Menu
Menu

Kini ceritakan padaku misalnya
mimpi apalagi yang masih kaupunya sebelum aku jadi penjaramu. Adimas Immanuel Adimas Immanuel


Oleh: Adimas Immanuel |

Lahir di Solo, 8 Juli 1991. Lulusan magister kebijakan publik ini sehari-hari bekerja sebagai konsultan komunikasi pemasaran. Buku-bukunya yang sudah terbit antara lain “Pelesir Mimpi” (2013), “Di Hadapan Rahasia” (2016), dan “Karena Cinta Kuat Seperti Maut” (2018). Sekarang ia tengah mempersiapkan novel terbarunya. Ia juga berangan-angan beternak lele atau bebek suatu hari nanti. Bisa dijumpai di Twitter/Instagram @adimasnuel. Adimas Immanuel


Penglihatan

Wajahmu terukir jelas
di daun ketapang.

Mungkin juga
ke mana pun kumemandang.

Sedang di balik dagingku,
jiwamu yang murung

senantiasa kudekap,
agar aku bisa

mengekalkanmu.
Agar sunyiku belajar

mengecap rasa hilang,
menusukkan tubuhku

pada daging keabadian.

.

Cupio dissolvi

Aku akan tetap memandangmu meski tinggi langit tak terpahami akalku.
Orang-orang saleh akan menyambutku dan menggandeng diri yang
sudah tak kukenal sebab merekalah yang bertanggung jawab atas
hidupku lalu, nasib yang berjarak dari imamat dan jaminan selamat.

Aku akan tetap mengawasimu kecuali para penjagamu sendiri yang
membebatkan kain pada kedua mataku sebab masa kanak-kanakku
terus mengincarmu, bertanya tentangmu, tentang tugasku di dunia
sebab mulutku pedang beracun yang membenamkan sunyi ke jantungmu.

Aku akan tetap menatapmu selama kau mampu menatapku sebab
luka ini terus menganga dan dagingku perlahan menyusun tubuh
baru dan bersiap melepas rohmu. Kini ceritakan padaku misalnya
mimpi apalagi yang masih kaupunya sebelum aku jadi penjaramu.

.

Pagar

Pagi mengulurkan tangan
ke arah pegunungan

menjangkau lengan hujan
dengan seribu kemungkinan

mengetuk dinding hati kita
yang beku dan pucat

setengah tak percaya (mengapa?)
kepada isyarat kita sendiri.

“Inilah bahasa yang mati,
cinta yang tak terberkati.”

Dan kau mengulurkan tanganmu
ketika maut tiba di luar pagar.

.

Agrafa

Akhir-akhir ini
aku sering mimpi buruk
dan masa lalu tak hadir
untuk sekadar memeluk.
Kutarik selimut sampai
ke dada, lalu kepala
tak ada kau yang lenyap
tanpa suara dan
dengus napas itu
sudah pasti bukan
kepunyaan kita.
Waktu mendaras sunyi
bagai doa si pendosa
dan kuseru namamu
berkali-kali sebelum tiada:
bawa aku ke mana kau
membenamkan kata-kata
meski harus kutinggal
ingatan dan bahasa tersisa.

.

Mimpi Buruk

Pada perjumpaan selanjutnya kereta itu
akan memunggungi kita dan perpisahan
mengalir tenang di sungai bawah yang
terhalangi mimpi buruk hutan kelam.

Burung-burung menyapukan pandang
ke bentang ladang dan gerung mesin kereta
mengingatkan mereka pada bunyi bising
dalam mimpi buruk langit yang muram.

Saat kereta itu tiba dan burung-burung
kembali ke sarangnya langit murung
akan menuliskan semua yang terjadi
pada hari penuh ragu dan cemburu
agar rahasia tak mengungkap pesona
sebelum mimpi buruk matahari padam.

.

Keniscayaan

Hujan membingkai wajahmu lagi
mungkinkah hidup yang lama kembali?

Sejumlah cahaya nyala dalam dada
jadi lampu baca bahasa-bahasa purba.

Aku hanyalah anak manusia lata
yang ingin tahu seribu satu rahasia.

Di mana kucari iman jadi keberanian,
bukan kemungkinan yang sungkan?

Hiduplah untuk lepas dari keniscayaan,
demi memisahkan kenangan dari harapan

agar ada yang kurengkuh selain sinar bulan
dalam tahun-tahun angan tanpa kemudian.

.

Kenangan

Jika benar waktu berjalan maju
dan semua bisa diputar kembali
semestinya kita tenang berdoa
menggenggam erat saling percaya
tak takut para serdadu menemukan kita.

Namun jika benar waktu berjalan maju
dan semua bisa diputar kembali
mengapa para serdadu menemukan kita
lebih dahulu padahal kita tengah berdoa
dan menggenggam semua percaya?

Aku ragu waktu berjalan maju
apalagi semua bisa diputar kembali
sebab kita masih saja berdoa
dan terus menggenggam percaya
takut para serdadu menemukan kita.

Aku mulai percaya waktu
tidak pernah berjalan maju
sebab kita sudah berdoa
sudah menggenggam percaya
tapi kehilangan menyergap kita
tanpa memberi aba-aba
seperti saat para serdadu tiba.

.

Latria

Ia pendosa.
Bagian dari dunia
yang dikasihi bapa.

Tubuhnya adalah luka
masa lalu yang menganga.

Setiap malam, ia pecahkan
tubuhnya agar tersisa
kelegaan bagi jiwa.

Namun ia tetap pendosa

sebelum dagingnya kita baca
sebagai imamat percaya.

Sebab kita pendoa.

.

Panggilan dan Kegilaan

Aku akan mencintaimu
sampai tubuhmu menggigil
merontokkan semua kepercayaan
hingga tuhan-tuhan berlepasan
dari balik kulit dan dagingmu
dan akhirnya kau menemukan
inti panggilan yang murni.

Aku akan mencintaimu
sampai penguasa ketakutan
dan membuat undang-undang
untuk mengawasi siapa saja
menangkapi orang tak berdosa
hingga akhirnya rakyat bangkit
menghukumnya sampai gila.

.

Nanti

Nanti keputusanku akan dibawa
serbuk bunga yang tertiup angin
dan kau akan menerjemahkannya
seperti sulur daun menggapai langit.
Masa depan meminjam ingatanmu
untuk menuntaskan masa lalunya
dan saat anak sungai kembali terisi air
kau akan sadar aku musim kemarau
yang sekarat, suara yang tak kembali,
hanya riak-riak lemah yang berbisik:
kita abadi dalam sunyi, menjadi detik
yang memaafkan penipuan hari-hari.


Ilustrasi: Photo by Umberto Shaw from Pexels untuk puisi Adimas Immanuel

Baca juga:
Puisi-Puisi Adhimas Prasetyo – Sekelebatan Memori Patah Hati
Puisi-Puisi Galeh Pramudianto – Parseltongue
[Jangka] Srimenanti; Cara Lain Menikmati Puisi-Puisi Jokpin

Bagikan artikel ini ke: