Kisah Satu Jam – Cerpen Kate Chopin
24 Oktober 2024| | 3 CommentsDia masih muda, dengan wajah lembut yang memancarkan ketenangan, dengan garis-garis yang menunjukkan penindasan dan kekuatan tertentu.
Oleh: Yuli Widi |
Seseorang yang saat ini sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi swasta dan mengabdikan diri pada sastra dan musik.
Mengetahui bahwa Nyonya Mallard memiliki masalah jantung, dengan penuh kehati-hatian mereka menyampaikan kabar duka tentang kematian suaminya selembut mungkin.
Saudarinya, Josephine, memberitahunya dengan kalimat terputus-putus; petunjuk yang setengah menyembunyikan, setengah mengungkapkan. Teman suaminya, Richards, juga berada di sana, tak jauh darinya. Dialah yang berada di kantor surat kabar ketika berita tentang kecelakaan kereta api diterima, dengan nama Brently Mallard berada di daftar teratas “korban tewas”. Richards sempat memastikan kebenaran berita itu melalui telegram kedua, dan segera datang untuk menyampaikan berita duka tersebut sebelum teman yang mungkin kurang berhati-hati atau kurang lembut melakukannya.
Namun, Nyonya Mallard tidak mendengar berita itu seperti kebanyakan wanita lain yang mendengarnya, tidak berdaya untuk menerima maknanya. Dia menangis seketika, dengan luapan kesedihan liar, dalam pelukan saudarinya. Setelah badai kesedihan itu mereda, dia berjalan ke kamarnya seorang diri. Tidak ingin ada siapa pun yang mengikutinya.
Di sana, menghadap jendela yang terbuka, ada kursi tangan yang nyaman. Ia terduduk lemas, tertekan oleh kelelahan fisik yang menghantui tubuhnya dan seakan-akan menembus jiwanya.
Dia bisa melihat lapangan terbuka di depan rumahnya dengan puncak-puncak pohon yang semuanya bergetar dengan kehidupan musim semi yang baru. Aroma hujan yang menyegarkan terasa di udara. Di jalan bawah seorang pedagang keliling berteriak menjajakan dagangannya. Sayup-sayup terdengar nada-nada sebuah lagu yang dinyanyikan seseorang di kejauhan, dan burung-burung pipit yang tak terhitung jumlahnya berkicau di atap-atap rumah. Ada petak-petak langit biru menampakkan diri melalui celah-celah awan yang bertemu dan bertumpuk satu sama lain di ufuk barat, menghadap jendelanya.
Dia duduk dengan kepala terlempar ke belakang di atas bantalan kursi, hampir tidak bergerak, kecuali ketika isak tangis mengganjal tenggorokannya dan mengguncangnya, seperti seorang anak kecil yang menangis dalam tidurnya.
Dia masih muda, dengan wajah lembut yang memancarkan ketenangan, dengan garis-garis yang menunjukkan penindasan dan kekuatan tertentu. Namun kini ada tatapan kosong di matanya, yang tertuju jauh ke arah salah satu celah langit biru. Bukan tatapan reflektif, melainkan lebih menunjukkan hal yang mengganjal pikiran cemerlangnya.
Ada yang datang padanya, dan dia menunggunya dengan ketakutan. Apa itu? Dia tidak tahu; itu terlalu subtil dan sulit dipahami untuk disebutkan. Namun, dia merasakannya, merayap dari langit, mendekatinya melalui suara, aroma, dan warna yang memenuhi udara.
Dadanya mulai berdenyut hebat. Dia mulai mengenali perasaan yang mendekat untuk menguasainya, dan dia berusaha menolaknya dengan kehendaknya—sama tidak berdayanya seperti kedua tangan putihnya yang ramping. Ketika akhirnya dia menyerah, sebuah bisikan kecil keluar dari bibirnya yang sedikit terbuka. Dia mengulanginya berkali-kali dengan napas berat: “Bebas, bebas, bebas!” Tatapan kosong dan pandangan ketakutan yang mengikutinya hilang dari matanya. Sepasang matanya kini menjadi tajam dan cerah. Nadinya berdetak cepat, darahnya yang mengalir menghangatkan dan menenangkan setiap inci tubuhnya. Dia tidak berhenti untuk bertanya apakah kegembiraan yang melandanya itu adalah sesuatu yang mengerikan. Persepsi yang jernih dan agung memungkinkannya untuk mengabaikan gagasan itu sebagai sesuatu yang sepele.
Dia tahu bahwa dia akan menangis lagi ketika melihat tangan suaminya yang lembut dan penuh kasih terlipat dalam kematian; wajah yang tidak pernah terlihat aman karena cinta, kaku, pucat, dan mati. Namun bisa melihat melampaui momen pahit itu, deretan panjang tahun-tahun yang akan datang yang sepenuhnya miliknya. Dan dia membuka dan merentangkan tangannya untuk menyambutnya.
Tidak akan ada orang yang hidup untuk dirinya selama tahun-tahun yang akan datang; dia akan hidup untuk dirinya sendiri. Tidak akan ada kehendak kuat yang memaksakan kehendaknya dengan keteguhan buta yang membuat pria dan wanita merasa bahwa mereka memiliki hak untuk memaksakan kehendak pribadi pada sesama makhluk. Niat baik atau niat jahat sama saja, tindakan itu tetap terlihat sebagai kejahatan di matanya dalam momen pencerahan singkat itu.
Namun dia telah mencintainya—kadang-kadang. Sering kali tidak. Apa artinya! Apa yang bisa diharapkan dari cinta, misteri yang belum terpecahkan, di hadapan kepemilikan diri yang tiba-tiba disadari sebagai dorongan terkuat dari keberadaannya!
“Bebas! Tubuh dan jiwa bebas!” bisiknya terus-menerus.
Josephine sedang berlutut di depan pintu yang tertutup dengan bibirnya di lubang kunci, memohon agar diizinkan masuk. “Louise, buka pintunya! Aku mohon, buka pintunya—kau akan membuat dirimu sakit. Apa yang kau lakukan, Louise? Demi Tuhan, buka pintunya.”
“Pergi. Aku tidak sedang membuat diriku sakit.” Sebaliknya; dia sedang meneguk eliksir kehidupan melalui jendela yang terbuka itu. Angan-angannya melambung liar membayangkan hari-hari yang akan datang. Hari-hari musim semi, musim panas, dan segala jenis hari yang akan jadi miliknya. Dia mengucapkan doa singkat agar usianya panjang. Padahal baru kemarin dia gemetar memikirkan entah akan panjangkah hidupnya.
Akhirnya dia bangkit dan membuka pintu, menuruti desakan saudarinya. Ada kilatan kemenangan yang gelisah di matanya, dan tanpa sadar dia menjadikan dirinya seperti dewi Kemenangan. Dia memeluk pinggang saudarinya, dan bersama-sama mereka menuruni tangga. Richards berdiri menunggu mereka di bawah.
Seseorang sedang membuka pintu depan dengan kunci. Brently Mallard-lah yang masuk, dengan sedikit noda dari perjalanan, tenang menggenggam tas dan payungnya. Dia berada jauh dari tempat kecelakaan itu, bahkan tidak tahu ada kecelakaan. Dia berdiri takjub akan jeritan tajam Josephine; akan gerak cepat Richards yang mencoba menghalanginya dari pandangan istrinya.
Namun Richards sangat terlambat.
Ketika para dokter datang, mereka mengatakan bahwa dia meninggal karena penyakit jantung—karena kegembiraan yang mematikan.
Ilustrasi: The Last Train (Jeffrey Smart), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Tukang Kayu – Cerpen Varlam T. Shalamov
– Uang – Cerpen Osamu Dazai

Cerpen ini cuma butuh satu jam untuk mengubah hidup Louise, tapi cukup satu paragraf untuk menghantam kesadaran kita tentang makna kebebasan. Kate Chopin menunjukkan bahwa tidak semua air mata datang dari duka, dan tidak semua kematian disebabkan oleh kesedihan. Kadang, harapan yang patah bisa lebih mematikan dari kehilangan itu sendiri.
“Sebuah Jam Cerpen” adalah kumpulan cerpen karya Kate Chopin yang terkenal dengan cerita-ceritanya yang kaya akan emosi dan karakter. Berikut adalah beberapa ringkasan dari beberapa cerpen terkenal dalam kumpulan ini:
“The Story of an Hour”: Cerita ini menceritakan tentang seorang wanita muda bernama Louise Mallard yang mendengar kabar duka kematian suaminya. Dalam kejutan dan kesedihan, dia pulang ke rumah dan menyadari kebebasan yang sebenarnya dia miliki tanpa kehadiran suaminya. Namun, kebahagiaan singkatnya berakhir ketika suaminya ternyata masih hidup, dan Louise meninggal karena shock yang mendadak.
“Désirée’s Baby”: Cerita ini berlatar belakang Amerika Selatan dan menceritakan tentang seorang bayi yang lahir dengan kulit hitam, yang mengakibatkan konflik rasial dan tragedi dalam keluarga Désirée. Cerita ini mengkritik prasangka rasial dan ketidakadilan sosial.
“The Awakening”: Meskipun bukan bagian dari “Sebuah Jam Cerpen”, novel ini sering disertakan dalam diskusi tentang karya Chopin. Cerita ini mengikuti Edna Pontellier, seorang wanita yang mencari identitas dan kebebasan pribadi di tengah-tengah peran tradisional sebagai istri dan ibu. Novel ini dianggap kontroversial pada masanya karena tema-temanya yang menggugah tentang seksualitas dan kebebasan wanita.
“At the Cavern of Maata”: Cerita ini menggambarkan perjalanan seorang wanita ke gua suci di Hindia Prancis (sekarang Vietnam) untuk mencari kesembuhan bagi suaminya yang sakit. Perjalanan ini menjadi perenungan mendalam tentang kehidupan, kematian, dan pengorbanan.
“Ripe Fruits”: Cerita ini menceritakan tentang seorang wanita yang merindukan kehidupan sebelum menikah dan merasa terjebak dalam pernikahan yang tidak bahagia. Cerita ini mengeksplorasi tema kebebasan dan penindasan dalam pernikahan.
Kumpulan cerpen ini menunjukkan keahlian Chopin dalam menggambarkan emosi manusia dan kondisi sosial dengan cara yang mendalam dan puitis. Ceritanya sering kali berakhir dengan nada yang suram atau ironis, memaksa pembaca untuk merenungkan isu-isu moral dan sosial yang diangkat.
menarik