Puisi-Puisi Erich Langobelen – Hati yang Patah Biarlah Diberkati dengan Moke Secukupnya, Kawan
20 Oktober 2024| | 0 Commenthati yang patah biarlah diberkati dengan moke secukupnya, kawan. sebab bertemu ataupun bertamu adalah perjumpaan yang memang tak selalu digambarkan sebagai sebuah lingkaran
Oleh: Erich Langobelen |
Penggiat budaya dari Yayasan Komunitas Kahe Art Space Maumere. Kini menjadi peneliti di Tena Pulo Research.
Di Halte Trans Jakarta
ia mengalami betul apa itu penat
singgah dari satu sepi ke lain tempat
di tahun-tahun yang berat
di hari-hari penuh jerat
Tuhan, seperti apakah berkat?
benarkah kesedihan adalah nama lain
dari kemacaten yang memadat dan memanjang
ke luar jendela
sebagaimana dari sudut ini
cinta tetap jadi rahasia?
benarkah kesediaan adalah jalan lain
dari patah hati yang melunak atau meledak
ke dalam dada
sebagaimana dari relung itu
untaian doa-doanya tak lagi
menyebutkan namaku?
Tuhan, seperti apakah berkat?
bukankah riwayat kami
manusia seringkali teramat singkat
sebagaimana dari antrian ini
usia hanyalah sisa cahaya yang tak setia?
ia hanya singgah
dari satu sepi ke lain tempat
di tahun-tahun yang berat
di hari-hari penuh jerat
.
Pada Sebuah Perpustakaan
melepaskan tentu saja kata kerja, tapi usahamu
untuk melupakannya benar-benar tiada bekerja.
engkau mungkin telah memilih, tapi dia adalah
kekasih yang tiada peduli. cinta tak melulu
mulus. pengertian dan perasaannya tak tercatat
di kamus.
.
Dermaga
kekasih yang mengucapkan selamat jalan adalah perkara
yang pernah engkau takutkan sebelum dermaga ini benar
benar dibangun untuk kautinggalkan
tiang-tiang yang menancap ke laut gelap, lunas perahu di
antara laut asin dan kapal-kapal asing, serta deru angin yang
menyeret pesisir, menguatkan ketakutanmu menjadi
pertanyaan yang menancap bagai himpunan beton pada
pantai
“jika dermaga ini dibangun untuk sebuah kepergian, dengan
apakah perpisahan digambarkan sebagai rencana
kepulangan, sehingga siapa pun yang akan singgah atau apa
pun yang berakhir sudah, seperti pagi yang pecah atau sore
yang jingga, adalah rindu yang tak ada matinya?”
waktu memang tak pernah sepakat. tak juga memberi
tempat untukmu sekadar melambaikan maaf. seperti
seorang kekasih yang selamanya tak di sana. selamanya
fana
di langit. hamparan yang tiada. burung-burung melintas dari
seberang dengan dedaun yang dipetik sebagai bekal untuk
dibawa pulang. ke sarang. ke tempat cinta pertama kali
ditimang
.
Perasaan-Perasaan yang Menyusun Lukanya Sendiri
suatu ketika ia memang pernah melukai, tapi luka yang ia
sayat tiap kali pada kekasih yang ingin tak lagi diingatnya
telah menjelma pisau yang menyusuri belah dadanya
sendiri sebelum membuka bebilah luka maha merah
ia merentangkan jemarinya, memberi ruang bagi kenangan
yang pernah digenggamnya, dan membiarkan perasaan
perasaannya menyusun luka-lukanya sendiri; seperti udara
yang meregangkan sisi panas dari matahari, seperti cahaya
yang membenamkan gelap pada mata yang belum sempat
dipejamkan ia ingin berteriak atau berbicara kasar dan
semacamnya
ia ingin bercerita dan membiarkan angin yang
mendengarkan, tapi ia pun ingin agar waktu menjadi
jawaban yang bukan tiada sudah, demi cerita yang bisa
berakhir cinta atau sesuatu yang seperti setia
tapi lagi-lagi pertanyaan-pertanyaan tentang masa lalu
adalah panah yang menikam nanah, tiap kali luka hendak
disembuhkan
.
Hati yang Patah Biarlah Diberkati dengan Moke
engkau berdiri di hadapan seseorang yang menatapmu dalam-
dalam dan membayangkan mengapa manusia bisa tertawa di
hadapan patah hati, tetapi juga bersedih di hadapan bahagia
segelas alkohol berlalu dan sebatang rokok perlahan
memendek di ujung merah bibirmu. “memang tak ada jalan
pulang yang mulus, tetapi kenapa namamu selalu ada di mana-
mana, sementara perasaan ini tiada lagi lurus? Itukah yang
kausebut tulus? sebenarnya tegukan terakhir atau cinta pertama
yang memabukkan? atau ciuman kedua atau orang ketiga yang
memuakkan?” engkau bertanya dan tak ingin seorang pun
menjawabnya
dalam perasaan-perasaan yang hampir mustahil itu, engkau
ingin cinta adalah gelas yang mudah dipecahkan sebelum
hidup jadi ramai dan seseorang menumpahkan alkohol sekali
lagi di lembar bajumu
tapi engkau masih juga di depan cermin: melihat-lihat masa
lalumu, mengukur-ukur masalahmu dan membayangkan masa
depan sebagai cerita lain dari humor dan tragedi yang
menggiring jauh ke tua usia
tapi sebentang meja makan dan hamparan minuman yang kau
tinggalkan adalah percakapan tiada tunggal yang lapang
melingkari rasa lapar dan dahaga ketika kepadamu
diumpamakan kerinduan seorang kekasih di antara orang-
orang yang datang tapi kemudian pergi
“hati yang patah biarlah diberkati dengan moke secukupnya,
kawan. sebab bertemu ataupun bertamu adalah perjumpaan
yang memang tak selalu digambarkan sebagai sebuah
lingkaran, tapi sebagai peluru yang menembus lurus ke
jantungmu, sebelum engkau dikutuk jadi lagu lalu dinyanyikan
sebagai rindu, sebelum engkau dikutuk jadi waktu dan dilewati
sebagai masa lalu, seperti beberapa tembang sendu pada
playlist terakhir dari speaker dekat sini…” terdengar kalimat itu
samar-samar, sementara jarum jam menunjuk angka tak
berhingga
tapi engkau masih juga di depan cermin, melihat kesalahan dan
kelelahan, tetapi bukan kekalahan yang menekan masa
kecilmu. engkau justru ingin menulis cita-citamu dan
membiarkan mimpi pergi lebih panjang sebelum pagi
.
Di Bukit Waijarang
sore tiba dengan matahari yang merendah dan kilau sepia
pada rumput merenda sebelum tenggelam ke dasar lembah
di sini bukit-bukit tak cuma tempat berjumpa, tapi akan
jadi kehilangan yang siap menjeratmu apabila sepanjang
musim tak juga ditentukan siapakah yang harus
bertanggung jawab ketika mencintai terasa begitu salah
engkau mungkin akan mengalah ketika ia hanya berkata,
“sudahlah…” engkau mungkin memilih tabah, sementara
ia memalingkan wajah
angin berhembus. matahari membakar diri. cemas hinggap
di rambutmu, keringat merembes ke kerah bajunya. cinta
tetap jadi masalah
“ada yang hampa di suaramu,” engkau berniat membuka
keheningan, “bolehkah kuusap kesedihan ini dengan
memilih menjadi tuli, menutup mata dari kejujuran,
melangkahkan kaki meninggalkan kemunduran, dan
melupakan apa pun yang pernah terjadi?”
“entahlah… mencintaimu…” ia hendak melanjutkan.
suaranya gemetar, sebab ia mudah gentar. tapi, matahari
tenggelam sudah ke dasar lembah. tak lagi kau dengar apa
pun
kalimat yang diucapkan dari siluet pada bibirnya. tiada
lagi. seperti selanjutnya tiada lagi ia kenali kepada siapa ia
berbicara dan berterus terang
.
Tapi Tidak dengan Bunuh Diri
: untuk Eka Putra Nggalu
di tepi sore yang tipis, sisa cahaya adalah tangis. jadi
lagu. jadi lalu. pada roda motor pinjaman, rintik dan
gerimis melirih masih, lewat hujan gerbang stadion
”dari mana puisi dibuat? pada pantai atau dari
sebentang banjir kota? pada laut atau dari selembar
berita kita? cinta kita mati muda? di sini langit biru
tua, di sana ada kosong dua?”
ia enggan menjawab, ingin terlihat bodoh amat.
persetan air mata jatuh tiris. masa bodoh cerita yang
belum tamat teriris. cukimai derita terlanjur keramat
dan tragis
tapi embun sudah jatuh lembab. kekasih pergi, peduli
sebab. ia tentu sadar. setelah tiada kabar, maaf adalah
kata penenang, tapi luka selalu bisa diulang. hidup
dan rindu jadi siksa untuk masa yang ingin tak
dikenang
”cinta mungkin tak akan diulang sesore ini, seperti tak
semua wanita ingin dibawa mati. demikianlah engkau
lelaki. tinggal dua lengan. tanggal satu angan. berani
memeluk diri atau beradu niat sebelum kelahi.”
Dede pernah ingin mati, tapi tidak dengan bunuh diri
Ilustrasi: Wine Glasses (Patrick Caulfield), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Puisi-Puisi Jahan Malik Khatun – Semalam, Cintaku
– Puisi-Puisi Puji Pistols – Memoria Mario Ruoppolo
– Puisi-Puisi Oliena Ibrahim – Hari-Hari adalah Perkabungan
