Menu
Menu

Pulau Batu di Samudra Buatan mengubah perspektif tentang hubungan orang tua dengan anak-anak.


Oleh: Betao Lanjong |

Pustakawan Klub Buku Petra.


Sabtu, 29 Juni 2024, Klub Buku Petra kembali mengadakan kegiatan bincang buku. Kali ini novel yang dibincangkan berjudul Pulau Batu di Samudera Buatan. Novel yang ditulis oleh Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie ini berkisah tentang 87 tamu hotel yang terjebak banjir lalu terlibat dalam kasus pembunuhan yang aneh. Ada 8 peserta yang hadir. Masing-masing berjuang memahami dunia Ziggy. Yuan Jonta yang bertindak sebagai moderator mencoba menuntun peserta yang hadir dengan beberapa pertanyaan penuntun.

***

Randi Ladja adalah pemantik Bincang Buku Petra ke-65 malam itu. Dia memulai seluruh percakapan dengan mengungkapkan pertanyaannya sendiri: “Apa latar belakang budaya yang membuat Ziggy berani memakai karakter anak untuk membicarakan atau menjadi saksi atas peristiwa kematian dalam novel ini?”

Menurut Randi, tokoh anak-anak diposisikan Ziggy sebagai tokoh yang tidak takut membicarakan kematian, bahkan mereka digambarkan menyaksikan kematian itu sendiri. Lebih lanjut Randi mengungkapkan jika ada semacam humor kematian yang ada dalam dunia imajinasi Ziggy. Ia juga menduga jika kematian dari perspektif anak-anak adalah sebuah permainan. Meski demikian menurut Randi, terdapat suatu kesenjangan tentang penggambaran tokoh anak-anak dalam imajinasi Ziggy yang tidak begitu akrab dengan imajinasi Randi atau pembaca umumnya.

Setelah Randi, Yuan kembali menuntun pembaca dengan pertanyaan lain: Apakah novel ini mengubah cara pandang kamu dan apa yang kamu pelajari dari novel ini?

Mendengar pertanyaan ini, Arsy Juwandi langsung membagi pengalamannya membaca Pulau Batu di Samudra Buatan. Arsy mengaku kesulitan membaca novel ini. Ia tidak terbiasa dengan model penceritaan Ziggy, meski sering membaca novel-novelnya yang lain. Kesulitan itu ia alami mulai dari usaha yang sia-sia untuk mengingat tokoh-tokoh yang terlalu banyak, sehingga tidak mengingat tokoh mana yang paling berpengaruh terhadap dirinya. Bagian yang menarik baginya malah justru ketika cerita sudah masuk di bagian anak-anak. Satu per satu mengenai si kembar lima diceritakan.

Menanggapi pertanyaan Yuan, Arsy menduga konflik pembunuhan yang dipakai Ziggy bertujuan mengkritik struktur sosial yang tidak ramah anak. Pertanyaan yang kemudian muncul baginya adalah, apakah ketika ada masalah-masalah tertentu, anak-anak tidak patut terlibat? “Kadang banyak hal yang tidak kita lihat, tetapi kemudian kita terlalu cepat untuk mengalaminya,” ungkapnya.

Hal-hal seperti itu bagi Arsy pada akhirnya justru mengubah karakter pembaca. Pulau Batu di Samudra Buatan mengubah perspektifnya tentang hubungan orang tua dengan anak-anak. Arsy merasa dalam beberapa kesempatan mungkin tidak memerhatikan anak dalam peran dan situasi sosialnya. “Contoh kecil adalah kebiasaan ketika tamu datang, orang tua akan berujar: “asi noos meu tah (kalian jangan berada di sini), kalian di belakang saja,” tutupnya.

Pertanyaan Yuan berikutnya adalah tentang alur cerita: Apakah maju secara kronologi atau maju mundur dalam masa lalu dan sekarang? Bagaimana dengan sudut pandangnya?

Pertanyaan ini Yuan jawab sendiri. Menurutnya novel ini bercerita tentang anak-anak dan mengambil tema cerita detektif. Sudut pandang yang dipakai narator adalah sudut pandang terbatas, yang memposisikan dirinya sebagai orang yang berada dalam ruang peristiwa. Hal inilah yang menyebabkan pembaca tidak menemukan semacam petunjuk yang disimpan penulis dalam novel. Menurut Yuan, hal ini bisa dikaitkan dengan cara bertutur anak-anak yang lepas saja, tidak spesifik mengenal tentang ruang. 

Yuan juga menaruh perhatian pada cara penulis mengakhiri bab. Bab selalu ditutup dengan kalimat atau kata yang gantung. Yuan teringat teknik cliffhanger, yaitu teknik menulis yang membiarkan pembaca penasaran, seperti dalam cerita-cerita detektif. Bagi Yuan sendiri, hal ini menjemukan dan terkesan dipaksakan.

Kalimat atau paragraf mana yang menginspirasi kamu? Apakah ada dialog yang membuat kamu terkesan? Lucu, sedih, memotivasi dan lain-lain? Apakah ada komentar dalam novel ini yang mengindikasikan tema dari novel ini?

Pertanyaan ini ditujukan kepada saya. Saya terinspirasi oleh kalimat di halaman 23: “Dia tidak takut pada kata tanya. Dia selalu mengantisipasinya.” Bagian ini membawa saya pada teknik penulisan show don’t tell. Bagi saya, visualisasi fisis narator terhadap tokoh amat berbeda dengan cerita tentang emosi yang mereka alami. Hal lain yang menjadi perhatian saya adalah lantai-lantai yang hilang dalam hotel yaitu lantai 4, 13, dan 14. Tampaknya model pembabakan dalam novel ini mengikuti pola bertingkat seperti pada bangunan hotel. Bukan bermaksud mengafirmasi keangkerannya. Penjelasan pembabakan ini adalah usaha besar dari penulis untuk mendemitologisasi cerita-cerita tabu pada anak-anak.

Apakah kamu sudah membaca buku lain dari Ziggy? Jika ya, apakah ada kaitannya dengan novel ini. Jika tidak, apakah novel ini menginspirasi kamu untuk membaca novel Ziggy yang lain?

Pertanyaan ini ditujukan kepada Retha Janu. Menurut Retha, ia senang dengan cerita-cerita dalam novel ini, karena baginya dunia anak yang gembira digambarkan secara tebalik oleh Ziggy. Retha yang menyukai Ziggy sejak membaca Semua Ikan di Langit menyukai juga novel ini dan berjanji untuk mengulasnya. “Rupanya melalui buku ini, dunia atau karakter anak tidak selalu seperti yang begitu banyak orang bayangkan,” tutupnya.

Apakah kamu langsung menikmati buku ini atau membutuhkan waktu. Bagaimana perasaan kamu setelah membaca novel ini?

dr. Ronald Susilo merebut pertanyaan ini. Ia mengaku mengalami kebingungan dan membutuhkan waktu lama untuk masuk ke dalam cerita. Ia juga tidak nyaman membaca novel ini. Ia mencoba menikmati, setidaknya untuk sedikit merubah perasaan, malah kemudian kehilangan gairah membaca.

Pertanyaan kemudian muncul: “Kenapa susah masuk dalam cerita ini? Ini novel dengan bentuk yang lain dan saya tidak terbiasa dengan bentuk seperti ini,” keluhnya.

Baginya, novel ini tidak cukup menularkan emosi yang dihasilkan oleh tokoh-tokoh di dalamnya. Kepada kami yang hadir malam itu, ia bertanya lagi: “siapa pembunuhnya?” Tidak ada yang tahu. Walaupun ada bagian yang menceritakan kematian, dr. Ronald tidak merasa sedih. “Novel ini seperti tidak membentuk satu cerita, tetapi melemparkan tokoh-tokoh dalam peristiwa yang tidak cukup dirangkai dalam narasi,” tutupnya.

Pada kesempatan berikutnya, Yuan memberikan kesempatan kepada Jeri, seorang peserta yang turut bergabung dalam Bincang Buku Petra malam itu. Dari pembacaan teman-teman, ia menemukan dua masalah utama novel ini, yaitu banjir dan pembunuhan. Menurutnya jika mengibaratkan hotel sebagai rumah, maka yang digambarkan Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie adalah tidak semua orang tua mampu menemukan solusi dari masalah rumah tangga. Walaupun kemudian pada akhirnya mereka selamat dengan bantuan helikopter.

Ia mengambil kutipan yang ditulis Ziggy di halaman depan, dari God Bless America: What have we become? We take the weakest in our society, we hold them up to be ridiculed. Ia menafsirkannya “apa jadinya kita, kita mengambil yang terlemah dari masyarakat kita, tapi kita membesarkan mereka untuk ditertawakan.” 

Pertanyaan terakhir dari Yuan ditujukan kepada Armin Bell: Kenapa Kau menulis?

Menurut Armin, tema novel ini agak sulit dicari. Meskipun demikian, menurutnya, ada orang yang paham karya-karya Ziggy. “Tampaknya ini surealis dan saya tidak terbiasa dengan genre seperti itu,” akunya. Ia juga menganjurkan perlu membaca kembali novel ini dan membincangkannya ulang.

***

Sejam lebih rekaman bincang buku berlangsung. Saya terus mendengarkannya. Tertawa dan kembali lagi pada perbincangan kami jauh sebelum hari itu, jauh sebelum saya rampungkan notulensi ini, jauh pada ingatan-ingatan lain tentang novel yang sudah pernah didiskusikan di Bincang Buku Petra.

Tidak ada yang ingin terendam banjir dan masuk dalam cerita pembunuhan yang aneh. Upaya membaca, menangkap, dan menyampaikan kesan pembacaan menjadi cara untuk setidaknya memahami kebingungan kami membaca karya-karya Ziggy. Tidak semua pertanyaan mendapatkan jawabannya. Bintang 3 untuk novel Pulau Batu di Samudra Buatan. Sampai jumpa di bincang buku 66. [*]


Baca juga:
Kumcer Keluarga Oriente: Tragedi, Gangguan Jiwa, dan Isu Fatherless
Pastoral dan Konseling Gaya Baru dalam Surat-Surat Habel dan Veronika


Subscribe to our Newsletter

Get the latest posts delivered right to your inbox.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *