Menu
Menu

cakrawala menelurkan asin/ di bibir usia, di perbatasan/ ringkas perjalanan kita


Oleh: Ilham Rabbani  | menjaga perbatasan

Lahir di Lombok Tengah, 9 September 1996. Menulis puisi dan resensi. Aktif di kelompok belajar sastra Jejak Imaji, Yogyakarta. Tahun 2016, terpilih mengikuti program Sekolah Menulis yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa D.I. Yogyakarta (BBY). Puisi-puisinya pernah memenangkan sejumlah lomba, antara lain: Lomba Cipta Puisi Sayembara Etnika Fest #5 (UGM, 2019) dan Lomba Cipta Puisi Festival Sastra 2020 (UGM, 2020). Tulisan-tulisan lainnya telah dimuat di berbagai media cetak dan daring. Kini ia studi di Magister Sastra, FIB, Universitas Gadjah Mada.


Kepala Air, Arus Pertama

: Kali Utara, Ungga

1.
“Kunamai ia
kepala air.”

Arus pertama
setelah pancaroba
adalah gerak-gelinjang pengantin
di ranjang jantung.

Kupagut bibir air,
dan basahlah
berpetak sawah
di gerah tubuh.

Lengan-lengan air
yang gemulai,
bergerak dan resaplah
ke dalam retak
penantian!

2.
Pada perkawinan hujan
musim kesekian,
kami pasang titian panjang
di Kali Utara,
di timur Batu Penyu:
setelah kaki-kaki
berulang kali gagal
membagi arus kali.

Lombok, September 2020

.

Ares Gawe

: Ungga

Engkau tahu:
sejak hari itu,
jantung pisang
telah bergetar.

Sebuah pisau
bergerak mengiris
basah tubuhmu:
pelan-pelan,
ada yang mencacah
sunyi di dada
musim.

Langit akan penuh: panggilan,
suara musik, dan bahasa
orang-orang Selatan.

Angin pun lewat
bersama gelagat
hari-hari yang kelak
memberat.

“Tubuhmu berenang
dalam panas
kuah santan.”

Di atas perapian itu,
dari kejauhan, akulah
yang pertama-tama
belajar mengeja rasa,
belajar mengeja
gerak acak
di dinding lambung.

Lombok, September 2020

.

Amsal Petapa di Ungga (I)

1.
Padamu, Mula Nebula
kupersembahkan
kelahiran:
ia pijar sisik ular
menembus dingin
dinding waktu
yang beku.

Mimpi itu
kilat pada pekat
malam, menyambar
dasar kolam.

Aku:
lumur lumpur,
nanti resap
dan mengeras
bagai cadas
diterpa
keras cahaya.

2.
Engkau tahu
tubuhku
bakal dibalur
kapur, disapu
air sumur
bening berdinding
daun pisang
menguning,
dan kering.

Padamu, Pusar Sinar
kupersembahkan
tarik-lepas napas:
debar dada
terbakar;
inti api semesta
di sela
dua pangkal paha.

Lombok, Agustus 2020

.

Amsal Petapa di Ungga (II)

1.
Lingkar sabukku
asteroid berimpit,
nyala mataku
merah Mars,
keras-legam
tubuhku
benda padat
di ‘gelap gua’:
tempat paling
terasing
di antariksa.

2.
Tubuhku
(pada pejam),
melayang
dalam ruang
hampa:
waktu beku,
matahari mati,
sepi paling
sepi.

3.
Tapi bagai astronot:
aku kembali
ke Bumi
tanpa lupa
apa-apa
semassa
ameba.

Dalam pendaratan,
aku mencari
pertama-tama
pintu pada dada
perempuan baya:
tubuh ibuku
kapsul kekal,
tanpa garit
gesit meteorit.

Lombok, Agustus 2020

.

Pawang Petapa Ungga

: pada Perisean

Tepat di tegang
urat lehermu,
rotan kudaratkan:
sebab besi-besi
setelah layang pertapaan
serasa cuma
sayat benang layang-layang,
serasa cuma
dalam bayang-bayang.

Padamu,
kukirim luka lebam—serupa
jejak jambu jatuh—
pada lempung punggung,
pada lempung dada.

“Yang lebih perkasa
memberi tanda
pada tempurung kepala:
darah, semerah
perasaan kalah;
dendam sejarah
pada wajah
para penjajah.”

Lombok, Agustus 2020

.

Setelah Matinya Cilinaya

1.
Yang hidup
di luar peti hanyut
adalah wangi nama,
janji-janji,
juga jejak pekerti.

2.
Namamu
wangi setanggi:
pada pengintaian itu
diterpa angin,
ditepis lapang
daun-daun ketapang.

Keris setajam
tanduk menjangan,
lesap di hulu
keluk dan lekuk
sungai-sungai
sepanjang
rumit tubuhmu.

3.
Tetapi apa
yang kembali
selepas napas
kita tuntas?

4.
Pada lancip
lidah para pengisah:
beringin tumbuh
di atas sebutir pasir;
rotasi bumi
berbalik arah;
matahari redup, padam
tak pernah
menyala kembali;
dan mereka yang moksa
dibuatkan lagi raga
dari lempung kata-kata.

5.
Aku menamaimu
Cilinaya: yang lampau
sekaligus asing,
tetapi kebajikan
menyamakan anggukan
para pendengar waran
yang budiman.

Aku menamaimu
Cilinaya: ilusi-ilusi
sepanjang larik cerita,
perihal darma;
perihal yang rawan
ditambal-sulam;
perihal yang kerap
disulap tangan
mereka yang nampang
di tinggi pelang-pelang.

6.
Yang tetap hidup
setelah peti hanyut
adalah wangi nama, manipulasi,
juga janji-janji yang pura-pura
tak pernah kita
ingat lagi.

Lombok, Agustus 2020

.

Setelah Penyerangan Terakhir

: Puri Cakra, 1894

1.
Di sini,
sunyi pun lumpuh.

Di tembok itu, peluru
menggambar nasib kita.

Hari memudar:
keris telah patah;
tubuh-tubuh kamboja
rubuh dan berdarah.

Maut kian karib,
dan hidup jadi pucat, sewarna
lanjang lehermu.

2.
Tetapi kita
toh sempat mengurung angin,
melucuti waktu
dari tegak tubuh mereka—
sebelum fajar terbirit
dan maut lalu terbit.

Setelah itu:
hanya musim bergerak acak;
langkah kita berbalik arah, surut
makin menyentuh laut;
dan pada akhirnya
terluka di karang tenang.

Lombok, September 2020

.

Membaca Perbatasan

: Sumin, Pengantap

Katamu,
di tepi sini,
Inaq Bangkol pernah
menang membaca
garis nasibnya.

Di laut tenang, di senyap angin,
di basah kaki-kaki karang,
takdir yang berjalan miring
menyelinap bagai kepiting:
setelah itu, cakrawala menelurkan asin
di bibir usia, di perbatasan
ringkas perjalanan kita.

Lombok, September 2020


Ilustrasi: Photo by Pok Rie from Pexels | menjaga perbatasan ilham rabbani

Baca juga:
Puisi-Puisi Saddam HP – Nakama
Puisi-Puisi Muhaimin Nurrizqy – Cinta dan Ganja
Puisi-Puisi Ilham Wahyudi – Bahwa Ia

Bagikan artikel ini ke: