Menu
Menu

Dengan mata lebam, Tohar melongok ke dalam lubang besar di hadapannya. Penciumannya diseruduk bau darah.


Oleh: Selo Lamatapo |

Lahir di Lembata, Flores, Nusa Tenggara Timur. Menulis cerpen, puisi, ulasan, dan feature pada sejumlah media. Sambil menunggu prolog buku kumpulan cerpen pertamanya, Selo mengelola blog pribadi.


Dua detik setelah nama Tohar dipanggil, sebuah tendangan keras mendarat di punggungnya. Tohar sempoyongan dan rubuh ke tanah. Napasnya sesak seperti kesetrum listrik. Tubuhnya lunglai. Terlampau banyak ia menanggung pukulan sejak semalam.

Tohar ingin berbaring lebih lama di tanah, tetapi lelaki bersepatu yang menendangnya, mengangkat lagi tubuh ringkih Tohar dan memaksanya berjalan ke sumber suara yang memanggilnya. Tohar hanya mengikut dengan tangan terikat ke belakang.

Langkahnya gontai tanpa alas kaki. Bunyi dedaunan kering yang diinjaknya naik ke telinga. Udara kering menggeser-geser batang tebu, menimbulkan suara seperti pintu yang kerusakan engsel.

Dekat lubang besar – tidak jauh dari sumber suara yang memanggilnya – lelaki bersepatu itu menghajar betis Tohar, membuatnya tersungkur. Tohar memaki, tetapi tak ada suara. Juga tak berguna sama sekali.

Dengan mata lebam, Tohar melongok ke dalam lubang besar di hadapannya. Penciumannya diseruduk bau darah. Di dalam lubang itu, kepala-kepala dan tubuh-tubuh manusia menumpuk bertindih-tindih. Tiada yang utuh. Rupanya, nama-nama yang dipanggil sebelum dirinya, menemui ajal dalam keadaan tak utuh di lubang itu.

Melihat mayat-mayat itu, Tohar teringat kucing dan tikus yang dikuburkannya di lubang belakang rumahnya kemarin sore, sebelum ia ditangkap dan digiring beramai-ramai bersama warga lain pada subuh buta ke hutan tebu, ke lubang besar itu.

***

“Pisahkan kucing dan tikus itu, Tohar. Jangan dikuburkan bersama-sama.”

“Biarkan saja! Binatang yang merugikan tidak perlu dikasihani, Sarinah.”

“Tidakkah kau takut kalau kita mati dan dikuburkan seperti itu, Tohar?”

“Tidak perlulah kau terlampau cemas, Sarinah.” Tohar menutup kembali lubang itu dengan gundukan tanah.

Sarinah, istri Tohar, selalu mencemaskan segala hal. Apalagi berbau darah dan pembunuhan. Kecemasan itu tumbuh sejak ia menyaksikan kematian ayahnya. Orang-orang bersepatu yang tak ia kenal – usianya terlampau belia waktu itu – menggiring ayahnya ke puncak bukit di belakang rumah mereka. Tangan ayahnya terikat, kepalanya dibebat karung. Di bukit itu, ayahnya dihajar dan dipenggal tanpa kenal ampun, tanpa peduli ayahnya adalah sosok manusia.

Dan ibunya, perempuan yang menanggung duka itu, tak pernah sedikit pun menceritakan perihal kematian ayahnya. Ia keburu mati ditimpa kehilangan yang terlampau bengis. Dari nenek dan kakeknya, ia mendengar segalanya.

Itu sebabnya, Sarinah melarang Tohar, suaminya, membunuh apa saja di muka bumi. Tetapi, kali ini, ia benar-benar pasrah ketika memandangi Tohar membunuh sembari menyumpah-nyumpah kucing peliharaan mereka dan seekor tikus, sore itu. Tohar bagai dirasuki setan, entah jenis apa. Ia berteriak-teriak sambil menghajar binatang-binatang itu tanpa ampun.

”Binatang tidak tahu berterima kasih. Sudah dipelihara dengan baik, hidup di rumah yang berkecukupan, tetapi masih berniat buruk, mencuri, menyimpang, durhaka, bangsat!” Dan kepada tikus yang malang, ia berteriak histeris sambil menghajarnya dengan balok, “Dasar tikus keparat. Hidup hanya menyusahkan orang. Bangsat!” Tiga kali gebukan, dua binatang itu mati terkapar dengan darah menyembur-nyembur. Sesudah itu, dengan sekop ia angkut dua binatang sial itu ke belakang rumah, menggali tanah sedalam-dalamnya dan menguburkan dua binatang itu tanpa belas kasihan ke dalam satu lubang.

“Pisahkan kucing dan tikus itu, Tohar. Jangan dikuburkan bersama-sama.”

“Biarkan saja! Binatang yang merugikan tidak perlu dikasihani, Sarinah.”

“Tidakkah kau takut kalau kita mati dan dikuburkan seperti ini, Tohar?”

“Tidak perlulah kau terlampau cemas, Sarinah.” Tohar menutup kembali lubang itu dengan gundukan tanah. Sarinah diam. Di barat, matahari terbenam menyisakan gelap. Sarinah masuk ke dalam rumah, menyalakan pelita, menyiapkan segala hal untuk pertemuan yang diadakan Tohar bersama anggotanya di rumah mereka, sebentar lagi.

***

Kalau saja Sarinah tidak menjatuhkan sehelai daun ketapang di dekat tiang bendera itu, maka lutut Tohar akan melepuh lantaran panasnya matahari siang musim kemarau. Tohar dihukum tidak mengikuti pelajaran di kelas pada Sekolah Dasar Kolontobo karena terlambat. Ketika ditanya Guru Goran, Tohar menjawab polos: masih menyabit rumput untuk kambing. Alhasil, Tohar dihukum berlutut di bawah tiang bendera.

Guru Goran mengajar Tohar dan kawan-kawannya karena mampu membaca dan berhitung. Ia mendidik anak-anak sekolah agar tahu menghargai waktu, tahu menghargai serta tidak merugikan diri dan orang lain. Dapat berhitung dan membaca adalah bonus. Jika semua disiplin, maka segala hal akan berjalan baik. Itu prinsip Guru Goran, lelaki berkulit hitam legam.

Dari semua guru, Guru Goran yang dianggap paling kejam. Ia mendidik dengan memukul. Murid yang datang terlambat, mengganggu orang lain, mencuri, berkelahi, tidak tahu berhitung dan tidak tahu membaca akan dihajar dengan bilah bambu. Hanya dengan itu anak-anak menjadi takut padanya dan belajar dengan sungguh-sungguh. Maklum, tenaga kependidikan zaman Tohar amat kurang. Para siswa juga telah berumur tua. Satu-satunya cara adalah pukul.

Dan hari itu, Tohar mendapat hukuman dari Guru Goran. Lantas Sarinah, entah dirundung iba ataukah tidak sengaja, menjatuhkan daun ketapang itu di dekat tiang bendera ketika berlari memasuki ruangan kelas usai jam istirahat. Tohar mengalas lututnya dengan daun itu dan mendapat sedikit kenyamanan, walau kulitnya semakin pekat dibakar terik matahari musim panas.

Kelakuan Sarinah itu disemai Tohar bagai menyemai benih kacang hijau. Benih itu tumbuh menjadi kerinduan. Tohar menikahinya beberapa tahun kemudian.

Sesuai dengan adat istiadat orang Lamaholot Tohar melamar Sarinah dengan belis satu gading besar, sejumlah ekor kambing, dan pelbagai jenis binatang. Keduanya menetap sebagai keluarga baru pada rumah yang didirikan Tohar bersama para tukang terlatih yang adalah teman-teman sekolahnya: Lando, Kemaleng, Syukur, dan Soleman.

***

Bersama Lando, Kemaleng, Soleman, dan Syukur, Tohar bergabung dalam kelompok yang dicurigai oleh banyak pihak sebagai kelompok yang merongrong kenyamanan warga. Mereka dianggap pembelot dan penganut ajaran tertentu. Anggotanya tersebar di kampung-kampung. Pertemuan-pertemuan gelap kadang dibuat di rumah-rumah pengurus dan anggota-anggota.

Warga meresahkan keberadaan kelompok itu dan berencana menyampaikannya kepada pihak keamanan. Sarinah yang mendengar desas-desus warga kerap meminta Tohar untuk berhenti terlibat dalam kelompok itu.

“Saya takut kejadian sebagaimana dialami ayah terulang lagi, Tohar.”

“Tidak apa-apa, Sarinah. Ini untuk misi tertentu. Jangan percaya desas-desus warga setempat.”

Sarinah diam. Ia membayang semua yang pernah menimpa ayahnya di bukit itu.

“Sudah siapkan makanan untuk pertemuan malam ini di rumah kita, Sarinah? Apakah semua sudah be…” Belum tuntas pembicaraannya, dari ruang makan, terdengar bunyi piring terjatuh ke lantai disusul sendok-sendok. Tohar tergopoh-gopoh ke dapur dan menemukan kucing peliharaan mereka sedang melahap ikan goreng hasil tangkapan Tohar subuh tadi. Padahal, ikan itu akan disuguhkan untuk makan malam bersama anggotanya usai pertemuan sebentar.

Kemarahan Tohar meledak. Ia berteriak menyumpah-nyumpah sambil menghajar kucing itu dengan balok.

”Binatang tidak tahu berterima kasih. Sudah dipelihara dengan baik, hidup di rumah yang berkecukupan, tetapi masih berniat buruk, mencuri, menyimpang, durhaka, bangsat!”

Sedang ia menghajar kucing, ia mendengar suara seekor tikus berusaha melepaskan diri dari perangkap tikus yang ia pasang di loteng. Tohar seperti kerasukan, mengangkat perangkap dan menghajar tikus itu tanpa ampun dengan amarah bernyala-nyala bagai bara di perapian.

“Tikus keparat! Hidup hanya menyusahkan orang. Bangsat!” Tiga kali gebukan, dua binatang itu mati terkapar dengan darah menyembur-nyembur. Sesudah itu, dengan sekop ia angkut dua binatang sial itu ke belakang rumah, menggali tanah sedalam-dalamnya dan menguburkan dua binatang itu tanpa belas kasihan ke dalam satu lubang.

“Pisahkan kucing dan tikus itu, Tohar. Jangan dikuburkan bersama-sama.”

“Biarkan saja! Binatang yang merugikan tidak perlu dikasihani, Sarinah.”

“Tidakkah kau takut kalau kita mati dan dikuburkan seperti ini, Tohar?”

“Tidak perlulah kau terlampau cemas, Sarinah.” Tohar menutup kembali lubang itu dengan gundukan tanah. Sarinah diam. Di barat, matahari terbenam menyisakan gelap. Sarinah masuk ke dalam rumah, menyalakan pelita, menyiapkan segala hal untuk pertemuan yang diadakan Tohar bersama anggotanya di rumah mereka, sebentar lagi.

***

Setelah sekian lama membahas suatu rencana besar, subuh itu, sebelum semua pamit pulang, sebuah mobil berhenti di halaman rumah. Beberapa orang bersepatu dan senapan meloncat dari mobil, mengepung rumah, dan menendang pintu rumah Tohar.

Tohar dan anggotanya berpandangan penuh tanya. Tiada yang kabur ketika gerombolan bersenjata itu memasuki rumahnya. Dan tanpa perlawanan, mereka biarakan tubuh mereka dihajar, tangan diikat, muka dibebat dengan karung, dan digiring ke dalam mobil. Mobil melaju dalam gelap subuh itu ke hutan tebu, ke lubang besar. Sarinah di dapur melihat semua itu dan mengingat kejadian yang menimpa ayahnya. Sesudah itu, ia melihat dua lelaki bersepatu masuk lagi ke dalam rumahnya.

***

Belum sempat Tohar memperbaiki letak tubuhnya secara utuh akibat tendangan di betis itu, lehernya ditekan paksa menunduk dengan senapan. Tangan itu terlampau kasar sehingga Tohar semakin tak seimbang. Ia memaki tetapi tak ada suara. Juga sia-sia. Dan ia hanya patuh menunduk. Angin kering semakin menggesek-gesek tebu dan membawa bau darah dari dalam lubang itu kepada penciumannya.

Dalam posisi menunduk, Tohar melihat lelaki bersepatu itu mengambil jarak di samping tubuhnya. Saat itu juga, ia mendengar nama istrinya dipanggil: Sarinah. Ia kaget. Namun, dua detik setelah itu, kepalanya terjerembap ke dalam lubang besar. Disusul tubuhnya tanpa kepala.(*)


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung

Baca juga:
Catullus: Kelembutan dan Kompleksitasnya
Puisi-Puisi Surya Gemilang – Situasi-Situasi Batas

Bagikan artikel ini ke: