Menu
Menu

Semua yang ingin saya bicarakan tentang dapur kami mendadak menguap.


Oleh: Armin Bell |

Pemimpin Redaksi.


Saya sedang sibuk mengurus dapur rumah kami ketika Maria Pankratia mengingatkan jadwal saya live di instagram dan bicara tentang dapur bacapetra.co.

Saya jengkel sebab saya kira saya sibuk sekali saat itu. Kami baru saja pindah rumah dan pekerjaan menata rumah baru, juga tentu saja dapurnya agar makanan yang tersaji memenuhi standar makanan bergizi di masa covid-19, bukanlah pekerjaan yang mudah.

Saya temukan sebelah kaus kaki saya di samping kompor ketika pasangannya sudah saya buang ke tempat sampah sehari sebelumnya setelah putus asa berat karena yang sebelah tak kunjung muncul; dapur mendadak jadi hal yang tidak ingin saya bicarakan.

Tetapi bilang begitu ke Maria tentu saja tidak mungkin. Materi promo, tentang saya akan “buka dapur” bacapetra.co, sudah dia bagikan berulang-ulang. Saya juga sudah bagikan. Di facebook, di instagram, di whatsapp, di twitter.

Saya tinggalkan dapur kami yang baru dan segera mandi. Di tempat sampah di kamar mandi, kaus kaki saya yang satunya masih ada. Padahal yang saya temukan di dapur tadi sudah saya lempar entah ke mana. Kenapa hidup ini berat sekali?

Saya tidak berhak mengeluh. Di masa covid-19 seperti saat ini, semua pasti lebih sulit–meski tentu saja masalah kaus kaki bukan salah satu di antaranya–termasuk pengelola media macam bacapetra.co ini; jumlah kunjungan menurun karena website ini tidak menampilkan berita tentang corona.

Bacapetra.co adalah website yang (sebut saja) segmented. Sasarannya jelas: penikmat sastra dan pegiat literasi. Tentu saja juga ada peluang (atau keinginan?) menjangkau pasar pembaca yang lain. Khalayak seluas-luasnya. Jika dapat, khalayak yang luas itu bertahan menjadi pembaca setia dan bacapetra.co masuk ke peringkat yang baik. Rencananya begitu. Dan memang begitu. Secara perlahan, jumlah pembaca meningkat.

Artikel pertama kami di website ini berjudul “Klub Buku Petra dan Mimpi-Mimpi yang Terus Tumbuh”. Di sana, dr. Ronald Susilo selaku penanggung jawab umum bicara tentang bagaimana website ini dibuat. Lalu saya menulis tentang komunitas. Dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya, hingga sekarang minimal tujuh tulisan hadir setiap bulannya.

Para redaktur bekerja sepenuh hati memilih tulisan yang ‘layak bacapetra’. Para penulis mengirim karya-karya bagus mereka. Sebagian langsung dimuat, sebagian lagi dikirim pulang untuk dilengkapi, sebagian lain tidak dimuat. Para pembaca setia mengirim umpan balik. Yang lain rajin membagikan konten-konten kami.

Maka ketika diminta buka dapur bacapetra.co, yang saya pikirkan pertama kali adalah mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat membangun website ini dalam masing-masing kapasitas.

Usai mandi dan gosok gigi, saya menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan untuk siaran langsung di instagram. HP, koneksi internet, dan rambut yang gondrong.

Hari Sabtu, 13 Juni 2020, pukul 20.00 Wita, akun instagram Klub Buku Petra mulai live. Saya diundang. Lalu kami ngobrol. Maria Pankratia sebagai host dan saya sebagai narasumber. Beberapa teman bergabung. Lalu sinyal kembang kempis. Dan ‘buka dapur bacapetra.co’ terpaksa dijadwal ulang. Hari Minggu, 14 Juni 2020.

Lalu semua yang ingin saya bicarakan tentang dapur kami mendadak menguap. Bahwa beberapa hal kami percakapkan dan teman-teman menyimaknya (terima kasih 1000), rasanya tetap tidak cukup mewakili maksud buka dapur sebagaimana yang saya pikirkan sebelumnya: menyampaikan serangkaian ucapan terima kasih dan permohonan maaf.

Mengapa demikian? Karena memang harus demikian. Mengucapkan terima kasih dan menyampaikan permohonan maaf adalah hal yang semestinya kita lakukan. Setiap hari. Dalam masa normal, tidak normal, maupun new normal. Dan, saya akan melakukannya.

Pertama, terima kasih. Kepada para redaktur yang dengan setia melakukan pekerjaannya hanya dengan modal diskusi via WAG; kepada para penulis yang memilih bacapetra.co sebagai media menyiarkan karya-karya hebatnya, kepada para pembaca yang mengikuti tulisan-tulisan yang kami sajikan, dan kepada siapa saja yang merasa bahwa kami sudah di jalur yang tepat dan karenanya berharap agar kami tetap melakukannya.

Kedua, mohon maaf. Untuk semua yang barangkali berjalan tidak cukup baik.

Selebihnya? Buka dapur model begini adalah sesuatu yang baik. Setiap orang berhak mengetahui apa yang terjadi di balik sesuatu yang ditampilkan, diumumkan, atau dipaksakan kepada khalayak. Bukankah begitu?

Sembari menyesali keputusan saya tergesa-gesa membuang (secara bergantian) kaus kaki saya–ke dua tempat sampah yang berbeda yang menyebabkan saya kesulitan sendiri, saya ingat tentang ‘new normal‘ yang sedang ramai disosialisasikan akhir-akhir ini. Kenormalan baru. Apa itu? Entahlah. Tetapi di bacapetra.co, ada yang baru.

Kami berdiskusi. Tentang bagaimana membangun website ini, komunitas penulis dan pembacanya, keragaman artikel, dan lain sebagainya. Tidak setiap hasil diskusi-diskusi itu langsung ‘dieksekusi’. Yang lain disimpan, dan yang segera dieksekusi adalah rubrik terjemahan.

Ya! Mulai saat ini, rubrik ini dibuka untuk umum. Maksudnya, jika pada tahun pertama yang bertugas mengisi rubrik ini hanya Mario F. Lawi (Redaktur Terjemahan) maka sekarang para penulis (penerjemah) lainnya diundang untuk terlibat. Mario akan tetap menjadi redaktur–dan tentu saja mengisi rubrik ini sesekali–dan para penerjemah lain disilakan mengirim karya terjemahannya.

Selain itu, Yayasan Klub Buku Petra, yang menaungi website ini juga mulai menata diri (baca: program-programnya). Ada kelas-kelas virtual, ada Dapur Klub Buku Petra yang mudah-mudahan akan terus berlanjut ke depannya. Sebab mengajak orang lain menonton sesuatu yang tidak begitu populer seperti obrolan tentang buku, sastra, dan literasi bukanlah hal yang mudah, dan tentu saja ada rencana besar lainnya. Di luar semua itu, di luar dapur bacapetra.co, ada para pembaca yang selalu setia berkunjung; kami senang.

Besok sudah tanggal 15 Juni 2020. New Normal mulai berlaku di Manggarai. Semoga dapur baru kami segera selesai ditata dan saya bisa segera beli kaus kaki baru. Tentang mengapa kaus kaki sangat penting, kita semua tentu tahu: setelah masa yang sulit ini semua orang harus siap-siap berlari. Termasuk para pengrajin kayu. Eh? Bukankah begitu, Maria?

Ikat tali sepatumu dengan kencang. Kau memerlukannya, kawan. Setelah telat tiga bulan. Gas sudah!

Salam


Baca juga:
Hikmah
Menikmati Hidup yang Brengsek

Ilustrasi: Foto Kaka Ited

Klik tautan ini dan selamat berkenalan dengan tim bacapetra.co.

Bagikan artikel ini ke: