Menu
Menu

Bukan ibu mertua si Lomma namanya kalau tidak mencari cara lain.


Oleh: Lisa Pingge |

Lahir di Sumba Timur. Seorang guru Fisika. Tingggal di Kecamatan Loli, Kabupaten Sumba Barat. Lebih sering menghabiskan waktu istirahat siang dengan menikmati kopi dan membaca cerpen. Baginya, cerpen, kopi, dan headset, adalah tiga serangkai yang tidak boleh terpisahkan dari keseharian.


Tahun berganti. Semua masih sama. Yang bertambah hanyalah rasa cemas yang semakin bertumbuh subur. Apa lagi yang tidak Lomma masukkan ke dalam rahimnya? Bukan hanya doa yang tak kunjung putus dan keluhannya sendiri, melainkan juga harapan dan keinginan untuk membahagiakan Dessa, suaminya.

Hari pernikahan yang meriah beberapa tahun lalu, seakan tak menyisakan kenangan yang mampu membuat hati Lomma tenang dan merasa hangat. Perlahan, pertanyaan dan bisik-bisik tetangga beserta keluarga besar suaminya melahirkan putus asa di hatinya.

Memasuki tahun kelima, tersisa Lomma yang bertahan menyimpan harap di hatinya. Anggota keluarga yang lain bahkan sudah mengubur mimpi mereka untuk mendengar suara anak kecil di rumah itu. Begitu juga bagi ibu mertua. Apalagi yang tidak dilakukannya, semua jenis tindakan sudah coba ia ambil demi tujuan mulianya, menjaga nama baik keluarga, meneruskan garis keturunan suku Palahonang.

Di tahun-tahun pertama usia pernikahan mereka, ibu mertuanya pernah membawa Lomma bertemu orang pintar. Karena kata beberapa teman arisan beliau, itu mungkin kutukan keturunan suku si Lomma. Secepatnya Lomma diseret, berdua, mereka bertemu orang pintar di desa seberang tanpa membawa serta Dessa. Mengingat usianya sudah tiga puluh, Lomma pun turut saja.

Setelah melunaskan harga jasa dan menebus sepasang ayam putih yang dijadikan perantara untuk memutuskan kutukan yang menyebabkan semua kondisi tak diharapkan itu, Lomma dan ibu mertuanya pun kembali ke rumah. Tak ada yang instan, itu prinsip yang dipegang ibu mertua Lomma. Berbeda dengan Lomma yang tak percaya pada orang pintar sedikit pun. “Ingat, kamu harus yakin,” kata ibu mertuanya waktu itu. Enam bulan menanti, tetap saja di setiap tanggal dua puluh tiga, Lomma masih datang bulan.

Bukan ibu mertua si Lomma namanya kalau tidak mencari cara lain. Melihat tak ada hasil sama sekali, beliau kembali membawa Lomma bertemu dukun beranak di ujung kampung yang konon mampu menerawang rahim perempuan. Lagi-lagi dengan terpaksa, Lomma menurut saja. Sebelum menebus biaya obat yang terdiri dari akar, daun, batang, dan kulit pohon yang diberikan jimat untuk menyuburkan rahimnya, Lomma harus meneguk segelas penuh cairan berisi semacam lendir, ingus, mungkin putih telur atau semacam perpaduan ketiganya. Aromanya membuat Lomma kehilangan nafsu makan tiga hari setelahnya.

“Cairan itu sudah dimantra. Jika kamu takut muntah, tahan nafas lalu minum dalam sekali teguk. Ingat! Minuman itu tidak bisa dibuat dua kali dalam hari yang sama. Jika minuman itu tidak masuk semuanya ke dalam lambungmu, maka kamu harus ke sini lagi besok,” sang dukun menjelaskan dengan suara berat.

Lomma menoleh ke arah ibu mertuanya. Sedikit harap mendapat pembelaan atau belas kasihan. Tetapi apa daya, hanya tatapan otoriterlah yang diperlihatkan ibu mertuanya. Sama sekali tak ada rasa prihatin. Dengan rasa jengkel, Lomma pun mengeksekusi ramuan tersebut dalam sekali teguk, tandas hingga tetes terakhir. Di dalam hatinya, ia memaki tak habis-habis.

“Enak, ya, jadi kamu!” sindir Lomma kepada suaminya yang tengah bersantai siang itu kembali dari menyabung ayam.

“Kalau suami pulang, mestinya disambut kopi, bukan omelan!” jawab suaminya cuek.

Menelan emosi yang ingin keluar, Lomma yang pada awalnya tidak ingin memperpanjang percakapan mau tak mau murka juga.

“Aku tak mau terlihat seolah-olah hanya aku yang ingin punya anak!” ujar Lomma mulai jengkel.

“Tapi kata Ibu, kamunya yang bermasalah, kan?”

Mendengar pernyataan sepihak yang dilontarkan suaminya, Lomma mendadak merasa terhina.

“Memangnya kamu sendiri yakin kalau kamu sehat, hah?” bentak Lomma murka.

Lomma hafal benar sifat suaminya yang selalu menganggap remeh setiap hal, termasuk urusan mempunyai anak.

Sambil mengangkat sampai lutut ujung dasternya, Lomma masuk ke kamar dan membanting pintu dengan keras.

Hari berganti, semuanya masih sama. Ibu mertua Lomma pun masih sama, masih mencari solusi.

Malam datang. Pantulan cahaya merah mars melukis langit di ufuk barat. Belum reda benar kejengkelan Lomma kepada suaminya, akan tetapi sore tadi ibu mertuanya datang membawa mandat dan tanggung jawab baru. Padahal baru tiga bulan kasus minuman berbau lendir dari mulut si dukun itu tidak memberi bukti apa pun.

“Kamu itu satu-satunya harapan penerus keluarga kami,” kata ibu mertuanya lembut, “siapa lagi yang akan meneruskan warisan keluarga ini nanti.”

Bukannya merasa ikut bertanggung jawab, Lomma justru ingin mati rasa. Benar-benar sudah tak ingin berurusan lagi dengan ibu mertuanya. Namun di lain sisi, tak tega juga rasanya kalau harus membantah.

Lomma akhirnya memilih diam saja. Lagi pula warisan apa sebenarnya yang dimaksud akan diwariskan kepada anaknya nanti? Tanya si Lomma dalam hatinya. Ayam jago suaminya? Atau kebun yang luasnya tak seberapa? Ah, bikin pusing! Pikir Lomma.

“Rahim kamu itu kok tak bisa juga diajak baik-baik, ya?” tanya ibu mertuanya di suatu sore.

“Maksud, Ibu?” Lomma balik bertanya dengan intonasi mulai meninggi.

“Buktinya segala cara sudah kita coba. Tetapi tetap saja tak ada hasilnya. Iya, kan?”

Dessa muncul dari dapur. Rupanya ia mendengar percakapan ibu dan istrinya yang mulai memanas.

“Kenapa tidak periksakan kesehatan si Dessa juga, Bu?” ungkap Lomma membela diri, “selama ini kan, Dessa tidak pernah diperiksa. Siapa yang tahu dianya yang bermasalah.”

“Tidak mungkin! Lihat saja Dessa, badannya subur, tinggi, tak pernah demam atau pun batuk.” Ibu mertuanya juga tak kalah membela anaknya.

Lomma berpikir sebentar, mencari-cari apa hubungan antara badan yang tinggi, tak pernah demam dengan kesuburan sperma si Dessa.

“Kalau begitu, kenapa kita tidak ke dokter saja untuk meluruskan semua kesimpulan sepihak yang dibuat ini?” pinta Lomma jengkel. Ia sudah benar-benar lelah, bahkan sempat terbersit di pikirannya untuk menyudahi janji sehidup semati yang telah mereka ikrarkan.

Malam itu, semua sibuk dengan kisruh di dalam kepala masing-masing. Lomma jatuh tertidur dengan senyum penuh harap, sementara Dessa mulai cemas, dan ibu mertua yang ragu dengan kata-kata pembelaannya sore tadi.

“Aku tak percaya dokter-dokter di kota!” seru ibu mertua pagi itu, saat mereka bertiga akan berangkat ke kota.

Lomma tahu itu hanya akal-akalan ibu mertuanya. “Kenapa? Ibu takut kalau Dessa terbukti tidak subur?” tanya Lomma menjebak.

Tidak mau dikatai pengecut, ibu mertua pun mengalah. “Baiklah!” jawab beliau pasrah.

Meminjam pick up salah satu teman Dessa, pagi itu mereka bertiga menuju kota. Bersesak-sesakan di bagian depan dengan si Dessa yang menjadi sopirnya.

Sepanjang jalan tak ada yang bicara. Dua puluh kilometer dilalui dengan diam, hanya volume musik bernada rendah yang terus membantu mengusir gusar di hati masing-masing.

Setelah selesai mendaftar di loket, ibu mertua ngotot untuk ikut masuk bertemu dokter kandungan. Dengan berat hati, Lomma dan Dessa pun mengiyakan saja.

“Hasil pemeriksaannya bisa diambil hari ini juga ya, Dok?” tanya ibu mertua tidak sabar, padahal pemeriksaan laboratorium pun belum dimulai.

“Bisa, Bu,” jawab Pak Dokter ramah.

Setelah menjalani pemeriksaan yang membikin Dessa malu luar biasa dan ingin kabur, akhirnya mereka bertiga kembali duduk saling diam di kursi ruang tunggu. Ibu mertua terlihat tak tenang, sejak keluar dari ruangan dokter, kepalanya seperti kepala bangau yang terus mendongak ke pintu ruang praktek dokter. Sementara Dessa terus menggoyangkan kedua kakinya ke lantai, tanda tak tenang. Sedangkan Lomma sudah siap dengan segala kenyataan. Jika terbukti rahimnya bermasalah, ia akan meminta cerai. Tetapi jika si Dessa yang tak subur, maka ia hanya ingin melihat ekspresi dan tindakan ibu mertuanya nanti.

Gayung bersambut. Namun demikian, Lomma tidak ingin bertepuk tangan akan hasil pemeriksaan yang dijelaskan panjang lebar oleh si dokter, Lomma hanya merasa puas sebab terbukti bahwa rahimnya baik-baik saja. Dessalah yang bermasalah.

Sepanjang perjalanan pulang, Dessa terus direcoki dengan berbagai macam peringatan oleh ibunya, ia harus menaati anjuran dokter.

“Berhenti merokok, berhenti minum laru sama teman-teman gaulmu itu. Harus banyak istirahat! Besok kita harus ke dukun di ujung kampung itu, Ibu rasa minuman dukun itu lebih ampuh.”

Lomma memegangi perutnya menahan tawa. Mampus kau, Dessa! Biar rasa! Seru Lomma di dalam hati.

“Selamat menjadi aku beberapa tahun ini, sayangku. Selamat menelan segala jenis ramuan-ramuan aneh, terlebih lagi lendir si dukun itu,” sindir si Loma kepada suaminya yang sejak pulang tadi tak bicara sepatah kata pun.

Tak menjawab apa pun, Dessa terus tidur memunggungi Lomma.

“Ingat selalu jaga emosi, berhenti tidur sampai larut. Biar jago prajurit-prajuritmu itu untuk berenang!” (*)


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung

Baca juga:
Tidak Ada Internet di Kampung, Portal Mana yang Akan Terbuka?
Puisi-Puisi Iyut Fitra – Kepadamu Kami Bicara

Bagikan artikel ini ke: