Puisi-Puisi Mohammad Isa Gautama – Lebih Kesat dari Ingatan, Lebih Sepoi dari Rayuan
20 Februari 2025| | 0 Commentsseperti senarai nyanyian/ berhembus di puncak malam/ lebih kesat dari ingatan/ lebih sepoi dari rayuan/ tak henti memapah serapah/melagukan..
Oleh: Mohammad Isa Gautama |
Kelahiran Padang, 1976. Mengajar di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang sejak 2005. Jalan Menangis Menuju Surga (Basabasi, 2018), Bunga yang Bersemi Kala Aku Sunyi (Bitread, 2019) dan Syair Cinta tanpa Kopi (Hyang Pustaka, 2022) adalah tiga buku puisinya yang sudah terbit. Emerging Writer di Ubud Writers and Readers Festival 2017, juga terpilih dan diundang pada Borobudur Writers and Culural Festival, 2019.
Serombongan Urat Nadi
kepada hari yang mematang
telah kuceritakan perangai urat nadi
yang berkunjung serombongan
kala mandi belum rampung
air nyaris terjerang
mereka bermaksud baik
mengabarkan berita baru
mengurangi daftar belukar kutuju
di pekan terakhir, ajal sungkan bertamu
padahal telah kulunasi tiket termahal
rencana kupadamkan
bersiap menitip tenggorokan
pada tetangga sebelah rumah
yang tak putus mengeluh
tak bebas bernapas
di pengap lalu lintas
(kepada urat nadi
yang berkecambah di pasar malam
telah pula kurumuskan ulang
arti cinta edisi terbaru)
selain itu, tak satu pun yang membuatku ragu
aku hanya takut, seorang mengaku kekasih
membawa pergi lagi kata-kata yang lengkap kupersiapkan
setiap titik koma dan hurufnya
demi bercakap penuh khidmat
di suatu senja kala nadi berombongan
menyambutku, menerbangkan puisi-puisi beku
menawar terowongan kelu
2022
.
Musim Kering Mengurung
semakin kau bersorak ingin, buncah dari musim kering
mengikat-pilin, merapal talkin
semakin labirin bergerak penuh persneling
mencibir mimpimu genting
selalu kau tulis, elegi sepasang burung
di riwayat orang-orang sangsai
bulu-bulunya mendingin bagai penantian
memupuk kejadian sebelum alam terkembang
di bahu jalan berliku, pematang kampung lugu
kau tunggangi cakrawala
merasa yakin ada surga yang belum pernah
dipersembahkan pencipta untuk para penjaring pahala
kau kurung segala pesan tak sampai demi musim keruh
di pucuk malam mengelupas seperti harapan perawan
kau jemur berbondong-bondong nanah terpejam
di rusuk jantung semakin lelah merawat taman
tempat orang-orang tak jemu
membakar sawah
berkeluh kesah
sependakian zaman
2023
.
Kapal-Kapal nan Bertolak (2)
diselubung gerimis
jiwaku meluncur
menghirup parasmu
daun kamboja menitip nisan
mengubur peti
ringkih parumu
pendakian menurun
di sore tempat kau papah
tapak tangisku
sudah terlambat
menangkar tawa tersesat
mengusai telinga
meyakinkan seluruh mimpi
yang tak ingin rampung
menghias kamar hampa
antri mengaburkan alis
rontok di musim gugur
kau tunggu penuh dendam
agar kapal tak bertolak
ke kutub segala janji
dipersoalkan
kita berkali-kali mati
bernapas dalam buaian
menuntaskan cerita sungsang
di dalam kamu
sapaku tak henti berduri
di pundak ajal
sepatu berteriak nyeri
mengepung pertanyaan
di mata kesunyian
suaramu mendesak kerinduan
kapal-kapal belum mau berlabuh
di lambung malam
matahari mengiris garis tangan
menulis puisi
bengkalai zaman
mantra-mantra dirapal
malaikat enggan menyusun berita
dari galau semu orang-orang
meledakkan sesal bocah
mengaliri jalan asing
yang hendak dibakar
menitip kehilangan
setiap siang
lupa menyapa pacar
seperti kapal nan bertolak
tanpa hatimu yang dulu kuusap
penuh huruf berbunga
sejumput kasihan
2023
Lubang Waktu
di lorong waktu, senyap nadi mengukur masa, kereta kenangan menyeka
seserpih ranah jiwa, tersedak memeram pedih, kuliti sunyi bunga, kau redam
setiap desing kejadian melata
gunung-gunung runtuh di sumsum musim, sibuk menggendong kesumat,
mengairi sisa luka, membanjiri pelukmu dan isakku, membasuh luka sinar
temaram, lelap dalam rimba ujaran, bertahan membelukar
di batas pesisir, laut menyisir senja kusam, kelam mengabutkan ginjal, gelap
memacu detak, kau tepis sinar demi binar, memintal cabik agar berkelana
di labirin dermaga
roda resah berpacu, mengubur detik terbata, angan tersedak bak gemuruh
badai, tangismu meradang sampai sangsai, menggarami luka, pekat mengaliri
nadiku tanpa jeda
kenangan berjudi dengan diri, namun cinta entah kenapa kukuh, liar bak
terjangan angin, lembut sebelaian peri, dingin memiuh asa, menghalau
cahaya tersesat, coba menyeka darah, mengusir sesal gagap
di lubang waktu, sukma mendengkur dalam lorong senyap, kereta kenangan
terus menghela, menuju ampas, menjahit masa-masa ringkih, tempat rindu
bertasbih dan terhapus, menjelma luka pasi, berbaris sepanjang pematang aus
2024
,
Seperti Senarai Nyanyian
inikah jalan tempat desaumu dan tatapku terkapar
mengeja kerusuhan, lalu-lalang menjarah ranjang
inikah perbincangan, tumbuh mengapung di tingkap kamar
memotret ragu dan galau beburungan
meradang menembus rahang terbakar
seperti rangka angin yang mempesawat
mendarat di kelok kuduk
berputar mengaso dalam mimpi kumbang
membangkaikan pertemuan tanpa warna
antara marahku dan anganmu
membasuh semerbak aroma selokan
mematuk banal benakku
seperti senarai nyanyian
berhembus di puncak malam
lebih kesat dari ingatan
lebih sepoi dari rayuan
tak henti memapah serapah
melagukan segala silam
memutar pesona dendam
2024
.
Pejalan Kaki
udara usang tak bosan menyediakan ruang
untuk sekadar bertandang
dalam ceruk garang penuh leliku temaram
ditingkahi musik rock edisi terbaru
meraung laksana ular
lantas kau simak sekarung nostalgia
laksana irama nada picisan
sayup-sayup menyisir jurang kalbu
mengiris terburu gendang telinga
setelah tergugu
ditinggal kekasih terbaik
namun urakan
udara sudah lama menanggung rindu hujan
melenguh setelah kau tunggang
saban malam yang terjal
di got menghitam tersembul lubang
tempat pengemis menepis milyaran angan
tentang cinta tak kesampaian
lantas kau tendang seluruh sapa pembuyar harapan
kala kau yakin akhir dari perjalanan
adalah saat kau mulai biakkan kotoran
udara setia mengajakmu berkicau tentang sarapan
yang lupa kau lumat sampai butir penghabisan
padahal istrimu susah payah meracik menu teranyar
setelah malam-malam penuh patah hati pada masa depan
selalu kau susun diam-diam tanpa percakapan yang damai
dengan kenyataan
udara mengantarmu pada trotoar penuh jamban
kadang mendamparkan jam rawan
bukan demi kasih dan sayangmu pada pepohonan yang tak lagi rindang
juga bukan demi rencana menulis puisi
tentang jalan paling licin
yang tersedu kala kau tikam
2024
Mimpi yang Tercerabut dari Akar Malam
ada suara, tapi ini kali tak sempat menyamar sebagai desah kekasih
yang kau nanti di taman mawar, cuma melintas dengan sayap terlipat,
menghunus lidah menebas hari-harimu
yang semakin biasa
ada kilasan cahaya, menepi dan berteduh di siang lebam, di balik senyap
plafon kamar, hanya meneropongmu untuk melengkapkan laporan harian
pada bintang yang hampir mati nun di galaksi seberang
ada sepetak sawah, menyelusup seirama syair yang terus membuntutimu
setelah begadang, sudah lama dipendamnya rencana untuk sekadar
berdebat tentang ramai yang rapuh di gerakmu liar, saat kau sibuk
membuktikan cinta pada seseorang
ada pematang berlumpur yang tak habis-habis kau maki demi akhir yang
terburu kau jelang. Namun kau buntu, tak tahu harus berbuat seajaib apa
kala surya melesat jauh ke nun silam
ada sebait puisi mengemas sisa remah makanan semalam, kala iring-
iringan truk panjang berisi batu-batu kecemasan lewat di depan kosanmu
yang rajin merekam napas pengembara, memapah bangkai senyuman
ada angin menampar sumpah serapah orang-orang agar tak terlalu
membenci gelinjang takdir yang sudah tersusun amat rapi oleh maha
pemantik sesal dan keganjilan. digalinya seungkai demi secuil kenapa
harapan tak lagi semerdu kecipak roda ojek mengiring detak jam,
pintu yang pelan-pelan menyungkup palung ingatan di hari yang tak
putus-putus masygul mengungkap segenap makna perpisahan
2024
.
Penggali Sawah
raihlah pinggan dan gelas
tanaklah beras, damparkan di teras
demi tamu singgah satu per satu
menyimak ceritamu
melembapkan musim
tutuplah jendela, angin jahat tersesat menyarang
hujan mencatat inci demi inci cintamu melayang
mengeram di tanah tempat amarah kau tanam
gerigi traktor mulai tak tahan
menyeruput sisa ledakan
memuai di atmosfir usai muntah dari kawah kejadian
orang-orang sibuk berebut kabar sungsang
memupuk episode kekeliruan
menciut di kamar, menebar status kegalauan
upacara membajak semakin karam
kumpulkanlah segunung tempurung di ruang belakang
masih banyak gunanya demi melipur rindu dendam
pesta pora dengan segala yang molek sudah lama silam
duri dan racunlah kini menggelembung di ransel belanjaan
sepulang hari pekan yang bertambah rasan
marilah makan dengan kuah kecupan
titipan para mantan yang lewat diam-diam di inbox pesan
selama nasi enggan menjelma ketan dalam kulkas para pembesar
sebelum tangis bayi minta susu dilumat sirine patwal
tak putus kita berjasa bagi kisah penuh jemawa
sedikit di atas kode tagar fatwa penguasa
tawarlah pulsa demi awetnya kuota
acara browsing tak kunjung reda
alur perkawanan tak pernah jera
pagi berteman, sore memanen pertikaian
demikianlah sawah terhampar
menyuburkan bulir kericuhan
cuaca kelam yang teramat ingin
kau kekalkan
2024
Ilustrasi: Family of Birds (Octavio Ocampo), dari WikiArt.org.
Baca juga:
– Puisi-Puisi Ilham Wahyudi – Bahwa Ia
– Puisi-Puisi Ilham Rabbani – Membaca Perbatasan
– Puisi-Puisi Surya Gemilang – Lidah Mama dan Bintang-Bintang

Karya ini adalah puisi yang kaya akan metafora dan simbolisme, menggambarkan keresahan sosial, perasaan kehilangan, dan absurditas kehidupan modern dengan gaya yang puitis dan penuh imaji. Berikut beberapa hal yang bisa dikomentari:
1. Tema & Makna
Puisi ini tampaknya berbicara tentang kegelisahan manusia dalam menghadapi kehidupan yang penuh ketidakpastian dan kontradiksi. Ada kritik sosial terhadap hiruk-pikuk kehidupan, ketergesaan dalam cinta, dan absurditas rutinitas sehari-hari.
Bagian pertama menyoroti perjalanan emosional seseorang yang terjebak dalam cinta yang penuh bukti namun kehilangan arah. Ada nuansa keterasingan dan kelelahan.
Bagian kedua menggambarkan kondisi sosial dengan simbol “sawah” yang merepresentasikan kehidupan yang penuh perjuangan, ketidakpastian ekonomi, dan dinamika sosial yang terus berulang.
2. Gaya Bahasa & Diksi
Puisi ini menggunakan metafora yang kompleks, seperti “truk panjang berisi batu-batu kecemasan”, “gerigi traktor menyeruput sisa ledakan”, yang menciptakan gambaran kuat tentang beban mental dan sosial.
Ada banyak kontras menarik, misalnya antara “cinta yang melayang” dan “amarah yang ditanam”, atau antara “pesta pora” yang telah usai dan “duri dan racun” yang kini ada.
Ritme puisinya cukup dinamis, ada bagian yang panjang dan mengalir seperti arus pikiran, ada juga bagian yang terpotong-potong mencerminkan kegetiran hidup.
3. Struktur & Alur
Puisi ini tidak memiliki alur linear, tetapi lebih seperti kumpulan fragmen perasaan dan pemikiran yang bertaut secara tematis.
Struktur baitnya terkesan bebas, ada yang berbaris panjang, ada yang pendek seperti pernyataan tegas. Ini membuat pembacaan terasa lebih dramatis.
4. Kelebihan & Saran Perbaikan
✅ Kelebihan:
Kaya metafora dan simbol yang kuat.
Menggugah emosi dengan suasana melankolis dan kritis.
Menggunakan diksi yang unik dan khas.
🔍 Saran Perbaikan:
Beberapa metafora mungkin terlalu padat atau abstrak sehingga bisa membingungkan pembaca. Bisa dipertimbangkan untuk memberi sedikit ruang bagi pembaca untuk “bernapas”.
Ada bagian yang terasa terlalu padat dengan makna, mungkin bisa disederhanakan agar pesan lebih kuat dan langsung mengena.
Kesimpulan
Puisi ini sangat menarik dengan kritik sosial yang tajam dan perasaan yang dalam. Gaya bahasanya eksperimental, tapi tetap punya daya pikat yang kuat. Jika ingin membuatnya lebih komunikatif, bisa sedikit merapikan struktur atau mengurangi metafora yang terlalu kompleks.