Menu
Menu

Karena kita adalah tubuh yang berziarah/ singgah ke tanah-tanah asing,/ yang tidak selalu ramah/ tetapi terasa akrab./ Dan tahu pasti/ sekali kelak berlabuh/ dalam keabadian kasih Bapa.


Oleh: Cyprian Bitin Berek |

Lahir di Atambua, Belu, NTT, 22 November 1970. Ia sempat mengenyam pendidikan di Seminari Menengah St. Maria Immaculata, Lalian, Belu, sebelum pindah ke SMA Katolik Suria, Atambua, ketika duduk di bangku kelas dua. Menyelesaikan pendidikan S1 di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Buku kumpulan puisi pertamanya adalah Pertarungan di Pniel (2019).


Bereshit

Tetapi justru pada kata pertama
aksara Ibrani itu
Tuhan sembunyikan rahasia:
Rencana mahaagung
menebus kita
sesudah kejatuhan yang payah.

Karena Dia tahu segala
yang kelihatan dan gaib,
jauh dan dekat
lampau dan kelak.
Pun segala kelicikan hati,
telanjang di mukaNya.

Maka sebelum menciptakan manusia
sudah Dia ketahui
pemberontakan yang kelak
sepasang leluhur kita pertama.

Jadi disusunlah rencana
penyelamatan berbalut misteri.
FirmanNya menjelma manusia
agar melalui wafatNya di salib
kita diselamatkan.

Bereshit bara Elohim et
ha shamayim we’et ha’arets.
Pada mulanya Allah
menciptakan langit dan bumi.

Bereshit – Pada mulanya:
Bet Resh Alef Shin Yod Tav
Artinya: Anak Allah dihancurkan
tanganNya di kayu salib.

Maka tahulah kita
bahwa rencana penebusan
telah dirancang sejak kekal
sebelum leluhur pertama
diciptakan.

13 Agustus 2023

.

Bara

Apakah yang kau temukan
dalam kata itu?
Bereshit bara Elohim et
ha shamayim we’et ha’arets
Pada mulanya Allah
menciptakan langit dan bumi

Kau lihatkah kata et – alef dan tav?
Dua aksara awal dan akhir?
Lalu kata bara – artinya menciptakan.
Hanya tiga aksara: Bet Resh Alef.
Rumah Allah Mahatinggi.
Dapat juga kau baca Bar Alef.
Artinya Anak Allah.

Maka dalam aksara sederhana ini
disembunyikan kebenaran bahwa
Allah – Sang awal dan akhir –
menciptakan langit dan bumi
melalui FirmanNya yang hidup,
ialah Anak Allah – Yesus Kristus.

Firman telah menggema: Jadilah!
Maka dunia pun tercipta.
Dunia yang segera terjatuh.
Tetapi demi kasihNya yang terlalu
diutus Sang Firman –
AnakNya Tunggal
agar kita ditebus sehingga
siapa yang percaya kepadaNya
akan diselamatkan.
Tidak berhenti sampai genap jumlah itu.
Demikian Dia juga menjadi
satu-satunya pengantara,
imam besar dan pembela yang kekal.

Kupang, 20-02-2023

.

Di Tepi Betesda

“Maukah engkau sembuh?”

Astaga Tuan, masih ada pertanyaan serupa itu.
Menatap wajahNya kutemukan
lorong ke masa lalu: masa kecilku.
Ketika air Yordan terasa mewah
dan suara jangkrik betapa indah.
Sambil tertawa, kutanya Dia,
“Tuan bersungguh-sungguh
dengan pertanyaan itu?”

Siapakah yang tidak ingin sembuh?
Lihatlah si lumpuh tiga puluh delapan tahun ini
Sudah berkarat waktu di benakku.
Sudah berkali kolam bergelombang
saat hempasan sayap malaikat
yang mendadak itu.

Sudah berkali kucoba beringsut
serupa siput. Sementara sekian sosok
dengan enteng mencebur diri
menghancurkan harapan
yang kubangun
sehari demi sehari.

Konon hanya seorang disembuhkan
pada kedatangan malaikat budiman
yang sekonyong itu.

(Aku ragu Tuan,
sedemikian pelitkah Allah
mengalirkan berkat sebaik itu.
Ataukah benar malaikat mampu
sembuhkan seorang belaka?)

Tiga puluh delapan tahun
kusaksikan lelaki malang
dalam diriku terbaring
dengan keinginan yang sudah mati
saksikan beriak air yang dia tahu
bukan baginya.

Mereguk waktu beracun,
aku pun tahu: Malaikat
hanya tamu asing dengan hadiah
bagi yang tercepat.
Dan itu bukan diriku.

Mengapa demikian berhasrat
untuk menjadi lumpuh?
Dengan heran lelaki asing itu
bertanya lagi.

Siapa ingin lumpuh Tuan, siapa ingin?

Kalau begitu, bangkitlah!

Tiba-tiba hangat firmanNya mengaliri ototku.
Aku bangkit. Oh ya ya, dulu tilam ini
yang mengangkatku
sekarang dirikulah memikulnya.
Dulu tilam ini membuaiku
dengan harapan melumpuhkan,
kini kuhadapi esok hari
dengan kaki perkasa.
Karena hanya dengan sepotong firman
disembuhkannya diriku.

Oh ya ya, tiga puluh delapan tahun
aku belajar pasrah
tetapi hari ini sesosok malaikat
tanpa sayap menjelmakanku
makhluk yang baru.

Dili, 11-04-2016

.

Tubuh yang Berziarah

Kita adalah tubuh yang berziarah.
Kita adalah keajaiban semesta.
Yang tercipta dari kasih Bapa
dengan Kristus sebagai kepala.

Kita tak lain sulaman keragaman,
berbeda dan unik
dengan tujuan tunggal:
Menyenangkan hati Bapa.
Alangkah berharga kita.
Tidak ada yang tidak berguna.
Semua kita dapat bagian,
semua masuk hitungan.

Kita adalah tubuh sempurna
bukan lantaran kita hebat.
Kita sempurna karena
masing-masing kita adalah unik.
Kita istimewa karena
Kristus adalah kepala yang agung.

Maka tubuh tak boleh berbeda tujuan.
Biarkan kepala yang berpikir
dan tubuh cukuplah taat.

Apabila kita bersedih
saat mata menikmati keindahan,
saat lidah mengecap nikmat,
atau malah bahagia
saat jempol mengidap mata ikan
dan perut melilit perih.
Sadarlah, ada sesuatu
yang terhilang dari kita,
ialah kasih yang sejati.

Tak ada alasan menjadi sombong.
Karena yang aku punya,
tak ada padamu.
Yang engkau mampu,
tak bisa kulakukan.
Mata tak bisa berjalan.
Kaki pun tak bisa bicara.
Masing-masing punya karunia.
Masing-masing punya tugas khusus
tak tergantikan.
Masing-masing berguna
karena mewujudkan tujuan Bapa.

Kemarin kita bertamasya.
Tangan mengemudi.
Mata melihat ke jalan.
Telinga terbuai musik.
Mulut tak berhenti kunyah.
Sementara kaki tetap tabah,
dibalut sepatu yang bau
mengatur kecepatan.

Semua kita bersuka
melalui anggota yang lain.
Lewat mata, kaki menjejak
perbukitan bergelombang.
Lewat telinga, lidah menyerap
desir angin yang rindu.
Janganlah iri bila mata tak bisa berjalan,
tangan tak mendengar,
hidung tak bersiul.

Karena kita adalah tubuh yang berziarah
singgah ke tanah-tanah asing,
yang tidak selalu ramah
tetapi terasa akrab.
Dan tahu pasti
sekali kelak berlabuh
dalam keabadian kasih Bapa.

Dili, 06-12-2022


Ilustrasi: Allegory of Racial Equality (David Alfaro Siqueiros), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Bekal Masa Depan – Gerson Jehamun
Menyapu Lamunan di Musim Kemarau – Andria Septy
Paling Pudar dari Kata – Iin Farliani


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

15 thoughts on “Puisi-Puisi Cyprian Bitin Berek – Dalam Keabadian Kasih Bapa”

  1. Riaa berkata:

    Bisa nih kak, ini contoh teks komentarnya yang bisa kamu sesuaikan:

     

    “Puisi ini sungguh menyentuh hati ya Kak. Gambarannya tentang ‘tubuh yang berziarah ke tanah asing tapi terasa akrab’ bikin saya berpikir tentang makna rumah dan kasih yang tidak terbatas oleh tempat. Terima kasih sudah berbagi puisi indah dari Cyprian Bitin ini 🙏”

    Atau kalau mau lebih singkat:

     

    “Puisi yang dalam dan penuh makna! Sukses selalu buat penyair dan pihak bacapetra.co yang sudah membagikannya 😊”

    Mau saya bantu bikin komentar dengan tema tertentu, kayak lebih fokus ke makna “Kasih Bapa” atau bagian lain dari puisi? 😊

  2. Eunike berkata:

    lagi galau, membaca puisi ini rasanya teduh. terima kasih

  3. setelah membaca puisinya aku merasakan seperti hidup di antara puisi tersebut, puisinya indah dan bahasanya menghangatkan pikiran

  4. Naima berkata:

    puisi nya sangat menarik

  5. Max berkata:

    cerpen ini sangat menarik dan sangat bagus

  6. bagus banget puisi nya jadi terinspirasi dari cerita tersebut

  7. nada berkata:

    sangat menyenangka dan tidak membosankan

  8. Fy berkata:

    WOW, salut dengan puisi2nya, bagus banget

  9. Saleh Sa berkata:

    puisinya bagus

  10. fifi berkata:

    seperti langsung tersentuh ke dalam hati

  11. fifi berkata:

    sangat menyentuh hati

  12. Nadia berkata:

    sangat menarik dan menyenangkan

  13. sasa berkata:

    sedih dan bagus

    1. trivalda berkata:

      wahh sangat menyayat hati bagus keren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *