Menu
Menu

Bahwa ia pembunuh bulan, rupa-rupanya.


Oleh: Ilham Wahyudi |

Lahir di Medan, Sumatra Utara, 22 November 1983. Pernah bergabung dengan  D’LICK THEATRE TEAM di Taman Budaya Sumatra Utara dan komunitas HP (Home Poetry). Beberapa puisinya telah dimuat surat kabar dan antologi. Sedang menunggu terbit buku puisinya yang berjudul “Pengrajin Kata”. Saat ini menetap di Jakarta sebagai juru antar masakan di DapurIBU. ilham wahyudi


Tahu Tek

Ke Wonocolo aku kejar kau
Sungguhpun kerongkonganku
Masih saja terpikat pada sengat
Rawit setan Batavia yang aduhai
Lontong, tahu serta telur
Yang kau gunting-gunting
Tidak pernah menyangka
Akan sebegitu sukacitanya
Di antara lidah dan gigiku
Di antara liur dan seriawanku
Hingga aku kalap belaka
Tak tahu jantung hatiku
Melaung lantaran rindu

Dan betapa tak berdayanya
Taoge, kentang, mentimun, juga
Kerupuk udang itu dalam jebak
Saus kacang yang telah pula mufakat
Atas petis serta lombok Jawa
Nan tandiknya nyaris kekal di bibir puan

Tapi aku hanyalah pelancong
Ya, hanya pelancong belaka
Tentu mudah untuk mendua
Apalagi hanya sekadar khianat
Pada sengatmu, pada tandikmu
Yang barang tentu kutemui pula
Dalam gelimang sambal penyetan ayam

Surabaya, 2020

.

Tamsil

Tamsil yang kau sodorkan
Serta-merta mengunci dalil
yang aku tawarkan.

Meski lidahmu tergolong muda yuwana
namun daging pipih merah jambu berair itu
cukup mahir menjinakkan kata.

Hingga kata yang sudah kuhunus
sekonyong-konyong lunglai
tersungkur di tubir kalimat.

Surabaya, 2020

.

Bedebah

Ia berlimpah belaka di jisim sukacita dan si riang rupa, supaya masygul tuan-puan akibat maklumat yang ia jinjing. Baginya huru-hara adalah balai yang indah, yang meriah, mungkin juga mewah. Ia tekun menyila kasam mengarungi ain, hanya agar menyala luka yang telah mukim dan tua—sempadan mencurahlah seluruh serapah di piring perjamuan. Ia sungguh rupawan bagi si busuk hati; bagi si lemah badan sekaligus vitamin bergizi tinggi bagi si tengik. Ia senang berpinak di bibir puan yang tak juga selesai pada bincu dan kutang penuh renda. Ia juga menjalar di hilir-mudik pikiran tuan yang masih giat berangan-angan perihal buana. Namun sungguh, pada hakikatnya ia bukan main layuh dan remeh sekadar. Ia semata-mata cendawan, tak subur jika kau kering seluruhnya. Ia bedebah, bedebah yang selalu tabah menunggumu lengah dan pongah. Itulah mengapa ia mencintaimu bilamana didapatinya sanubarimu basah-resah oleh pertunjukan mayapada. Demi itu marilah segera kita halau si bedebah sebelum ia gemuk-berjebah; menyorong kita ke lubang jengah.

Surabaya, 2020 – ilham wahyudi

.

Sepatu

kita saling menaruh hati
lekuk-lengkung yang kita angkat semenjak lahir

kita saling menggenapi
corak-warna moyang kita yang bersimpang jalan

bau kita manunggal
menjejak gempuran masa—

kembang-kempis

Surabaya, 2019 – ilham wahyudi

.

Pohon Sentul

Serupa gitar telentang kau dalam kitab bahasa—yang tawaduk pada lentik jari puan jelita. Berabad-abad sudah cintamu meletup-letup di tanah ini dan aku belum juga seumur kuku menghidu tubuhmu. Maka terberkatilah tebal dagingmu yang berair itu, dan lidahku semakin kuyup berpapasan lidahmu. (Tapi tunggu! Lidahmukah itu atau hidungmu? Atau?) Sungguh kulitmu beludru, manisku; elok-gemulai tersapu bayu biru. Engkau luhur lantaran buah hatimu legit semata, kendati tak melulu semacam itu adanya. Engkau pun makmur subur di mana suka, sampai-sampai jenjangku tak sejangkauan akan jenjangmu. Maka rahmat Tuhan atas lebat rindang gerai rambutmu, atas kukuh tegap batang tubuhmu yang tampan itu. Hingga tegaklah tiang-tiang penopang kami; jadi anggunlah rumah-rumah kami, meski bukan sebatas itu engkau kami nanti.

Surabaya, 2019 – ilham wahyudi

.

Bahwa Ia

Bahwa ia jantung hatiku, boleh jadi.
Bahwa ia saksi kunci yang kita cari, mudah-mudahan
Bahwa ia tuan pembuat roti, kalau-kalau
Bahwa ia buli-buli lima kaki, agaknya.
Bahwa ia pembawa resah tidur malam, bisa.
Bahwa ia perompak hati puan kirana, mana tahu.
Bahwa ia kitab undang-undang dasar, harus.
Bahwa ia malam yang sungsang, sepertinya.
Bahwa ia penyair kering umpama, tampaknya.
Bahwa ia bahaya laten malam pengantin, patut.
Bahwa ia daun gugur di belakang rumahmu, entah.
Bahwa ia pantulan cahaya mata, agak-agak.
Bahwa ia kuning melati yang kaget, konon.
Bahwa ia dukacitaku-dukacitamu, siapa tahu.
Bahwa ia hujan bulan Juni, barangkali.
Bahwa ia lagu yang didaur ulang beberapa kali, dapat.
Bahwa ia si pembisik aktor kawakan, kali.
Bahwa ia pembunuh bulan, rupa-rupanya.
Bahwa ia rindu yang lekat, kelihatannya.
Bahwa ia buku latihan tidur, kalau tak salah.
Bahwa ia belum juga punya nyali, takut-takut.
Bahwa ia biduan yang honornya gede, potensial.
Bahwa ia tempat tidur yang berderak-derak, kira-kira.
Bahwa ia oposisi yang dilirik sang presiden, mudah.
Bahwa ia segelas kopi belaka, mentak.
Bahwa ia tak juga selesai memuisi, jangan-jangan.

Surabaya, 2019 – ilham wahyudi


Ilustrasi: Photo by Scott Webb from Pexels

Baca juga:
– Sesudah Zaman Tuhan: Antologi Puisi Nasional sebagai Dukungan di Tengah Pandemi
– Srimenanti; Cara Lain Menikmati Puisi-Puisi Jokpin
– Lebih Dekat dengan Pemenang Lomba Cerpen ODGJ

Bagikan artikel ini ke: