Benda-Benda Padat – Cerpen Virginia Woolf
24 Desember 2025| | 4 CommentsBagaimanapun, tugas benda-benda itu makin lama makin sekadar perhiasan, karena kertas-kertas yang membutuhkan pemberat di atasnya menjadi semakin jarang.
Oleh: Ronald Susilo |
Seorang dokter yang tinggal dan bekerja di Ruteng, NTT. Selain bekerja di dunia kesehatan, ia menghabiskan banyak waktu untuk membaca, menulis, dan menerjemahkan karya sastra, terutama cerita pendek klasik.
Satu-satunya yang bergerak di atas bentangan setengah lingkaran pantai yang luas hanyalah sebuah titik hitam kecil. Ketika titik itu semakin mendekat ke rangka perahu nelayan hitam yang terdampar itu, dari samar-samar hitamnya jelaslah bahwa titik itu memiliki empat kaki; dan seiring waktu, semakin jelas bahwa titik itu terdiri dari dua sosok lelaki muda. Bahkan hanya dari siluet mereka di atas pasir, tampak denyut kehidupan yang sulit disangkal; semacam gairah yang tak terlukiskan dalam gerak maju dan mundur tubuh-tubuh itu, betapapun kecil, yang menunjukkan adanya perdebatan sengit dari mulut-mulut mungil pada dua kepala bundar itu. Hal itu makin jelas ketika mereka tampak dari dekat: tongkat di sisi kanan berulang kali didorong menghunjam pasir. “Kau mau bilang padaku… kau sungguh percaya…” Demikianlah seolah-olah tongkat di sisi kanan, dekat ombak, menegaskan kata-kata itu sambil menggoreskan garis-garis panjang dan lurus di atas pasir.
“Persetan dengan politik!” seru suara dari tubuh di sisi kiri; dan ketika kata-kata itu terucap, mulut, hidung, dagu, kumis-kumis tipis, topi wol, sepatu kulit, mantel berburu, dan kaus kaki bermotif kotak dari kedua lelaki itu tampak semakin jelas. Asap dari pipa mereka membubung ke udara; di antara hamparan laut dan bukit pasir sejauh mata memandang, tak ada yang tampak sepadat, sehidup, sekeras, semerah, segagah, dan semaskulin kedua tubuh itu.
Mereka merebahkan diri di bawah bayangan perahu nelayan hitam yang terdampar. Kau tahu bagaimana tubuh seolah ingin melepaskan diri dari perdebatan panjang, seakan meminta maaf atas luapan emosi yang berlebihan; lalu ia merebahkan diri dengan santai, dan dalam kelonggaran sikap itu tampak kesiapan untuk menyambut sesuatu yang baru—apa pun yang datang berikutnya.
Maka Charles, yang sedari tadi mengayunkan tongkatnya dan menggores pasir sepanjang hampir setengah mil, mulai melempar pecahan batu pipih ke permukaan air. Sementara John, yang tadi berteriak “Persetan dengan politik!”, mulai menggali pasir dengan jarinya semakin dalam dan lebih dalam lagi. Saat tangannya masuk makin dalam hingga melewati pergelangan, dan ia harus menyingsingkan lengan bajunya sedikit lebih tinggi, sorot matanya berubah; mata orang dewasa itu kehilangan kedalamannya, dan kini hanya tampak bening dan penuh rasa takjub, seperti mata anak kecil. Barangkali gerakan menggali pasir itulah yang mengubah sorot matanya—menjadikannya bening, polos, dan penuh rasa ingin tahu. Ia teringat bagaimana, setelah menggali cukup dalam, air akan merembes di ujung jari; lalu lubang itu berubah menjadi parit kecil, menjadi sumur, menjadi mata air, atau saluran rahasia menuju laut.
Saat ia sedang menimbang-nimbang akan menjadikannya apa—parit kecil, sumur, mata air, atau saluran rahasia menuju laut—sementara jemarinya masih bergerak di dalam air, jari-jarinya menyentuh sesuatu yang keras—sebuah benda padat yang bulat dan utuh—dan perlahan melepaskan bongkahan itu, lalu mengangkatnya ke permukaan. Ketika lapisan pasirnya diseka, tampaklah warna hijau samar. Itu adalah bongkah kaca, begitu tebal hingga nyaris tak tembus cahaya; gelombang laut yang terus-menerus menggosoknya telah sepenuhnya mengikis setiap tepi dan bentuk aslinya, hingga mustahil ditebak apakah dulunya ia sebuah botol, gelas minum, atau keping kaca jendela; ia bukan apa-apa selain kaca—nyaris seperti sebongkah batu permata.
Kau hanya perlu membingkainya dengan cincin emas, atau merangkainya dengan seutas kawat halus, dan ia pun berubah menjadi perhiasan; bagian dari sebuah kalung, atau cincin hijau lembut di jari seseorang. Barangkali, sesungguhnya itu memang batu permata; sesuatu yang pernah dikenakan seorang putri berkulit gelap yang menjulurkan jari ke air saat duduk di buritan perahu, sambil mendengarkan para budak bernyanyi dan mendayung menyeberangi teluk. Atau mungkin papan kayu ek dari sebuah peti harta karun Elizbethan yang tenggelam telah pecah, dan, setelah berguling berkali-kali, zamrud-zamrudnya terdampar di tepi pantai. John membalik benda itu di telapak tangannya, lalu mengangkatnya ke arah cahaya; menahannya, hingga bentuk kaca yang tidak beraturan itu menutupi tubuh dan lengan kanan sahabatnya yang sedang terulur. Warna hijaunya tampak menipis dan menebal sedikit, tergantung apakah bongkah kaca diarahkan ke langit atau ke tubuh temannya. Benda itu menyenangkan; sekaligus membingungkannya; betapa keras, padat, jelas dan tegas wujudnya bila dibandingkan dengan laut yang samar dan garis pantai yang berkabut.
Kini sebuah helaan napas mengusiknya—dalam, seolah menutup segalanya—membuatnya sadar bahwa sahabatnya, Charles, telah melempar semua batu pipih yang terjangkau, atau barangkali sudah sampai pada kesimpulan bahwa tak ada gunanya lagi melempar. Mereka duduk berdampingan sambil menyantap roti isi. Setelah selesai, menepuk-nepuk pasir dari pakaian dan bangkit berdiri, John mengambil bongkah kaca itu dan memandanginya dalam diam. Charles ikut memandangnya. Tetapi segera melihat bahwa benda itu tidak pipih, dan sambil mengisi pipa rokoknya, Charles berkata dengan semangat khas orang yang ingin menepis rangkaian pikiran yang dianggap konyol:
“Sekarang, kembali ke apa yang tadi kubicarakan—”
Charles tidak melihat—atau kalaupun melihat, barangkali tak akan memperhatikannya—bahwa John, setelah menatap bongkah itu sejenak, seakan ragu, menyelipkan ke dalam sakunya. Gerakan spontan John memasukkan bongkah itu ke saku mungkin sama seperti dorongan yang membuat seorang anak memungut sebutir kerikil di jalan yang penuh bebatuan, menjanjikannya kehidupan yang hangat dan aman di atas rak perapian kamar bermain; bergembira oleh rasa kuasa dan kebaikan yang diberi oleh tindakan kecil itu; dan percaya bahwa hati batu itu berdebar girang ketika melihat dirinya terpilih dari antara jutaan batu lain, untuk menikmati kebahagiaan, tidak lagi hidup dingin dan basah di tepi jalan raya. “Padahal betapa mudahnya batu lain yang dipilih di antara jutaan itu—tetapi akulah, akulah, akulah yang terpilih!”
Entah bayangan seperti itu—bahwa bongkah kaca itu merasa dirinya terpilih dari jutaan yang lain—benar-benar terlintas di benak John atau tidak, bongkah kaca itu kini menempati tempatnya di atas rak perapian, berdiri berat di atas setumpuk kecil tagihan dan surat, dan berfungsi bukan hanya sebagai pemberat kertas yang baik, melainkan juga sebagai tempat singgah alami bagi pandangan John setiap kali matanya lepas dari buku. Jika sebuah benda dipandangi berulang kali—setengah sadar, sementara pikiran sedang memikirkan hal lain—benda itu perlahan menyatu dengan aliran pikiran dan kehilangan bentuk asalnya. Pelan-pelan, ia tersusun kembali dalam rupa yang sedikit berbeda: sebuah bentuk ideal yang kelak menghantui benak kita pada saat-saat yang paling tidak kita duga. Maka, ketika berjalan-jalan, John mendapati dirinya berhenti pada etalase toko barang antik hanya karena melihat sesuatu yang mengingatkannya pada bongkah kaca itu. Apa saja—asal sebuah benda, dengan bentuk kurang lebih bulat, dengan kilau redup yang seakan tersembunyi jauh di kedalamannya—apa saja: porselen, kaca, batu ambar, batu karang, marmer—bahkan telur lonjong yang licin milik seekor burung purba pun sudah cukup. John juga mulai membiasakan diri menundukkan pandangan ke tanah, terutama di sekitar lahan kosong tempat sampah rumah tangga dibuang.
Benda-benda semacam itu sering ia temukan di sana—terbuang, tak berguna bagi siapa pun, tak berbentuk, disingkirkan. Dalam beberapa bulan saja, ia sudah mengumpulkan empat atau lima benda yang kemudian menempati tempatnya di atas rak perapian. Benda-benda itu pun berguna; sebab seorang pria yang sedang mencalonkan diri ke parlemen dan berada di ambang karier yang gemilang punya begitu banyak kertas yang harus ditata—pidato untuk para pemilih, pernyataan kebijakan, permohonan sumbangan, undangan makan malam, dan sebagainya.
Suatu hari, ketika berangkat dari kamarnya di Temple untuk mengejar kereta dan berpidato di hadapan para pemilihnya, pandangan John tertahan pada sebuah benda luar biasa yang tergeletak setengah tersembunyi di antara rumput kecil di kaki gedung-gedung hukum yang menjulang. Ia hanya bisa menyentuh benda itu dengan ujung tongkatnya dari balik pagar besi; tetapi dari situ ia dapat melihat bahwa itu adalah pecahan porselen dengan bentuk yang sangat ganjil, nyaris menyerupai bintang laut—terbentuk, atau mungkin pecah secara kebetulan, menjadi lima ujung yang tak beraturan namun jelas. Warna dasarnya biru, tetapi dilapisi garis-garis atau bintik-bintik hijau yang menindih birunya, dan gurat-gurat merah tua memberinya kekayaan warna dan kilau yang amat memikat. John bertekad memilikinya; namun semakin ia mendorong dengan tongkat, pecahan itu justru semakin menjauh. Akhirnya ia terpaksa kembali ke kamarnya dan membuat alat sederhana—seutas kawat yang dibentuk menjadi lingkaran di ujung tongkatnya. Dengan ketelitian dan sedikit keterampilan, ia berhasil menarik pecahan porselen itu hingga berada dalam jangkauan tangannya. Begitu ia menggenggamnya, ia berseru girang. Pada saat yang sama, jam berdentang. Mustahil baginya untuk bisa tiba tepat waktu. Pertemuan itu pun berlangsung tanpa kehadirannya. Namun bagaimana mungkin pecahan porselen itu bisa terbentuk seaneh itu? Pemeriksaan seksama menegaskan bahwa bentuk bintangnya murni kebetulan, dan justru itulah yang membuatnya kian aneh; tampaknya mustahil ada benda lain di dunia yang serupa dengannya. Ketika diletakkan di ujung lain rak perapian, berhadapan dengan bongkah kaca yang dulu digali dari pasir, benda itu tampak seperti makhluk dari dunia lain—ganjil dan fantastis, seperti badut harlequin. Seakan berputar-putar di angkasa, berkelip seperti bintang yang nyala-padam. Pertentangan antara porselen yang begitu hidup dan lincah ini dengan kaca yang begitu diam dan penuh renungan, sangat memesonanya; dengan heran dan takjub, ia bertanya-tanya bagaimana mungkin keduanya bisa ada di dunia yang sama—apalagi berdiri di atas rak perapian yang sama, di ruangan yang sama. Pertanyaan itu tetap tak terjawab.
John kini mulai kerap berkeliaran di tempat-tempat yang paling banyak menyimpan pecahan porselen – sebidang demi sebidang tanah kosong di antara rel kereta api, lahan bekas rumah-rumah yang dirobohkan, dan tanah lapang umum di sekitar London. Namun jarang sekali orang melempar barang porselen dari tempat yang sangat tinggi; itu salah satu tindakan manusia yang paling langka. Agar hal semacam itu terjadi, harus ada kebetulan yang pas: sebuah rumah yang menjulang tinggi, dan seorang perempuan dengan dorongan hati yang nekat dan amarah yang berkobar, yang melempar guci atau periuk porselen begitu saja dari jendela, tanpa memikirkan siapa yang berada di bawah.
Pecahan porselen sangat mudah ditemukan, tetapi biasanya pecah karena kecelakaan rumah tangga yang sepele, tanpa maksud dan tujuan. Namun, ketika John mulai menyelami persoalan lebih dalam, ia sering takjub oleh betapa beragamnya bentuk yang bisa ditemukan hanya di London saja; dan yang lebih mengundang rasa heran dan permenungan adalah perbedaan mutu serta rancangannya. Bentuk-bentuk terbaik akan ia bawa pulang dan diletakkan di atas rak perapian; di sana, bagaimanapun, tugas benda-benda itu makin lama makin sekadar perhiasan, karena kertas-kertas yang membutuhkan pemberat di atasnya menjadi semakin jarang.
Mungkin John mulai banyak melalaikan tugas-tugas, atau mengerjakannya dengan pikiran yang melayang. Atau barangkali para pemilihnya, ketika datang berkunjung, mendapat kesan yang kurang menyenangkan saat melihat tampilan rak perapian. Apa pun alasannya, John akhirnya tidak terpilih menjadi anggota Parlemen. Sahabatnya, Charles, yang sangat memikirkan kegagalan itu, bergegas datang untuk menghibur, ia mendapati bahwa John nyaris sama sekali tidak tampak terpukul oleh musibah itu, sehingga Charles hanya bisa mengira bahwa perkara itu terlalu serius untuk langsung sepenuhnya John sadari.
Hari itu John pergi ke Barnes Common, dan di sana, di bawah semak berduri ia menemukan sebongkah besi yang amat ganjil. Bentuknya nyaris sama dengan bongkahan kaca itu: padat dan bulat, tetapi begitu dingin dan berat, hitam legam dengan kilau muram logam, sehingga jelas benda itu asing bagi bumi ini dan pasti berasal dari salah satu bintang yang telah padam, atau barangkali bara sisa sebuah bulan. Benda itu memberati sakunya, memberati rak perapian, dan memancarkan hawa dingin. Kini meteorit itu berdiri di rak yang sama dengan bongkahan kaca dan pecahan porselen berbentuk bintang.
Ketika mata John berpindah dari satu benda ke benda lain, tekad untuk memiliki benda-benda yang melampaui semua itu menyiksanya. Ia pun semakin mengabdikan dirinya pada pencarian itu dengan tekad yang kian teguh. Seandainya ia tidak dilahap ambisi dan yakin bahwa suatu hari nanti sebuah tumpukan sampah yang baru ia temukan akan menghadiahinya sesuatu, segala kekecewaan yang telah ia alami – belum lagi lelah dan ejekan – sudah lama membuatkannya menghentikan perburuan itu.
Berbekal sebuah tas dan tongkat panjang yang ujungnya dipasangi kait yang bisa disesuaikan, ia mengobrak-abrik semua timbunan tanah; menggaruk-garuk di bawah belukar; menyusuri semua gang dan celah di antara dinding-dinding, tempat ia sudah belajar berharap menemukan benda-benda semacam itu dibuang. Seiring patokannya kian tinggi dan seleranya kian ketat, kekecewaan pun tak terhitung jumlahnya; namun selalu ada seberkas harapan, sepotong porselen atau kaca dengan tanda atau patahan yang ganjil, yang terus menggiringnya untuk meneruskan pencarian. Hari demi hari berlalu. Ia tak lagi muda. Karier politiknya telah menjadi bagian dari masa lalu.
Teman-teman John berhenti mengunjunginya. Ia menjadi terlalu pendiam sehingga mereka merasa tak ada gunanya mengundangnya makan malam. Ia tidak lagi membicarakan ambisi-ambisi seriusnya kepada siapa pun; ketidakmengertian mereka tampak jelas dari tingkah laku mereka.
John kini bersandar di kursinya dan memperhatikan Charles mengangkat benda-benda di atas rak perapian itu berkali-kali, lalu meletakkannya kembali dengan entakan untuk menggambarkan apa yang ia maksudkan tentang cara pemerintah bertindak, tanpa pernah menyadari betapa pentingnya benda-benda itu bagi John.
“Apa sebenarnya yang terjadi, John?” tanya Charles tiba-tiba sambil berbalik dan menghadapnya. “Apa yang membuatmu melepaskannya begitu saja, seketika itu?”
“Aku belum melepaskannya,” jawab John.
“Tapi sekarang kau sama sekali tak punya kesempatan lagi,” balas Charles kasar.
“Untuk soal itu aku tidak sependapat denganmu,” kata John mantap. Charles memandangnya dan merasa sangat tak enak hati; keraguan-keraguan yang luar biasa aneh menyergapnya; ia diliputi perasaan ganjil seolah-olah mereka sedang membicarakan dua hal yang sama sekali berbeda. Ia melayangkan pandang ke sekeliling ruangan untuk mencari sedikit kelegaan dari rasa kemurungan yang menyesakkan itu, tetapi keadaan kamar yang berantakan justru makin menekannya. Tongkat apa itu, dan tas karpet tua yang tergantung di dinding? Dan batu-batu itu? Ketika ia menatap John, sesuatu yang beku dan jauh di raut wajah John membuatnya cemas. Ia tahu betul bahwa sekadar tampil di atas panggung politik pun kini sama sekali di luar kemungkinan bagi John.
“Batu-batu yang cantik,” katanya seceria yang ia bisa; lalu setelah beralasan bahwa ia punya janji yang harus dipenuhi, Charles pun meninggalkan John—untuk selamanya.
*
Tentang Virginia Woolf |
Virginia Woolf (1882-1941) adalah penulis modernis asal Inggris, dikenal lewat novel-novel seperti Mrs Dalloway dan To the Lighthouse, serta esai klasik A Room of One’s Own. Dalam karya-karyanya, Woolf banyak bereksperimen dengan bentuk prosa dan kehidupan batin tokoh-tokohnya, termasuk dalam cerita pendek “Solid Objects” (1920) yang menyoroti obesesi seorang calon politisi pada benda-benda kecil yang terbuang. Cerpen ini memperlihatkan cara Woolf mengaitkan dunia material, kelas sosial, dan ambisi pribadi dengan gaya penceritaan yang halus namun penuh ironi.
Ilustrasi: White Cabinet and White Tabel (Marcel Broodthaers), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Bayi Désirée – Cerpen Kate Chopin
– Kantor Para Kucing – Cerpen Kenji Miyazawa

cerpen yg sangat indah dan sangat bagus
cerpen nya sangat menarik, setiap kata dan kalimat nya sangat jelas atau mudah di mengerti .
cerpennya sangat menarik
Cerpen “Solid Objects” memperlihatkan bagaimana perubahan kecil dalam cara seseorang memandang dunia dapat berdampak besar pada hidupnya. Ketertarikan John pada benda-benda padat yang dianggap tidak berguna perlahan menjauhkannya dari dunia politik dan ambisi sosial yang sebelumnya ia jalani bersama Charles. Bagi John, benda-benda itu memiliki nilai tersendiri, sementara bagi Charles hal tersebut justru tampak sebagai kemunduran. Perbedaan cara memaknai nilai dan tujuan hidup inilah yang akhirnya memisahkan keduanya. Melalui cerita ini, Virginia Woolf secara halus mengajak pembaca merenungkan kembali standar keberhasilan yang sering kali ditentukan oleh masyarakat, bukan oleh makna personal seseorang.