Menu
Menu

Si hitam kecil itu sangat kuat. Dia menggotong salib dengan tubuhnya dan menahan kedua tangannya pada bingkai pintu.


Oleh: Rio Johan |

Kumpulan cerpennya berjudul “Aksara Amananunna” (2014) terpilih sebagai Buku Prosa Pilihan Tempo 2014. Novelnya berjudul “Ibu Susu” (2017) meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2018 untuk kategori Karya Pertama dan Kedua. ‌Novel terbarunya yang akan segera terbit berjudul “Buanglah Hajat pada Tempatnya“.


—Katakan, Catherine, kaulah yang menampung tiga pemuda yang tiba tadi malam, bukan?

—Ya, mereka tiba di depan pintu rumahku bersamaan dengan turunnya bulan.

—Mereka apakan salib kayu besar yang mereka bawa?

—Mereka letakkan di dinding ruangan tempat aku merawat mereka.

—Parahkah kondisi mereka?

—Mereka masih muda, dan seperti mayat. Tapi bahu kanan yang pirang sobek dan darah yang keluar sudah menghitam. Yang paling besar di antara mereka menderita luka parah dan tubuh besarnya terkapar seperti tuna yang siap dijagal tukang daging. Dia di terbaring di kasur sekarang, kedua kakinya mengangkang. Si kecil bertahan, terlepas dari kondisi kakinya: jari-jarinya sehitam blekberi. Mereka mengaku kalau mereka datang dari jauh.

—Dari ujung lain Prancis.

—Dari mana?

—Lebih dari seribu kilometer dari sini, dekat dengan Spanyol.

—Karena aku sedang menghemat listrik, malam itu kubiarkan pintuku terbuka supaya sinar bulan masuk. Aku dengar bunyi langkah kaki dari jalan setapak.

—Siapa yang menggotong salib?

—Kalau tak salah yang hitam kecil. Yang pirang yang pertama kali masuk. Di bawah sinar, bahunya yang terluka membuatnya terlihat seperti orang yang tengah keberatan membawa tas selempang. Aku sempat berpikir kalau dia orang setempat. Ketika bersuara barulah aku tahu kalau dia datang dari jauh.

—Bagaimana dia menjelaskan kedatangan mereka?

—Dengan sopan. Dia jelaskan kalau mereka bertiga membawa sebuah salib menuju La Salette demi kedamaian. Kunyalakan lampu, kulihat darah di bajunya sudah sewarna pelana kuda. Kukatakan, “Berhentilah sejenak di sini.” Lantas aku nyalakan kompor dan kuletakkan sepotong daging babi asap dalam kuali. Ketika itu, yang masuk ke rumahku baru dua orang, yang pirang dan yang besar. Aku meminta yang satu lagi masuk membawa salib mereka. “Salibnya mungkin agak susah dimasukkan,” yang pirang berkata padaku, “itu dibuat serupa seperti salib yang dibawa Yesus.” Sampai titik itu aku tidak menyadari betapa besarnya benda yang mereka bawa.

—Kau terkejut?

—Aku terkagum-kagum. Si hitam kecil itu sangat kuat. Dia menggotong salib dengan tubuhnya dan menahan kedua tangannya di bingkai pintu. Salibnya berhasil masuk, tapi ketika hendak dibalik, salib itu malah tersangkut, ujung yang satu di bawah wastafel dan yang lain di jam denting. Kukatakan: “Jangan dipaksakan. Nanti malah merusak jam denting itu. Tahan dulu.” Yang besar langsung melesat ke bawah salib untuk menahan. Aku mencoba menggerakkan lengan salib yang yang tersangkut di rak piring kotor. Salib itu dibuat dari papan yang licin yang biasa digunakan untuk atap kandang. Seperti sabun, kedua tanganku berkali-kali tergelincir ketika mendorongnya. Setelah terus dan terus mendorong, akhirnya aku berhasil menancapkan kukuku di salah satu sudut salib, aku bertekad melindungi piring-piringku sekalipun kuku-kukuku terasa seperti akan sobek. Aku berhasil menggerakkan salib itu sedikit dan melepaskannya dari rak piringku, tapi tetap saja salib itu butuh satu milimeter lagi supaya bisa bergerak; tanpa satu militer itu, salib tetap akan tersangkut sekuat apa pun aku berusaha, satu-satunya cara adalah dengan menggerakkan rak piringku. Kukatakan pada mereka: “Dorong sedikit dari sisimu, Nak.” Dan mereka lakukan persis seperti yang kuperintahkan. Kudengar bunyi “klak” dan “brak” dan, seketika itu juga, sesuatu jatuh dari arah jendela. Kukatakan pada diriku sendiri, “Ya ampun, pastilah jam denting!” Nah, segala upaya-upaya kecil yang sudah kulakukan sebelumnya telah membuatku berada di posisi yang cukup menyusahkan, di antara kaki-kaki meja, punggung sebuah kursi, dan salah satu lengan salib, dan aku bahkan tidak bisa mengangkat kepalaku dan melihat seberapa parah kerusakannya. Omong-omong, ketika itu aku sudah merasa tak perlu lagi memperingatkan mereka tentang jam denting, eh, tahu-tahu jam denting itulah yang jatuh. Di saat yang sama, mereka hentak-hentakkan salib suci itu, lengan yang telah kutahan dengan susah payah, supaya sisi yang lain bisa bebas dari wastafel, malah menyenggol rak. Aku pun mendengar bunyi piring-piringku seolah-olah kacang hazel yang berjatuhan pecah. Aku berteriak. Aku lihat ujung salib itu di depan wajahku. Aku bergulat dengan kedua tanganku; berat seluruh benda ini membuatku terjungkir-balik sedemikian rupa, aku pun terbaring di lantai, tetapi untungnya aku berhasil melindungi diri dengan kursi sehingga ujung salib itu tidak menimpa dadaku. Setelah itu, aku pun tersungkur di bawah naungan ketiak salib. Di saat yang bersamaan, aku mendengar bunyi-bunyian dari lampu di langit-langit dan cahayanya berkedip-kedip kuat. Aku menyahut, “Hati-hati, Nak!” dan mereka membalas, “Kami semua sudah kewalahan!” Mula-mula tercium bau gosong, dan seketika saja daging yang sebelumnya kumasak di kompor terbakar. Tiba-tiba saja aku membayangkan kami semua akan terpanggang habis dan aku berteriak kencang seperti seorang perempuan yang sudah kehilangan akal berharap pemuda-pemuda itu bisa bersicepat melakukan sesuatu terhadap api tersebut. “Matikan kompor itu!” Tapi bagi mereka, bencana tersebut pastilah luar biasa lucunya sebab aku dengar suara meniup-niup mereka seperti anjing laut. Bau hangusnya semakin menjadi-jadi. Aku menggeliat-geliat seperti cacing tapi salib itu menciumku seolah-olah itu adalah malam pernikahanku. Kukatakan pada diriku sendiri, “Camkan, ini adalah menit-menit terakhirmu dan ini adalah menit-menit yang baik. Semuanya akan berakhir menjadi asap.” Loteng di atas penuh dengan jerami. Kuperintahkan mereka untuk mengambil satu kendi dan menyiram kompor tersebut. Habis sudah kompor itu, tapi dalam situasi seperti ini, kau tahu, orang harus bertindak cepat menangani api. Mereka tengah menggeledah sesuatu yang aku tak tahu apa, dan salib itu semakin erat menjepit pinggangku seakan-akan memang itulah kehendaknya. Akhirnya mereka berhasil menemukan kendi dan mereka sirami kedua kakiku. Aku berteriak pada mereka, “Kompornya! Kompornya! Bukan aku!” Mereka pun menjawabku, “Tapi, Nyonya, ujung dastermu terbakar juga.” Tentu saja, akulah yang mengundang masuk semua petaka ini dan memang aku merasakan perih pada pahaku. Aku dorong salib itu dengan segenap tenagaku, berani sumpah aku sempat meninju papan itu; dalam satu kedipan mata aku pun berhasil berdiri. Lampu di langit-langit rubuh, jam denting jatuh, alat-alat dapur yang bergelantungan terlepas satu per satu; kepala yang pirang dihantam oleh salib dan terjatuh dengan pantat di dalam panci. Untungnya yang hitam berhasil meloncat kabur segesit pegas mobil, dan samar-samar dia berhasil menahan salib pada tepian meja. Lega juga. Asap dan bau gosong di mana-mana tapi setidaknya tidak ada lagi api. Dasterku hangus sampai ke lutut. Semuanya kacau-balau, tapi lepas dari ketakutan yang baru saja kualami, adalah mukjizat bahwa aku bisa selamat. “Nah, Nak, boleh dibilang hebat betul salib kalian ini! Betul-betul juru selamat!”

“Jangan kira aku bisa menahan salib ini lama-lama,” kata si hitam kecil, “setidaknya bantu aku karena aku mulai kewalahan.” Yang besar punya usul cerdas dan dia pun meletakkan sebuah kursi di atas meja dan menyandarkan salib pada kursi tersebut. Dan kami pun akhirnya bisa sedikit bernapas. Kesempatan ini kumanfaatkan untuk berpasrah menyadari bahwa tiga mangkuk biruku sudah hancur lebur. Aku tak sanggup melihat apa jadinya jam dentingku, aku cuma perlu melirik sekilas untuk melihat bahwa papan berpernis dan berhiaskan lukisan indah buket mawar dan burung beo sudah tinggal bangkai hitam besar belaka. Aku bahkan tidak berusaha mencari tahu di mana gerangan jarum-jarum jamnya. Betapapun, sudah tak ada lagi ancaman bagi loteng jerami, untuk saat itu. Komporku rusak, tapi cuma kompor, gampang saja urusan beli kompor baru. Aku kepikiran untuk merapikan ikatan rambutku dan kulakukan itu. Setelah merasa sudah lumayan lebih rapi, aku siap-siap melakukan interogasi kecil dan kulakukan itu kepada mereka pelan-pelan dan sopan, sekadar untuk mencari tahu apakah maksud di balik salib ini. Dan mereka menjawabku dengan sopan juga. Salib itu dibuat untuk perdamaian dunia. Ketiganya mempunyai mata yang indah. Yang pirang matanya bening seperti air, yang hitam matanya legam, dan yang besar matanya biru seperti bluberi. Dan mereka semua tampaknya menyadari itu. Mereka sendirilah yang telah bekerja keras membuat salib itu, sekokoh mungkin supaya bisa bertahan lama dan sebisa mungkin sama ukurannya dengan yang dibawa Yesus, mungkin sedikit lebih besar. Pokoknya itulah hasilnya. Mereka mencari tempat perlindungan yang jauh. Mereka ingin bersemayam tinggi di atas gunung. Mereka temukan La Salette. Maka, para pemuda pengemban tugas tersebut segera menggotong salib dan beranjak pergi. Mereka bertiga, karena, yang paling penting, masing-masing mereka tidak mau melakukannya sendirian lantas merasa menjadi orang saleh pembawa tugas mulia. Kenyataannya, itu sendiri bagiku sungguhlah terdengar mulia. Mereka ceritakan padaku kota-kota yang mereka lintasi dan sungai-sungai yang mereka seberangi (dengan jembatan) dan gunung-gunung yang mereka daki kemudian turuni untuk mendaki yang selanjutnya lagi. Aku terhibur sekali mendengar semua itu. Aku masih belum berani bertanya tentang darah yang ada di baju si pirang bermata bening, tapi aku tahu diri, kukatakan pada diriku sendiri: “Nanti pasti akan tahu juga.” Mereka jelaskan semuanya padaku sembari kami berempat bersandar pada salib yang tersandar pada kursiku yang tersandar pada mejaku yang tersandar pada lantai parketku yang penuh dengan barang-barang hancur bekas kekacauan tadi. Itu belum termasuk jam dentingku, tapi untuk yang satu itu aku masih belum berani menengok. Yang aku tahu benda itu sekarang tersandar pada dinding belakang dan berkat besi-besi pengait peralatan, jam itu tidak jatuh menabrak lantai. Sekilas aku bisa tahu semua itu melalui satu lirikan. Aku katakan pada mereka: “Nak, tahu apa yang akan aku lakukan? Tidak tahu? Baiklah, aku akan pergi menemui Pak le Curé. Bukannya dia betul-betul kuat, tapi tambahan satu tangan bukan ide yang buruk juga. Lebih-lebih mengingat semua yang telah terjadi, mau tidak mau ini urusan dia juga. Kita tidak bisa mengabaikan dia dari masalah ini.”

Di luar bulan bersinar dengan megahnya. “Halleluya!” kukatakan pada diriku sendiri. Pak le Curé tak banyak membantu juga. Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan berkata berulang-ulang: “Sungguh menggugah hati!” Itu pastilah dampak dari kebiasannya mengisap pipa sore hari. Dia belum sepenuhnya sadar. Bagaimanapun, kubiarkan saja dia bercakap-cakap menghibur mereka bertiga. Perempuan punya peran tapi bukan berarti bisa memainkan semuanya, dan kadang-kadang harus tahu juga kapan harus mundur ke belakang layar. Namun demikian, pada praktiknya aku tak bisa terus-menerus berada di belakang layar dan ujung-ujungnya selalu ke panggung juga: “Ada satu hal yang patut direnungkan di sini,” kataku. “Aku sudah siapkan daging babi asap sebelumnya. Aku tak tahu bagaimana jadinya sekarang, bisa saja jelaga, bisa juga santapan sedap. Bagaimana, mau?” Segera saja perkatakanku itu menarik perhatian ketiga pemuda. Aroma sedap daging asap memang ampuh menggoda siapa saja yang tubuhnya masih dialiri darah sehat. “Tapi kalian mau aku bagaimanakan salib itu?” “Faktanya, Catherine,” kata Pak le Curé, “salib itu telah merangkul kakimu dan kau tak akan bisa bergerak ke mana-mana lagi. Itulah salib Tuhan, sungguh mengharukan!” “Tentu saja, tak perlu ditanya lagi, salib itu harus dipindahkan ke luar.” “Tentu saja,” jawab mereka. “Nah, salib itu sekarang ada di dekat kamar utama. Kalau salib itu bisa muat melewati pintu, kita letakkan saja dia di luar. Bagaimana menurut kalian?” Segera saja mereka lakukan apa yang barusan kugagaskan, begitu segera sampai-sampai aku harus mengingatkan, “Pelan-pelan bagian bawahnya!” dan mereka pun menghancurkan bebarapa benda yang sebelumnya selamat dari kehancuran. Kutegaskan sedemikian rupa supaya mereka paham bahwa manusia boleh saja lalai satu kali sehingga terperangkap dalam kekacauan, tapi kalau terperangkap dalam kekacauan yang sama untuk kedua kalinya, sungguh manusia itu pasti terkenal karena kedunguannya. Mereka mengingat itu baik-baik! Kami pun mengangkat salib tersebut, betapapun beratnya, satu orang satu sisi. Salib tersebut diputarbalikkan tanpa menghancurkan apa pun: lantas lengan kanannya menyenggol kabel lampu listrik, lengan kirinya membelai rak gelasku; kepalanya menyapu potret suamiku yang malang, lengkap dengan kumis melengkungnya yang penuh gaya, dan terakhir benda sakral itu pun langsung menembus pintu seperti seekor merpati pos. “Salib itu keluar juga akhirnya, Kawan!”

—Aku: aku sendiri sudah melihat salib itu hari sebelumnya di gunung. Aku tengah melintasi celah kecil di ketinggian yang dikelilingi oleh medan bebatuan. Tak ada apa pun di atasku kecuali bebatuan. Aku sudah mendaki cukup jauh sehingga kedua telapak kakiku sudah hafal apa yang harus dilakukan. Kau tahu betul tempat yang kumaksud ‘kan, Catherine? Di jalur menuju danau hitam, sebelum mendekati ngarai Ferrand. Dan di selatan berdiri sebuah gunung yang penuh dengan dedaunan pinus. Di situlah aku mendengar nyanyian. Mereka mendaki melalui jalur Jarjatte. Aku pertama kali melihat mereka di antara ranting-ranting pohon-pohon fagus dan aku keheranan menyaksikan betapa pelannya mereka bergerak. Aku pun bertanya-tanya apa gerangan yang tengah mereka bawa dan apa yang membuat mereka bernyanyi. Cukup lama kepalaku diselimuti misteri, aku duduk di rerumputan, mereka berjalan di jalur yang sulit di hutan. Sewaktu nyanyian mereka secara spesifik makin terasa agung, aku bersandar di tepi celah batu untuk mencari tahu apa yang tengah terjadi. Dan tak terjadi apa pun selain mereka yang terus mendaki dan mendaki betapapun berat beban yang mereka pikul. Akhirnya, mereka mulai mendekati padang rumput dan aku bisa melihat mereka lebih jelas, juga beban yang mereka bawa. Mereka melintas sambil bernyanyi tanpa menyadari kehadiranku, sekitar seratus meter jauhnya dariku, mereka bergerak sedikit lebih cepat, di bawah naungan langit jernih, di tengah-tengah panorama bebatuan. Yang piranglah yang tengah memikul salib dan aku perhatikan ada noda hitam pada bagian bahu pakaiannya, tapi lebih seperti basah keringat saja ketika itu.

Kemudian mereka mulai turun dari gunung, dan menghilang ditelan rimbun pepohonan, dan cukup lama aku masih mendengar suara mereka hingga lenyap di dalam lembah.

—Nah, betul, kau sendiri tahu kan itu, apa yang mereka lakukan itu memang semestinya dilakukan di luar ruangan.[]


Tentang Jean Giono

Lahir di Monasque, Provence, Perancis, pada tahun 1895. Dia sempat bekerja sebagai kasir bank selama delapan belas tahun sebelum kemudian dua novel pertamanya diterbitkan. Selanjutnya dia menulis tiga puluhan novel, cerpen, dan esai. Karyanya yang paling terkenal adalah Un roi sans divertissement (Seorang Raja yang Tak Punya Hiburan) dan L’homme qui plantait des arbres (Lelaki yang Menanam Pepohonan), yang kedua diadaptasi menjadi satu film animasi pendek pada tahun 1987 dan berhasil memenangkan Academy Award for Best Animated Short Film. Jean Gionio wafat pada Oktober 1970.

Cerpen yang dalam bahasa Perancisnya berjudul La croix ini terangkum dalam kumpulan cerpen Faust au village (Faust di Suatu Desa) yang diterbitkan setelah Giono meninggal.


Ilustrasi: Photo by samer daboul from Pexels.

Baca juga:
– Cerpen Rio Johan: Pedang Terhebat dari Pedang-Pedang Terhebat
– Puisi-Puisi Adimas Immanuel – Cupio dissolvi

Bagikan artikel ini ke: