Menu
Menu

Seluruh penduduk Kota K sudah diserang virus paku payung!


Oleh: Ilda Karwayu |

Tinggal di Terong Tawah, Lombok Barat. Mengajar bahasa Inggris dan BIPA di Mataram Lingua Franca Institute (MaLFI). Antologi puisinya “Eulogi” (PBP,2018). Pernah hadir sebagai salah satu Emerging Writers di MIWF 2019. Belajar menulis di Komunitas Akarpohon Mataram, Lombok, NTB.


Joana membuka-buka WhatsApp Story dan tertarik melihat salah satu unggahan foto teman semasa kuliahnya. Setelah diperhatikan, ternyata bukan foto, melainkan sejenis poster amatir bergambar gedung dewan perwakilan rakyat di negara mereka. Ada tulisan di atas dan bawahnya, begini, “Semoga penghuni gedung ini positif semua!” dan begini, “Kami ikhlas 100%”. Terakhir, temannya menuliskan “Aamiin…” sebagai caption. Dibalasnya story itu dengan emoticon wajah tertawa terbahak-bahak yang miring ke kanan. Tidak direspons.

Bukan, mereka tidak sedang bertengkar. Terkadang balasan yang diawali emoticon tanpa teks huruf-huruf memang tak perlu dibalas—begitu pikir Joana, mungkin temannya juga. Meski demikian, handphone miliknya tetap ramai, apalah arti satu pesan tak terbalas dengan ratusan pesan di grup-grup. Ada sekitar empat grup yang sedang aktif percapakannya. Mulai dari grup semasa sekolah dasar hingga grup sekolah tempat Joana bekerja. Jika ditanya, apakah Joana suka atau tidak dengan keramaian grup, ia akan menjawab, “Agak merepotkan, tapi, biarlah,” sambil sedikit mengangkat bahu.

Joana membuka satu persatu percakapan di grup, menghela napas, lalu meletakkan  handphone di atas meja. “Semua tentang wabah!” gerutunya. Dunia sedang diributkan oleh manusia yang berperang melawan wabah virus paku payung. Hasil penelitian yang tersiar di televisi mengatakan bahwa virus itu butuh inang untuk bertahan hidup, dan manusia adalah inang terbaik. Joana merasa wabah ini agak membatasi apa yang ingin ia lakukan dan membuatnya melakukan apa yang tidak ingin dilakukan. Bukan kebiasaannya untuk selalu membawa cairan pembersih tangan; apalagi cuci tangan setiap beberapa jam. Ia menggerutu lagi, “Oh, boros air!”

***

Hari ini mestinya libur-masa-siaga I usai, tapi kemarin malam kepala sekolah mengumumkan bahwa libur diperpanjang sampai ada informasi lanjutan dari pemerintah. Ternyata negara mulai memberlakukan libur-masa-siaga II. “Rasanya aneh,” gumam Joana sambil terkekeh. Padahal Sabtu malam lalu ia masih bisa keluar, sekadar belanja camilan dan beli beberapa serial komik di mal. Sekarang, tempat-tempat publik ditutup total, kecuali rumah sakit tentunya. Tempat pengecualian lain, ia tidak tahu.

Libur-masa-siaga bukanlah libur yang memberi orang-orang kesempatan tidur sampai siang. Orang dewasa tetap mengerjakan pekerjaan kantor mereka di rumah, anak-anak sekolah pun tetap belajar di rumah. Joana tak keberatan. Baginya bertemu anak-anak, di mana pun, sama saja serunya. Setiap malam guru Ilmu Sosial kelas lima ini menyiapkan lembar latihan sebelum paginya mengadakan kelas melalui Zoom. Pukul sembilan pagi ia sudah duduk berhadapan dengan laptop di ruang tengah—jangan tanya penampilannya, ia bercelana pantai dan berkaos oblong!

“Selamat pagi, Ibu Joooo! apa kau sudah menamatkan Cardcaptor Sakura volume 12? Dengar, mama baru akan membelikanku setelah wabah selesai. Menyebalkan!”

“Selamat pagi, Ibu Jo! Aku suka kaosmu!”

“Selamat pagi, Ibu Jo! Hei, Alanna! Apa yang terjadi pada rambutmu? Kau biru! Ibu Jo, Alanna mengecat rambutnya!”

“Sangat bergaya, kan? Aku yakin kau iri. Hahaa…” Alanna berjoget-joget meledek Billie sembari menyapa Joana.

10 menit berlalu dengan 15 anak yang sibuk tegur sapa dan saling mengomentari penampilan. Joana terkekeh sambil beranjak ke dapur untuk menyeduh teh. Begitu kembali, anak-anak sudah tenang dan menunggunya memulai kelas.

“Selamat pagi, gadis-gadisku! Apa kalian sudah menyelesaikan soal yang kubagikan kemarin?”

Kelas dimulai dengan saling mendiskusikan jawaban. 90 menit kemudian mata pelajaran Ilmu Sosial telah melompat ke sana kemari—tak terkecuali ke isu wabah. Anak-anak bercerita tentang orangtua dan tetangga mereka.

“Rumah tiba-tiba jadi selalu wangi pohon pinus, tapi aku suka. Seperti tinggal dalam Taiga!”

“Rumahku seperti rumah sakit mini.”

“Oh, mamaku seperti sedang membawa seluruh isi apoteknya ke rumah!”

“Ayahku sudah berminggu-minggu di Kota K,” Abigail tiba-tiba terisak. Joana ingat tempo hari  Abigail sempat bercerita tentang ia dan ibunya yang harus tinggal berdua saja di rumah, sementara si ayah tetap bekerja di rumah sakit Kota K. Kota, yang menurut siaran televisi, menjadi sasaran baru penyebaran virus paku payung.

Berbeda dengan Abigail, Alanna, si rambut biru, justru merasa bebas ditinggal kedua orangtuanya yang juga mesti berjaga di rumah sakit. Anak ini seperti The Ugly Duckling di kelas. Meski anak-anak lain menganggapnya aneh, Joana menyukainya. Tak pernah ia lupakan sinar mata Alanna ketika mereka membahas pekerjaan masa depan. Alanna ingin jadi penata rias kelas dunia.

“Ibu Jo, ayahku barusan menelpon. Seluruh penduduk Kota K sudah diserang virus paku payung!” ujar Abigail yang sedari tadi membelakangi layar karena menyimak ibunya bicara.

Anak-anak berteriak histeris. Abigail melanjutkan ceritanya sambil menatap kami semua dengan serius.

“Kemarin salah satu jenazah korban virus paku payung akan dikuburkan oleh tim medis, tapi tiba-tiba keluarganya datang! Banyaaak sekali!” ia mengangkat kedua tangannya ke atas lalu pelan-pelan turun merentang. Anak-anak lain ber-oooo

“Padahal, orang yang sudah mati karena virus paku payung tidak boleh disentuh. Ia sudah dibungkus dengan plastik dan harus langsung dikubur. Lalu, ayahku bilang, orang-orang di sana mendorong dia sampai jatuh. Ayahku lari! Orang-orang sibuk menciumi dan memeluk jenazah itu. Lalu…”

“Gila! Bisa aku bayangan segerombolan virus paku payung melompat-lompat ke orang-orang itu dan menyebar masuk ke mulut dan hidung mencari paru-paru mereka. Sungguh gila!” Lily memotong cerita. Teman-temannya menyeru untuk diam. Ia minta maaf.

“Lalu, teman-teman ayahku datang dengan mobil tangki bensin. Mereka langsung membakar orang-orang itu.”

Anak-anak terdiam. Joana menyadari perubahan raut wajah mereka.

“… kata ayahku, menteri kesehatan menyuruh mereka melakukan itu. Jadi bukan salah ayahku!”

“Iya, bukan salah ayahmu, Sayang. Kita mesti patuhi apa kata pemerintah. Kalian juga, jangan keluar rumah, ya,” timpal Joana, ia hanya berharap anak-anaknya tenang.

Sonya mengacungkan tangan, “Abi, sekarang bagaimana orang-orang itu?”

Sayangnya 30 menit sisa jam belajar telah lama habis. Joana menyadarinya saat menengok ke teh yang telah tandas. Abigail baru akan menjawab ketika ibu guru mereka memberi tahu perihal waktu. Karena masih ingin mengobrol, maka Joana menyarankan mereka untuk keluar dulu dari ruang Zoom kelas lalu beralih ke ruang mereka sendiri.

Apa yang diceritakan Abigail ternyata sudah masuk berita. Hampir seluruh stasiun televisi menyiarkannya. Kota K mati. Seluruh manusia di dalamnya sudah habis terbakar.

Presiden mengucapkan bela sungkawa seadanya. Kembali ia menyampaikan betapa bahayanya wabah virus paku payung ini. Wajahnya pucat dan rambutnya tak teratur. Kemeja putih andalannya terlihat kusut. Joana pikir ia belum sempat merapikan diri saat melakukan siaran pers.

Sore ini Joana berniat mandi. “Bangun tidur dalam keadaan berkeringat tidaklah nyaman,” gumamnya. Handphone, yang sedari siang dimatikan, berdering tak putus-putus setelah dihidupkan. Ditinggal mandi beberapa menit, masih juga berdering. Ditinggal buang sampah ke depan apartemen, selesai juga deringannya. Ada 313 pesan dari WhatsApp.

Tawa Joana lepas sejadi-jadinya ketika membaca cepat hampir seluruh isi pesan yang menyampaikan isi seragam: gedung dewan dikarantina total. Katanya, mereka sedang rapat untuk mengesahkan salah satu amandemen peraturan negara yang paling banyak diprotes masyarakat—seingat Jo, peraturan yang membahas tentang korupsi itu sempat membuat masyarakat berdemonstrasi besar-besaran tahun lalu. Selanjutnya, ketika rapat sedang berlangsung, si penjual bakso membuka pintu, tertawa, batuk-batuk, lalu menutup pintu. Diganjalnya pintu dengan balok kayu gerobak miliknya.

Seperti yang disiarkan di berita-berita, pergerakan virus paku payung sangatlah cepat. Tawa Joana makin sulit dikontrol ketika membayangkan para anggota dewan yang panik itu lari berputar-putar mencari pintu keluar alternatif. Mereka terlihat makin bodoh dan ling-lung. Dalam waktu beberapa menit, semuanya sudah terjangkit.

Dilanjutkannya membaca. Benar saja, tidak ada yang berani mendekat kecuali pasukan mobil tangki bensin. Teman-temannya sibuk menebar ucapan syukur. Ada juga yang membela, sebab salah satu dari anggota dewan itu adalah keluarganya. Meski demikian, tidak ada yang peduli. Justru mereka makin lancar menjabarkan apa saja dosa-dosa para dewan kepada masyarakat.

Joana tidak tertarik menyimak lebih jauh tentang itu. Diletakkannya handphone dan duduk sambil menghidupkan televisi. Seketika, benda itu bersuara dan menampilkan berita yang bukan tentang gedung dewan beserta isinya, melainkan kabar bahwa presiden ditemukan tewas gantung diri di kamar mandi rumah dinasnya.[]


Ilustrasi: Photo by Steve Johnson from Pexels

Baca juga:
– Puisi-Puisi Galeh Pramudianto – Parseltongue
– Puisi-Puisi Bayu Pratama – Lucid

Bagikan artikel ini ke: