Menu
Menu

“Lubang apa, Bu. Mana ada lubang?” tanggapku dengan sedikit jengkel. “Ah, Ibu kira tadi ada lubang,” jawab Ibu dengan suara direndahkan.


Oleh: Kiki Sulistyo |

Meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi “Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari?” (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk “Rawi Tanah Bakarti” (Diva Press, 2018). Kumpulan cerpennya yang terbaru, “Muazin Pertama di Luar Angkasa” bakal segera terbit.


Tubuh kecilnya tidak terlihat di antara batang-batang pisang. Dengan mata ditajamkan, ia menatap lurus ke depan. Ayahnya sedang menggali, dan pamannya yang berdiri di bibir lubang menyorotkan lampu senter. Tadi ayahnya keluar sendirian dari rumah; mengalungkan sarung di leher, mengenakan topi, membawa pacul dan senter. Sempat ia dengar pembicaraan antara ayah dan ibunya; soal pamannya, soal situasi yang tak benar-benar dipahaminya, juga soal lubang. Sebelumnya, dalam hari-hari yang menyenangkan, tak ada hal yang pernah disembunyikan kedua orang tuanya itu. Tapi kali ini, ia dapat merasakan suasana yang tidak biasa, suasana penuh ketegangan.

Beberapa hari belakangan ia memang melihat suatu perubahan di sekitar lingkungan rumahnya. Banyak truk yang lewat di jalan depan. Truk-truk itu kadang berhenti, lalu beberapa orang turun dan berkeliling. Pada saat itu ia dapat melihat ketegangan di wajah orang-orang dewasa. Ia dan juga teman-teman sepermainan mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi, tapi semua orang dewasa tampaknya tak mau bercerita. Truk-truk itu biasanya pergi beberapa saat kemudian, tetapi kadang masih tetap terparkir sampai lama, dan ketika pergi ada saja orang yang ikut.

Ketika ia bertanya pada ayahnya kenapa ada orang yang ikut truk itu, ayahnya cuma bilang, “Sekarang Lilis jangan sering-sering main di luar ya. Main di rumah saja, sama Ibu.” Ia tidak mengerti kenapa begitu, ayahnya tidak menjelaskan lebih lanjut. Begitu pula ibunya. Bahkan kemudian kedua orang tuanya itu jadi terlihat jarang bicara, kalau pun bicara suara mereka seperti dikecilkan. Sementara truk-truk semakin sering datang, dan suatu hari salah satu truk itu berhenti di depan rumah mereka.

Tiga orang yang turun dari truk itu berpakaian hijau dengan bercak-bercak seperti basah terkena minyak. Dari balik tirai pintu kamar orang tuanya, ia melihat ketiga orang itu berbicara pada ayahnya. Tanpa ia tahu sebabnya, perasaan tegang menyelimuti sekujur badan, hingga tak disadari tangannya memilin-milin tirai itu dan membuat sosoknya terlihat berdiri di ambang pintu. Salah seorang dari tamu-tamu itu lantas menatapnya; orang itu tersenyum, tetapi di mata dan perasaannya senyuman itu terlihat menakutkan. Ibunya yang ternyata juga mengintip dari lorong yang menuju dapur ikut menatapnya. Mereka bertatapan sejenak, mata ibunya melotot padanya, menyuruhnya masuk. Tapi ia bergeming, memalingkan mata dari mata ibunya yang masih terus menghunjam ke arahnya.

Ketika tamu-tamu itu pergi, ibunya segera menghampiri, menggendong, dan membawanya ke belakang rumah. Sementara ayahnya masih berdiri di ambang pintu, dengan pandangan mengikuti arah laju truk-truk itu. Pada malam hari setelah kedatangan orang-orang itulah ia melihat ayahnya keluar sendirian; mengalungkan sarung di leher, mengenakan topi, membawa pacul dan senter. Diam-diam ia lalu mengikuti ayahnya, mengambil kesempatan saat ibunya buru-buru ke belakang.

Lubang yang digali secara bergiliran oleh ayah dan pamannya tampaknya sudah cukup dalam. Sekarang kedua orang itu berdiri berhadap-hadapan. Senter yang kini ada di tangan ayahnya kadang menyorot sekitar seakan takut ada yang melihat. Sesekali cahaya senter itu melintasi batang-batang pisang di mana ia sembunyi. Bunyi aneka serangga memenuhi kebun. Ia merasakan berpuluh-puluh nyamuk hinggap dan menggigit betis dan lengannya, tetapi ia berusaha tak menepuk. Meski ayahnya nyaris tak pernah memarahinya, kali ini ia takut tindakannya akan diketahui. Ia bisa pastikan ayahnya bakal marah besar, sama seperti kemarahan ayah seorang temannya -yang sebelumnya juga tak pernah dilihatnya marah- ketika mengetahui anaknya mencecerkan daun-daun genjer yang hendak dijadikan sayur.

“Kamu menyesal?” Tanya ayahnya. Si paman diam. Cahaya senter mengarah ke satu titik di sekitar lubang dan tampaklah beberapa lembar pagar bambu. “Menurutmu, apa pagar-pagar itu cukup?” Lanjut ayahnya. “Cukup,” ujar si paman. “Di atas pagar-pagar itu nanti saya taruh ranting-ranting pohon. Untuk menyamarkan.”

“Saya tidak menyesal,” tiba-tiba pamannya menjawab pertanyaan yang sudah berlalu itu, “saya percaya partai berjuang untuk rakyat.”

“Saya tetap memegang pendapat partai. Saya tidak setuju dengan ideologi partaimu. Mereka mau mengikuti ajaran luar yang tidak sesuai dengan kepercayaan kita,” ujar ayahnya. Si paman kembali diam. “Tapi bagaimanapun juga kamu adik saya. Saya tidak mau melihatmu mati sia-sia.”

Kata ‘mati’ itu terngiang dan bertahan di telinganya. Jadi pamannya yang baik itu akan mati? Ia ingat pamannya pernah mengajaknya jalan-jalan ke kota, membelikannya jajanan serta limun saat mereka menonton orang-orang ramai di lapangan. Ia ingat orang-orang itu berseru-seru dan bertepuk tangan gemuruh ketika seseorang berbicara dengan pengeras suara di panggung yang berdiri di tengah lapangan. Ia juga melihat pamannya itu ikut berseru dan bertepuk tangan dengan semangat. Memang ia jarang bertemu pamannya. Orang tuanya tidak pernah mengajaknya ke rumah si paman, cuma sesekali pamannya yang datang ke rumah, dan setiap kali datang ada saja yang dibawanya. Tiba-tiba ia ingin sekali menangis membayangkan pamannya mati, tapi ia masih sadar bahwa ia sedang melakukan hal yang bisa membuat ayahnya marah.

“Malam ini mereka pasti akan datang lagi. Mereka tidak akan berhenti sampai mereka menemukanmu. Sebaiknya kamu masuk sekarang. Biar saya urus sisanya,” ucap ayahnya. Si paman segera masuk ke dalam lubang dan ayahnya mengambil pagar-pagar bambu untuk menutup permukaan lubang itu. Sebelumnya, dengan cekatan ayahnya memindahkan tanah bekas galian dan menyebarkannya ke sekitar. Pemandangan itu membuatnya lemas. Ia tidak bisa membayangkan pamannya sendirian dalam lubang itu. Bisakah dia bernapas? Tidakkah nanti dia digigit binatang berbisa? Ingatannya yang tiba-tiba pada cerita tentang malaikat yang mengajukan pertanyaan dan akan menyiksa kalau kita tidak bisa menjawab, membuatnya ketakutan. Tanpa peduli lagi pada tindakannya ia segera berbalik dan berlari pulang. Sepanjang jalan ia berpikir dan menyimpulkan bahwa truk-truk yang datang itu memang berisi orang-orang jahat. Ketika lampu-lampu rumah sudah kelihatan, ia baru sadar, meski jalan ke kebun itu gelap, tak sekali pun ia tersandung. Mungkin dalam kesedihan, orang memang bisa melihat dengan lebih jelas.

***

“Awas, hati-hati. Ada lubang!” seru Ibu. Aku kaget. Segera kukecilkan volume suara radio dengan tangan kiri, sementara tangan kananku tetap memegang setir. “Lubang apa, Bu. Mana ada lubang?” tanggapku dengan sedikit jengkel. “Ah, Ibu kira tadi ada lubang,” jawab Ibu dengan suara direndahkan. “Sepertinya Ibu perlu periksa mata deh. Di usia seperti Ibu, mata pasti sudah tidak berfungsi dengan baik.” tambahku.

Ini hari Senin, jadi jalanan cukup ramai, apalagi di jam orang-orang pulang kerja, meski hujan belum sepenuhnya reda dan air selokan meluap dan menggenang di badan jalan. Pada persimpangan, di mana berdiri lampu lalu lintas, kemacetan lebih terasa. Kadang, lampu berganti warna sampai beberapa kali baru kita bisa berada di baris terdepan. Ibu memintaku mengantarnya ke dokter, besok adalah hari ulang tahunnya, dan hari ini giginya yang berlubang kambuh sakitnya.

“Besok Ayah akan kita undang atau tidak?” tanyaku ketika di depan kami sebuah mobil berplat merah berhenti. Lampu-lampu toko mulai dinyalakan walau hari belum benar-benar gelap. Kuperhatikan, melalui kaca depan, langit perlahan cerah dengan awan-awan yang terpisah dalam kelompok-kelompok kecil memancarkan bias cahaya matahari yang menembus tabir air. Tak ada jawaban dari Ibu. Aku menengok, kulihat Ibu menatap keluar melalui jendela samping. Di pinggir jalan terlihat beberapa orang duduk-duduk merokok di tepi gundukan lumpur bekas selokan yang dibersihkan. Separuh sepatu mereka terendam air. Kalau Ibu sudah melamun seperti ini aku tidak akan melanjutkan pembicaraan. Kalau aku paksakan bisa-bisa dia senewen, apalagi saat ini giginya sedang sakit. Lagipula aku tidak begitu peduli apakah Ayah akan diundang atau tidak. Pertanyaan tadi kulontarkan mungkin karena aku merasa mulai penat dengan kemacetan.

Aku tidak begitu ingat sejak kapan Ibu sering kaget saat melihat satu dan lain hal. Mungkin sejak ia bercerai dengan Ayah, tapi aku ragu dengan kesimpulan ini. Jauh sebelumnya mungkin Ibu sudah sering cemas. Sebenarnya aku enggan mengingat-ingat, memang kadang aku bertanya-tanya , namun apabila mulai terasa ruwet segera kuabaikan pertanyaan-pertanyaan itu; barangkali Ibu terlalu capek bekerja, barangkali Ibu trauma pada perceraiannya, barangkali Ibu merasa kesepian sebab kecuali aku, tiga anaknya yang lain tinggal jauh darinya. Dari semua kemungkinan itu tidak satu pun yang benar-benar meyakinkanku, dan karena aku sebenarnya tidak benar-benar peduli, tak ada niat untuk bertanya lebih jauh. Hari ini aku juga setengah terpaksa mengantar Ibu. Aku sedang sibuk mengurus acara pemutaran film yang akan dilangsungkan besok, yang kebetulan berbarengan dengan ulang tahun Ibu. Malam ini aku harus rapat untuk mengurus persiapan.

“Ibu Lilis Suryani,” panggil sekretaris dokter. Aku minta Ibu segera masuk.

Di jalan pulang aku memacu mobil lebih cepat, aku tidak mau terlambat pergi rapat. Sampai di persimpangan, aku langsung mengambil jalan ke kiri, saat itu dari arah kanan truk-truk besar yang datang dari pelabuhan bergerak pelan.

“Awas! Awas! pelan-pelan!” seru Ibu tiba-tiba.

“Iya. Ini kan sudah pelan. Tidak mungkin mereka menabrak kita, Bu.”

“Eh, kamu tidak tahu mereka itu orang jahat!”

“Jahat bagaimana, memangnya Ibu kenal mereka?” tanyaku dengan suara tinggi. Ibu tidak menjawab, ia hanya menekan-nekan pipi untuk meringankan rasa sakit di giginya. Aku jadi sedikit menyesal, karenanya pelan-pelan kuperlambat laju mobil.

***

Malam itu ia terisak-isak di pelukan ibunya. Ia tahu ibunya hendak memarahinya, tetapi melihat ia menangis niat itu segera diurungkan. Ketika ibunya bertanya, ia bilang baru saja melihat hantu.

Keesokan harinya truk-truk itu datang kembali, begitu pula di hari berikutnya. Beberapa hari setelah itu terjadi keributan. Ia dengar orang-orang berteriak, di antara mereka bahkan ada yang meraung-raung. Ia ingin sekali keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi, tapi ibunya melarang. Ibunya juga tidak keluar rumah seakan tidak ingin tahu. Hanya ayahnya yang keluar. Keributan itu terus berlangsung dan seperti tetap bergema sampai menjelang senja. Saat ibunya tak memperhatikan dan ayahnya belum juga pulang, diam-diam ia keluar, berlari sendirian menuju kebun pisang. Di sana, dilihatnya lubang tempat pamannya pernah disembunyikan menganga, ranting-ranting pohon dan pagar penutupnya berhamburan. Dengan bersijingkat, ia beranikan diri untuk mendekat. Lubang itu memang sudah kosong. Di tanah sekitar lubang itu ia lihat bercak-bercak, seperti bercak di baju orang yang turun dari truk. Tapi kali ini tampaknya bukan basah terkena minyak, melainkan darah.(*)


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung

Baca juga:
Cerpen: Hikayat Kelewang Pusaka Bes Ma’tani
Ulasan: Memasuki Cerpen “Singgah di Sirkus” Karya Nukila Amal

Bagikan artikel ini ke: