Menu
Menu

…. menidurkan pulasnya cinta kita pada satu kamar dan mengistirahatkan keruwetan dunia seisinya pada satu kamar lainnya ….


Oleh: Arif Billah |

Lahir di Batang, Jawa Tengah, 8 September 1999. Video Editor di Suara Merdeka Network Pekalongan. Buku puisinya berjudul Utara: Riuh dalam Tubuh (2024, Diandra). Beberapa cerpen dan puisinya dimuat di Kompas.id, Basabasi.co, Omong-omong.com, Tatkala.co, Sudutkantin.com, Sukusastra.com, Funbahasa.com, Jelata.co, dan beberapa buku antologi bersama.


Sebab Pap

segaris tipis bibirmu,
     arus sungai
dalam kepalaku
yang mengalir
di antara
hutan terbakar
pembalakan liar
rezim dopamin
setan kapital
kabupaten
baru berkembang.

perahu pun sandar
menyerah di bahu nasib.
     bening matamu
harus segera kutaklukkan
sebelum menjelma jadi ombak
pantai utara yang rob
menelan banyak sekolah,
melobangi jalan raya, hingga
menggenangi rumah warga.

barangkali sedih dan bahagia
memang kabur batas pemisahnya.
seperti bibirmu yang ingin kuarungi itu.

senyum dan tawa pun kadang keliru
shift masuk. seperti pegawai
masuk pabrik tekstil di hari pertama.

walau begitu,
aroma tubuhmu
gentayang rohku.
     kata-katamu
kontrak kerja tanpa perantara
yang kutandatangan dengan pena
bertinta keringat shift malam jaga.

2026

.

Pengasihan

bisik yang merayap di merinding kudukmu
bukan sekadar dingin yang dibawa angin
melainkan seekor ular yang kehilangan
wanita pohon buah ranum.

ular itu adalah buhul doaku
yang bertuliskan namamu.

bahkan ia melata
di seragam kerjamu
yang tenunan kapasnya
diproduksi pabrik tekstil
tempat kerjaku.

mengalir pula
dalam sejuk es teh jumbo
yang hilangkan dahagamu, karena
airnya berasal dari sumur bor galianku.

harumnya pula hinggap
dalam sedap sego megonosarapanmu yang terbuat dari gori
yang kuangkut dari kebon
ke pawon bakul sarapan
langgananmu itu.

bahkan ia bergelung
di antara melati
yang pernah dironce
untuk menghias sanggulmu
karena kuncup bebunga itu
dipetik dari tempat buruhsimak-ku.

     dengan apa
          kau bisa merasakanku

agar aku adalah -Mu
dan kau adalah -Ku
tanpa melukai-Nya

2026

.

Detachment

bung, kalau soal cinta yang cacat pabrik, kau tidak bisa menyalahkan kurir atau bahkan meminta retur. karena sebelum dikemas pun kondisinya sudah tak sesuai imajimu yang sembarangan merakit visualisasi dari kalimat deskripsi. keputusan yang bisa dibuat cuma satu: anggap saja barang itu keringat pulang kerja dan kau adalah baju dan celana, lempar semua ke ember berisi campuran air dan detergen, rendam semalaman, kucek sebentar, bilas, jemur, setrika, semprot pelicin, lipat, lalu pakai lagi buat kerja sampai ada keringat lagi yang aromanya lebih wangi.

cinta gampangnya bisa diibaratkan karcis parkir mie gacoan. kadang kau membayar untuk ketenangan tapi bukti carikan kertasnya jarang dikasih juga. bisa jadi dilema ketika karcis hilang harus bayar denda, tapi kalau barang di dashboard motor nggak tahu hilang ke mana, itu bukan jadi tanggung jawab pengelola. semacam hal sialan yang patut diributkan memang. apalagi kalau sistem parkirnya diganti ke mesin otomatis, pasti perasaanmu akan jadi ormas daerah situ.

semua tidak akan sulit, bung, kalau kau coba bayangkan dirimu menjadi lemon kering di segelas mocktail kelebihan gula yang jelas tak bisa memabukkan peminumnya.

2026

.

Lambung

lambungku malam tak bertepi
yang disayat semburat pagi

gelap yang merasuk
dan cahaya yang membusuk
bergumpalan mencari jalan
merangkak naik lewat kerongkongan

kapan yang kini
     kini yang besok
atau bahkan nanti kemarinnya
sudah tak ada yang penting lagi

lambungku toples
berisi mimpi-mimpi
yang kumuntahkan

          karena otak
sudah tak bisa berimajinasi
kecuali menghitung tanpa henti
pergantian malam-pagi-malam-pagi
yang terus menggesek seperti gergaji

2026

.

Kalau KPR Bisa Dicicil,
     Kenapa Mencintaimu Tidak?

Kuakui mencintaimu memang rumit
seperti usaha seorang bujang
mengajukan cicilan KPR
dengan gaji pas-pasan
UMR kabupaten

Walau kuyakin kau tak memerlukan
NPWP, slip gaji tiga bulan terakhir,
atau bahkan cetak rekening koran
untuk dilaporkan, namun nominal
wajibnya harus selalu diusahakan
berada dalam rasio penuh kestabilan

Orang bilang perasaan tak bisa diubah
walau kita telah memberi cinta sebanyak-banyaknya
namun cintaku ini dari awal memang sederhana dan seadanya

Seperti rumah subsidi dengan cicilan satu jutaan
namun rasanya cluster di tengah perkotaan

Akan kujamin kau mendapat cinta yang nyaman
dengan dua kamar tidur untuk menidurkan
pulasnya cinta kita pada satu kamar dan mengistirahatkan
keruwetan dunia seisinya pada satu kamar lainnya;
satu kamar mandi juga tersedia, biar kita paham
tentang berbagi bukan cuma soal materi,
tapi juga yang dibiarkan pergi dan tak dibawa mati;
ruang keluarga berhawa hangat mentari pagi sudah pasti;
taman depan untuk menyemai cerita bahagia kita;
bahkan garasi untuk (siapa tahu nanti) memarkirkan
kendaraan kita dalam menjelajahi kemungkinan
yang belum pernah dipetakan.

Kuakui mencintaimu memang rumit
tapi cicilan dan impian ini konkrit
karena tipe rumah 30/60
yang dibangun pasti kokoh dan solid

2026


Ilustrasi: Heart Dance (Chaim Goldberg), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Puisi-Puisi Arifin Muhammad – Nyala Api dalam Dirimu
Puisi-Puisi Cyprian Bitin Berek – Dalam Keabadian Kasih Bapa
Puisi-Puisi Widya Mareta – Semua yang Menyembul dari Balik Tirai


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

9 thoughts on “Puisi-Puisi Arif Billah – Mengistirahatkan Keruwetan Dunia”

  1. membaca puisi diatas memberikan banyak pelajaran bermakna bagi kaum muda sekarang,dalam masalah percintaan,akan tumbuh berbagai rasa yang diciptakan oleh timbulnya sebuah rasa sayang kita kepada orang itu

  2. Kila berkata:

    bagus cuman agak kurang menarik sedikit

    1. Fitri Kania dewi berkata:

      Bagus untuk yg paham

      1. Fau Zian berkata:

        puisi yang sangat menyentuh hati

    2. Fitri Kania dewi berkata:

      Setiap kata mengandung arti

  3. air yang tenang belum tentu bisa menghayut tetapi air dangkal belum bisa memastikan dirinya tenang

  4. Pengasihan
    bisik yang merayap di merinding kudukmu
    bukan sekadar dingin yang dibawa angin
    melainkan seekor ular yang kehilangan
    wanita pohon buah ranum.

    ular itu adalah buhul doaku
    yang bertuliskan namamu.

    bahkan ia melata
    di seragam kerjamu
    yang tenunan kapasnya
    diproduksi pabrik tekstil
    tempat kerjaku.

  5. Van Razka berkata:

    penggunaan bahasa yang cukup menarik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *