Menu
Menu

Sayuti adalah seorang tokoh yang mengalami pergolakan paling besar yang menjadi ‘baju tebal’, membatasi jarak antara Sayuti dan anak tirinya.


Oleh: Lolik Apung |

Sekretaris Redaksi Bacapetra.co.


Pada hari Sabtu, 3 Agustus 2024, Klub Buku Petra kembali menggelar kegiatan bincang buku bulanan. Berlangsung di Perpustakaan Klub Buku Petra, kegiatan ini adalah yang ke-66 secara berturut-turut. Buku yang dibahas berjudul Baju Tebal karangan Rizaldy Yusuf, terbitan baNANA. Arsy Juwandi bertindak sebagai pemantik.

Dalam pembacaannya, Arsy menduga judul buku ini adalah metafora untuk rasa nyaman yang berusaha diciptakan orang tua kepada anaknya. Tokoh Sayuti terhadap Lani, putrinya. Sayuti mengungkapkannya baik melalui ucapan maupun tindakan. Sayuti membelikan banyak boneka untuk Lani (hal. 4), tidak merokok di depannya (hal. 12), dan menerima anak itu bersama Inayah, janda yang dinikahinya (hal. 39).

Arsy melihat novel ini berusaha menggambarkan kompleksitas kehidupan keluarga dan berpotensi mewakili suara urban dalam sastra Indonesia. Setelah Inayah pergi (hal. 20), Sayuti dihadapi dengan tuntutan orang tua Inayah agar Lani tinggal bersama mereka: “Menurut kami ke depannya Lani tinggal di sini saja. Kami percaya, kau menyayanginya seperti anak sendiri, tetapi kalau dia tetap di rumahmu, tidak patut juga rasanya.” (hal. 29). Situasi tarik-ulur ini menurut Arsy menutup potensi Sayuti untuk hidup bersama Lani. Arsy lantas bertanya apakah laki-laki yang ditinggali perempuannya masih bisa merawat anak mereka sebaik ketika perempuan ditinggalkan laki-lakinya?

Setelah Arsy, Tommy Hikmat hadir sebagai teman bincang yang kedua. Tommy melihat novel ini seperti potongan-potongan cerpen, sehingga ada beberapa potongan cerita yang terkesan dipaksakan masuk dalam jalinan cerita. Misalnya dalam cara penulis memasukan ingatan-ingatan Sayuti dalam keutuhan cerita: paragraf terakhir hal. 14, paragraf terakhir hal. 33, atau paragraf terakhir hal. 102. Meski demikian, menurutnya juga, fragmen-fragmen ini potensial jika dikembangkan.

Lebih lanjut, Tommy berpendapat karakter-karakter dalam novel ini tidak berkembang, seperti karakter Sayuti, Lisa (ipar), Lani, atau kedua mertua Sayuti. Tidak adanya perkembangan karakter membuat Tommy juga meragukan logika cerita. “Usaha Sayuti untuk mempertahankan hubungannya dengan Lani, tidak nampak dalam kedalaman hubungan Sayuti dengan Lani. Hanya jika hubungan mereka dalam, maka masuk akal Sayuti memperjuangkan Lani,” tutupnya.

Armin Bell yang jadi teman bincang yang ketiga, juga turut mengomentari perkembangan karakter dalam novel ini. “Apa sebenarnya yang diperjuangkan tokoh-tokoh ini?” Menurutnya karakter bisa berkembang, kalau tokoh-tokoh mempunyai tujuan yang diperjuangkan. Lebih lanjut, buku ini terkesan ringan, tetapi dirinya segera mengalami kelelahan karena begitu banyak fragmen flashback dalam novelet ini (halaman 14, 22, 33, 42, 50, 76, 93, 102). “Novel ini mungkin berusaha untuk mengembalikan sastra kembali ke dunia urban di tengah kecendrungan etnografis,” tutupnya. Sementara itu Ucique Jehaun yang malam itu tidak sempat hadir langsung, mengirim komentar tentang isi buku yang dibacakan oleh Armin. Menurutnya novel ini mesti dilegitimasi dengan sentuhan sastra, sehingga tidak terkesan sebagai cerita F-Tv.

Peserta kelima yang membagikan hasil pembacaannya pada malam itu adalah Opin Sanjaya. Melihat cover buku pertama kali, ia membayangkan akan bertemu dengan kesenangan baru. Namun setelah membacanya, tidak ada hal yang membuatnya senang. Ia juga mempertanyakan kenapa buku ini diberi judul Baju Tebal. Judul ini tampak sulit ditemukan kesinambungannya dengan isi novel. Meski demikian, Opin berusaha menafsir judul buku ini: “Sayuti menurutnya seorang tokoh yang mengalami pergolakan paling besar. Pergolakan itu justru menjadi ‘baju tebal’ yang membatasi jarak antara Sayuti dan anak tirinya itu,” ujarnya.

Saya dapat giliran setelah Opin. Bagi saya, cerita ini tidak cukup relevan. Hanya hubungan darahlah yang sungguh mengikat dua individu. Sayuti yang memperjuangkan Lani, terkesan berlebihan padahal kalau dilihat ia tidak punya hak terhadap Lani pasca Inayah pergi. Saya bersepakat dengan pandangan pebincang lainnya bahwa novel ini terpisah-pisah: ada beberapa bagian yang tidak nyambung. Bagian-bagian itu sebenarnya bisa berdiri sendiri. Adapun cerita yang bisa membuat buku ini menarik adalah hubungan antara Sayuti dan Lisa adik iparnya. Bagaimana Sayuti meyakinkan Lisa, lalu membawa hubungan mereka itu ke hadapan orang tua Lisa dan kepada Lani tampak lebih menantang untuk dikembangkan.

Boy Doreng yang hadir sebagai pebincang yang ke-7 melihat novel ini seperti jatuh pada kecendrungan umum narasi film yang menceritakan situasi keluarga, lalu menembus jutaan viewer. Ia juga menilai jika novel ini mau menggambarkan kerapuhan situasi keluarga-keluarga di tengah dunia yang kompleks. “Saya sepakat jika tuntutan ‘menjadi berguna’ di dunia ini mengubah relasi-relasi individu dalam keluarga,” tutupnya.

Bincang Buku Petra malam itu pun berakhir dengan penyematan 3 bintang pada novel karya Rizaldy Yusuf ini. [*]


Baca juga:
Lima Tahun, Jalan Bersama
Kumcer Keluarga Oriente: Tragedi, Gangguan Jiwa, dan Isu Fatherless


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

3 thoughts on “Fragmentasi dan Potensi Baju Tebal”

  1. neisha berkata:

    “Fragmentasi dan Potensi Baju Tebal” adalah sebuah karya sastra yang kaya makna dan penuh simbolisme. Buku ini mengeksplorasi berbagai bentuk keterpecahan—baik dalam identitas, masyarakat, maupun cara berpikir—dan bagaimana manusia mencoba melindungi diri dari dunia luar dengan “baju tebal” yang bersifat metaforis. Penulis menyajikan gagasannya dengan gaya bahasa yang reflektif, padat, namun tetap mengalir, membuat pembaca larut dalam kontemplasi dari satu bab ke bab berikutnya.

    Kekuatan utama buku ini terletak pada kemampuannya membingkai fenomena sosial dan psikologis ke dalam narasi yang puitis namun kritis. Dengan pendekatan esai yang bercampur unsur naratif, pembaca diajak menyelami lapisan-lapisan kesadaran manusia, melihat bagaimana luka, ketakutan, dan pencarian jati diri menjadi bagian dari dinamika hidup sehari-hari. “Baju tebal” dalam buku ini bukan sekadar pelindung, melainkan juga simbol dari batas, ilusi, dan bahkan beban yang tak disadari.

    Secara keseluruhan, Fragmentasi dan Potensi Baju Tebal adalah buku yang menantang sekaligus menggugah. Ia tidak memberikan jawaban, tetapi membuka ruang perenungan yang luas bagi pembaca. Ini adalah karya yang cocok bagi mereka yang menyukai bacaan mendalam, filosofis, dan sarat interpretasi, serta bagi siapa saja yang tertarik pada dinamika antara diri, masyarakat, dan dunia yang terus berubah.

  2. passionatec67063b545 berkata:

    Apakah sebenarnya niat penulis itu?, mengapa didalamnya tidak berisikan rintangan atau perjuangan seperti yang dinilai mereka, bukankah pada umumnya cerita pasti memiliki konflik atau laiinya untuk menarik

  3. adrian maulana berkata:

    buku ini bagus tetapi kurang di tanda baca dan kutipan teks tersebut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *