Menu
Menu

Menyiapkan pakan untuk kerang-kerangan pastilah pekerjaan yang menarik…


Oleh: Iin Farliani |

Lahir di Mataram, Lombok, 4 Mei 1997. Alumnus Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Mataram. Bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Lombok. Buku kumpulan cerita pendeknya yang telah terbit berjudul Taman Itu Menghadap ke Laut (2019).


“Bibi Meyda? Bibi Meyda?” Aku menyebut namanya berkali-kali. Bibi Meyda masih menelungkupkan wajahnya di atas meja lipat.

“Bibi Meyda!” Kali ini aku berseru lebih keras sambil menepuk tanganku di dekat telinganya. Ia terbangun. Rambutnya yang panjang tersibak ke belakang.

“Kau ingat aku?”

Bibi Meyda menatapku tanpa ekspresi. Ia sepertinya belum sadar benar.

Aku tersenyum menatapnya. Bibi Meyda masih terbingung-bingung. Akhirnya ia berkata, “Oh, kau.” Suaranya lirih seperti tidak bertenaga. Ia terlihat ragu-ragu sebentar. Mulutnya terdiam sambil merapikan rambutnya.

Aku tidak mendapat waktu yang cukup untuk mengobrol bersama Bibi Meyda. Orang-orang mengerubungiku. Kenalan-kenalan dari ayah, ibu, kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, keponakan. Di antara mereka ada yang memeluk tanpa aba-aba, ada yang sekedar merangkul pinggang, mencubit, menarik rambut, mengajak foto bersama. Mereka semua menunjukkan ekspresi serupa, sangat riang dan terkagum-kagum. Mereka tidak henti-hentinya melontarkan pertanyaan.

“Bagaimana rasanya kuliah di luar negeri?”

“Kau sudah punya pacar?”

“Katanya penelitianmu tentang kangkung ya? Kau meneliti apanya?”

“Mengapa kangkung? Mengapa tidak wortel? Kentang? Atau brokoli?”

“Hah? B-r-o-k-o-l-i?”

Suasana begitu riuh. Dari mana mereka tahu informasi tentangku? Meski sedikit terkejut ketika mereka menyerbuku dengan berbagai pertanyaan, aku menjawab juga satu-satu. Pertanyaan-pertanyaan yang benar-benar ingin aku jawab. Jika aku tidak suka dengan pertanyaannya, aku hanya tersenyum tipis, meminta diri dengan sikap yang kupastikan sudah sangat sopan, lalu buru-buru berlalu dari tempat mereka.

Rasanya semua orang mengenalku. Di tengah kerumunan, ada saja yang berhenti sejenak, tersenyum menatapku, lalu menggamit lenganku sambil bertanya, “Dien, kau masih ingat?” Aku bahkan tidak mengenal wajah-wajah mereka.

“Ini keponakanmu. Sekarang sudah besar.”

“Ini pamanmu yang dulu suka kau minta menggendongmu tinggi-tinggi.”

“Ini nenekmu yang kedua. Saudara tiri kakekmu. Kau mungkin tidak ingat karena saat itu ia masih cantik, tidak peyot seperti sekarang.”

“Ini adik pamanmu yang ketiga, sepupu jauh ibumu. Ayahnya meninggal kena stroke, waktu kau masih berumur sebelas tahun. Kau ingat, tidak?”

Kepalaku berdenyut-denyut dan terasa sakit. Aku hanya bisa mengangguk dan berkali-kali tersenyum dengan terpaksa. Aku mencari-cari Bibi Meyda. Ke mana dia? Mengapa cepat sekali hilangnya? Aku menyusuri kerumunan. Aku berhenti di depan meja panjang, tempat baki nasi diletakkan bersama piring-piring besar yang menyajikan banyak lauk dan sayur serta kue-kue basah. Aku menyendok nasi dari baki dan makan dari piring kertas. Di luar, aku mendengar suara balon diletuskan lalu disusul suara tangis anak kecil. Ibu-ibu saling berebutan memotong sisa kue ulang tahunku untuk diberikan kepada anak-anak mereka yang tidak bisa diam. Aku terus menyantap nasi dan sekerat kangkung ketika mendadak aku melihat Bibi Meyda. Aku langsung melambai ke arahnya. “Bibi Meyda,” teriakku.

Bibi Meyda tidak mendengar. Ia berada di dekat parkiran mobil. Ia terlihat sedang melamun, matanya menatap entah ke arah yang mana. Ia duduk, sendirian, kakinya diselonjorkan, dan terlihat lelah. Ia memijat-mijat kakinya yang telanjang. Di sampingnya, sepasang sepatu hak hitam berkilat-kilat tertimpa sinar matahari siang. Huh! Pesta yang benar-benar panas. Aku sudah mengatakan pada Ibu kalau pesta ulang tahunku sekaligus reuni keluarga ini diadakan malam hari saja. Ibu menolak. Katanya akan banyak anak kecil yang datang supaya pesta ini menjadi ramai. “Dan bukankah juga, kau tidak punya banyak teman?” Ibu memberi alasan yang tak bisa kubantah. Akhirnya aku menyerah dan membiarkan pesta ini diatur sepenuhnya oleh Ibu.

Siang itu terik, benar-benar terik. Kalau melihat terlalu lama ke arah halaman, rasanya mata mendadak berkabut. Aku baru sadar, di siang seterik itu Bibi  Meyda mengenakan gaun merah. Merah yang amat terang. Mengapa penampilannya baru kelihatan mencolok ketika ia duduk berselonjor seperti itu? Aku meletakkan piring kertas dan berniat menghampirinya karena ia tidak juga mendengar panggilanku. Tetapi langkahku terhenti ketika tiba-tiba Bibi Meyda didekati oleh seorang laki-laki bertubuh tambun. Mereka bercakap-cakap sebentar. Bibi Meyda mengangkat sepatunya ke depan wajah laki-laki itu hingga laki-laki itu jadi tampak sedang mendengus sepatu itu. Ia tertawa. Mereka lalu pergi bergandengan tangan dan menghilang di tengah kerumunan tamu.

“Waktu itu aku sama sekali tidak mengingatmu. Aku bahkan tidak tahu kalau reuni keluarga diadakan bersamaan dengan pesta ulang tahunmu. Memang, ketika aku melihatmu sekilas, aku merasa seperti pernah mengenalmu. Aku berusaha mengingat-ingat. Tapi, rupanya kau sudah banyak berubah. Meskipun, aku merasa wajahmu sangat familiar. Aku tetap tidak tahu kalau itu kau.”

“Aku baru sadar ketika kau berkali-kali memanggilku ‘bibi’. Bukankah hanya Dien, anak ingusan, anak perempuan satu-satunya dari kakak kandungku yang memanggilku ‘bibi’? Di situ aku jadi menyesal mengapa tidak cepat menandaimu.”

Aku tertawa. Aku berjanji akan mengunjunginya. Aku baru tahu ia sudah bersuami ketika ia memberitahu alamat rumahnya saat ini. Rumahnya cukup jauh dari kota. Mungkin butuh waktu perjalanan sekitar dua jam menuju ke sana. Bibi Meyda mengeja alamat rumahnya. Aku mencatatnya dengan hati-hati sambil menahan gagang telepon yang kujepitkan di antara bahu dan telinga. Tulisanku berantakan. Bibi Meyda mengejanya sekali lagi. Telepon ditutup.

Rumah Bibi Meyda berada di sekitar tempat pembenihan kerang-kerangan yang dikelola oleh pemerintah. Ia sempat bekerja di sana, menjadi seorang laboran yang bertugas mengkultur plankton dari jenis-jenis diatom sebagai pakan alami kerang-kerang itu. Aku tidak begitu memahami pekerjaannya. Namun kupikir pekerjaan menyiapkan pakan untuk kerang-kerangan pastilah pekerjaan yang menarik. Ia berhenti bekerja di tempat itu karena merasa tidak tahan setiap hari mendengar ujaran-ujaran cabul dari pegawai lelaki di sana. “Mereka setiap hari mengatakan sesuatu yang cabul dan membuat perut mual.” Bibi Meyda mengatakannya sambil tertawa. Aku pikir barangkali hal itu bukan satu-satunya alasan mengapa kemudian ia memutuskan untuk berhenti bekerja. Mungkin ia hanya belum siap memberitahu alasan yang sebenarnya.

Mereka menyambutku. Bibi Meyda bersama seorang lelaki di depan gerbang rumah bergaya era lama. Rumah yang menghadap ke pantai. Dipisahkan oleh jalan yang tak begitu lebar dan sebuah tanah lapang tempat perahu-perahu yang tidak lagi dipakai teronggok bagai bangkai binatang besar. Aku terkejut ketika mengetahui suami Bibi Meyda adalah laki-laki tambun yang pernah mendengus sepatu Bibi Meyda di parkiran mobil. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia membantu sopir taksi mengeluarkan koperku beserta barang bawaan lainnya. Ia berjalan cepat sambil mengangkut koper mendahului aku dan Bibi Meyda yang bergandengan tangan mengikutinya dari belakang. “Aku selalu berharap kau belum menikah. Kau tahu, aku selalu masih ingin seperti anak kecil. Puas bermain,” kataku. Bibi Meyda tertawa.

Ibuku tidak begitu suka melihatku menghabiskan waktu bersama Bibi Meyda. “Dia mengingatkanku dengan masa kecilku yang buruk,” katanya setiap kali aku bertanya alasan dari rasa tidak sukanya. Tapi, hubunganku dengan Bibi Meyda lebih seperti kawan masa kecil daripada keponakan dengan bibinya, meski aku tetap memanggilnya dengan sebutan “bibi”. Umur kami tidak jauh berbeda. Bibi Meyda lahir ketika Ibu dan Ayah sudah menikah. Ibu selalu mengatakan ia menyesalkan perbuatan Kakek dan Nenekku yang membiarkan Bibi Meyda lahir ke dunia. Nenekku yang baik hatinya mengatakan itu benar-benar tidak disengaja. Di desa, Nenek pun menjadi bahan perbincangan karena melahirkan bayi perempuan di usia yang tak lagi muda. Pada saat itu, usianya kira-kira lima puluh tahun lebih. Ini peristiwa langka. Tapi, bukan berarti tidak pernah terjadi. Ibu berkata Nenek dan Kakek memang merencanakan memiliki anak lagi yang diharapkan bisa mewujudkan impian mereka. Makna lain dari “aset yang berharga”. Sebab, Kakekku benar-benar menyesali mengapa semua anak perempuannya begitu cepat menikah dan meninggalkan sekolah. Bibi Meyda mewujudkan impian itu. Ia menyelesaikan sekolahnya, melanjutkan penelitian sampai ke luar negeri. Membuat bangga Kakek dan Nenek. Ibu tidak menyukainya. Tidak pernah menyukainya. Ia tidak pernah suka berjalan berdampingan bersama Bibi Meyda. “Kami lebih mirip ibu dan anak ketimbang kakak beradik,” katanya.

Aku dan Bibi Meyda menghabiskan malam menginap pertamaku di rumahnya dengan membicarakan berbagai kenangan. Kalimat kami serupa, selalu diawali dengan pertanyaan, “Kau ingat, tidak?” lalu cerita-cerita mengalir dari sana. Cerita ketika kami menyusuri rumah-rumah yang kami singgahi dengan berkelana menggunakan sepeda lonceng. Mengantarku mengerjakan tugas kelompok di rumah seorang kawan yang lebih pantas disebut gubuk hingga membuat kami berada di batas ambang antara rasa kasihan dan perasaan jijik. Kemudian, suara anjing yang menyalak dari belakang sepeda kami saat menyusuri perkampungan Hindu. Kerabat yang hidup membujang yang suka mampir ke rumah dan menghabiskan nasi hingga Ibu selalu menggerutu kepadaku dan Bibi Meyda. “Mengapa membiarkan mereka masuk saat aku dan Ayahmu tak ada di rumah?” Bentaknya. Ayah membela kerabat-kerabat Ibu yang pemalas. “Sudah. Menghabiskan nasi bukan persoalan besar,” hiburnya.

Ibuku yang cantik, Ibuku yang malang. Aku diam-diam pernah mendengarnya menangis tersedu-sedu sambil berbicara dengan seseorang melalui telepon. Ayah tak ada di sana. Ayah tidak pernah tahu masalah Ibu yang sebenarnya. Hanya Bibi Meyda yang berani menghampiri Ibu ketika ia terus saja menangis sambil tak henti-hentinya mengadu melalui telepon. Sementara aku berdiri diam di tempatku, dikepung rasa takut, dan membisu. Bibi Meyda berjalan mendekati Ibu. Tapi Ibu langsung berkata ketus, “Pergi dari sini anak tikus!” Aku melihat matanya yang bengkak dan merah.

Sejenak, obrolan kami terhenti. Tiba-tiba suami Bibi Meyda datang. Laki-laki tambun yang belakangan kuketahui bernama “Ysrv”, nama yang cukup sukar dieja, sesukar raut wajahnya yang tidak mudah untuk diterka apakah ia bersukacita dengan kehadiranku atau justru sebaliknya. Bibi Meyda menatap sebentar ke arah Ysrv, ia berlaku sepertiku, berusaha menemukan sebentuk petunjuk di sana, pada wajah Ysrv yang kaku dan tak pernah tersenyum itu. Bibi Meyda berkata padaku, “Besok kita lanjutkan.” Lalu ia memintaku untuk tidur lebih cepat.

Hari-hari menginap di rumah Bibi Meyda mulanya berlangsung seperti biasa. Namun, aku lama-lama menyadari ia sering sudah tak ada di kamarnya saat hari masih pagi sekali. Ysrv juga tidak ada. Rumah era lama ini sepi. Aku menemukan secarik memo di atas meja makan. Di sana tertulis, “Agar tidak bosan, habiskan waktumu di pantai. Kami akan segera kembali.”

Aku menyempatkan berjalan-jalan ke pantai di siang yang terik itu. Aku seakan baru tersadar dengan kenyataan bahwa tempat Bibi Meyda tinggal adalah sudut terpencil dari sebuah teluk yang begitu sunyi. Rumah-rumah lain baru akan ditemui setelah melewati jalan berkilo-kilometer jauhnya. Betapa malangnya, Bibi Meydaku yang terpelajar. Apakah ia tidak kesepian tinggal di sini? Ia sama malangnya dengan Ibuku. Bedanya barangkali Ayah selalu ramah dan tersenyum. Kelewat ramah sampai ia tidak mampu memahami luka-luka yang dipendam Ibu. Sementara itu, Bibi Meyda hidup bersama Ysrv, laki-laki yang tidak bisa diharapkan untuk mengaribkan diri dengan orang lain. Tetapi, sepertinya Bibi Meyda tidak keberatan dengan sikap Ysrv. Setiap malam menjelang jam tidur, ia sering bercerita tentang pengalamannya selama beberapa hari terakhir ini. Ia turut membantu Ysrv mengurus kerang-kerang abalon kepunyaan lelaki itu yang kini sudah bisa dipindahkan ke keramba jaring apung di tengah laut. Ia menceritakan dengan nada sungguh-sungguh, kelewat riang, menjelaskan bagaimana kuatnya abalon-abalon itu melekat pada substrat, salah satu yang disebutnya sebagai “upaya bertahan hidup”.

“Aku juga sebenarnya memelihara kerang-kerang abalon itu, Dien. Ya, persis di belakang rumah. Masih kecil. Belum genap dua bulan. Hanya seratus dua puluh ekor. Merepotkan juga. Tapi, Ysrv selalu ikut membantu. Ia tidah tahan melihatku bekerja sendiri.”

Aku terdiam. Bibi Meyda masih tersenyum lebar. Apakah ia baru mengingatnya? Mengapa ia baru memberitahuku sekarang? Aku menginap sudah cukup lama di rumahnya dan tidak pernah sekalipun diceritakan soal kerang-kerang yang ia pelihara sendiri di rumah ini. Mendadak aku merasa pusing dan mual. Aku merasa mual seolah baru disadarkan kalau Bibi Meyda tidak pernah berniat sedikitpun untuk membagi sejumput saja dari kehidupannya yang berharga kepadaku. Apakah Bibi Meyda sudah banyak berubah? Apakah selama ini aku hanya tinggal dalam keyakinan yang ada di kepalaku sendiri bahwa ia adalah Bibi Meyda yang kucintai?

Pagi itu, sebelum semua penghuni rumah bangun, aku cepat-cepat berlari menuju halaman belakang. Aku melihat sebuah bak persegi panjang yang ditutupi oleh beberapa lapis plastik dengan permukaan bergelombang menyerupai seng. Bak itu tampak tak terurus hingga sulit membayangkan ada kerang-kerang yang dipelihara di dalamnya. Tempatnya teduh sebab dinaungi jaring-jaring hitam yang dipasang bersambung-sambung pada tiang-tiang bambu yang disusun persegi. Mengapa aku baru menyadarinya? Aku mencoba dengan hati-hati mengangkat potongan plastik itu. Di luar dugaanku potongan plastik itu cukup berat karena disusun berlapis-lapis. Aku menengok ke dalam, penuh siaga. Aku terkejut dan hampir berteriak melihat kerang-kerang gemuk yang dagingnya telah menyembul keluar dari cangkangnya, bertebaran memenuhi bak itu. Semuanya serentak menghadap ke atas dalam wujud gumpalan yang amat aneh. Tak seekor pun yang masih menunjukkan ciri-ciri kehidupan. Bau amoniak yang begitu menyengat seketika membuatku ingin muntah. Tapi, sebelum sempat aku menguasai keadaaan sekelilingku, mendadak semacam kabut menghalangi pandanganku. Semuanya berangsur-angsur menjadi gelap. Sebentuk kegelapan yang dalam menyelubungiku. Perlahan-lahan.(*)


Ilustrasi: Oliva Sarimustika Nagung | Bibi Meyda dan Kerang-Kerang Mati

Baca juga:
Jalan Tak Ada Ujung: Sepanjang-panjangnya Jalan adalah Ketakutan
Cerpen Ilda Karwayu – Virus Paku Payung

Bagikan artikel ini ke: