Menu
Menu

Untuk menghindari kata cinta,
Nahab malah melinting


Oleh: Muhaimin Nurrizqy |

Lahir dan besar di Padang. Bergiat di Lab. Pauh 9. Alumnus Sastra Indonesia Universitas Andalas Padang.


Hujan Semakin Hujan dan
Malam Semakin Malam

Seekor anjing kerempeng menggonggong
ke arah corong gorong-gorong. Di seberang,
Kambiang dan Hanjiang sedang makan lontong.
Hujan makin lebat, malam makin pekat.
Tirai kedai melambai-lambai. Angin
menerbangkan kursi plastik warna kuning
ke selokan.
“Kau tidak lupa membawa kondom, kan?”
tanya Hanjiang.
“Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Njiang,”
jawab Kambiang.
“Ssst!” Hanjiang menggaruk kening.
Air menitik dari terpal. Kuah gulai cempedak
di piring mereka jadi jalang.
Ajo berlarian ke sana-sini mengikat kain
dan terpal yang hampir lepas dari tonggak
yang mulai tidak aman.
Hanjiang dan Kambiang baru saja selesai makan.
Badai bertambah kencang. Mereka ingin
merokok, tapi rokok tinggal sebatang
dan malang, korek api pun hilang.
Ajo terkangkang dihantam spanduk besar
bergambar seorang
calon walikota sedang tersenyum, di dekat
pundaknya sebuah kalimat robek:
Melakukan Apapun Demi Padang
Kedai berderak, segala hambur ke selokan,
juga Ajo, Hanjiang, dan Kambiang.
Hanyut lalu menghilang.
Di seberang, seekor anjing kerempeng
susah-payah keluar dari gorong-gorong.
Spanduk calon walikota lain menekan kepalanya.
Tubuhnya terkepit, didesak sampah-sampah plastik.
Bangkai empat ekor anak anjing terbaring di tepi
mulut corong. Ia menggigil, menggonggong.
Tetapi tidak ada yang mendengarnya dan
memang tidak ada yang mendengarnya,
selain hujan yang semakin hujan
dan malam yang semakin malam.

2020

.

Jalan Bercabang Dua

Di antara jalan yang bercabang dua itu,
Kanciang memilih berjalan di tengah.
Jalan raya adalah lapangan olahraga mobil
buatan Jepang.
Hati-hati, truk proyek pemerintah keluar masuk
membawa batu bata yang dicuri dari
dinding rumah warga.
Oh, malam yang gerah, mending
sulut lagi linting berikutnya, Nciang.
Hendak ke manakah ia? Barangkali ke
akhir yang tidak memiliki ujung.
Pelacur tercintanya diangkut Satpol PP
tadi sore. Seorang politikus botak
menyewanya dan melakukan trisom.
Ia ingin membalaskan dendam pada istrinya
yang malam sebelumnya tercigap
melakukan BDSM dengan politikus lain.
Kanciang berjalan dan terus berjalan
atau terlihat tidak berjalan melainkan
terseok. Ke mana? Mungkin ke suatu entah.
Suatu entah yang menyerupai suatu hari.
Suatu hari tanpa cahaya tanpa gelap.
Di sana, akan ia hisap-habis
linting patah di saku celananya.
“Kutunggu kau di antara dua jalur, Sayang,”
katanya kepada siapakah?
Telah sempurna ia menjadi bagian dari kaum
antara yang menyerupai kira-kira
namun terlihat sepertinya.
Nciang, dengar, yang kencing di sini bukan anjing.
Nciang, ingat, buanglah sampah bukan pada tempatnya.
Nciang, perhatikan, kalau lurus jalan terus.
Lampu lalu lintas selalu menyala hijau, Nciang,
secerlang daun ganja.
Ayo, hisap lagi lintingmu sebelum api di ujung
lintingmu tidak lagi api, melainkan sesuatu
yang lain, sesuatu yang dan lain-lain.

2020

.

Anggur Merah di Malam Lebaran

Di kuburan, bulan tampak seolah ada.
Ditenggaknya lagi anggur merah cap Colombus itu.
Jika hari masih bisa dikatakan sebagai sebuah hari,
tentu Kelapir sedang menikmati organ tunggal di sana.
Tetapi sebuah hari kini telah menjadi sekubur hari,
tempat ulat melumat pahala-pahala
yang kalian cari dengan tergesa.
“Kuburan, tunjukkan kepadaku angka
yang benar!” seru Kelapir kepada
kuburan tanpa nisan.
Di televisi, jumlah kematian berubah setiap pagi
seperti pengumuman nomor togel.
Dilarang mati sendiri jika tidak bisa
menyewa kuburan. Mending mati ramai
supaya sewa dibayar pemerintah.
“Beri kami persembahan, wahai Kelapir Yang Mulia.
Maka akan kami beri kau rumus matematika,”
ucap mayat dalam kubur.
Disiramnya kuburan massal itu dengan sebotol
gepeng Colombus.
“Selamat hari raya mayat-mayat sekalian!”
teriaknya.
“3009,” ucap ketua mayat.
“3009? Tembus empat angka?”
tanya Kelapir.
“Ya, dan tentu, akan terus bertambah.”
“Terus bertambah? Maksudnya?”

Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam si riang-riang
Tertawa mayat di dalam kubur
Minum anggur bisa bikin senang

2020

.

Petualangan Cinta yang Kalera

Kalera mengeja kisah cintanya
dengan hati-hati, seperti kata ‘seperti’ yang
ragu-ragu menyusun baju kata di dalam tas
gunung imajiner seorang penyair muda.

“Cinta adalah hutan kutipan yang
secara sadar membakar dirinya!”
kata hantu-hantu.

Terseok ia menuju kemah metafora
penuh berahi, botol bir, dan kebahagiaan yang
diliputi kesedihan.

Jemarinya terlalu kebas untuk membaca
peta buta itu. Navigasi yang sungguh
akan menuntunnya pada kekacauan sejati,
yang bertapa di dalam jiwanya.

“Sabar, Sayang. Tunggulah bantuan
datang dari tempat yang tidak terkontaminasi
kepastian,” katanya kepada gigil tubuh.

Di dalam rimba kegalauan itu,
ia ingat cita-citanya:
“Ingin menulis puisi cinta yang mematikan.”

Waktu sudah memperlihatkan pukul-an telak kepada
para pendaki sok paten pembuka jalur baru:
tersesat di dalam lembah perasaan yang dungu.

Maka ia seolah merasa sepi. Maka ia seolah
merasa terbuang. Maka ia seolah merasa
menjadi penyair bonafide garda depan.

2020

.

Kisah Cinta di WC

Setiap tercirit Godok selalu
memikirkan perempuan tercintanya,
Cepet.

Di saat itulah ia mulai memikirkan
Baris-baris puisi yang akan ditulisnya
setelah selesai cebok.

Hari itu panas berdengkang, ia
tercirit sambil telanjang.

Godok memikirkan Cepet sambil
ngocok.

Ketelanjangan membuat berahinya melaju
100 km/jam dari biasanya.

Ketika sperma itu muncrat ke dagunya,
Sebaris kata-kata canggih menggema di
benaknya yang lompong.

Tapi karena kecapaian, ia tertidur
di WC itu.

Orang yang antri, mulai menggedor pintu
dengan kekuatan berahi yang masih baru.

Yang kecepatannya hampir menandingi
Godok, yaitu 99 km/jam.

2020

.

Asu dan Kebahagiaannya

Di kamar sewa tanpa jendela,
Asu mabuk sorang diri.
“Halo,” ucap masa lalunya.
Asu mulai gelisah.
“Halo,” ucap masa depannya.
Asu mulai goyah.

Dipikirannya sekarang hanya
kekasih tercinta yang sedang berada
di luar negeri, jadi TKW.

Ia lari ke WC.
Air kencingnya yang terbelah dua itu
terlihat seperti air mancur di depan gedung
DPR/MPR.

Tersandar ia di dinding WC.
Terduduk di antara lubang cirit dan lubang
kematian.
Muncul bayangan wajah kekasihnya
sedang diperkosa si majikan.

Diambilnya rokok dan diaduknya sari pati
Autan di dalam gelas bir.
Dibacanya lagi surat yang tadi sore
diantar tukang pos ke depan kamar
sewanya yang tak punya kotak surat.

Dimainkannya gitar mulai dari nada
Em ke nada Dm.
Setelah itu,
ia ngocok sambil memikirkan peti mayat
kekasihnya yang akan terbang di langit
tiga benua.

Asu berdoa kepada Tuhan. Ia meminta
agar dibolehkan bercinta dengan kekasihnya.

Di neraka pun tak apa.
Semalam pun boleh juga.

2020

.

Cinta dan Ganja

Untuk menghindari kata cinta,
Nahab malah melinting
sisa ganja yang bertaburan
di karpet berwarna merah-kuning-hijau.

Disapunya dengan hati-hati,
agar remah-remah hijau itu
tak ada yang luput.

Satu linting yang tercampur
helai-helai jembut kekasihnya itu
kemudian dibakarnya.

Dan rasanya, “Sungguh pantek,”
katanya,
“seperti cinta. Tapi ya sudahlah,
mau bagaimana lagi!”

2020

.

Esai tentang Kepenyairan Antu
yang Ditulis Olehnya

Antu tentu tak mengerti jazz, blues, atau funk,
yang hanya ia pahami adalah mabuk lebih baik ditemani
dengan musik remix dan biduan yang biasa ada di acara
pernikahan atau ulang tahun Pemuda Pancasila.

Sehingga akan percuma jika kau menyampaikan bagaimana
pedihnya komposisi musik blues bila disandingkan dengan
anggur merah yang naiknya perlahan itu.

Ia pun lebih menyukai minuman yang cepat naiknya,
macam vodka KW, tuak KW, wiski KW,
apalagi kalau ditambah Autan dan Spiritus.

Antu tentu tak memiliki tujuan sentimentil ketika
ingin mencapai mabuk. Ia hanya butuh sedikit kerusuhan
di dalam kepalanya untuk mulai menyenggol dan meninju
lelaki sok mantap yang berjoged dengan gaya sok paten.

Acara aman asal biduan jangan disentuh,
tapi itu tidak berlaku bagi mereka yang telah
sampai pada mabuk yang utuh.

Sehingga tidak perlu kau sok menulis puisi tentang cinta
dan romantisme yang beraroma muntah remaja tanggung
ketika setengah botol anggur merah itu telah membasahi relung
hatimu yang melankolis.

Antu tentu lebih memilih menulis cintaku padamu
macam tahi anjing yang telah menjadi batu daripada
aku ingin mencintaimu seperti remah ranting yang dibakar di
kedalaman malam.

2020


Ilustrasi: Photo by Anna Shvets from Pexels

Baca juga:
– Puisi-Puisi Joko Pinurbo – Khong Guan
– Puisi-Puisi Rachmat Hidayat Mustamin – Delapan Sekuen
– Puisi F. Aziz Manna – Golek

Bagikan artikel ini ke: