Menu
Menu

Memikirkan percakapan yang berkembang akhir-akhir ini, saya khawatir kita akan meninggalkan hal penting yang ingin Felix Nesi sampaikan.


Oleh: Armin Bell |

Pemimpin Redaksi. Tinggal di Ruteng. Mengelola blog ranalino.id.


Sabtu, 4 Juli 2020, pukul 00.06 Wita, Felix Nesi (Felix K. Nesi) menulis status panjang di dinding facebooknya. Saya baca kira-kira satu setengah jam kemudian dan segera membagikannya di akun facebook saya.

Sebagaimana biasa, sebab Felix adalah penulis yang selalu menulis dengan irama yang menyenangkan, statusnya itu juga sangat ‘ramah baca’. Setiap informasi (yang ingin disampaikannya) tersampaikan hanya dalam waktu sekali baca.

cara felix k nesi

| Tangkapan layar status facebook Felix Nesi (klik perbesar).

Saya baca status panjang itu dengan cara yang saya pakai setiap kali membaca tulisan-tulisannya yang lain (cerpen, novel, dll.): membaca sampai tuntas-mengambil jarak sebentar-mengerti apa yang ingin dia katakan-memberi reaksi.

Pukultuju! Felix ditahan karena su mengamok dan bikin rusak orang pu properti? Semoga dia baik-baik saja!” Itu reaksi pertama. “Ini pasti rame.” Ini reaksi berikutnya sebab alasan Felix melakukan tindakan itu adalah sesuatu yang (sebut saja) sensitif dan Felix memiliki sangat banyak teman di facebook.

Felix K. Nesi adalah Redaktur Cerpen di bacapetra.co ini. Di grup redaksi, beberapa saat setelah membaca status itu, saya menanyakan kabarnya, menuliskan pendapat saya atas apa yang terjadi, dan beberapa kalimat lainnya. Saya mengenal Felix dan oleh karenanya, saat itu sampai sekarang, merasa bahwa dia tahu apa yang dia buat—juga konsekuensi perbuatannya itu, sehingga memutuskan tidak ambil bagian dalam usaha menasihatinya atau mendukungnya secara sangat bersemangat sebab sesuatu yang terlalu akan membuat kita ‘tir tahan mulut dan lupa bawa kepala waktu omong’.

Dugaan saya benar. Status Felix itu jadi ramai. Bukan hanya di kolom komentarnya tetapi juga di media-media. Dari yang pakai judul provokatif nan lebay karena mereka adalah media pemburu klik, sampai yang judulnya lebih tenang. Tentu saja kata-kata pemancing klik semacam ‘sastrawan’, ‘pemenang sayembara’, ‘reformasi gereja’, ‘bongkar skandal gereja’, dan sejenisnya dipakai oleh hampir semua media yang memberitakan kasus ini.

Kelompok pendengar, pembaca, dan pirsawan (ingat ‘klompencapir’?), sebagaimana biasa, segera membelah diri. Bukan belah dua. Belah tiga. Yang mendukung Felix, yang tidak mendukung Felix, yang merasa Felix memperjuangkan sesuatu yang benar tetapi tidak suka caranya. Itu tiga belahan besar. Di bawahnya terdapat belahan-belahan kecil lagi. Lalu membesar lagi. Dan kelompok yang rasanya paling besar adalah yang terakhir tadi; kami setuju perjuanganmu, tetapi tidak setuju dengan cara yang kau pilih. Yang kita pikirkan ketika menyampaikan pendapat seperti itu barangkali ini: Felix K. Nesi memecahkan kaca-kaca jendela pastoran karena pendapatnya tidak diterima. Jika benar demikian, maka kita mengabaikan bagian yang sudah Felix lalui sebelumnya. Ada di statusnya itu, bukan?

Hanya saja, berkutat di perdebatan tentang salah dan benar, tentang siapa yang salah dan siapa yang benar, tentang cara apa yang salah dan bagaimana sebaiknya agar kita benar, tidak akan jadi yang utama dalam tulisan ini sebab percakapan akan tersebar ke sudut-sudut yang sama sekali berbeda; kita akan meninggalkan soal penting yang sedang Felix K. Nesi sampaikan: Saya kecewa juga pada keuskupan yang hanya memindah-mindahkan saja pastor bermasalah. Dari paroki yang penuh cewek OMK, ke sekolah yang penuh siswi. Tanpa memikirkan pentingnya hari-hari sepi untuk refleksi bagi pastor yang kekosongan hatinya hanya bisa diisi oleh afeksi perempuan — pastor yang tidak cukup dihibur oleh badminton, atau sepakbola, atau anak-anak babi di kandang. Dan rasanya sudah mulai begitu. Kita menjauh. Termasuk saya yang tiba-tiba ingat cerpen yang saya tulis beberapa waktu sebelum kasus ini muncul. Judulnya “Sebelum Larut” (bisa dibaca di sini).

Beberapa orang mengingatkan saya (sebab saya mendukung Felix Nesi) tentang suatu saat saya mungkin akan kecewa jika tahu kisah-kisah yang lain tentang Felix dan bahwa sedikit sekali yang kita tahu tentang apa yang terjadi pada Romo A dan bagaimana Keuskupan Atambua telah bersikap atas kasus ‘bersalah kepada perempuan’ itu. Saya kira saya sudah memikirkan itu; juga memikirkan bahwa proses yang telah diambil keuskupan atas kasus ini mestilah sudah dilakukan berdasarkan Kitab Hukum Kanonik karena demikianlah gereja selalu bersikap dalam setiap soal yang terjadi di dalam dirinya.

Saya berterima kasih kepada siapa saja yang mengingatkan peluang saya akan kecewa itu. Soal apakah saya akan kecewa atau tidak, kita bicarakan nanti. Yang pasti saya mengerti bahwa dalam setiap soal yang di dalamnya terdapat sesuatu yang terlampau tajam, seseorang—yang olehnya soal itu dipicu—akan dihadapkan pada cermin agar dapat melihat wajahnya sendiri. Beberapa orang barangkali sedang membuat bingkai yang kokoh agar cermin itu bisa dipajang di tempat yang strategis (sambil membayangkan wajah Felix yang memerah dan pendukungnya berbalik marah padanya?). Felix tentu juga sudah tahu itu. Karena itulah saya senang dengan kalimat-kalimat yang dia pilih di statusnya itu.

Saya lalu menulis ini di facebook:

Felix pilih pake ‘kita sama-sama pendosa…’ sa kira adalah pengakuan bahwa tirada yang suci hama, termasuk dirinya sendiri. Felix tahu itu. Juga tahu, misalkan dalam situasi berikutnya, ada yang mulai utak-atik dia pu dosa lalu bilang “berani sekali kau melempar batu itu ketika Guru sedang menulis dosa-dosamu di tanah, Felix” (yang bisa serentak menggeser empati ke seberang; sebab kita sering begitu: berharap yang melakukan kritik tirada salah sehingga kita bisa titip kita pu harapan ke mereka karena kita tir berani omong oleh karena kita pu dosa ju banyak dan kita takut orang balek gonggong kita). Ketika menghantam kaca-kaca itu atau beberapa saat setelahnya, sa kira, Felix tahu potensi gelombang ulang-alik yang akan dia hadapi; didukung, ditinggalkan, dipisuhi, didukung lagi, ditinggalkan, dst. Felix juga pake ‘kita akan selalu bertemu’ sebagai pesan bahwa yang akan jadi perhatiannya adalah ‘hal itu’. Felix barangkali melakukannya untuk dirinya sendiri—kegelisahan-kegelisahannya yang besar yang hanya mampu dia tulis secuil di dalam karya-karyanya—sebab dia juga gereja yang ingin dirinya sembuh. Soal kita pada situasi Felix adalah tentang cara yang dia pilih. Begitu? Ah… Mau pakai cara lembut dan rayuan ju ka?

Setelah menulis demikian, saya senang. Saya telah mengatakan pendapat saya secara cukup panjang terkait ‘kasus’ Felix K. Nesi ini. Saya senang sebab telah memakai cara yang saya tahu. Maksud saya, setiap orang pasti tahu cara apa yang akan dia pakai untuk menyampaikan sesuatu—termasuk dengan mengayunkan helm pada kaca-kaca jendela—dan wajib menerima (menyiapkan diri) untuk konsekuensinya.

Saya juga senang bahwa pada situasi ini beberapa orang masih bertahan pada pendapat (yang disampaikan melalui pertanyaan): “Kenapa tidak menempuh jalur dialog melalui pihak-pihak yang punya kewenangan memerbaiki situasi ini? Macam kau tirada dosa saja.” Saya senang untuk alasan bahwa kita masih percaya pada pintu bernama dialog itu. Sungguh. Meski di balik kesenangan itu ada hal lain yang mengganjal: sampai kapan dan akan seperti apa wajah dialog pada situasi seperti yang sedang Felix perjuangkan?

Saya lalu khawatir, suatu saat nanti, ketika kasus yang melibatkan pastor—meminjam Felix Nesi: berbuat salah kepada perempuan—terjadi lagi padahal telah sangat banyak dialog kita buka, beberapa orang akan bilang: pastor juga manusia yang bisa khilaf dan mari selesaikan itu secara kekeluargaan. Sungguh. Saya khawatir. Saya khawatir bahwa yang akan mengatakan itu adalah mereka yang beberapa hari terakhir ini berpikir, merusak properti adalah sesuatu yang harus dibawa ke meja hijau dengan segera karena kaca-kaca itu berantakan dan susah disatukan lagi sedangkan hati yang terluka dan masa depan seorang perempuan bisa disembuhkan dengan jalan damai, upacara adat, atau saling menampilkan dosa.

Bisa jadi, yang berpikir begitu adalah mereka yang takut jika kasus ini akan menghancurkan gereja. Ah… Jangan takut. Saya kira, itu tidak perlu. Takut bahwa teriakan Felix akan membuat gereja jadi hancur? Please, Dude. Gereja ini kokoh justru karena tahu bagaimana membenah dirinya melalui kritik semacam itu. Coba periksa saja sendiri.

Saya menutup tulisan ini dengan kembali mengutip status Felix K. Nesi:

Di novel saya, Orang-Orang Oetimu, saya menulis tentang pastor yang sukanya melindungi kebusukan pastor lain. Apakah saya baru saja melihatnya di dunia nyata ini? Saat menggarap novel, saya pernah mewawancarai seorang bapak yang mengasingkan anak perempuannya ke kampung sesudah anak tunggalnya itu dihamili seorang pastor—pastor itu tetap di kota, anaknya yang ‘disembunyikan’. Bapak itu menangis sambil bercerita. Antara putus asa dan terluka, tetapi tetap mengasihi anak perempuan (dan cucu)-nya. Hanya ia yang menangis, tetapi kami sama-sama terluka.

Begitu. Hanya ia yang menangis, tetapi kami sama-sama terluka. Salib? (*)


Baca juga:
– Kejadian Tidak Biasa dalam Novel “Orang-Orang Oetimu” Karya Felix K. Nesi
– Death of a Salesman: Konflik Keluarga dalam Ilusi Modernisme

Bagikan artikel ini ke: