Webster dan Marmot Tanah – Cerpen James Baldwin
24 Februari 2025| | 2 CommentsSuatu musim panas, seekor marmot tanah membuat lubang di lereng bukit dekat rumah keluarga Webster. Pada malam-malam yang hangat dan gelap ….
Oleh: Beatrice Stephanie |
Lahir di Jakarta, 22 September 1988. Hobi: Baca buku, nonton drama Korea, menyanyi, mendengarkan musik.
Di sebuah peternakan di perbukitan New Hampshire, hiduplah seorang anak kecil bernama Daniel Webster. Tubuhnya kecil untuk anak seusianya. Rambutnya hitam pekat, matanya begitu gelap dan memikat sehingga siapa pun yang pernah melihatnya tak akan pernah melupakannya.
Daniel tidak cukup kuat untuk banyak membantu di peternakan, sehingga ia sering menghabiskan waktu bermain di hutan dan ladang. Berbeda dengan anak-anak petani lainnya, ia memiliki hati yang lembut. Ia mencintai pepohonan, bunga-bunga, dan makhluk liar tak berbahaya yang tinggal di sana.
Namun, ia tidak selalu bermain. Jauh sebelum usianya cukup untuk bersekolah, ia sudah belajar membaca, dan ia membaca dengan begitu baiknya sehingga semua orang senang mendengarkannya dan tidak pernah bosan. Para tetangga yang melintasi rumah ayahnya dengan kereta kuda sering berhenti dan memanggil “Dannie Webster” untuk keluar dan membacakan sesuatu untuk mereka.
Pada masa itu, tidak ada buku anak-anak seperti yang ada sekarang. Bahkan, hanya ada sangat sedikit buku di rumah-rumah para petani di New Hampshire. Namun Daniel membaca apa saja yang bisa ia temukan; ia membaca buku-buku itu berulang kali sampai benar-benar memahami isinya. Dengan cara ini, ia menghafal banyak ayat dari Alkitab dan mampu mengucapkannya dengan sempurna, bahkan mengingatnya sepanjang hidupnya.
Ayah Daniel bukan hanya seorang petani, melainkan juga seorang hakim di pengadilan daerah. Ia sangat mencintai bidang hukum dan berharap suatu saat nanti Daniel akan menjadi seorang pengacara.
Suatu musim panas, seekor marmot tanah membuat lubang di lereng bukit dekat rumah keluarga Webster. Pada malam-malam yang hangat dan gelap, marmot itu turun ke kebun dan memakan daun-daun muda kubis serta tanaman lainnya. Tak seorang pun tahu seberapa besar kerusakan yang bisa ditimbulkannya.
Daniel dan kakaknya, Ezekiel, bertekad untuk menangkap si pencuri kecil itu. Mereka mencoba berbagai cara, tetapi untuk waktu yang lama marmot itu terlalu cerdik untuk mereka. Akhirnya, mereka membuat perangkap yang kuat di tempat yang pasti dilewati oleh marmot itu; dan keesokan paginya, marmot itu berhasil tertangkap.
“Kita berhasil menangkapnya!” seru Ezekiel. “Nah, Marmot, kau sudah membuat cukup banyak masalah, dan aku akan membunuhmu.”
Namun, Daniel merasa iba pada binatang kecil itu. “Tidak, jangan sakiti dia,” katanya. “Mari kita bawa dia ke perbukitan, jauh ke dalam hutan, dan lepaskan dia.”
Ezekiel, bagaimanapun, tidak setuju. Hatinya tidak selembut hati Daniel. Ia bersikeras untuk membunuh marmot itu dan tertawa mendengar usul untuk melepaskannya.
“Mari kita tanya Ayah tentang hal ini,” kata Daniel.
“Baiklah,” jawab Ezekiel, “aku tahu apa yang akan diputuskan oleh hakim.”
Mereka membawa perangkap dengan marmot di dalamnya kepada Ayah mereka dan meminta pendapatnya.
“Nah, anak-anak,” kata Tuan Webster, “kita akan menyelesaikan ini dengan mengadakan pengadilan di sini. Ayah akan menjadi hakim, dan kalian berdua menjadi pengacara. Kalian masing-masing akan membela atau menuntut si terdakwa, dan Ayah akan memutuskan hukumannya.”
Ezekiel, sebagai penuntut, menyampaikan argumen pertama. Ia menjelaskan tentang kerusakan yang telah terjadi. Ia menegaskan bahwa semua marmot itu buruk dan tidak bisa dipercaya. Ia menyebutkan waktu dan tenaga yang telah mereka habiskan untuk menangkap si pencuri, dan menyatakan bahwa jika marmot itu dilepaskan, ia akan menjadi pencuri yang lebih buruk lagi.
“Kulit marmot ini,” katanya, “mungkin bisa dijual seharga sepuluh sen. Sekecil apa pun jumlah itu, setidaknya bisa sedikit mengganti kerugian akibat kubis yang telah dimakannya. Tetapi jika kita melepaskannya, bagaimana kita bisa mendapatkan kembali satu sen pun dari kerugian kita? Jelas, marmot ini lebih berguna dalam keadaan mati daripada hidup, jadi dia harus segera disingkirkan.”
Pidato Ezekiel sangat bagus, dan Hakim Webster sangat terkesan. Apa yang dikatakannya benar dan tepat, dan sulit bagi Daniel untuk menjawabnya.
Daniel mulai membela nyawa binatang kecil itu. Ia menatap wajah sang hakim dan berkata:
“Tuhan menciptakan marmot. Dia menciptakannya untuk hidup di bawah sinar matahari dan udara yang segar. Dia menciptakannya untuk menikmati ladang yang luas dan hutan yang hijau. Marmot ini berhak hidup, karena Tuhan yang memberikannya kehidupan.
“Tuhan memberi kita makanan. Dia memberi kita segalanya. Apakah kita akan menolak berbagi sedikit saja dengan makhluk bisu ini, yang juga memiliki hak atas anugerah Tuhan seperti halnya kita?
“Marmot ini bukan binatang buas seperti serigala atau rubah. Dia hidup dengan tenang dan damai. Lubang di lereng bukit, dan sedikit makanan, hanya itu yang dia butuhkan. Dia tidak merusak apa pun selain beberapa tanaman yang dimakannya untuk bertahan hidup. Dia memiliki hak atas hidup, makanan, dan kebebasan; dan kita tidak berhak mengatakan bahwa dia tidak boleh memilikinya.
“Lihatlah matanya yang lembut, penuh harap. Lihat dia gemetar ketakutan. Dia tidak bisa berbicara untuk dirinya sendiri, dan inilah satu-satunya cara dia dapat memohon untuk hidup yang begitu berharga baginya. Apakah kita tega membunuhnya? Apakah kita begitu egois untuk mengambil nyawanya, yang Tuhan berikan kepadanya?”
Mata sang hakim penuh dengan air mata saat mendengarkan. Hatinya tersentuh. Ia merasa bahwa Tuhan telah memberinya seorang putra, yang suatu hari kelak namanya akan dikenal di seluruh dunia.
Ia tidak menunggu Daniel menyelesaikan pidatonya. Ia melompat berdiri, dan sambil menyeka air matanya, ia berseru, “Ezekiel, lepaskan marmot itu!” [*]
Tentang James Baldwin |
James Baldwin (James Arthur Baldwin) adalah seorang penulis Afrika-Amerika dan aktivis hak-hak sipil yang mendapat pujian atas esai, novel, drama, dan puisinya. Novelnya yang terbit pada tahun 1953, Go Tell It on the Mountain, telah dinobatkan majalah Time sebagai salah satu dari 100 novel berbahasa Inggris terbaik.
Ilustrasi: Portrait of A Kid in A Beret (Pierre-Auguste Renoir), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Enuma Elish – 50 Nama Marduk
– Sel Tahanan 3.47 – Cerpen Kate Hughes

kisah sederhana namun sangat kuat secara moral dan emosional. Cerita ini mengangkat tema-tema klasik seperti empati, keadilan, kasih terhadap makhluk hidup, dan nilai-nilai kemanusiaan, melalui sudut pandang seorang anak kecil yang berhati lembut.
Yang paling menarik dari cerpen ini adalah bagaimana Daniel Webster, meskipun masih anak-anak, menunjukkan kualitas moral dan intelektual yang luar biasa. Ia tidak hanya peka terhadap penderitaan makhluk kecil seperti marmot, tetapi juga mampu mengartikulasikan pandangannya dengan logis dan menyentuh hati.
Cerpen nya sudah lumayan bagus dan juga menarik, saya tertarik cerpen seperti ini