Menu
Menu

Afrizal Malna mengamati bahwa posisi bangsa Indonesia masih belum kuat bila disejajarkan dengan bangsa-bangsa lain.


Oleh: Rizka Amalia  |

Lahir di Surabaya. Alumnus Sastra Indonesia-Unesa. Pengajar di SDIT Insan Kamil Sidoarjo. Pengurus Dewan Kesenian Sidoarjo – Komite Sastra. Karyanya dimuat di berbagai media cetak dan daring, di antaranya: Jawa Pos, Harian Surya, Republika, Surabaya Post, Medan Post, Banjarmasin Post, Bangka Pos, Duta Masyarakat, Padang Ekspres, Media Cakra Bangsa, Go Cakrawala, New Sabah Times (Malaysia), Majalah PaMa (Malaysia), Utusan Borneo (Malaysia), Radar Banjarmasin, Radar Mojokerto, dan Radar Banyuwangi.


“Apa yang bergerak di dekat kita?” Afrizal Malna membuka perbincangan sore hari itu (Sabtu 6/6) di Bait Kata Library-Sidoarjo dengan sebuah pertanyaan.

Afrizal, yang saat itu sedang berada di Sidoarjo untuk kunjungan pribadi, “diajak” oleh F Aziz Manna, salah satu penyair yang aktif berkegiatan di Sidoarjo, untuk hadir dalam acara bertajuk Bincang Sore bersama Afrizal Malna. Bait Kata sendiri adalah Perpustakaan Masyarakat yang dibuka sejak tahun 2011 oleh Iffa Suraiya, berlokasi di Perum Puri Suryajaya, Sidoarjo.

Pertanyaan Afrizal tadi muncul setelah Ali Aspandi, Ketua Dewan Kesenian (Dekesda) Sidoarjo membicarakan perihal perkembangan kesenian, khususnya di Sidoarjo; bagaimanakah kesenian dapat bergerak dengan baik di tengah kondisi pandemi yang dialami hampir empat bulan belakangan ini?

Afrizal kemudian meminta agar para seniman menjadi lebih peka dengan mengamati apa yang sedang bergerak di dekat kita saat ini, di antaranya adalah corona.

Sudah bukan rahasia lagi, pandemi Covid-19 telah menghantam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam bidang kesenian. Corona yang telanjur menyebar di seluruh dunia juga telah mengubah tatanan kehidupan masyarakat kita.

Para peneliti, pengajar, tenaga medis, termasuk seniman, seolah tak berdaya ketika dihadapkan pada kondisi pandemi ini. Bidang-bidang yang selama ini ditekuni oleh setiap praktisi itu seakan mubazir dan pada akhirnya memunculkan pertanyaan, “ke arah mana kerja kita selama ini?” Barangkali ini tampak berlebihan, akan tetapi tentu pertanyaan tersebut patut kita renungkan.

Kenyataannya, corona semakin membuat kita sadar bahwa ternyata kita tak punya apa-apa. Lantas, ke mana hasil kerja-kerja kita selama ini? Kerja kita ternyata belum mampu menjawab tantangan masa depan.

Memang tidak semuanya demikian. Akan tetapi, untuk bisa bertahan, kita butuh persiapan.

Afrizal menilai bahwa persiapan yang telah dilakukan belum mampu menjawab tantangan masa depan. Diperlukan kompetensi, perangkat, dan sistem kerja yang lebih efisien lagi untuk mampu bertahan di masa-masa seperti ini. Kesiapan-kesiapan seperti itulah yang perlu dipikirkan. Hal itu dapat dimulai dengan mengenali hal apa saja yang hilang, dan apa yang kita butuhkan di masa pandemi ini.

Afrizal Malna adalah sastrawan Indonesia yang lahir dan hidup pada era di mana Indonesia masih berupaya bangkit setelah masa kemerdekaan. Ia sering mendapatkan penghargaan di bidang sastra. Ia juga telah banyak menulis esai tentang kebudayaan. Kekhasan tulisan pria kelahiran Jakarta tersebut lebih menitikberatkan pada tema dunia dan kehidupan modern, serta objek material dari lingkungan tersebut.

Afrizal mengamati bahwa posisi bangsa Indonesia masih belum kuat bila disejajarkan dengan bangsa-bangsa lain. Indonesia masih harus banyak belajar dari sejarah dan kehidupan modern di negara lain. Sebagai contoh, pria yang sering mementaskan naskah di mancanegara ini menunjukkan kerja kesenian yang ada di Eropa. Kerja seniman di Eropa jauh lebih efektif sehingga dapat terus eksis.

“Seniman di sana melakukan latihan terus menerus untuk bisa melakukan pementasan setiap waktu dan berkelanjutan. Sementara, seniman Indonesia melakukan latihan selama berbulan-bulan hanya untuk melakukan satu kali pementasan. Hal tersebut merupakan fakta yang terjadi dan dapat dijadikan cermin untuk aspek bidang lain di Indonesia sebab kesenian merupakan jalan awal dari terciptanya peradaban. Faktor-faktor seperti itulah yang kemudian menghambat kemajuan kesenian di Indonesia. Selain itu, kesenian Indonesia berjalan stagnan dan hanya mampu dinikmati oleh kalangan sendiri,” tutur Afrizal.

Ia kemudian melanjutkan: “Begitu juga dengan yang terjadi di Jepang. Sebagai acuan kultur budaya timur, kesenian di Jepang lebih dikatakan berhasil sebab atmosfer yang diciptakan begitu elegan dan cantik untuk dimainkan. Kerja kesenian tidak hanya terfokus pada satu titik, tetapi menjangkau mata rantai lain yang sering diabaikan, di antaranya pendidikan.”

Menurut Afrizal, kesenian di Jepang dikolaborasikan dengan sistem pendidikan di mana para siswa telah dikenalkan dengan seni pertunjukan. Mereka pun begitu antusias membeli tiket pertunjukan, meski harganya terbilang tinggi. Sementara di Indonesia, jangankan membeli tiket pertunjukan, hadir dalam pertunjukan yang diselenggarakan dengan undangan gratis pun, jumlah penonton masih minim. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat apresiasi masyarakat Indonesia terhadap budaya tradisinya sendiri masih rendah. Masyarakat Indonesia lebih familiar dengan budaya dari negara lain. Seharusnya ini menjadi peluang bagi para seniman untuk mengantarkan dan menjembatani keinginan dengan kebutuhan yang diharapkan para penikmat seni.

Dalam hal ini, termasuk di masa pandemi ini di mana muncul istilah baru, yakni new normal. Para seniman tidak cukup hanya kreatif, tetapi juga harus inovatif. Terobosan-terobosan ide segar diharapkan dapat mendongkrak kesenian agar mampu dicintai oleh generasinya sendiri. Sudah saatnya para seniman menciptakan ekosistem yang sehat dan mampu membuat kesenian tumbuh subur di masyarakat.

Lantas, ekosistem seperti apa yang dimaksud? Afrizal mengawali hal tersebut dengan menyebut bagaimana ekosistem yang dibangun Belanda.

Belanda sebagai bangsa yang menjajah Indonesia dalam kurun waktu yang lama itu telah berhasil menciptakan tatanan kehidupan masyarakat di Indonesia yang diinginkan mereka. Pendekatannya mungkin tidak sepenuhnya dapat diterapkan untuk masa sekarang, tetapi Afrizal menyebut Belanda mampu meletakkan dasar untuk ekosistem yang sampai sekarang masih dijalankan. Selanjutnya, Jepang datang dengan membawa semangat budaya timur. Jepang menjadi icon, cara kerja yang disiplin dan terstruktur. Namun, lagi-lagi hal itu tidak sepenuhnya berhasil sebab kondisi masyarakat yang saat itu belum siap menerima.

Hal tersebut bukanlah kabar yang menyenangkan. Akan tetapi, setidaknya, metode yang dibawa para bangsa luar ke Indonesia tersebut telah membuat tatanan masyarakat kita berubah. Semangat nasional muncul dari kalangan intelektual, seperti para penyair dan sastrawan Indonesia, di antaranya Pramoedya Ananta Toer dan Amir Hamzah yang merupakan sastrawan Indonesia hasil didikan Jepang kala itu. Barulah setelah itu muncul sederat nama yang tak kalah hebatnya. Masyarakat menjadi ‘melek’ akan kesenian dan budaya. Karya-karya sastra yang muncul juga mampu menopang nilai tatanan kehidupan. Saat itulah karya sastra tumbuh subur, meskipun juga ada berbagai persoalan yang dihadapi.

Berkait dengan hal itu, kesenian sekarang cenderung ‘bergerak tematik’. Sebenarnya hal tersebut tidaklah buruk, tetapi karena tidak disertai riset terlebih dahulu sehingga kerja kesenian menjadi sulit untuk bisa diterima masyarakat. Belum lagi situasi itu tematik itu memunculkan batasan baru untuk kerja kesenian lain. Padahal kerja kesenian seharusnya mampu menyentuh banyak aspek, tidak berdiri sendiri. Seperti di negara ginseng, Korea Selatan, kesenian mampu memberikan sumbangan besar untuk kemajuan negara. Adanya kesenian di dunia perfilman memunculkan para remaja yang kemudian mencintai produk negaranya, seperti kosmetik, makanan, maupun tradisinya. Tentu dengan kemasan yang dapat menjangkau kalangan generasi muda mereka tanpa menghilangkan nilai tradisi setempat.

Sore itu, hadir juga Mulyono Muksin, dramawan Sidoarjo. Mulyono menuturkan, zaman dulu di era 90-an, dirinya pernah merasakan bagaimana suksesnya mementaskan drama di kotanya. Bahkan tiket pertunjukan dramanya mampu melebihi jumlah penonton konser Rhoma Irama. Namun, apakah hal tersebut menjadi tolak ukur mutlak untuk menyebut bahwa sebuah karya seni berhasil? Pada akhirnya muncul anggapan bahwa seniman sekarang ternyata cenderung berpikir bagaimana karya yang dibuatnya bagus. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah.

Namun, seniman sejati tidak hanya memikirkan kualitas karyanya saja. Seniman haruslah berpikir jauh ke depan. Seorang seniman haruslah melihat apa yang tidak dapat dilihat dari kacamata awam. Itulah yang menjadi pembeda antara mereka yang bekerja di kesenian dengan di bidang lain.

“Kesenian merupakan pos pertama setelah bahasa,” tutup Afrizal pada acara yang saya hadiri bersama F Aziz Manna (penyair), Ali Aspandi (Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda), Mulyono Muksin (dramawan), Iffa Suraiyya (Bait Kata), dan Andik Yulianto (dosen JBSI Unesa). (*)


Baca juga:
– Apa yang Hendak Disampaikan “Semua Ikan di Langit”?
– Perjamuan Khong Guan

Bagikan artikel ini ke: