Menu
Menu

Orang-orang telah berkerumun di sana, melihat ke arah lelaki itu datang, melihat ke arah neraka yang berkobar di atas kebun kelapa yang berbatasan dengan areal persawahan.


Oleh: Ida Fitri |

Lahir di Bireuen pada 25 Agustus. Kumcer pertamanya berjudul Air Mata Shakespeare (2016). Kumcer keduanya Cemong (2017).


Berjalan di pematang, menelisik setiap inci yang ditumbuhi rumput, Dali berharap, tidak ada pemilik sawah yang mencuri air kali ini. Jauh sebelum musim tanam dimulai, mereka sudah melakukan kenduri dengan makan bersama di jalan Len yang membelah areal persawahan itu, di mana setiap orang membawa bekal nasi kulah dan ayam kari dari rumah masing-masing. Selesai makan mereka bermusyawarah untuk menentukan waktu yang tepat memulai turun sawah; menyetujui hal-hal tertentu dan mengabaikan hal lainnya demi kepentingan bersama.

Sudah tiga minggu sawah selesai ditanam, keuneunong lhee sudah berlalu, hujan semakin enggan untuk turun, sementara padi sedang sangat butuh air. Satu-satunya sumber air yang bisa diharap adalah parit kecil yang mengalir mengelilingi areal persawahan dari selatan ke utara, parit kecil yang berasal dari kali buatan yang menghubungkan areal persawahan dengan sungai Peusangan, sungai besar yang berhulu ke danau Laut Tawar. Sialnya, parit kecil itu tidak mampu memenuhi kebutuhan air untuk seluruh petak-petak sawah. Dali yang ditunjuk sebagai Keujruen, membagi areal persawahan menjadi empat bagian dan menggilir waktu mendapatkan air untuk setiap bagian. Jika Tuhan menciptakan Mikail untuk mengatur hujan, maka Keujreun ditunjuk oleh warga sebagai asisten sang malaikat yang bertanggung jawab dalam hal pembagian air sawah. Keujruen mendapat upah, malaikat tidak, manusia bisa sakit, malaikat tidak; perdebatan antara Keujruen dan malaikat mengingatkan Dali pada Mun, putra semata wayangnya yang menolak untuk berkembang sejak usia lima tahun. Mun yang sering diejek anak-anak lain, Mun yang sudah berumur sepuluh tahun tapi bertingkah seperti anak lima tahun padahal Mun adalah malaikat kecilnya. Tuhan telah menghukumnya, Tuhan telah menghukumnya!

Mengernyitkan dahi, Dali berhenti: air mengalir deras di bawah pematang yang ia pijak, menimbulkan gelembung-gelembung udara. Seseorang telah mengorek bagian bawah pematang untuk mencuri air, Dali berjongkok, meletakkan parangnya di atas pematang, turun ke air untuk menambal bagian yang dibolongi Lah Keubat. Sawah di sebelah kanannya adalah milik Lah Keubat, baru besok giliran areal itu mendapat air. Beberapa dari petani itu memang menjadi nakal, mencuri air saat bukan gilirannya. Ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, perkara air tidak sesederhana kelihatannya, Keujruen Kadi, Keujruen sebelum Dali ditunjuk untuk menggantikan Kadi yang telah tua pernah bercerita pada Dali. “Pada suatu masa dulu sebuah keluarga pernah saling membacok karena masalah air sawah. Keluarga Yusuf Markam adalah keluarga kaya, pemilik berpetak-petak sawah di kampung itu. Ketika Yusuf Markam menua, sawah-sawah itu dibagikan kepada dua anak lelakinya, sementara anak-anak perempuannya mendapat jatah lebih kecil di Cot Bak U, areal persawahan di kampung lain. Kedua putranya juga memiliki anak lelaki yang masing-masing diberi nama Suh dan Him.

“Suh yang diberitahu oleh seorang tetangga, kalau Him, adik sepupunya sedang mencuri air dengan melubangi pematang sawah milik ayahnya menjadi hilang akal. Dengan membawa parang, menyusul adik sepupunya ke areal persawahan. Sesampainya di sana, tanpa ba-bi-bu langsung membacok kepala Him yang masih menjaga air yang mengalir dari sawah orang tua Suh. Beruntung Him sempat menahan parang dengan tangan kiri, meski tiga jarinya putus, dan luka koyak di kepala, Him masih selamat dan segera dilarikan ke rumah sakit kabupaten.

“Ketika menceritakan kejadian tersebut pada orang-orang kampung yang menjenguknya, terlihat jelas kilat amarah di mata Him, kilat yang siap menyambar pohon-pohon dan menimbulkan suara guntur yang menggelegar. Karena ketika parang Suh mengenai kepalanya, ia mendengar guntur bergemuruh siang itu.

“Jangan main-main dengan perkara air, Wahai Dali, anakku,” Keujreun Kadi menyelesaikan ceritanya.

Selesai menambal pematang yang dibolongi Lah Keubat, Dali keluar dari sawah milik orang kaya itu, tak sengaja kepalanya menoleh ke arah barat, di mana kebun kelapa tumbuh berjejer di batas areal persawahan. Lagi, Dali melihat hal yang sama seperti yang dilihat sore kemarin. Cahaya merah senja tidak seperti senja yang biasanya, tidak, itu sama sekali bukan senja, itu adalah neraka; ada bara, ada orang-orang yang terbakar, ada batu-batu yang menghitam. Dengan menyebut nama Tuhan, Dali mempercepat langkahnya untuk memeriksa pematang-pematang sawah.

Ketika sekali lagi Dali berpaling ke arah barat, neraka itu sudah semakin turun mendekat ke daun-daun kelapa, ada kekhawatiran mengganjal di dada lelaki berperawakan pendek dan berkulit legam itu. Pada jam seperti ini, istrinya pasti sedang sibuk menyiapkan makan malam mereka, sementara anaknya, Mun yang telah menolak untuk terus tumbuh sedang bermain di tanah lapang yang berada tak jauh dari rumahnya. Mun yang makannya masih harus disuapi ibunya, Mun yang tidak mengenal tanda bahaya, Mun yang tidak biasa, yang dicintainya sepenuh hati, yang akan tetap bermain di tanah lapang meski teman-temannya berlarian pulang karena melihat alam berubah aneh. Dali mulai berlari, berbalik pulang ke arah kampungnya yang berada di balik kebun kelapa tepat pada saat lidah neraka mulai membakar salah satu pelepah kelapa yang paling tinggi. Dali berlari di pematang, berlomba dengan neraka yang semakin mendekati kampung.

Petir menyambar, bersamaan dengan daun-daun pohon kelapa yang membara, Dali telah sampai di bawah pohon-pohon kelapa itu. Ia menghindari daun-daun kelapa yang terbakar dan terjatuh ke tanah, ikut merasakan hawa panas yang terpancar dari atas, di mana daun-daun kelapa semakin banyak yang terbakar. Ini bukan api biasa, api biasa tidak mungkin bisa melahap daun-daun hijau itu, ini api neraka, hanya ia belum pernah mendengar neraka turun ke bumi dan membakar daun kelapa. Sehelai daun kelapa yang terbakar jatuh menimpa sekumpulan pohon lantana yang sedang berbunga, membakar bunganya, kemudian api menjalar membakar pohon-pohon liar itu, ini bukan api biasa, ini api neraka!

Mengambil jalan pintas, menerobos perdu-perdu putri malu yang segera layu begitu tersentuh seperti putri yang menutup diri; Dali mempercepat larinya. Ia harus segera sampai ke tanah lapang, tanah lapang yang dikelilingi kebun kelapa. Cepat atau lambat, api ini akan sampai ke sana, menjalar dari satu pohon kelapa ke pohon kelapa lainnya. Angin telah menerbangkan daun kelapa yang terbakar ke pohon lainnya. Di atas sana, lidah api neraka masih menjilat-jilat menimbulkan suara aum yang menakutkan. Tuhan benar-benar marah!

Mengelap keringat di dahi dengan tangannya, Dali telah tiba di ujung tanah lapang tempat Mun bermain. Orang-orang telah berkerumun di sana, melihat ke arah lelaki itu datang, melihat ke arah neraka yang berkobar di atas kebun kelapa yang berbatasan dengan areal persawahan. “Kalian melihat anakku? Di mana anakku?” tanya Dali pada dua pemuda yang mematung, tak ingin percaya pada apa yang mereka lihat. Pertanyaan Dali seperti angin lalu lewat di dekat telinga mereka. “Ampon Sabri, kau lihat anakku? Kau lihat Mun?” tanya Dali pada orang lain lagi. Lelaki berkopiah putih itu menggeleng. Kepanikan Dali menjadi berlipat ganda, di antara kerumunan orang-orang yang sedang menatap ke arah neraka yang menjilat-jilat, ia memanggil-manggil putranya. Orang-orang itu terlihat membawa buntalan pakaian, orang-orang itu bukan berkumpul untuk melihat api yang menjilat-jilat di langit, orang-orang itu sengaja mengungsi ke tanah lapang, membawa apa yang bisa dibawa, karena cepat atau lambat, api itu juga akan melahap rumah-rumah mereka. Mereka mengungsi seperti ketika terjadi konflik bersenjata dulu, di mana gerakan kemerdekaan menyerang iring-iringan tentara, tentara yang marah masuk ke perkampungan, mengambil orang-orang, menyiksa, dan menghilangkan. Orang-orang yang takut dengan diprovokasi oleh pihak tertentu atau tidak memilih mengungsi di tempat yang dirasakan paling aman. Tapi api neraka yang membakar daun kelapa lebih mengerikan dari tentara yang marah. Mungkin ini sebanding dengan orang-orang yang mengungsi saat tsunami melanda Kutaraja dulu, mereka ketakutan karena alam, hanya saat itu Dali tidak berada di Kutaraja, ia hanya mendengar cerita dari saudara dan kerabat yang berada di Kutaraja.

Maryam, Dali teringat istrinya, apa istrinya sudah ikut mengungsi? Hati lelaki itu terbelah dua, antara mencari Mun atau pulang ke rumah terlebih dahulu untuk memastikan keadaan Maryam.

Maryam bukan anak kecil lagi, perempuan itu pasti akan ikut tetangganya yang berlari ke arah tanah lapang, ketika mereka melihat langit membakar kebun kelapa di dekat sawah. Dali berjalan cepat menuju bocah seusia anaknya diketahuinya sering bermain bersama Mun, “Nyak, kau ada melihat Mun?”

“Tadi Mun bermain bersama kami, Pak Cik.”

“Di mana Mun sekarang, Nyak.”

“Aku tak tahu, Pak Cik. Aku tak tahu!” Sebuah tangan menarik pergi anak itu.

Api sudah sampai di perbatasan desa, mengamuk tanpa ampun, membuat orang-orang semakin banyak datang ke tanah lapang itu. Dari arah api yang mengaum-ngaum, mata Dali menangkap sesosok manusia yang berjalan di antara pohon-pohon kelapa dan semak di bawahnya yang menyala-nyala, tapi sosok itu tak tersentuh sedikit pun dengan nyala api, seperti seorang nabi yang badannya tidak tersentuh api. Semua mata kemudian melihat ke arah orang itu. Dan itu sosok Lah Keubat, orang paling kaya di desa, yang mencurangi pembagian air sawah. Dali tak tahu harus bersyukur atau marah karena lelaki itu selamat. Namun ia kembali ingat pada anaknya dan mulai mencari lagi di antara kumpulan orang-orang yang semakin banyak itu. Ia berlari dari satu sudut tanah lapang ke sudut tanah lapang lainnya. Seorang tetangga mengatakan melihat anaknya di ujung selatan lapangan, Dali segera berlari ke arah selatan, sesampai di ujung selatan, matanya mencari-cari bocah berkaos coklat, kaos yang dipakai Mun sebelum Dali pergi ke sawah tadi. Mun tetap tak ditemukan. Tetangga yang lain mengabarkan kalau ia melihat Mun di sudut utara tanah lapang, Dali segera berlari ke utara, tapi Mun tetap tak diketemukan. Tetangga yang lain lagi mengatakan kalau Maryam yang memikul tas pakaian dan menjinjing rantang makan malam mereka berada di sudut barat, Dali segera berlari ke arah barat, mungkin setelah bertemu istrinya, mereka bisa bersama-sama mencari Mun. Sesampai di sudut barat, Maryam juga tidak ada.

Sementara orang-orang mulai berteriak-teriak sambil menunjuk ke arah perbatasan desa yang terbakar. Dali ikut berpaling ke arah yang ditunjuk warga, hatinya menciut melihat kobaran neraka melahap tubuh telanjang seorang wanita di atas langit sana. Api membakar rambut dan kulit wanita itu, Dali seperti mengenal bentuk tubuh yang sedang dilahap api itu, tidak salah lagi, ia mengenal wanita itu, itu Maryam!

Tidak! Dali menjerit sekeras-kerasnya, ia tak peduli pada orang-orang yang menatap aneh ke arahnya. Kenapa Maryam bisa berada di atas sana? Dali mengucek-ngucek matanya, tapi tidak ada yang berubah, api masih berkobar melahap tubuh Maryam, aroma daging terbakar membuat orang-orang menutup hidung. Maryam bukan jenis perempuan yang banyak bicara, yang melakukan kewajibannya sebagai istri dalam diamnya. Sebagai istri, ia tidak pernah membantah Dali. Lelaki itu mencoba mengingat-ingat dosa istrinya yang membuat perempuan itu layak dilahap api neraka. Dali terduduk di antara orang-orang yang terus berbicara. Maryam bahkan lebih mengutamakan Dali dari pada keinginannya sendiri. Dulu Maryam ingin mereka membangun rumah di kampung orang tuanya sendiri di Samalanga, tapi Dali merasa tidak tahu mau mencari nafkah apa di sana, Maryam mengalah dan mereka membuat rumah di kampung Dali, di mana lelaki itu mewarisi sepetak tanah dan sawah dari orang tuanya. Tuhan telah menjamin surga untuk perempuan yang menuruti sang suami, kenapa juga neraka itu melahap Maryam? Apa itu keadilan yang Maha?

Titik-titik bening mengalir dari sudut mata Dali, ia merasa sangat emosional, tapi kemudian ia berdiri kembali, ia harus menemukan anaknya. Lelaki itu terus mencari di antara kerumunan, matanya menangkap seorang anak berbaju coklat, ia segera memeluk anak itu, “Mun, kemana saja kau, Nyak?” Mun terus menangis ketakutan. Sementara malam telah turun, neraka yang berkobar membuat langit tetap terang, dan api menelan rumah penduduk satu demi satu.(*)

Nasi Kulah: Nasi dibungkus daun dan berbentuk kerucut
keuneunong lhee: Musim hujan dalam hitungan orang Aceh


Ilustrasi: Sheila Kongen (IG: @sheilakongen)

Baca juga:
– Nampan dari Surga – Cerpen Yusuf Idris
– Percakapan Penghuni Mauntef – Cerpen Siti Hajar

Bagikan artikel ini ke: