Menu
Menu

Penulis melalui kumcer Keluarga Oriente telah meletakkan seni untuk politik dengan cara melihat kembali sejarah Indonesia memakai medium naratif.


Oleh: Arsy Juwandi |

Asal Taga, Ruteng. Saat ini tinggal di Kisol. Mengajar Bahasa Indonesia di Seminari Pius XII Kisol. Arsy bisa ditemui di Facebook: Arsi Juwandy atau Instagram: Arsi_Juwandy.


Malam Minggu tanggal 30 November 2024 menjadi momen yang menarik bagi keluarga besar Klub Buku Petra. Kami berkumpul dan membincangkan buku ke-68 dari program Bincang Buku Petra, yakni kumpulan cerpen Keluarga Oriente. Karya ini ditulis oleh Armin Bell, ‘orang dalam’ Klub Buku Petra.

Sebagai informasi, penulis adalah Pimpinan Redaksi Bacapetra.co, yang telah berkecimpung dalam dunia menulis cerita. Cerpen-cerpennya tersebar di media daring maupun luring semisal Jawa Pos, Buruan.id, Magrib.id, Flores Pos, Bacapetra.co, Detik.com, Santarang, dan lain-lain. Kaka Min, begitu ia biasa disapa juga telah menerbitkan buku Antologi Telinga (2011), dan kumcer Perjalan Mencari Ayam (PMA) pada tahun 2018. Ia juga mengelola blog pribadi Ranalino.co.

Secara umum buku ini menceritakan peristiwa ’65, peristiwa ’98, hubungan dalam keluarga, dan trauma yang dialami korban. Adalah Ajen Angelina, pemantik bincang buku, membuka percakapan dengan menarik. Berlatar belakang pendidikan kesehatan jiwa, dosen di Unika Indonesia St. Paulus Ruteng ini coba menjelaskan detail-detail peristiwa yang dialami tokoh dalam cerita dari sudut pandang kejiwaan.

Menurutnya, saat membaca kumcer Keluarga Oriente, peristiwa-peristiwa yang dibangun memberikan contoh nyata tentang trauma dan kebiasaan buruk yang sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Dari kedua belas cerpen yang dibaca, ia menemukan benang merah yaitu tentang tragedi dan gangguan jiwa. Tragedi karena sejarah masa lalu terdapat dalam cerpen “Keluarga Oriente”, “Puisi Apa yang Kautulis setelah Hari Ini”, “Ingatan”, dan “Orang Terakhir”. Sedangkan cerpen yang membahas gangguan jiwa terdapat dalam “Keluarga Oriente”, “Hari Minggu”, dan “Suatu Hari di Rumah Idrus”. Tampaknya, menurut Ajen, hampir semua tokoh utama dalam cerpen ini punya masalah kejiwaan.

Ajen secara khusus menyoroti tokoh-tokoh pada tiga cerpen yaitu “Keluarga Oriente”, “Hari Minggu”, dan “Suatu Hari di Rumah Idrus”.

Di “Keluarga Oriente”, Hilda mengalami depresi, tokoh Martin Oriente mengalami NPD (Narcissistic personality disorder). Menurutnya, sebagai pembaca kita juga bisa melihat bagaimana sebuah peristiwa atau situasi memberikan dampak terhadap kejiwaan seseorang; seperti peristiwa-peristiwa pada masa Orde Baru yang meninggalkan luka jiwa dan raga pada tokoh Pedro karena kematian ibunya.

Lebih jauh, pada cerpen “Hari Minggu”, Ajen berpendapat bahwa tokoh penulis dalam cerita mengalami gangguan psikosis. Sementara itu, tokoh Idrus dalam “Suatu Hari di Rumah Idrus” mengalami gangguan skizofernia. Menurutnya, jika kita membaca secara cermat ketiga cerpen ini, para tokoh utama memiliki kesamaan yaitu lahir dan hidup dalam keluarga yang memiliki orang tua yang tidak bijak dalam mendidik anak. Tokoh Hilda depresi karena punya ayah yang otoriter dan NPD.

Sedangkan tokoh Idrus tidak tinggal bersama ayahnya, kondisi ini disebut Ajen sebagai fatherless, absennya figur ayah baik secara fisik maupun psikis dalam fase emas seorang anak.

Faktor lain yang menjadi benang merah dalam kumcer terbitan Marjgin Kiri ini adalah kemiskinan. Baginya, kondisi ekonomi sedikit banyak menciptakan luka masa kecil.
Di akhir ulasan, Ajen memilih cerpen “Carlos” sebagai cerpen terbaik karena menurutnya tokoh utama dari cerita kurang lebih membawa ingatan Ajen tentang beberapa hal yang pernah dilakukannya. Salah satunya adalah kebiasaan oversharing, yaitu kebiasaan membagikan cerita atau pengalaman secara berlebih kepada orang baru. Menurutnya kondisi ini disebabkan trauma dan harga diri yang rendah.

Sebagai penutup, Ajen menyampaikan terima kasih kepada penullis karena cerpen-cerpen yang dimuat membuat Ajen berpikir betapa banyak trauma yang dialami masyarakat akibat kebijakan sekelompok orang atau sebuah negara.

Armin Bell yang mendapat kesempatan kedua, membagi proses kreatif yang dijalani hingga kumcer Keluarga Oriente ini terkumpul dan menjadi sebuah buku. Dia bercerita bahwa saat mengerjakan kumpulan cerpen ketiganya ini, ia tidak berangkat dari teori tertentu. Peritiwa-peristiwa yang kemudian dibaca sebagai gangguan kesehatan jiwa justru disusun agar cerita menjadi masuk akal. Semisal seorang ODGJ, pastinya harus memiliki latar belakang stress/depresi. Bagian-bagian seperti ini menurutnya adalah hal yang harus dipertimbangan penulis dalam menyusun sebuah cerita dan menghindari adegan-adegan klise. Baginya setiap peristiwa atau kejadian mesti masuk akal dan bisa dipahami secara kognitif meskipun pada akhirnya dapat dibaca dengan memakai teori.

Lebih jauh, penulis menceritakan alasan pemilihan cerpen “Keluarga Oriente” sebagai judul. Salah satu pertimbangan penulis adalah cerpen ini mewakili permasalahan kebangsaan, secara khusus tentang Orde Baru dan dampaknya terhadap orang-orang yang terlibat dalam peritiwa itu.

Giliran ketiga diberikan kepada dr. Ronald Susilo. Menurutnya, cerpen yang paling menarik adalah “Rahasia-Rahasia”. Ada tiga alasan cerpen ini dianggap menarik. Pertama, plot twist dari cerita. Kedua, tentang pastor dan perkawinan yang menurutnya sangat dekat dengan dengan wilayah Flores. Ketiga adanya teror mental kepada pembaca yaitu cerita yang disampaikan memaksa pembaca untuk melakukan sesuatu.

Selanjutnya Frans Posenti sebagai pembaca keempat membagikan pengalaman membaca kumcer Keluarga Oriente. Secara khusus, pensiunan ASN Kabupaten Manggarai ini mengapresiasi kemampuan penulis dalam menggali kekayaan budaya Manggarai dan menjadi sajian menarik untuk dibaca.

Opin Sanjaya sebagai pembaca kelima menyebut cerpen “Ingatan” sebagai cerpen yang paling membekas karena dianggap sebagai pintu masuk untuk belajar banyak hal. Baginya cerpen ini mencerminkan banyak hal yang dapat diingat seperti sejarah, pengetahuan, dan peristiwa yang tidak diketahui (tidak diajarkan). Manggarai memiliki banyak sejarah, tetapi belum banyak diketahui oleh genarasi muda, apalagi kurikulum pendidikan kita tidak mengakomodasi peristiwa-peristiwa semacam yang ada di dalam kumcer Keluarga Oriente.

Berikunya adalah Yuan Jonta. Cerpen terbaik menurutnya adalah “Bertemu Kura-Kura”. Membaca cerpen ini seperti mendengar sebuah lagu rap, juga karena tidak terlalu banyak muatan yang justru membuat cerpen-cerpen ini terlihat kaya. Hal lain juga yang menarik menurut Yuan adalah tentang keterasingan. Rata-rata tokoh dalam cerpen ini mengalami keterasingan. Sebagai sesama penulis cerpen, hal lain yang menjadi kekaguman Yuan adalah kemampuan penulis dalam menghargai pembaca dengan menempatkan pembaca sebagai orang yang cerdas. Seperti menuliskan adegan secara umum tanpa menjelaskan secara detail.

Saya jadi pebincang ketujuh malam itu. Menurut saya, cerpen terbaik adalah “Ingatan”, “Nada-Nada yang Rebah” dan “Foto Hutan”. Sebagai guru Bahasa Indonesia, saya mencoba mengaitkan cerpen dengan keseharian saya sebagai seorang pendidik. Saya melihat, sumber permasalahan yang dialami peserta didik ada pada keluarga. Keluarga, sebagai lingkungan pertama yang mendidik dan membentuk seseorang, memiliki peranan penting dalam tumbuh kembang anak. Ada begitu banyak orang tua yang mengabaikan kejadian-kejadian memilukan yang dialami seorang anak dan justru menjadi trauma yang terus membayangi seseorang. Kumcer ini menjadi salah satu bahan yang baik dalam melihat betapa pentingnya relasi anak dan orang tua, suami dan istri, serta masyarakat dan pemerintah sehingga tidak menciptakan pengalaman traumatik.

Selanjutnya, Boy Doreng yang merupakan aktivis ODGJ di Manggarai mengapresiasi apa yang telah dikerjakan penulis. Menurutnya seniman harusnya bekerja dengan jargon seni untuk politik. Penulis melalui kumcer Keluarga Oriente telah meletakkan seni untuk politik dengan cara melihat kembali sejarah Indonesia memakai medium naratif. Baginya cerpen-cerpen ini bisa menjadi pintu masuk untuk belajar sejarah besar bangsa Indonesia yang tertutup oleh hal remeh-temeh nan riuh di media sosial.

Sementara itu, Febry Djenadut sebagai pebincang kesembilan berpendapat bahwa kumcer ini telah menggali ingatannya pada beberapa peristiwa atau cerita. “Rahasia-Rahasia” dan “Bertemu Kura-Kura” menjadi cerpen yang menarik karena plot twist dan jalan cerita yang menarik.

Nia yang mendapat giliran kesepuluh coba membagi hasil pembacaan. Menurutnya kumcer ini telah mengeksplorasi berbagai bentuk kekerasan baik yang berasal dari tradisi, kekuaaan, keluarga, dan sejarah. Kumcer ini secara detail membahas kekerasan yang dialami tokoh utama baik secara fisik maupun secara psikis. Hal ini menimbulkan tekanan batin yang dialami tokoh dalam cerita. Hal lain yang menjadi fokus Nia adalah gaya kepenulisan dalam cerita. Penulis telah membuat pembaca merasa lebih semangat untuk terus membaca cerita.

Grace Djerta menjadi pembicara kesebelas. Dia menyoroti sampul buku karena sangat menarik. Sedangkan cerpen yang menarik adalah “Suatu Hari di Rumah Idrus”. Baginya, dari semua kisah tragis, tokoh Idrus adalah satu-satunya tokoh yang memiliki pendamping atau teman yang baik dalam mengadapi situasi.

Berlanjut ke pustakawan Klub Buku Petra, yaitu Beato. Cerpen yang disukai adalah “Hari Minggu” dan “Ingatan”. Menurutnya transisi cerpen ini sangat bagus dan ada pola yang dibuat oleh penulis. Secara khusus ia menyoroti gaya bahasa yang digunakan penulis dalam kumcer ini, seperti penggunaan kalimat yang panjang dalam menceritakan sesuatu. Hal lain juga yang menjadi perhatian adalah posisi narator. Dalam beberapa cerita, suara narator hampir hilang.

Sebagai penutup, Lolik Apung yang bertindak sebagai moderator pada malam itu, membacakan penggalan cerpen Suatu hari di Rumah Idrus:

Sekali waktu Ratna memintaku mengupas mangga, yang kusajikan kemudian kepadanya adalah daging mangga dan bercak-bercak merah. Darahku ada di daging kuning yang lezat itu karena pisau ikut mengupas sedikit kulit dari jempol kiriku. Di waktu yang lain dia memintaku membetulkan gantungan pakaian di kamar mandi. Berhasil tapi jempolku bengkak terkena palu.

Menurutnya, cerpen ini menarik karena judulnya spesifik dan Idrus mampu membawa pembaca pada hal yang detail dengan keterlibatan banyak indra ketika membacanya.

Malam itu, kumcer Keluarga Oriente mendapatkan Bintang 4,5.[*]


Baca juga:
Membunuh Katak – Cerpen Armin Bell
Lima Tahun Bacapetra.co: Jalan Bersama


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

1 thought on “Cerpen-Cerpen yang Kami Sukai di Kumcer Keluarga Oriente”

  1. Devina berkata:

    menarik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *