Menu
Menu

Dan dalam sorotan lampu yang kejam,tak ada satu pun pori yang tersisa untuk bernafas.


Oleh: IRZI |

IRZI ialah nom de plume Ikhsan Risfandi yang lahir di Jakarta 1985. IRZI sempat menjajal peruntungan sebagai gitaris Jazz kemudian banting gitar untuk fokus menempuh kepenulisan puisi Jess & Beatawi, sesekali cerpen. Buku puisi pertamanya Ruang Bicara terbit pada 2019. Trivia Kampung Sawah terbit pada November 2024 di Velodrom sebagai bukunya yang kedua.


Mikey Madison Sebagai Anora

Huruf-huruf, jadilah ingatan tentang malam itu,
cincin berlian mengiris jari, terlalu ketat,
aroma vodka dan parfum pria melekat di kulit,
karpet tebal di hotel Moskow menelan langkah,
dan tawa pecah—karena apalagi yang bisa dilakukan?

Ingin mengingat bagaimana tubuh terasa ringan,
berputar di bawah lampu gantung yang berkilauan,
gaun putih mengembang seperti buih samudra,
tangan-tangan menarik lebih dekat,
tawa asing menekan leher seperti dasi yang dikencangkan.

Ketika seseorang membaca ini dan berpikir,
“Gadis itu hidup di negeri dongeng,”
kata-kata, gerbong kecil yang keras kepala,
akan mengangkut kebenaran ini melintasi jembatan kayu reyot
menuju masa depan, bertahanlah, bertahanlah.

Ingin mencium lagi aroma pizza di apartemen Brooklyn,
tangan yang dulu hanya menghitung uang tip
di atas meja plastik yang lengket oleh soda tumpah.
Bukan uang seratus dolar yang dilempar ke pangkuan
di kursi belakang limusin yang terlalu sepi.

Ingat suara ibu di telepon, lembut namun ragu-ragu,
“Annie, sayang, kamu baik-baik saja?”
Ingat kota yang mendekap sebelum tubuh dikemas,
dijual, dibungkus dalam pita satin dan emas.
Cincin berkilau seperti rantai,
gaun terasa seperti kulit orang lain.

Huruf-huruf, meski kertas ini basah oleh air mata,
meski robek dan tersapu angin di jalanan St. Petersburg,
berenanglah melintasi sungai Hudson,
dayunglah melewati langit Vegas,
berjalanlah melewati lorong-lorong hotel yang sunyi,
temukan seorang pembaca. Tetap bersama. Bertahanlah.

2024

.

Adrien Brody Sebagai László Toth

Angin Berlin mencakar kulit seperti paku berkarat.
Debu menari di atas Pariser Platz,
terbawa dingin yang membekukan jari-jari tangan.
Di seberang jalan, Reichstag menghitam,
seperti sketsa yang terlalu lama terpapar abu perang.

Gedung yang kudesain terbakar dalam matanya.
Beton yang kucor retak di bawah bibirnya yang merah.
“László, apakah ini yang kau impikan?”
Virág berbisik, menekan tangannya ke peta kota.
Tinta menyebar di telapak tangannya,
seperti garis-garis sungai yang mencari muara.

Di dinding galeri Guggenheim,
cahaya melukis bayangannya di atas lantai marmer.
Gaun biru tua berkibar saat ia melangkah,
membuatnya tampak seperti sungai Danube yang terbakar.
“Amerika memberimu segalanya,” katanya dulu,
suara tajam seperti sudut-sudut gedung yang tak pernah kumiliki.

Tapi langit New York terlalu tinggi,
dan aku hanya buruh imigran
yang membangun impian orang lain.
Di Park Avenue, model-model bersandar di tembok kasar,
menyulut rokok di depan apartemen yang tak akan kumiliki.
Besi baja berkarat menempel di kuku.
Jejak semen yang kupahat dengan tangan sendiri,
dilupakan di bawah plakat nama yang bukan milikku.

Api menjilat maket terakhir.
Dinding-dinding Corbusier yang dulu kupuja,
runtuh seperti tubuh yang kelelahan.
Virág berdiri di ambang pintu, bibirnya membentuk sesuatu
di antara doa dan perpisahan.

Bam!—gedung ini berkobar. Begitu juga Virág (namanya).
Aku hanya sempat membersihkan sisa arang di lengan jas,
mencium keningnya yang hangus—bayangannya menghilang dalam asap—
dan mengucapkan, “Jó éjszakát, szerelmem,”
dengan suara yang pecah, dan sedikit ironi.

2025

.

Sean Baker

Luar Ruang – Brighton Beach – Jam Emas

Mimpi ini, yang Amerika mimpikan tentang dirinya sendiri,
tak membiarkan kita pergi.

Papan reklame LED berkedip, bayangannya terpantul
di trotoar basah, pencahayaan alami dari toko perhiasan
memantulkan bias emas di pipi Anora saat ia lewat.
“Hanya yang asli yang tahu mana yang nyata.”
Suara latar dalam dunia film dari kereta bawah tanah bergema di kejauhan,
menggetarkan jalan setapak di bawah sepatu hak tingginya.

Gerak Kamera Mengikuti:
Musim panas itu, ia menjual tubuhnya untuk dolar yang masih bau tinta.
Ia berjalan melewati Coney Island dengan Vitaly,
tangannya di pinggulnya, seperti tangan pemahat yang menekan tanah liat basah.
Dalam bingkai yang direndam cahaya neon, mereka seperti figur lilin
yang belum selesai dicetak.
Keduanya tahu bahwa dongeng ini ditulis dalam bahasa
yang tidak mereka kuasai.

Dalam Ruang – Klub Strip – Pencahayaan Temaram Hangat
Di ruang belakang klub Manhattan, kamera genggam
mengikuti ponsel yang bergetar di meja rias.
Nama “Nellie” muncul di layar.
Seorang pria di sudut membakar uang tunai hanya untuk melihatnya menghilang.
Buih sampanye mengalir di atas kulit.
“Annie, kau akan pulang?” suara di ujung lain bertanya,
tapi Anora tetap diam, terpaku dalam sorot wajahnya yang dekat,
matanya terpantul dalam cermin yang penuh bedak.

Potongan Cepat ke:
Dalam Ruang – Hotel Moskow – Malam
Langkah-langkah kecil berubah menjadi bayangan panjang
di aula hotel. Fokus mendalam: dua pria berbicara di sudut,
suara mereka terdengar seperti gesekan kartu kredit.
Di layar TV kamar, cuplikan pernikahan dimainkan berulang tanpa henti.
Dalam dekade berikutnya, Amerika akan memproduksi lebih banyak mimpi.
Fokus berpindah dari wajah Anora ke jendela tinggi,
Moskow bersinar dalam bias cahaya jalanan yang kabur.
Kamera diam, menunggu.

Potongan Kilat – Hujan Uang di Klub Strip
Poof!—sebuah nyala api kecil di ujung rokok menyala,
mengisyaratkan akhir yang sama, berulang dalam berbagai warna.
Anora berdiri di tengah hujan uang,
sebelum cahaya meredup, sebelum gambar terakhir membeku.

Luar Ruang – Jalan Kayu Pinggir Pantai – Jam Biru

Dari monitor, aku mengamati, merekam setiap gerakan.
Mata lensaku menangkapnya untuk terakhir kali,
sebelum kredit bergulir, sebelum lampu bioskop menyala.

Larut Ke Hitam.

2025

.

Daniel Blumberg

Tak seorang pun membahas bagaimana suara
dapat tertanam dalam beton,
seperti dengung nada dasar bergetar di bawah tanah,
tak terdengar, tapi selalu ada.
Rangka baja yang menopang gedung ini
beresonansi seperti getaran gesek senar sumbang,
nyaris retak, nyaris pecah.

Ketukan perkusi mendadak dari palu baja di balok beton.
Suara gesekan kapur di atas cetak biru,
ritmenya seperti petikan senar pendek dan tajam,
dimainkan terlalu cepat, terlalu kasar.
Langkah kaki László di aula kosong,
mengalun panjang namun berat,
meninggalkan gema gaung yang tiba terlambat.
“Bangunan ini tidak berbicara.”
Tapi aku mendengar sesuatu—
ketukan pelan, seperti tuts piano diredam,
terhimpit oleh benda asing,
seperti harmoni yang berusaha lolos dari batasan struktur.

Di studio rekaman, aku mengulang kembali adegan itu.
Virág berdiri di ambang pintu,
bayangannya pecah dalam refleksi jendela,
dan dalam lonjakan orkestra yang perlahan membesar,
tiga nada minor dari cello
muncul dari kehampaan,
seperti napas tertahan sebelum kata-kata diucapkan.
Di belakangnya, New York tenggelam dalam neon,
bergetar seperti gema pita suara yang tertahan,
menciptakan nada-nada tinggi tak disengaja
yang merayap di bawah dialog.

Trek terakhir dimainkan dalam ruang kedap suara.
Di gedung yang belum selesai,
László memandang menara yang ia rancang.
Silau matahari membakar garis-garis lurus di wajahnya,
dengung frekuensi rendah mengisi udara
seperti debu yang tak terlihat.
Jari-jarinya menyentuh beton kasar,
seperti tangan yang mencari getaran nada dalam ruang kosong,
sesuatu yang tak bisa diubah.

“Ini milikku?”
Pertanyaan itu tergantung di udara,
larut dalam dengungan mesin cetak biru,
hilang dalam gaung nada rendah yang memenuhi ruang.

Di antara puing-puing, angin memetik kawat baja,
menghasilkan nada harmonis tak disengaja,
nada-nada yang tak seorang pun berniat mencipta.
Tetesan hujan jatuh di atas rangka besi,
memukul-mukul permukaannya dengan pola ritme acak,
seperti improvisasi yang tidak pernah ditulis dalam partitur.

Sejauh yang kita tahu, melodi ini lenyap.
Lenyap dari bangunan,
lenyap dari papan gambar,
lenyap dari gedung yang tak pernah sepenuhnya dimiliki.

Tapi bagaimana dengan suara-suara yang tertinggal?
Di mana gema terakhirnya?

2025

.

The Substance – 2024

Hari ini sehelai rambut pirang platinum jatuh ke lantai rias.
Aku sedang mencampurkan foundation dengan undertone dingin,
menyesuaikan gradasi warna kulit seperti bayangan
yang berubah tergantung sudut cahaya.

Aku sedang membaca label di botol serum anti-penuaan,
membayangkan bagaimana bahan kimia ini meresap ke dalam pori-pori,
mengencangkan garis-garis halus, menciptakan kulit baru
yang lebih kencang, lebih bercahaya, lebih tidak nyata.

Di atas meja rias, lipstik merah pekat terbuka,
di sampingnya sikat maskara masih berlumur hitam.
Di cermin, Rebecca Dayan tersenyum
sebelum menyapukan bedak terakhir,
“Kau tahu, yang asli selalu kalah dengan yang lebih sempurna.”

Di sudut ruang ganti, Demi Moore duduk dalam siluetnya sendiri,
cahayanya lembut tapi tak kenal ampun.
Kuas bronzer menyentuh tulang pipinya,
menegaskan struktur yang sudah diukir waktu.
Di belakangnya, poster-poster film lamanya
mengintip dari bayangan, wajah yang sama,
tapi dalam berbagai versi, lapisan-lapisan masa lalu
yang dipertahankan dalam seluloid.

Kadang aku berhenti merias dan melihat
bekas lem bulu mata di ujung jemari.
Aku ingin kau tahu bahwa di tahun 2011,
aku mencampurkan pewarna rambut abu dengan highlight perak,
menciptakan kilau yang tampak seolah lahir dari pencahayaan alami,
“Ilusi sempurna,” kata seseorang di belakang monitor,
yang suaranya hanya terdengar saat pengambilan gambar selesai.

Aku tahu lebih sedikit dari sebelumnya,
dan aku bekerja di ruang di mana wajah-wajah bisa berubah,
di mana garis waktu tidak linier,
di mana kecantikan bukan sekadar genetik, tapi pilihan,
seperti fondasi yang bisa dibangun ulang,
seperti sesuatu yang bisa diciptakan dari awal.

Di layar monitor, sosok The Substance melangkah keluar dari gelap.
Kulitnya sempurna, bibirnya terisi,
rambutnya berkilau tanpa satu helai pun keluar dari tempatnya.
Dan dalam sorotan lampu yang kejam,
tak ada satu pun pori yang tersisa untuk bernafas.

2025

.

Wicked – 2024

“Tidak ada penyihir yang dilahirkan sama,” kata seseorang di ruang pas.
Di sekelilingku, beludru dan satin menumpuk seperti gelombang
di atas lantai bengkel, sisa-sisa kain yang pernah menjadi mimpi.

Aku mengangkat rok Elphaba, jubah hijau berkilau dalam cahaya,
garis-garis emas melingkar seperti urat di dedaunan Oz.
Di cermin, Cynthia Erivo berdiri dengan tangan terangkat,
seperti sebuah mantra yang belum selesai diucapkan.
Aku melihatnya bukan sebagai penyihir, tetapi sebagai siluet—
seorang wanita yang terbentuk oleh jahitan dan benang.

Di sudut lain, Ariana Grande menyesuaikan gaun Glinda,
lapisan-lapisan tulle dan organza berbuih di sekelilingnya.
“Pink goes good with green,” katanya, mengulangi kata-kata
yang telah dijahit ke dalam sejarah Emerald City.

Aku mendengar bunyi gunting yang memotong kain,
suara jarum yang menjahit cepat,
desis setrika yang menghaluskan lipatan,
seperti bisikan rahasia di antara jahitan gaun pesta.

Aku ingat jubah pertama yang kusulam,
di tepi panggung gelap, saat sutra hitam merayap di jemari.
Bukan sihir, tapi keterampilan, kata seorang mentor—
namun bukankah itu hal yang sama?

Jika bisa, aku ingin menghabiskan malam ini di dalam lipatan-lipatan kain,
mendengar gemerisik renda yang bergerak sendiri,
merasakan bobot dari busur besar di punggung Glinda,
menyaksikan jubah Elphaba melayang sebelum ia terbang.

Di balik tirai panggung, aku melihat pantulan Emerald City,
gedung-gedung kaca yang menangkap cahaya dengan warna yang tak nyata,
langit yang terlalu hijau, terlalu sempurna untuk dunia nyata.
Mereka bilang gaun-gaun ini hanya kostum,

tapi aku tahu, mereka lebih dari itu—
mereka adalah sejarah yang dijahit ulang setiap kali seseorang melangkah ke atas panggung.

Aku tak akan pernah melupakan siluet itu:
Elphaba, berdiri di atas menara, jubahnya berkibar,
Glinda di bawahnya, gaunnya mengembang seperti awan.
Adegan yang selalu dimulai dengan jahitan kecil,
dan diakhiri dengan keabadian di atas layar.

2025


Ilustrasi: City Night (Georgia O’Keeffe), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Puisi-Puisi Mutia Sukma – Pasar Gede
Puisi Toni Lesmana – Rumah Merah Muda
Puisi-Puisi Iyut Fitra – Kepadamu Kami Bicara


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

22 thoughts on “Puisi-Puisi IRZI – Dalam Sorotan Lampu yang Kejam”

  1. M.paess berkata:

    Puisi yang sangat bagus

  2. abid berkata:

    baguss, puisinya rapii🤩

  3. Muhammad Rasyid berkata:

    Puisi nya sangat menyentuh indah dan menarik untuk dibaca good job

  4. avatarstarrs berkata:

    puisi dengan pemilihan kata dan tema (mungkin) yg modern, mungkin banyak generasi muda yg menyukai puisi ini, tapi aku lebih merasa membaca sebuah cerita daripada puisi, mungkin kurang nya pengalaman ku tentang dunia puisi, tetap menurut ku puisi ini memiliki pemilihan kata yg bagus dan arti yg tersembunyi,

  5. nanas berkata:

    Tulisan yang begitu indah, membacanya seakan masuk kedalam cerita. Setiap kata bagai menyihir hati

  6. ichsan berkata:

    puisinya sangat indah

  7. alya berkata:

    pemilihan kata yang bagus, rapi dan terorganisir

  8. Salwa berkata:

    Puisi ini keren banget dan punya makna yg dalem. Setiap barisnya berasa punya nyawa sendiri, kayak ngebawa kita jalan-jalan dari Berlin yang dingin sampai New York yang megah, sambil ngerasain patah hati, rindu, dan rasa nggak pulang-pulang.

    Bahasanya puitis tapi tetap natural, nggak maksa. Imajinasi yang dipakai juga unik, kuat banget, dan bikin suasana langsung kebayang di kepala. Ini bukan cuma soal kata-kata indah, tapi tentang cerita dan perasaan yang jujur dan nyesek, disampaikan dengan cara yang tenang tapi ngena. ❤️

  9. Moh Fauzi berkata:

    Isi puisinya sangat menyentuh sekaliii

  10. Wildan Prayata berkata:

    Puisi yang penuh makna yang sangat memaknai realita kehidupan beberapa orang yang merasakan kesialan dan kemalangan yang tidak terduga

  11. Sita Masyita berkata:

    Puisinya menyentuh dan ringan untuk di baca

  12. Nurhayati berkata:

    Puisi nya bagus bgt

  13. Kada berkata:

    bagus banget, menarik

  14. Muhamad rizki Slamet berkata:

    bagus puisi nya, kayak nyata relate sama aslinya

  15. Zulfa berkata:

    Bagus banget setiap diksi yang dipilih sangat-sangat indah

  16. kosong berkata:

    Puisinya lumayan ngena ke aku, kayak terasa masuk aja sih ke dalam puisinya

  17. Tayoo berkata:

    puisi nya menarik

  18. via berkata:

    bagus banget puisinya, menarik untuk dibaca

  19. Aldi berkata:

    bagus menurut ku puisinya, okelah

  20. evelyn berkata:

    puisinya bagus, menarik, dan sangat enak dibaca karena penulisannya tertata dengan rapih

  21. jeremy berkata:

    ini puisi nya bagus banget kayak nyata gtu

  22. Anisa Salsabila berkata:

    Baguss sekalii😍😍😍

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *