Menu
Menu

Selain mengatasi kebosanan, Usaha Membunuh Sepi karya Felix K. Nesi juga adalah senjata.


Oleh: Arsi Juwandy |

Asal Taga, Ruteng. Saat ini tinggal di Kisol. Mengajar Bahasa Indonesia di Seminari Pius XII Kisol. Arsi bisa ditemui di Facebook: Arsi Juwandy atau Instagram: Arsi_Juwandy.


Identitas Buku

Judul: Usaha Membunuh Sepi
Pengarang: Felix K. Nesi
Penerbit: Pelangi Sastra Malang
Cetakan Keempat: Maret 2019
Tebal: 13x20cm; vi+80 halaman

***

Di dunia yang fana ini, ada begitu banyak hal yang kita tidak tahu waktu kedatangannya. Kadang ketika sedang asyik berbicara, kita bisa saja meninggal dan perjalanan kita di dunia ini berakhir. Dunia ini memang penuh dengan misteri. Bukan tidak mungkin, suatu saat saya bertemu jodoh dan menjadi suami dari Pevita Pearce, kami hidup bahagia, naik vespa, dan bla bla bla.

Sama halnya dengan inspirasi. Kita tidak pernah tahu di mana dan kapan kita bisa mendapatkan inspirasi. Dalam konteks tertentu, kita sangat membutuhkan inspirasi ketika jenuh atau saat hendak menghasilkan sesuatu yang bagus. Dalam dunia kesenian kita juga membutuhkan inspirasi untuk menghasilkan sebuah karya

Dengan kondisi dunia yang sedang ditimpa wabah Covid-19, kita benar-benar bingung mau melakukan apa. Pada akhirnya kita nekat untuk keluar rumah, karena terlalu penat beraktivitas sepanjang hari di dalam rumah selama berbulan-bulan. Tujuan kita ke luar rumah beragam, salah satunya mencari inspirasi untuk bisa menjalani hidup di tengah masa pandemi ini.

Beberapa bulan terakhir, saya benar-benar merasa sepi dan jenuh. Jika sebelumnya sering bertemu dan berdiskusi dengan teman, maka selama masa karantina, benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Pada titik ini, saya merasa sangat membutuhkan inspirasi untuk bisa menghasilkan sesuatu. Kebetulan saya memiliki kebiasaan untuk menulis, meskipun masih dalam level amatir yang masih sulit membedakan di sebagai kata depan dan di sebagai awalan.

Ketika hendak menulis atau membuat tulisan, cenderung mencari inspirasi lewat kopi atau jalan-jalan menghirup udara segar lalu singgah di tempat-tempat dengan pemandangan yang indah. Untuk hal yang kedua, kembali lagi, pada saat ini situasi tidak membolehkan siapa pun untuk keluar.

Di selasela kejenuhan, saya teringat akan satu kalimat yang sering diungkapan oleh seorang dosen ketika kuliah dulu, “jika punya cita-cita untuk kencing, maka kalian harus rajin minum air”. Kalimat inilah yang akhirnya berhasil membunuh sepi dan kejenuhan selama pandemi.

Saya kemudian mencoba mencari buku yang mungkin bisa dijadikan bahan bacaan untuk mengatasi kejenuhan dan kesepian ini. Saya bukan orang yang suka mengoleksi buku atau fans garis keras literasi. Lebih ke tipe pembaca yang suka sekali mengunggah foto buku di medsos dengan caption menarik sehingga terkesan mengetahui banyak hal.

Buku yang akhirnya saya pilih adalah Usaha Membunuh Sepi karya Felix K. Nesi. Buku ini benar-benar menjadi sahabat yang baik di tengah situasi yang serba tidak pasti.

Felix menghimpun sembilan cerpen dalam buku ini. Cerpen Ponakan yang merupakan cerpen pertama, menceritakan seorang lelaki yang membunuh keponakannya yang sering mengganggunya ketika hendak menulis. Dia mengajaknya ke sabana dan menggantungnya di pohon dengan tali.

Cerpen ini secara singkat mengingatkan saya tentang betapa susahnya menghasilkan sebuah karya. Ketika program Di Rumah Saja dijalankan, saya lebih banyak menghabiskan waktu di depan laptop untuk mengerjakan beberapa hal. Pada posisi ini, anggota rumah kadang menganggap apa yang saya kerjakan hanya mengisi waktu kosong. Mereka berkeliaran di dalam rumah, lalu lalang sesukanya. Alhasil, keributan yang disebabkan oleh adik-adik saya memecah konsentrasi saya. Ada hal-hal yang sudah tersusun dengan rapi di kepala dan siap diketik, pada akhirnya hilang begitu saja akibat keributan itu.

Kadang saya memarahi mereka, “kenapa tidak pecahkan saja gelasnya biar gaduh?”.

“Cie Rangga,cie,” ejek mereka.

Dalam cerpennya yang keempat, yang kemudian menjadi judul kumpulan cerpen ini, Usaha Membunuh Sepi, Felix mengatakan bahwa, “membunuh sepi itu dahsyat dan melelahkan. Mereka banyak dan tak habis-habis”. Entah mengapa, di tengah situasi ini, saya menjadi sangat setuju dengan kalimat Felix tersebut. Di tengah wabah corona, kesepian memang menjadi musuh dari masing-masing individu, termasuk saya. Apalagi saya tipikal yang suka nongkrong berlama-lama sembari ngobrol dengan teman. Membicarakan mantan, cita-cita, dan kesedihan yang pernah saya alami.

Di tengah pandemik ini, saya lebih banyak menghabiskan waktu di kebun. Membersihkan rumput, kemudian membuat bedeng untuk ditanami sayur. Sore hari pulang ke rumah untuk mengurus makanan babi. Ini menjadi rutinitas selama kurang lebih 3 bulan. Sampai-sampai karena keseringan ke kebun, berharap agar rumput liar bisa tumbuh dengan cepat sehingga terus memiliki kesibukan. Ke rumah hanya akan membuat bosan atau mati, kesepian telah menunggu di depan pintu.

Membaca Usaha Membunuh Sepi di tengah situasi pandemik ini, mengajarkan saya banyak hal. Hal-hal yang menjadi kerinduan selama masa pandemik ini terjawab dalam cerpen-cerpen Felix K. Nesi. Di sisi lain, ada begitu banyak persoalan yang muncul selama kita di rumah. Seperti adik-adik yang tidak pernah mengerti betapa pentingnya keheningan ketika seseorang sedang bekerja dan sangat membutuhkan konsentrasi.

Pada tahap ini saya akhirnya sadar bahwa saya tidak bisa egois. Di satu sisi saya memang butuh konsentrasi, tetapi di sisi lain apa yang dilakukan oleh adik-adik sebenarnya adalah cara mereka membunuh sepi. Mereka juga manusia dengan dunianya yang begitu rumit. Saat-saat seperti ini, bukan hanya saya yang merasakan kesepian dan kebosanan, mereka juga. Begitu banyak waktu yang terlewatkan akibat pandemik ini.

Meskipun demikian, ada hal-hal yang patut kita syukuri. Kita lebih punya banyak waktu bersama kedua orang tua. Berbicara tentang rencana dalam waktu dekat dan diakhiri dengan kalimat-kalimat bijak.

Usaha Membunuh Sepi bukan hanya sebuah buku, bukan juga sekadar cerita pendek. Kisah ini seperti pedoman, bagaimana seharusnya kita menghadapi sepi sebagai musuh masing-masing manusia. Di posisi ini, inspirasi menjadi satu-satunya senjata untuk membunuh sepi. Dengan adanya inspirasi, kita memiliki kegiatan atau rencana alternatif setelah bosan melakukan hal yang sama. Kita bisa melakukan hal yang berguna selain berkhayal. Membaca Usaha Membunuh Sepi  mengantarkan kita pada satu definisi tentang sepi: sepi adalah tidak melakukan apa-apa.

Dengan melakukan kegiatan atau aktivitas, kita tidak saja mempersempit ruang gerak sepi. Akan tetapi di sisi lain, kita telah berhasil membinasakannya, walau hanya sementara saja.

Sementara karena sepi itu abadi, dia tidak bisa mati atau binasa. Dia hanya membutuhkan kesibukan yang tepat untuk kembali menyerang manusia. Apalagi yang punya passion mengkhayal atau rebahan. Jika diibaratkan dengan tinju, kaum-kaum ini telah dihajar sejak ronde awal.

Seperti kata Felix, “bukan hanya suka menghajar, tetapi mereka suka berubah wujud”.  Artinya ketika kita hanya menghabiskan waktu dengan rebahan dan mengkhayal maka besar kemungkinan kita kesepian. Bayangkan ketika kita sedang menutup mata dan mengkhayal berjalan dengan gadis yang cantik. Setelah khayalan itu selesai, kita kembali membuka mata, dan yang kita lihat hanyalah ruang kosong yang dipenuhi kata sepi. Pada posisi ini, sepi kembali menghajar kita setelah drama yang kita ciptakan tadi selesai.

Pada akhirnya, selain mengatasi kebosanan, Usaha Membunuh Sepi karya Felix K. Nesi juga adalah senjata. Ia hadir dengan kiat-kiat untuk terus berusaha membunuh sepi dan menjadi produktif di hari-hari tanpa kepastian ini.(*)


Baca juga:
Bertemu Felix
Siasat Struktur “Raden Mandasia, Si Pencuri Daging Sapi”

Bagikan artikel ini ke: