Menu
Menu

Dekat dan Nyaring mengajarkan tentang bagaimana memutus rantai kebencian.


Oleh: Hermina Patrisia Nujin |

Tinggal di Ruteng dan bekerja di Klinik Jiwa Renceng Mose sejak 2017.


Ia meyakini kalimat kesukaannya setiap kali menghadapi masalah, “Selalu ada jalan lain.” (Dekat dan Nyaring, Hal.8)

Bulan Juli kemarin, Bincang Buku Petra berlangsung dua kali, untuk mengganti jadwal Bincang Buku di bulan Maret 2020 yang tertunda akibat pandemi. Bincang Buku yang pertama dilaksanakan pada 16 Juli 2020 di Perpustakaan Klub Buku dan membahas novela karya Sabda Armandio, Dekat dan Nyaring. Diskusi ini dihadiri 10 peserta: Armin Bell, dr. Ronald Susilo, Maria Pankratia, Berto Sileteng, Gerson Djehamun, Rio Hamu yang juga bertindak sebagai pemantik diskusi, Cici Ndiwa, Febhy Irene, Greg Reynald, dan saya sendiri yang kemudian diminta menuliskan hasil diskusi malam itu (Bincang Buku kedua dilaksanakan pada tanggal 30 Juli 2020; akan hadir pada catatan Bincang Buku selanjutnya).

Buku yang dibahas pada bincang buku kali ini hanya setebal 109 halaman, dan berukuran kecil. Meski demikian, novela ini berhasil membuat orang-orang yang hadir pada diskusi malam itu mengingat kembali berbagai pengalaman yang telah mereka alami dan tempat-tempat yang pernah mereka lewati, selain tentu saja membahas kemampuan penulis dalam menghasilkan kisah yang menimbulkan banyak persepsi sekaligus pertanyaan. Mau tidak mau, saya teringat ungkapan Edi—salah satu tokoh di dalam novela ini—ketika diminta Anak Baik melanjutkan kisah Orang Patos dan Orang Koksi, “Anak baik, ada banyak hal di dunia ini yang tidak ada di dalam buku,” (hal.52).

Dekat dan Nyaring dan Cerita di Atas Cerita

Sebagai pemantik, Rio Hamu mengawali paparannya dengan menuturkan bahwa cerita ini mengingatkannya pada tempat-tempat yang pernah ia kunjungi di Jakarta, kisah yang lucu dan sederhana tentang kehidupan khas perkotaan, di mana gang-gang kumuh berdampingan dengan tembok-tembok tinggi perumahan atau perkantoran. “Persis Gang Patos dan Perumahan Permata Residence,” ucapnya.

Tentang tokoh-tokoh dalam cerita, bagi Rio, Kina yang adalah seorang penulis menjadi sentral dari kisah novela ini sehingga cerita dapat berjalan. Sembari membaca, Rio menganalisa beberapa hal yang kemudian ia simpulkan bahwa: “Kina sebenarnya memiliki rencana tersendiri untuk membalas dendam kematian suaminya dengan cara menikahi Idris, bersamaan dengan itu, menjadikan Edi sebagai bidak catur demi tercapainya rencana tersebut.”

Rio juga tertarik dengan cerita rekaan tentang orang Patos dan orang Koksi. Ada tiga versi cerita yang berbeda tentang dua gang ini. Masing-masing dikisahkan oleh Nisbi—ibu dari Anak Baik, Wak Eli, dan Edi. Ketiga cerita ini, memiliki maksud yang sama: mengisahkan tentang kehidupan orang-orang Patos yang sebelumnya baik-baik saja, akan tetapi secara perlahan diambil alih secara paksa, bergeser oleh orang-orang Koksi yang lebih berkuasa. Rio merasa novela ini menjadi sangat menarik karena ada cerita di atas cerita.

Kesempatan kedua diberikan kepada Gerson Djehamun. Menurutnya buku yang didiskusikan kali ini, tidak serumit buku yang dibahas sebelumnya; Cara Berbahagia Tanpa Kepala. Bagi Gerson, Sabda Armandio sedang mengangkat hal-hal yang nyaris dekat dengan kita. Mengisahkan tentang jurang antara orang kaya dan orang miskin yang bisa kita lihat dalam keseharian hidup kita.

Gerson menuturkan, semua tokoh yang dikisahkan di dalam novela ini, tidak ada yang lebih menonjol. Semuanya biasa-biasa saja. Namun, ada satu tokoh, Kina, yang mengingatkan Gerson pada mata pelajaran Sosiologi yang pernah ia pelajari. Sebagai seorang penulis, Kina menerapkan metode “tinggal dan alami langsung” pengalaman-pengalaman kehidupan Orang Patos yang rumit.

“Apa yang dihadirkan oleh Sabda Armandio mengingatkan kita agar, mengetahui segala sesuatu dengan cara terlibat langsung dengan orang-orang yang ingin kita tuliskan kisahnya. Di sini saya melihat penulis secara tidak langsung mengkritik para novelis atau penulis pada umumnya yang menulis dengan mengandalkan imajinasi semata,” tutup Gerson.

Berto Sileteng mendapat giliran selanjutnya. Bagi Berto, buku ini menjadi menarik karena penulis memasukkan dongeng dan dunia anak-anak ke dalam cerita. Ada Anak Baik, dan tentu saja Azis yang mengalami keterbelakangan mental. Menurut Berto, anak kecil selalu dianggap melihat segala sesuatu dengan cara yang sederhana. Selain itu, adegan penembakan dalam film kartun Tom&Jerry seperti paralel dengan bagian di mana Azis akhirnya tertembak oleh Sam yang mengaku terpaksa melakukannya.

Bagian lain yang juga sangat mencuri perhatian Berto ada pada prolog, “Kalau kau pernah mencintaiku, tundalah kelegaan yang ditawarkan kematian dan hiduplah cukup lama di dunia yang ganas ini untuk menceritakan kisahku.”  Baginya, bagian pengantar sangat mewakili suara tokoh Nisbi dan Kina yang kehilangan orang-orang terdekat mereka.

Berto menutup komentarnya malam itu dengan memberikan pertanyaan kepada semua peserta yang hadir malam itu, apakah kata “mewakili” pada percakapan antara tokoh Dea Anugerah dan Kina dalam novela, sudah mewakili suara orang kecil? Satu hal yang menjadi kekecewaan Berto dari novela ini adalah, penulis tidak mengisahkan cerita dengan detil, atau barangkali memang hal itu sengaja dilakukan agar pembaca menemukan sendiri hal-hal yang tidak disampaikan itu.

Setelah Berto, Febhy Irene menyampaikan hasil pembacaannya. Seperti biasa, gambar sampul buku menjadi hal pertama yang membuat Febhy mulai menerka-nerka isi buku. Ada ikan-ikan yang terbang, anak perempuan yang sedang duduk di atas serangga dan melayang di atas sungai. Ia menduga kisah buku ini adalah sebuah dongeng anak-anak meskipun pada akhirnya tidak sepenuhnya benar.

Menurut Febhy, membaca buku ini tidak boleh dijeda dengan kesibukan yang lain, karena akan membingungkan; pada bagian awal, kita sudah disodorkan dengan tokoh Edi yang aneh. Buku ini, bagi Febhy, mengisahkan tentang orang-orang pinggiran dan kemiskinan. Tokoh Nisbi yang mengarang cerita demi mengelabui sang anak membuat Febhy teringat akan sebuah ungkapan, setiap perempuan memiliki rahasia masing-masing. “Sabda Armandio seperti ingin mengajak pembaca untuk ikut mengalami apa yang tengah ia alami,” ungkap Febhy. Febhy kemudian menyimpulkan, setiap orang pasti selalu mengalami perubahan besar dalam hidupnya, dan mau tidak mau kita harus menerima perubahan tersebut; termasuk orang-orang di Gang Patos.

Setelah Febhy, saya mendapat kesempatan selanjutnya. Sejujurnya, dibandingkan dengan peserta yang lain, saya paling pertama mendapatkan buku ini dari dr. Ronald. Namun, dari buku-buku sebelumnya, justru buku ini yang paling lama selesai saya baca. Bagi saya, buku ini lebih banyak merefleksikan kehidupan sehari-hari. Isi cerita dan klimaks bukan lagi menjadi hal yang penting. Ada beberapa hal yang menarik dari novela Sabda Armandio ini. Dekat dan Nyaring mengajarkan tentang bagaimana memutus rantai kebencian seorang istri terhadap sang suami sehingga di mata anaknya sang ayah adalah orang yang baik meskipun dengan cara mengarang cerita.

Kisah suami Nisbi yang bunuh diri karena ketahuan berselingkuh memberi hal negatif sekaligus positif bagi kehidupan Nisbi dan Anak Baik ke depannya. Nisbi menjadi perempuan yang lebih kuat dan bertanggung jawab atas kehidupan anak perempuannya.

Hal lain yang juga menarik perhatian saya adalah, tentang Wak Eli yang mengingatkan pesan orang terdahulu tentang “yang tua pernah muda, yang muda belum pernah muda”. Kebijaksanaan Wak Eli yang telah melewati berbagai pengalaman hidup tergambar jelas dari dialog maupun cara-caranya merawat Aziz dan Anak Baik. Kisah orang-orang Patos di dalam novel ini secara tidak langsung meyakinkan saya untuk terus membuat perubahan dalam hidup agar tidak berjalan biasa-biasa saja.

Kesempatan berikutnya diberikan kepada Armin Bell. Baginya, buku ini harus dinikmati dengan perlahan. “Buku setipis ini, tentu menyimpan banyak hal yang mesti kita teliti satu per satu.” Sabda Armandio, menurutnya, memilih sesuatu yang ‘tidak populer’ dalam menulis. Ia mampu memadatkan kata-kata melalui teknik menulis yang sangat baik sehingga hal-hal yang sebenarnya telah dicantumkan dengan jelas kadang tidak disadari oleh pembaca. Dekat dan Nyaring menggambarkan tentang, bagaimana ingatan bekerja di dalam kepala orang-orang tua yang terus ingin berbagi cerita pada generasi-generasi berikutnya.

Menjawab pertanyaan Berto tentang kata “mewakili” yang sempat diajukan sebelumnya, kak Armin menjelaskan, “Barangkali benar, Sabda Armandio sedang mewakili orang kecil dengan menyuarakannya langsung dari dalam, menulis sebagai orang dalam. Selama ini kita lebih sering bertemu dengan penulis yang menulis hanya berdasarkan asumsi. Sabda mungkin ingin melawan itu,” pungkasnya.

Kesempatan ketujuh diberikan kepada Maria Pankratia. Bagi Maria, ini buku kedua Sabda Armandio yang ia baca setelah 24 Jam Bersama Gaspar. Seperti biasa, banyak hal tersembunyi di dalam kisah-kisah Sabda yang harus kita gali sendiri maknanya.

Hal lain yang juga disoroti oleh pengelola program di Yayasan Klub Buku Petra ini adalah tentang fenomena sastra Indonesia yang akhir-akhir ini lebih menyoroti karya sastra dengan muatan lokalitas yang tinggi. Hal-hal yang identik dengan tradisi dan budaya daerah tertentu yang kemudian diolah dalam bentuk karya-karya fiksi. “Yang menjadi pertanyaan, apakah lokalitas hanya melulu tentang bentang alam yang indah dan ritual adat yang sarat makna, atau tradisi-tradisi yang mesti diperbaharui?  Dekat dan Nyaring adalah salah satu bentuk lokalitas yang coba diangkat oleh Sabda Armandio tentang kehidupan kota yang sangat urban, yang telah kehilangan identitasnya akan tetapi terus bertahan, beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu,” papar Maria.

Sebagaimana pengalaman saya, Lolik yang mendapatkan kesempatan berbicara setelah Kaka Maria menyampaikan bahwa, buku kali ini berbeda dengan buku-buku sebelumnya. Bagi Lolik, Sabda Armandio adalah penulis yang simbolik. Ia menggunakan banyak simbol dan diksi untuk menggambarkan sesuatu yang nyaring dan benar-benar dekat dengan kita. Misalnya, pemilihan nama Gang Patos yang tanpa sadar mengingatkan kita pada istilah Patologi, ilmu yang mempelajari penyakit. Bagi orang-orang di Perumahan dan Pemerintah Daerah setempat, Orang-orang Gang Patos dianggap seperti penyakit mesti disingkirkan dengan berbagai macam cara.

Jika direfleksikan, tokoh Beni Satria di dalam novela ini—yang sebenarnya oleh Edi menggambarkan dirinya sendiri yang sedang mengisahkan Orang-Orang Patos dan Orang-Orang Koksi kepada Anak Baik, adalah masyarakat kita pada umumnya yang, kadang berusaha memberikan bantuan untuk orang-orang di gang Patos akan tetapi bantuan tersebut tidak pernah tiba di tujuan. Kita selalu merasa memahami kondisi orang-orang sulit, akan tetapi bersamaan dengan itu kita sedang memperlakukan mereka seperti penyakit. Memusnahkannya lebih dipilih sebagai solusi, daripada menyembuhkannya.

Selanjutnya giliran dokter Ronald menyampaikan hasil pembacaannya. Bagi dokter Ronald, membaca buku ini mengingatkannya pada berbagai pengalaman hidup yang pernah ia alami: saat masih menjadi siswa seminari dan keliru melihat daun di halaman sekolah yang kemungkinan besar sama seperti daun bokor yang Edi gunakan untuk memperdaya para pembelinya sebagai daun ganja.

Sebagai seorang dokter, dirinya juga setuju dengan pernyataan Lolik tentang pilihan kata “patos.” Di lingkungan sekolah kedokterannya dulu, kata Patos sering digunakan bagi seseorang yang dianggap menjadi sumber masalah sehingga dijauhi oleh kawan-kawan kelompoknya. Berbeda dengan peserta lainnya, Dokter Ronald melihat novela ini sebagai sesuatu yang Dekat dan Nyaring karena pegalaman-pengalaman yang pernah ia alami sebelumnya.

Pembicara kesepuluh adalah Jeli Jehaut. Seperti Febhy Irene, menurutnya, buku ini harus dibaca hingga selesai dalam satu waktu, tidak boleh dijeda. Tempo membacanya pun harus perlahan agar tidak melewatkan hal-hal detil yang bisa jadi tidak kita sadari. “Novel ini tidak hanya mengkritik tentang karya sastra tetapi banyak hal seperti kritik terhadap pemerintah, aktivis, para biarawan dan sebagainya,” papar Jeli yang kemudian melanjutkan: “Kita kadang berusaha mencari jalan keluar berdasarkan sudut pandang kita akan tetapi setelah masuk ke dalamnya ternyata tidak selalu demikian.”

Pada bagian lain, Jeli tertarik dengan ‘perubahan yang selalu menimbulkan pertentangan’. Bukan hanya di awal, tetapi bisa jadi berlangsung sangat lama, selalu ada orang yang memilih berada di antara situasi seperti itu. Meskipun ada banyak kesempatan yang dapat membuat mereka menjadi lebih baik, beberapa orang memilih untuk tetap tinggal karena berbagai alasan yang hanya mereka pahami sendiri.

Berikutnya ada Gregorius Reynaldo, yang baru pertama kali bergabung di Bincang Buku Petra. Menurut Rey, ia sangat menikmati transisi bercerita Sabda Armandio. Meski menggambarkan sebuah isu hanya dari satu pihak, Rey beranggapan pemilihan simbol dan menghadirkan tokoh Kina yang selalu menulis dan merekam setiap peristiwa yang terjadi menguatkan judul novela, Dekat dan Nyaring.

Rey menyukai bagian awal novel yang langsung menyajikan cerita tentang perjuangan orang-orang tersisihkan yang harus berhadapan langsung dengan orang-orang yang berkuasa meski mereka hampir kalah. Ia juga tertarik karena konflik yang dihadirkan melalui dongeng dalam tiga versi yang berbeda. Penulis justru memilih tokoh anak-anak sebagai pendengar yang dalam hal ini mewakili para pembaca. Di akhir pembahasannya, Rey melemparkan sebuah pertanyaan, “Apakah Sabda Armandio sebenarnya sengaja menghadirkan cerita-cerita yang terpotong agar bagian-bagian yang belum lengkap tersebut menjadi pergumulan bagi pembaca, ataukah memang penulis sedang bercerita tentang keadaan yang saat ini tengah ia hadapi?”

Peserta terakhir malam itu yang mendapatkan kesempatan berbicara adalah Cici Ndiwa. Cici tertarik dengan tokoh Edi yang dianggapnya konsisten dengan pernyataan “semua ada jalannya”. Bagi Cici, Edi adalah sosok manusia yang mau berkembang agar bisa menjadi lebih baik: “Ia ingin terus berjuang dan beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya yang terus mengalami perubahan.” Cici juga tertarik dengan tiga hal yang dituturkan oleh manajer swalayan kepada Edi agar menjadi pengusaha yang sukses yaitu: keyakinan, pikiran positif dan sedikit uang. Bagian lain yang juga tak lupa ia garisbawahi adalah pertanyaan dan jawaban, “mengapa orang harus tua? Agar supaya tahu kapan harus istirahat,” (hal.43)

Demikian Bincang Buku Petra XVIII malam itu ditutup dengan menyematkan Bintang Empat untuk novela Dekat dan Nyaring karya Sabda Armandio.

Bincang Buku XIX telah berlangsung pada 30 Juli 2020 di Toto Kopi, membahas novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori. (*)


Baca juga:
Lebih Dekat dengan Pemenang Lomba Cerpen ODGJ
Di Timur Matahari, dari Papua untuk Indonesia

Bagikan artikel ini ke: