Menu
Menu

Terdengar suara grasah-grusuh dari dalam. Kurir itu berharap perempuan itu segera menemukan uangnya agar kesalahpahaman ini segera berlalu.


Oleh: Aliurridha |

Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Mataram. Pada tahun 2023 terpilih sebagai emerging writers dalam Makassar International Writers Festival. Bergiat di komunitas Akarpohon. Novel terbarunya berjudul Teori Pernikahan Bahagia (Falcon Publishing, 2024).


Ketika ia baru saja mematikan motornya, sepasang suami istri itu sedang menonton acara sulap di televisi. Acara itu memperlihatkan seorang dengan wajah menyebalkan, menghentikan orang-orang yang ia temui di jalan. Pesulap itu kemudian memainkan triknya ke setiap pejalan kaki yang bersedia. Acaranya membosankan. Namun, pasangan ini tampak menikmati. Mereka merasa itu lucu. Lalu ketika pesulap itu mengerjai si pejalan kaki dengan trik kecepatan tangannya, membuat hilang uang si pejalan kaki, mereka mulai kesal. Si pejalan kaki juga kesal dan meminta uangnya dikembalikan. Pesulap itu kemudian memberikan tiga kesempatan untuk si pejalan kaki menebak di mana kira-kira si pesulap menyembunyikan uangnya. Tiga tebakan telah disampaikan, dan semuanya salah. Uang itu kini menjadi milik si pesulap. Begitulah aturan mainnya.

“Acara sialan!” maki si lelaki. “Harusnya kepala pesulap itu dihantam palu!”

Si istri tidak menanggapi. Suaminya memang selalu marah-marah setiap menonton televisi. Suaminya sangat membenci acara bodoh di televisi, tetapi ia tetap juga menontonnya. Meski si istri tidak menanggapi, ia sepakat dengan apa yang dikatakan suaminya: pesulap itu memang perlu dihantam palu! Pikiran itu muncul ketika menoleh ke meja kecil di samping sofa tempat ia duduk. Ada palu yang tadi digunakan suaminya menancapkan paku di dinding.

“Ada tamu itu,” kata istrinya begitu mendengar bunyi bel.

Tamu itu membunyikan bel untuk kedua kali. Si suami keluar, mencari-cari siapa yang membunyikan bel malam-malam begini. Ia berjalan tergopoh-gopoh. Perut tambunnya bergoyang di setiap langkahnya. Si istri pergi ke belakang untuk mengambil sisa cucian buat disetrika. Keduanya tidak melihat si pesulap mengembalikan uang ke si pejalan kaki setelah meminta si pejalan kaki melihat ke arah kamera.

Lelaki tambun itu membuka gerbang dan bertanya kepentingan tamunya.

“Maaf, Pak. Saya mau antar paket,” kata kurir itu.

“Saya tidak pesan apa-apa,” balas si lelaki tambun.

“Ah, iya, maaf, maksud saya jahitan jas Bapak.”

“Oh, dari Penjahit Tolowatu. Telat sekali. Saya tunggu dari dua hari lalu. Harusnya tadi pagi saya pakai jas itu ke acara nikah sepupu saya. Bagaimana sih kalian ini?”

Setelah meminta tamu itu masuk, lelaki itu melontarkan keluhan ke wajah si kurir. Kurir itu memaki-maki dalam hati. Harusnya kamu memarahi Tolowatu, bukan saya. Saya ini cuma kurir! Namun, tentu saja, ia tidak berani mengatakan itu. Ia berusaha tersenyum dan mendengarkan segala keluh si lelaki tambun.

Lelaki tambun itu mempersilahkan si kurir duduk di ruang tamu. Ia berkata, tidak akan membayar sampai jas itu terbukti pas. Si kurir terpaksa mengikuti kemauan tuan rumah.

Lelaki itu mencoba-coba jas barunya. Jas itu tampak agak sempit untuk tubuhnya. Perutnya menonjol keluar ketika si lelaki memaksa mengancingnya. Wajahnya memperlihatkan perasaan kesal, seolah berkata, saya tidak mau membayarnya! Kurir itu memperhatikan dengan perasaan waswas. Keringat mulai melapis pelipisnya. Si kurir mulai cemas lelaki itu tidak mau membayar. Namun, begitu si lelaki tambun berkata tunggu sebentar, ia hendak mengambil uang, kurir itu langsung merasa lega. Tidak lama si lelaki tambun keluar.

Begitu si lelaki tambun menyerahkan uangnya, kurir itu mendapat perasaan tidak menyenangkan. Ia menatap tidak percaya melihat uangnya yang ia terima. Ia meminta si lelaki untuk tidak dulu mengambil jas itu dan buru-buru masuk. Ia mengajak lelaki itu untuk bersama-sama menghitung uang yang tadi diserahkannya. Si kurir menderetkan lembar demi lembar uang di meja. Uang itu berupa pecahan lima ribu, sepuluh ribu, dan dua puluh ribu. Tidak ada satu pun uang besar. Memang banyak lembarannya, tetapi uang kecil semua.

“Kamu ngerjain saya, ya?” kata si lelaki tambun.

Kurir itu terkejut. “Ngerjain bagaimana?”

“Tadi jelas-jelas jumlahnya tiga ratus tujuh puluh ribu!”

“Sumpah, Pak. Uangnya cuma ini.”

“Kamu mau main sulap, ya? Mau ngerjain saya lagi?”

“Lagi?”

“Sudah jangan pura-pura tidak ngerti!”

Kurir itu kebingungan. Agaknya orang ini tidak waras pikirannya. Pantas saja kurir-kurir lain tidak ada yang mau diminta antar barang ke sini. Sial betul diriku, pikir si kurir.

“Begini saja. coba Bapak lihat lagi uang Bapak di dalam sana. Mungkin uangnya masih ada.”

Lelaki tambun itu kemudian teringat pada pesulap yang suka memerintah di televisi.

“Saya tidak mau. Kamu saja yang lihat sendiri!”

Si kurir makin kebingungan. “Maksudnya, saya masuk ke dalam untuk cek?”

“Tidak, tidak, tidak. Langsung saja keluarkan uang itu. Saya tidak punya waktu untuk lihat pertunjukan sulapmu.”

“Pak, saya ini kurir. Bukan pesulap. Saya tidak mengerti maksud Bapak. Saya diminta ke sini untuk antar barang. Jas ini. Saya telat karena saya harus selesaikan semua jadwal pengantaran. Saya harus matikan aplikasi, baru datang ke sini. Itu makanya saya datang malam-malam begini.”

“Banyak trik kamu,” ujar lelaki tambun itu. Ia mulai terengah-engah menahan amarahnya. “Begini sudah. Saya periksa saja kamu, ya!”

“Eh, apa-apaan ini?” kata si kurir memukul tangan si tambun yang memaksa memasukkan tangan ke kantong celananya.

“Keluarkan isi kantongmu. Saya tidak main-main. Kamu mau saya pukul, ya!” ancam si lelaki tambun.

Seorang perempuan paruh baya bertubuh kecil, berambut pendek dan lurus, muncul dari ruang tengah. Rambutnya yang halus bergerak-gerak mengikuti pergerakannya.

“Ada apa ini?” tanya si istri.

“Kurir ini, Mah. Dia sudah gila. Dia datang ke sini mau main sulap. Mau kerjain kita. Uang Papah dihilangkannya.”

“Uang apa?”

“Uang yang tadi Mamah kasih.”

“Astaga. Uang untuk bayar ongkos jahit jas itu?” Perempuan ini menoleh ke arah si kurir. “Jangan main-main kamu! Itu bukan uang sedikit.”

Kurir itu bergidik ngeri melihat semburat kemarahan mengemuka di wajah perempuan itu. Tadinya ia mengira laki-laki tambun ini sedang mengerjainya. Tetapi begitu melihat sorot mata si istri, ia bergidik ngeri. Itu bukan sorot mata orang normal. Ia menduga kedua orang ini pasangan sakit jiwa. Tidak mungkin tidak. Tidak ada alasan lain kenapa ada orang yang mau tinggal di tempat seperti ini.

“Begini sudah. Saya mohon, Bapak dan Ibu lihat dulu ke dalam rumah. Mungkin saja uangnya ada. Mungkin Bapak dan Ibu ini tadi salah ambil.”

“Alah, kamu ini cari alasan saja. Kamu mau kabur kan begitu kita ke dalam,” kata si lelaki.

“Sumpah, tidak. Saya tidak akan pergi.”

“Oke, begini sudah. Saya akan masuk ke dalam. Papah tunggu di sini. Jangan sampai dia kabur!”

Perempuan itu segera masuk. Terdengar suara grasah-grusuh dari dalam. Kurir itu berharap perempuan itu segera menemukan uangnya agar kesalahpahaman ini segera berlalu. Ia ingin segera enyah dari tempat sialan ini. Namun, agak lama ia menunggu, perempuan ini keluar. Wajahnya lebih marah daripada tadi.

“Uangnya tidak ada!” kata perempuan itu.

“Sudah kamu ngaku saja. Uangnya di kamu, kan?”

“Sumpah demi Allah, Pak. Saya tidak berani ambil uang orang sebanyak itu.”

“Berarti kalau sedikit kamu berani?”

“Tidak. Saya tidak pernah ambil uang orang.”

Lelaki tambun itu menyoroti wajah si kurir. Wajah si kurir benar-benar ketakutan.

“Begini sudah. Kamu perlihatkan uang di kantong celanamu itu? Saya tahu ada uang di sana.”

“Iya. Memang ada uang. Itu uang saya.”

“Kita lihat nominalnya.”

Dengan ragu-ragu dan agak takut si kurir itu mengeluarkan uang di kantongnya. Segumpal pecahan ratusan dan lima puluhan muncul di tangannya.

“Tuh, kan benar. Itu uang saya,” kata si lelaki itu.

“Ini uang saya, Pak. Hasil kerja seharian.”

“Masak kurir punya uang sebanyak itu? Kamu nyuri itu pasti.”

“Beneran, Pak. Tadi saya juga ambil uang di ATM buat bayar kebutuhan bulanan.”

“Coba kita hitung. Jumlahnya pasti pas.”

Baru juga mereka mulai menghitung, si perempuan lebih dulu menghantam kepala si kurir dengan palu. Kurir itu roboh seketika. Tidak berhenti, perempuan ini menghantam lagi kepala kurir itu sampai tiga kali. Darah mengucur dari kepalanya yang pecah. Beberapa memercik dan singgah di wajah perempuan itu.

“Mau tipu kita, hah, kamu! Mau main sulap-sulap!”

“Mah, kamu gila apa.” Lelaki tambun segera memeriksa keadaan lelaki itu. Tidak ada denyut di pergelangan tangannya. “Kamu sudah bunuh dia!”

“Biar saja. Dia mau curi uang kita. Berani-beraninya. Dia tidak tahu apa siapa kita?”

“Sialan. Kamu ini selalu begitu. Berdarah panas. Kamu tidak capek apa dikejar-kejar terus. Sekarang bagaimana ini, kita harus apakan ini mayat?”

Istrinya diam saja. Laki-laki itu pun terus menyalahkan istrinya atas segala kejatuhan yang menimpa mereka. Istrinya membela diri dan memaki suaminya. Mereka terus saja bertengkar sampai terdengar nada pesan masuk. Dari telepon genggam kurir itu. Si suami memeriksa isi pesannya.

Ayah di mana. Kenapa lama pulang. Uang buat bayar SPP sudah ada?

“Ternyata benar dia mau curi uang kita,” ujar si lelaki tambun membaca pesan dari anak kurir itu.

“Tidak, Pah. Mamah keliru. Uangnya ada di kantong kanan daster Mamah. Uang yang Mamah kasih tadi itu dari kantong kiri. Itu uang buat belanja besok.”

Si suami melongo. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan istrinya.

“Terus sekarang mayat ini bagaimana?” tanya suaminya.

Tiba-tiba terdengar siaran berita kriminal malam. Polisi baru saja menemukan potongan tubuh seorang pria di kebun pisang. [*]


Ilustrasi: Magician (Michael Hafftka), dari WikiArt.org.

Baca juga:
Membunuh Katak – Cerpen Armin Bell
Sekotak Kartu – Cerpen Yuan Jonta


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

26 thoughts on “Kurir”

  1. aryo karlan berkata:

    ending yg tragis…..potret kehidupan masa kini kah?

  2. Hi fiksi berkata:

    Aku kesini buat nyari referensi cerpen, buat cerpenku, terus ketemu cerita iniii!! Seru banget!!!

  3. Nadia shahira berkata:

    Jadi kasian ama anak dn istri si kurir

  4. Affan berkata:

    Jangan mengambil keputusan secara gegabah dan penuh emosi, karena tindakan yang terburu-buru bisa berujung pada penyesalan dan kehancuran.

  5. Yashintacaa berkata:

    Cerpennya seru sekali. Pesan moralnya jangan terlalu cepat mengambil keputusan apalagi yang berhubungan dengan orang lain. Lihat dari segala sisi, jangan selalu merasa benar tanpa mencari kebenaran yang pasti terlebih dahulu. Kadang keyakinanmu juga bisa salah. Ini suami istrinya sama sama problematik sih hahaha kocak.

  6. Via Andini berkata:

    semakin aku baca semakin hah? hah? kok gini? pasutri apaan ini woy? psikopat kah?😭

  7. Krisdiana berkata:

    Kurang fokus terhadap apa yang dilihat hingga merugikan diri sendiri

  8. bilqis berkata:

    itulah pentingnya belajar tidak hanya melihat dari 1 sisi, dan jangan menilai rendah orang lain apalgi menuduh hal yang belum pasti. tidak semua orang sama maka dari itu berpikir dahulu sebelum bertindak

  9. feny rianti berkata:

    ini pentingnya mengontrol emosi saat mengambil keputusan

  10. Chelsea berkata:

    Intinya ga boleh langsung emosi kalau kita lagi ngadepin masalah

  11. ayy margolangg berkata:

    dari cerita tersebut kita kuta tau bahwa pentingnya manusia yang memanusiakan orang lain, kita juga tidak boleh gegabah untuk mengambil keputusan dan langsung menyalahkan orang lain atas adanya rasa ketidakpuasan dalam diri kita, emosi dan kecerobohan dapat menjadi malapetaka bagu diri kita sendiri.

  12. Ardi berkata:

    Dari cerita tersebut kita ambil pelajaran bahwa pikirkan sebelum bertindak maka kita akan lebih jauh berpikir secara jernih

  13. naselia ceisya berkata:

    dari cerita tersebut, ini sangat menarik karena kita bisa belajar untuk bertanggung jawab dan belajar untuk bisa lebih bersabar serta tidak terlalu gegabah dalam mengambil keputusan. satu lagi agar tidak seenaknya dalam menghakimi seseorang.

  14. Tole berkata:

    Penting nya jangan sampai kita membuat keputusan saat kita sedang emosi

  15. adzmi berkata:

    cerita yang menarik di cerita ini kita bisa belajar mengontrol emosi dan jangan mengambil keputusan secara gegagah

  16. Andin berkata:

    Terkadang menyelesaikan masalah dengan emosi dan ego itu akan berakibat fatal dan berakhir penyesalan bukan hanya untuk korban tapi juga untuk pelaku. Kepala dingin itu sangan diperlukan, karna emosi itu diibaratkan api yang terus meluap luap melahap habis buah kesabaran.
    Ibarat api yang ganas akan semakin ganas jika di terjang kembali dengan kobaran api yang lebih ganas dari api itu sendiri.

  17. Khirany Novianti berkata:

    Dari cerita ini banyak sekali pelajaran mulai dari ketelitian, kesabaran serta tanggung jawab, dan pengendalian emosi, apalagi di dalam ini di berikan mengenai pembunuhan, merencanakan pembunuhan saja sapah apalagi melakukannya, cerita ini sangat bagus

  18. cici fadila berkata:

    emosi dan juga kecerobohan membawa malapetaka sampai harus merenggut nyawa seseorang

  19. davii berkata:

    Jangan mengambil keputusan secara gegabah

  20. Meera Paw berkata:

    Dari cerita ini kita dapat mengambil pembelajaran bahwa jangan gegabah dalam melakukan suatu tindakan apapun itu. Dan selama membaca ini jujur saya greget banget sama sepasang suami istri itu mengapa mereka tidak mengecek hal yg sebenarnya terjadi dulu? Malah langsung menghakimi, hingga korban meninggal dunia. Tapi nasi sudah menjadi bubur kurir itu sudah meninggal karna sikap gegabah mereka sendiri. Ada pelajaran lagi yg bisa kita tangkap dari cerita ini pula yaitu, jangan menghakimi orang lain tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi.

  21. reza berkata:

    keinginan yg begitu mendalam dan ego yg tinggi dapat membunuhmu sendiri

  22. Nina berkata:

    Kata-kata adalah doa, yang bisa terjadi kapanpun. Berkatalah dengan bijak, apa yang ingin kamu katakan pikirkanlah dengan baik. Kata-kata yang terlontar dari mulut tanpa adanya penalaran bisa sama halnya dengan muntah yang berbau dan menjijikkan.

  23. Jiva Agung berkata:

    Kenapa cerpen sebagus ini belum ada yang memberi komentar? Yang membuat saya salut, semua penggalan ceritanya seperti saling saut-menyaut. Saling terhubung. Keren.

  24. Muhammad berkata:

    Laki” harus banyak uang dengan bekerja jika tidak bekerja maka dunia akan jahat pada laki” yg malas.

  25. haidar ali yahya berkata:

    jadilah manusia yang memanusiakan orang lain ,dan kewajiban sesama manusia adalah saling tolong menolong ,kriteria menjadi manusia yang baik dan punya rasa belas kasih antar sesama

  26. haidar ali yahya berkata:

    sedikit ilmu yang dapat saya amati ialah (kesalahan pahaman ) dan tidak ber peri kemanusiaan ,ke inginan yang tajam dengan semua nafsu² nya sungguh demikian lah gambaran syetan yang terkutuk ,,,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *