Menu
Menu

Sekuen 8: Setiap Pagi Tergantung Antara Mataku dan Aroma Tubuhmu


Oleh: Rachmat Hidayat Mustamin |

Berkarya melalui medium puisi, film & seni performans, kini berbasis di Makassar. Karya-karya yang ia produksi berfokus pada eksplorasi medium dan relasi antara tubuh, citra, dan pengalaman imersif. Pada bulan November-Desember tahun 2019, ia mengikuti Residensi Penulis Indonesia di Kassel, Jerman, yang diinisiasi oleh Komite Buku Nasional. Buku terakhirnya “Sisir Sisir Bunga Eja” (2019).


Sekuen 1: Awas Mudah Terbakar

sentuh

__________________ketiadaanmu. kuncup kota.
______berhentilah. bergegaslah. masuk.
dapur sedang membakar

dirinya. gunting dalam lipatan aksara.
mata berwarna sagu. sepi dibungkus kaos kaki.
bekas-bekas ingatan yang telah dilalui.
percakapan dari bunyi-bunyi

_____________dan enggan diucapkan.

tiada yang dapat kusentuh
dan menyentuhku.

__________________negara. angin laut
__________________dalam puisi. sinar kabut
__________________dan seseorang di kejauhan
__________________yang bermukim di dada.

_____orang-orang membenci orang-orang. blender.
_____pagi menidurkan seorang malam di atas bercak petualang.
_____tumit yang mengetuk rongga langit. daun yang memburumu
_____pada terpaannya. saatnya pulang sekolah.
_____atau masuklah pada pola gendang. debu.
_____hutan menyesakkan seperti kau. pemberontakan
_____ilalang. kantuk tertinggal di sampan.

swipe up. jangan berdiri dahulu. kesedihan

____________sedang masih

____________melintas.

.

Sekuen 2: Tata Cara Menguras Bak

buka telapak tenganmu seperti kau sedang menutup separuh batinmu;
membuka kesempatan setiap orang memenangkan lotere.
pejamkan tubuhmu. biarkan kenangan berjatuhan dari tangkai-tangkai udara.

.

Sekuen 3: Berpose di Depan Papan Reklame

klik!

aturlah saf sekalipun kucing tak lagi berarak di antara kaki kita. keran air mulai membicarakan tentang masa depan dan mesin jahit yang tidak berhenti menampar riwayat telinga. impian siapakah yang kita jalani ini? identitasmu mulai kelambu. warna hari dan ulang tahun yang dimenangkan kesepian. langit mulai berbusa di dalam mulutku. atau langit adalah mulutku yang gemetar. atau getaran adalah kosakata yang kejatuhan beban makna. waktu meredam.

______berapa followersmu sekarang? berapa harga obat untuk ibunda?

klik!

keloid di tubuhku mulai tumbuh menuju segenggam tulang sejarah. leher proyektor sedang sekarat. mie instan rasa lokalitas. (apa yang kaubayangkan ketika mendengar kata kebudayaan? apakah serupa bila kusebut kata es krim-yang mencair?)

______puisi mulai lumer.

klik!

______televisi kumatikan. siaran:
______bapak presiden, kuah soto tumpah di jaketmu.

.

Sekuen 4: Yang Tidak Dibicarakan Ranjang Jam 2.46 Pagi

tiada yang merindukan semua orang. tiada. bayangan menyobek penyairnya. tubuh sepi dan sepi tubuh mengapung di atas mimpi-mimpi. biografi menggenangi lampu melon seperti kamera diletakkan pada kata aku. atau aku telah krisis memori. sementara pada tiap adegan kantong celana, halaman masih merahasiakan angka-angka.

setiap mendengar kata, “silakan.” seperti ajakan untuk bertengkar antara diri yang masih aku dengan diri yang telah aku di atas meja operasi.

hanya sikat gigi yang diperlukan setelah pertemuan dan politik: bit.ly/pencuciankaranggigi
panci yang membentur-benturkan kepala dan diri menyendiri. persekutuan antara taplak meja dan lekuk cemara seperti obrolan tanpa siulan kertas. setelah merekam ulasan palu dan kota dan desa tanpa halaman terakhir sebuah buku puisi aduhai mall gedung jauh, kau biarkan sunyi mengusir dirimu yang sendiri.

di antara kau dan ranjang, siapa yang menang lomba kebersihan?

.

Sekuen 5: Menulis Caption di Instagram Ialah Memahat Pesan dan Kesan di Papan Nisan Sendiri

kuberi kau kesempatan untuk menuliskan keinginan terakhirku. tangan terbuka dan siapa pun bisa jatuh di atasnya. kuali tanah yang bocor di bawah rumah. bantal yang dijemur di atas dingin kopi. sawah dan ombak di ruang tamu kita. perjamuan di selangkangan fotogram.

kita cukup berbeda melihat kuku. daun pisang yang dikibaskan seperti alis yang menopang kata hujan di atasnya. sudah kau hapus seluruh nama-nama?

jangan menatap mataku seperti itu. tak ingin lagi aku runtuh demikian ambruknya. bahan kimia yang dibekukan di atas kertas. pembakaran tumpukan ingatan pada garis lantai dapur yang menyimpan laundry para buruh.

akikahku dimulai empat hari yang lalu seperti merayakan kematian seorang pengguna instagram. jangan memposting. aku sedang tidak ingin di-like oleh piring-piring yang sebentar lagi pecah. copernicus tersesat di toilet seperti puisi yang minim representasi.

1. merasa tenang.
2. terguncang ialah jalan ninja penyair.
3. berpikir dengan sidik jari.
4. metafora yang mendidih di meja restoran.
5. rumah tiba di bandung.

perjalanan menulis ini tidak pernah mengendarai tol. tapi kecelakaan juga.

.

Sekuen 6: Lemari Pendingin Kepala

salat di lemari. tubuh terbagi dua di lemari. makan nasi kuning di lemari. ganti perkakas baju di lemari. kipas angin bergoyang ke situ di lemari. menyapu ambang batas di lemari. minum kopi malino tapi di lemari. main game suburban mall di lemari. naik kelas sampai lantai 9,4 di lemari. (mem)bangun malam di lemari. ngeseks dengan semangka di lemari. mengganti popok bayi berusia 54 tahun di lemari. mencuci beras hitam dengan telur ayam di lemari. naik eskalator sampai tanah di lemari. pesan makanan online di lemari. menggunting kuku mama di lemari. wajan digantung tanpa pengharum ruangan di lemari. empat belas kasur bertumpuk di lemari. payung teduh tersekap di lemari. mengecet tembok kantor di lemari. besok bakal liburan sekolah di lemari. whatsapp ujaran kebencian di lemari. jempol berdarah di lemari. menggoreng tempe sampai hangus di lemari. kebohongan yang tidak diucapkan di lemari. dan seluruh yang lenyap dari tubuhku, ada di lemari.

.

Sekuen 7: Puisi Selama Puisi dan Puisi Setelah Puisi

Setelah Menonton Uninerino #4 oleh Gracia Tobing & Uma Lincay
Bungkus Art Home, 19 Juli 2019

delapan sekuen puisi rachmat hidayat mustamin

.

Sekuen 8: Setiap Pagi Tergantung Antara Mataku dan Aroma Tubuhmu

 


Baca juga:
– Puisi-Puisi Servasius Hayon – Melihat Pahamu
– Puisi-Puisi M. Aan Mansyur – Cara Lain Membaca Sajak Cinta
– Puisi-Puisi Shinta Febriany – Hantu Tahun Baru

Bagikan artikel ini ke: