisa. Tetapi aku merasa lidahku kaku ketika hendak memprotes. Maka, aku melompat setinggi yang aku bisa … dan ternyata tak seberapa tinggi.

“Tarik napas yang panjang,” kata sang wanita tua, “tahan, lalu lompatlah!”

Aku mengikuti instruksinya. Dan, astaga, aku melompat tinggi sekali! Tanganku berhasil memetik sekaligus beberapa tangkai bunga di langit-langit! Namun, saking tingginya aku melompat, pendaratanku begitu mengerikan, sampai aku tergeletak di lantai tanpa bisa bergerak lagi. Bunga-bunga yang kupetik pun berserakan.

Sang wanita tua bangkit dari kursi rodanya dan melangkah ke arahku. “Terima kasih, Pria Muda,” ucapnya, seraya memunguti bunga-bunga itu. “Sepasang kakiku kini terasa jauh lebih baik.”

Mendadak aku merasa bersalah. “Apakah bunga-bunga yang saya petik sudah cukup?”

“Sebenarnya, tidak. Aku butuh semua yang ada di langit-langit.”

“Maafkan saya. Tetapi, sekarang mana bisa saya melompat?”

Tiba-tiba pintu dibuka dan masuklah seorang pria muda. Entah bagaimana, aku tahu bahwa ia jugalah seorang buruh ….

2/

Aku sedang berlibur bersama istri dan putriku di pantai. Ketika kami sedang berjemur seperti yang dilakukan para aktor di film-film Hollywood, tiba-tiba istri dan putriku berlari ke laut. Mereka berenang begitu cepat dan jauh. Aku berteriak, menyuruh mereka kembali, tetapi tampaknya mereka tak dapat mendengarku. Lalu, mereka tenggelam. Sesuatu di kedalaman laut seperti menarik kaki mereka!

Sebagai ayah sekaligus suami yang baik, aku cepat-cepat menyusul mereka ke kedalaman laut. Di dasar laut, aku melihat mesin-mesin pabrik berderet begitu panjang. Semua mesin itu memiliki tentakel-tentakel, dan beberapa tentakel menjerat istri serta putriku. Mata mereka terpejam, tapi aku tahu bahwa mereka belum mati. Aku bisa saja memotong tentakel-tentakel yang menjerat mereka, dengan sebilah pedang yang mendadak ada di genggamanku. Tetapi, aku tahu betul, tentakel-tentakel lain akan dengan cepat menjerat mereka jauh lebih kencang.

Dengan perasaan berdosa, aku pun berenang kembali ke permukaan laut. Saat lolos dari laut, tahu-tahu aku sudah berada di pabrik, bersiap untuk bekerja seperti biasanya. Suara debur ombak terdengar begitu jelas di sini, padahal pabrik ini terletak tidak dekat dengan pantai mana pun.

“Selamat pagi,” ucapku pada sebuah mesin pemotong, mesin yang paling sering kugunakan. Kemudian, aku mulai bekerja dengan giat.

Aku segera merasa istri dan putriku berada dalam situasi aman di dasar laut, dalam jeratan tentakel-tentakel itu.

3/

Aku dan puluhan orang lainnya yang tak kukenal berjalan di tengah dataran gersang. Di tangan kiri kami adalah obor yang menyala, satu-satunya sumber cahaya yang menembus kegelapan malam, dan di tangan kanan kami adalah sebilah pisau, satu-satunya senjata yang akan kami pakai untuk membunuh pasukan musuh yang, kata seseorang barusan, masih jauh di depan sana.

Aku baru pertama kali mengikuti rombongan petarung ini, sehingga kakiku terus gemetaran. Aku berusaha meyakinkan diri bahwa pertarungan besar yang akan datang itu penting dan layak untuk kujalani, sehingga ada yang mengikis kehendakku untuk kabur sesegera mungkin.

“Kau pasti bisa,” bisik seseorang di sampingku. Ia adalah pemilik pabrik tempatku bekerja.

“Bagaimana bisa Anda seyakin itu?” tanyaku, terbata-bata.

“Sebab, semua orang bisa.”

“Bagaimana bisa semua orang bisa?”

Tidak ada jawaban. Ia malah terbang dan lenyap di balik awan-awan.

Lalu api di oborku membesar, menjadi paling besar ketimbang api di obor-obor lainnya. Membesarnya api itu membuatku yakin bahwa api di oborkulah yang akan membunuhku, bukannya pasukan musuh.

“Hei, boleh kita bertukar obor?” ucapku pada seorang asing di depanku.

Ia tak menjawab.

“Hei, mau bertukar obor denganku?” ucapku pada seorang asing di belakangku.

Ia pula tak menjawab.

“Mau bertukar obor?” tahu-tahu seseorang di sampingku berkata. Aku mengenalnya. Ia adalah buruh dari pabrik saingan.

“Tentu saja!” balasku.

“Tapi, aku mau kita bertukar senjata juga.”

Aku langsung melirik pisau di genggamannya. Tidak, tidak ada pisau. Ia hanya memegang sebatang jarum dengan ujung jempol dan telunjuk.

Sebetulnya aku tak mau setuju. Tetapi mendadak obor dan senjataku sudah berpindah ke tangannya, begitu juga sebaliknya. Dan, ia melangkah begitu cepat jauh ke depan.

Beberapa jenak kemudian, barangkali karena tanganku terlalu licin, jarum itu terlepas dari apitan ujung jempol dan telunjukku, meluncur ke dalam retakan tanah.

Seruan pasukan musuh pun terdengar dari depan sana ….

4/

Aku mengayuh sepeda di permukaan danau yang tenang. Di boncenganku adalah atasanku. Ialah yang menyuruhku mengantarkannya ke pulau di tengah danau ini. Katanya, di pulau tersebut aku akan mendapatkan bonus berupa sebuah rumah yang nyaman, di mana aku bisa hidup sendirian tanpa mengkhawatiran istri dan putriku, sebab dinding-dinding rumah itu dapat menyerap segala kekhawatiran. buruh

Mendadak jarum-jarum jam tanganku melaju begitu cepat. Kecepatan matahari dan bulan dalam mengelilingi Bumi pula meningkat drastis, sehingga cahaya dari langit seperti berkedip-kedip. Hari demi hari pun berganti tanpa terasa—secara harfiah.

Dari arah belakang, terdengar suara mobil melaju. Mobil itu, yang ternyata bergerak otomatis karena tampak tak dikemudikan oleh seorang pun, segera saja berhenti di depanku. Atasanku langsung menyuruhku berhenti, lantas turun dari boncenganku, dan melangkah mendekati mobil tersebut.

Atasanku membuka pintu jok belakang sebelum berkata, “Bukankah ini mimpi yang tak sulit untuk ditafsirkan, Pria Muda?” Kemudian ia masuk dan mobil melaju cepat ke pulau itu, meninggalkan aku yang tahu-tahu tenggelam.(*) buruh


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung mimpi-mimpi seorang buruh

Baca juga:
– Puisi-Puisi Ilham Wahyudi – Bahwa Ia
– Puisi-Puisi Jahan Malik Khatun – Semalam, Cintaku

Bagikan artikel ini ke: