Menu
Menu

‎Di pohon kenangan, guratan sepasang telapak tangan-kaki itu bersandingan dengan guratan sepasang telapak tangan-kaki lainnya.


Oleh: Tjak S. Parlan |

Lahir di Banyuwangi, 10 November 1975. Menulis cerpen, puisi, feature perjalanan, novel. Sejumlah bukunya telah terbit, antara lain “Kota yang Berumur Panjang” (Basa-basi, 2017—Kumpulan Cerpen), “Sebuah Rumah di Bawah Menara” (Rua Aksara, 2020—Kumpulan Cerpen), “Berlabuh di Bumi Sikerei” (Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, 2019—Feature Perjalanan). Saat ini sedang menyelesaikan novel pertamanya—novel yang didasarkan pada ingatan masa kecilnya tentang penari Gandrung Terop Banyuwangi. Selain menulis, ia juga menekuni desain—perwajahan buku dan media cetak. Mukim di Ampenan, Nusa Tenggara Barat.


Lidiana baru saja membuka pintu ketika Nikodemus muncul di antara perdu puring dengan wajah berkeringat dan napas terengah-engah. Seraya mengekor ibunya ke dapur, bocah enam tahunan itu menyebut-nyebut nama seseorang.

“Kenapa dengan pamanmu? Kamu sebut-sebut saja dia,” tanggap Lidiana.

“Paman Heronimus datang,” jawab Nikodemus. “Dia menangis di bawah pohon durian.”

“Kamu bertemu dengannya tadi?” tanya Lidiana.

Nikodemus mengangguk. “Kenapa paman menangis seperti itu?”

Lidiana tidak segera menanggapi pertanyaan anak laki-lakinya. Dia menurunkan jaragjag dari punggungnya. Setengah dari keranjang itu dipenuhi oleh umbi keladi yang bernas. Sisanya adalah dahan-dahan kering yang sudah dipotong-potong pendek untuk keperluan kayu bakar. Lidiana segera memindahkan semua isi jaragjag itu ke lantai kayu di sudut dapur. Setelah itu dia memasukkan kayu bakar ke perapian, menyalakannya, dan mulai menjerang air.

“Segeralah mandi!” ujar Lidiana. “Sudah sore sekali, sebentar lagi lampu menyala.”

Nikodemus tidak lekas beranjak. Dia justru duduk di samping ibunya yang sedang berusaha memperbesar nyala api dengan meniupnya berkali-kali.

“Kenapa paman Heronimus menangis?” Nikodemus mengulangi pertanyaannya.

“Mungkin dia sedang sedih.”

“Kenapa sedih?”

“Mungkin dia teringat bapak.”

Nikodemus tampak tidak mengerti dengan jawaban ibunya. Mungkin dia memang belum paham jenis kesedihan macam apa yang bisa membuat seseorang menangis. Nikodemus tidak memiliki kesempatan untuk menangis ketika ayahnya meninggal. Tentu saja, ketika itu Nikodemus masih berada dalam kandungan—tujuh bulan berjalan di dalam perut Lidiana yang membuncit. Nikodemus juga jarang menangis. Dia pernah menangis sekencang-kencangnya ketika Heronimus pergi ke Ugai untuk menetap selamanya di sana.

“Saya tidak sedih,” ujar Nikodemus kemudian. “Bapak ada di pohon durian dan saya tidak menangis.”

Mendengar Nikodemus mengatakan hal semacam itu, Lidiana tersenyum. Dielusnya rambut lembab anaknya seraya mengatakan bahwa anak kecil memang sebaiknya tidak perlu bersedih. Betapapun begitu, diam-diam Lidiana memerhatikan wajah Nikodemus dan hatinya segera dihinggapi rasa iba. Wajah anak semata wayangnya itu cenderung terlihat sedih, tidak peduli sedang gembira atau benar-benar sedang bersedih. Wajah itu betapa mirip dengan Toggilat, suaminya yang mengembuskan napas terakhirnya beberapa tahun silam.

“Kalau ingin lihat bapakmu, kamu tinggal ambil cermin saja,” seloroh Lidiana tiba-tiba, lebih untuk mengusir rasa iba.“Kamu bisa melihat wajah bapakmu di sana.”

Wajah Nikodemus tampak tersipu-sipu. Dia lantas beranjak ke pintu dapur. Tidak lama kemudian Lidiana mendengar sebuah senandung kanak-kanak di antara bunyi air yang mengucur ke dalam bak plastik. Suaranya gemuruh, beradu dengan hujan yang tiba-tiba mengguyur atap seng di rumah kayu yang kecil itu.

***

Hujan deras menyamarkan bunyi yang menderu-deru dari mesin bulldozer. Orang-orang dusun yang sedang berada di dalam rumah, tidak bisa mendengar sesuatu yang lebih jelas selain percakapan mereka sendiri dan gemuruh hujan yang menimpa atap seng rumah mereka. Mereka tahu, tidak jauh dari dusun itu, jalan yang menghubungkan ke desa-desa lainnya sedang diperlebar; jalur baru atas nama pembangunan sedang dibuka. Akan ada lebih banyak pohon yang ditebang: pohon nyiur, pohon pinang, pohon sagu, pohon durian. Dan salah satunya: pohon durian itu telah tumbang! Tidak ada yang tahu lebih cepat, kalau saja seorang warga dusun yang baru saja menengok bivak ayam peliharaan, tidak berlari-lari kecil menuju rumah Toggilat untuk memberitahukan sebuah peristiwa yang memilukan.

Toggilat sedang duduk di beranda bersama adiknya, Heronimus, yang hari itu baru tiba dari Ugai. Toggilat memasang anak panah dan mencoba membentangkan busur batang enau. Dia merasa lega dengan perangkat berburu buatan tangannya itu. Sepertinya dia akan kembali menyandang silogui itu setiap kali ke ladang. Siapa tahu, di tengah jalan akan bertemu dengan binatang buruan; sekali waktu bolehlah seekor rusa yang tersesat atau babi hutan yang masih sering berkeliaran. Ketika Toggilat hendak mengepaskan anak panah sekali lagi, sosok Elifati muncul di halaman rumahnya. Laki-laki muda tuna wicara itu mengangkat-angkat tangannya, menunjuk ke suatu tempat. Bibir pucatnya yang basah oleh hujan berdengung, wajahnya tampak begitu mencemaskan sesuatu. Toggilat dan Heronimus menangkap isyarat itu. Tanpa berpikir panjang, mereka pun mengekor Elifati hingga ke tempat yang dituju: sebuah ladang di areal proyek pembuatan jalan.

Toggilat dan Heronimus meradang menyaksikan pohon durian yang akarnya sudah terjungkit keluar. Mereka memeriksa sesuatu pada batang pohon yang tumbang itu. Guratan-guratan yang menyerupai sepasang telapak tangan dan sepasang telapak kaki tampak jelas, terbasuh oleh air hujan. Guratan sepasang telapak tangan-kaki itu bersandingan dengan guratan sepasang telapak tangan-kaki lainnya. Di bagian lainnya pada batang itu tampak pula sepasang telapak tangan-kaki dengan ukuran yang lebih kecil. Kedua tangan Heronimus meraba-raba, ditelusurinya guratan-guratan itu dengan gemetar. Toggilat duduk menekuk lututnya, meratapi pohon yang telah dijaganya bertahun-tahun bersama seluruh keluarganya.

Pada batang pohon yang tua dan kuat itu tergurat telapak tangan dan telapak kaki bapak, ibu, dan saudara laki-laki mereka. Pohon itu telah dipilih oleh kedua orangtua mereka sebagai kirekat sejak anak pertamanya meninggal karena sakit. Maka terhimpunlah di pohon itu kenangan orang-orang tercinta yang telah mendahului mereka. Semasa Heronimus dan Toggilat masih kanak-kanak, orangtua mereka sering membawanya ke pohon itu.

Pada minggu-minggu pertama musim buah—di bawah pohon durian itu— bapak-ibu mereka akan bercerita tentang seorang anak laki-laki yang tidak lain adalah kakak kandung mereka. Kelak—di bawah pohon durian itu—Heronimus dan Toggilat juga berharap bisa menceritakan kenangan bersama kedua orangtuanya kepada anak-anaknya. Namun, harapan mereka tampaknya sudah pupus. Sebuah bulldozer telah menumbangkan pohon kenangan itu.

“Heronimus!” ujar Toggilat seraya bangkit. Kedua tangannya menggenggam busur dan anak panah yang siap melesat. “Tidak bisa seperti ini. Ke mana perampok-perampok itu?”

Mereka baru menyadari bahwa tidak ada siapa pun di sekitar tempat itu. Hanya ada sebuah bulldozer yang telah ditinggalkan operatornya. Tidak menemukan siapa pun, Toggilat membidikkan amarah dan kesedihannya ke sebuah sasaran. Ujung tunung yang tajam dan beracun itu pun hanya membentur badan bulldozer yang keras dan bisu.

“Kalian kembali ke dusun. Beri tahu orang-orang, siapa tahu ada pohon kirekat mereka yang juga ditumbangkan seperti ini!” ujar Toggilat dengan nada tinggi.

Heronimus dan Elifati tidak membantah. Mereka segera menuju ke dusun. Namun, seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam benak Heronimus. Setelah beberapa langkah, dia berbalik dan menatap Toggilat dengan khawatir.

“Tunggulah di sini dulu. Jangan pergi sendirian!” ujar Heronimus.

Toggilat mendenguskan napasnya. Matanya mengisyaratkan agar Heronimus segera berlalu dari tempat itu.

“Saya akan menunggu. Saya juga tidak tahu di mana markas mereka,” tanggapnya kemudian.

Setelah memastikan Heronimus dan Elifati kembali ke dusun, Toggilat pun berlalu. Dia menyusuri jalanan yang belum lama dibuka itu. Hujan belum juga reda, meski tidak sederas sebelumnya. Sesekali terdengar petir menggelegar. Tanah basah yang gembur dan belum dipadatkan, pohon-pohon yang harus ditumbangkan, satu-dua alat berat yang terparkir sementara di tengah jalan, menjadi pemandangan asing yang melingkupi dirinya. Toggilat pun memutuskan mengambil jalan pintas. Sosoknya segera menghilang di balik kelebatan rumpun sagu. Mungkin pada saat itulah, Heronimus—bersama sejumlah warga dusun—baru saja tiba kembali di tempat mereka berpisah tadi. Mengetahui Toggilat sudah tidak ada di tempat, Heronimus merasa sesuatu akan segera terjadi.

“Kita harus cepat ke basecamp mereka!” ujar Heronimus disambut gegas sejumlah warga dusun lainnya.

Salah seorang warga dusun yang mengaku mengetahui lokasi basecamp pekerja proyek pembangunan jalan segera menjadi pemandu. Letaknya ternyata cukup jauh dari tempat itu. Hari sudah remang ketika mereka sampai di lokasi. Mereka disambut oleh sekerumunan orang dengan wajah cemas. Sejumlah orang tampaknya baru saja mengusung sesuatu ke dalam mobil pick up yang terparkir di depan basecamp. Seseorang—tampaknya seorang polisi—yang menyadari kedatangan mereka segera menghampiri.

“Mungkin ada yang kenal dengan warga ini?” tanya orang itu.

“Sepertinya dia orang dari Puro. Apa kalian mencarinya?”

Heronimus berdebar-debar. Tanpa bicara sedikit pun, dia menyibak kerumunan kecil itu. Demi dilihatnya sosok yang tergeletak tidak berdaya, dia segera naik ke bak mobil. Dibukanya selembar kain yang menutupi sebagian tubuh tidak berdaya itu. Heronimus tahu, firasatnya benar belaka. Namun, dia tidak pernah menyangka bahwa Toggilat akan mengembuskan napas terakhirnya dengan cara seperti itu.

“Kami menemukannya di pinggir jalan, tidak jauh dari sini,” ujar seseorang di antara kerumunan itu.
Orang yang berseragam polisi itu membenarkan apa yang dikatakan orang tersebut.

“Kami sedang berada di sekitar sini. Rupanya dia tersambar petir. Cuaca sangat buruk.”

Heronimus memerhatikan bagian tubuh Toggilat yang telah gosong dimangsa petir—dari leher hingga perut. Lalu dengan erangan amarah bercampur sedih yang tertahan, dia mengangkat kepala yang tidak berdaya itu ke pangkuannya. Untuk beberapa saat tubuh Heronimus berguncangan oleh tangis yang tertahan.

“Jika diperlukan kami akan mengantarnya ke Puskesmas,” ujar seorang polisi. “Atau langsung saja ke rumahnya.”

Heronimus bergeming. Di dalam dadanya berkecamuk amarah, dendam, dan pilu yang tidak bisa tergambarkan. Hingga mobil pick up itu berjalan, Heronimus masih meratapi wajah Toggilat yang memucat di pangkuannya.

Hujan sudah benar-benar reda ketika dua mobil patroli itu sampai di ujung dusun. Heronimus sendiri yang bersikeras membopong jasad itu hingga ke rumah Toggilat di mana Lidiana menunggu dengan kecemasan seorang istri yang sedang mengandung.

Sejak saat itu, selepas telapak tangan-kaki Toggilat digambar pada pelepah sagu dan dipindah-guratkan ke batang pohon durian, Heronimus jarang terlihat berbicara dengan siapa pun. Ya, kecuali dengan sebatang pohon durian yang terus dijaganya—pohon kenangan bagi dirinya dan Toggilat.

***

Heronimus menatap ke sekeliling dan merasa lega. Dia baru saja menyiangi semak belukar yang menjalar dengan ganas hingga ke batang-batang perdu puring yang tumbuh di sekitar pohon durian. Dia duduk di bawah pohon durian itu dan mulai memilin tembakaunya. Ketika dia berdiri—beberapa saat kemudian—asap rokok mengepul dari mulutnya.

Sementara rokok linting itu terselip di bibirnya, kedua tangannya menjangkau pohon durian di depannya. Pohon durian itu besar dan menjulang tinggi. Pada batangnya yang tua dan kuat, terdapat sejumlah guratan. Guratan-guratan itu membentuk telapak tangan dan telapak kaki. Jemari Heronimus menelusuri guratan-guratan itu dengan saksama dan berulang-ulang. Matanya memejam. Mulutnya berkomit-kamit. Sesekali suaranya terdengar lirih dan terbata-bata. Ketika dia membuka mata, matanya tampak berkaca-kaca.

Heronimus mengambil jarak—dua-tiga langkah ke belakang. Dalam-dalam dia mengisap rokoknya dan membuang asapnya dalam embusan yang berat dan panjang. Setelah isapan terakhir, dia menjentikkan puntung rokok lintingnya. Puntung rokok itu jatuh di antara rumpun pisang tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri. Di pohon kenangan.

“Toggilat, Toggilat,” ujar Heronimus, hampir seperti gumam.

Heronimus kembali mendekat ke pohon durian. Dia sandarkan keningnya pada kedua lengannya yang bertumpu pada pohon itu. Digumamkannya nama itu berkali-kali lagi dengan suaranya yang tertahan dan gemetar. Bahunya pun berguncangan. Di tengah suasana seperti itu, tiba-tiba sesosok tubuh kecil mendekat. Heronimus menandai wajah bocah itu—persis wajah seseorang yang selalu diratapi kepergiannya. Heronimus melambai. Bocah itu semakin mendekat.

“Nikodemus, kamu bisa bertemu bapakmu di sini,” ujar Heronimus, seraya meletakkan tangannya di pundak yang mungil itu.

Bocah itu menatap sungguh-sungguh ke batang pohon durian. Dia kembali merasa menemukan apa yang selalu dicarinya. (*) pohon kenangan

Glosarium
Jaragjag: Keranjang yang terbuat dari bahan sejenis rotan (Mentawai).
Silogui: Seperangkat panah untuk berburu (Mentawai).
Tunung: Anak panah yang terbuat dari besi untuk berburu rusa atau babi hutan (Mentawai).
Kirekat: Guratan/ukiran telapak tangan-kaki milik orang yang sudah meninggal pada pohon durian (Mentawai).


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung pohon kenangan

Baca juga:
– Salib – Cerpen Jean Giono
– Puisi-Puisi Rachmat Hidayat Mustamin – Delapan Sekuen

Bagikan artikel ini ke: