Menu
Menu

Ingatan manusia dalam segala keterbatasannya justru menjadi pondasi dasar dalam menyusun kisah sejarah ini.


Oleh: Jafar Suryomenggolo |

Saat ini bermukim di Paris.


Tidak banyak kajian sejarah tentang masa penjajahan Jepang (1942-1945). Bagi penulis Indonesia, periode ini masih diselimuti banyak hal yang belum terungkap jelas. Pula, hanya segelintir sejarawan/wati muda Indonesia yang mendalami periode ini. Sebabnya ada dua.

Pertama, persoalan kronis ketersediaan bahan arsip/dokumen, yang sejauh ini masih terpencar-pencar dan tidak sistematis. Kedua, penguasaan bahasa Jepang yang masih terbatas. Maklum, bahasa Jepang dekade 1940-an sangat berbeda dari bahasa Jepang awal abad ke-21. Terlebih, bahasa tertulis di dalam dokumen-dokumen resmi. Akibatnya, narasi sejarah nasional kita tentang masa penjajahan Jepang masih didominasi beragam kisah kekejian tentara Jepang dan kisah pilu masyarakat Indonesia.

Apa saja dampak dari masa penjajahan Jepang tersebut juga masih belum banyak dibahas dalam sejarah nasional kita.

Dalam sejarah resmi kita, masa 1945-1950 merupakan masa pasca-kemerdekaan yang ditandai dengan perang melawan tentara Belanda yang hendak menjajah kembali. Orang Jepang tidak ada tempat di dalamnya. Ada terkesan, orang Jepang sepenuhnya terdepak keluar; mereka tidak punya peran di dalam panggung sejarah nasional kita. Hal demikian juga berlanjut pada masa 1950-1957, yang ditandai dengan semangat membangun negara dan bangsa (nation building) ala Soekarno. Akibatnya, kisah-kisah di luar narasi resmi tersebut masih terkubur rapi.

Buku Sisi Gelap Perang Asia karangan Aiko Kurasawa mengisi lacuna sejarah tersebut dengan menampilkan kisah-kisah di luar narasi resmi sepanjang masa 1945-1957. Kurasawa-sensei adalah sejarawati senior yang telah lama meneliti berbagai segi kehidupan masyarakat kita. Beliau selalu mengupayakan buku-buku karyanya tersedia dalam bahasa Indonesia, agar dapat dibaca publik Indonesia dan juga memperkaya sejarah kita.

Kisah-kisah Orang Biasa yang Tidak Biasa

Sebagai bunga rampai, buku ini terdiri dari 8 tulisan lepas dengan tiap topik yang berbeda sehingga dapat dibaca tanpa harus berurutan. Lima tulisan pertama terkait dengan masa 1945-1949, dan tiga tulisan berikutnya terkait dengan masa 1950-1957.

Tema lima tulisan pertama: tentang mahasiswa Indonesia yang berada di Jepang semasa dan seusai perang (ada 83 orang!), kisah anak-anak yang lahir dari perkawinan ayah orang Jepang dan ibu orang Indonesia (buku ini membahas khusus 4 kasus), perihal kehidupan  perempuan Indonesia yang menikahi pria Jepang dan kemudian kembali ke Indonesia (ada sekitar 90 orang), tentang orang Jepang yang menolak repatriasi (pulang kembali) ke Jepang usai 1945 dan memilih Indonesia sebagai tempat tinggalnya (ada sekitar 800 orang (!) yang tersebar di Jawa dan Sumatra), dan soal pengembalian para romusha Indonesia yang berada di luar negeri.

Tema tiga tulisan berikutnya: tentang latar belakang normalisasi hubungan diplomatik antara Indonesia dan Jepang usai Perang Dunia kedua, masalah pembayaran pampasan perang, dan perihal kehidupan tentara desertir Jepang yang masih tinggal di Indonesia (ada sekitar 120 orang).

Kesamaan pelbagai kisah di atas adalah menceritakan pengalaman orang biasa yang nasibnya berubah sepanjang masa 1945-1957. Hal ini karena ada banyak perubahan sosial-politik pada masa itu, baik di Indonesia maupun di Jepang. Sebagai orang biasa, mereka dipaksa untuk menentukan pilihan hidupnya dengan segala keterbatasannya. Ada yang karena kesadarannya sendiri melihat perubahan sospol dan memilih menentukan arah kehidupannya.

Namun, ada banyak yang karena hanyut dalam arus zaman, dibuat tidak punya pilihan dan menyerah pada pusaran sospol di luar kendalinya sendiri. Mereka terjebak menjadi “korban”. Seperti yang ditulis Kurasawa-sensei, “hal itu terjadi bukan karena kesalahan diri sendiri, melainkan sebagai akibat kebijakan negara atau perkembangan sejarah” (hlm. x). Karena pengalaman mereka yang demikian tersebut, kisah-kisah mereka menjadi “tidak biasa” dalam sejarah nasional kita.

Menggali Ingatan

Menariknya, beragam kisah ini digali Kurasawa-sensei lewat penelitian arsip dan juga wawancara mendalam. Wawancara dengan setidaknya 53 narasumber di banyak kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Ciawi, Sukabumi, Klaten, Sintang) dan juga di Jepang (Tokyo, Kyoto, Kanagawa, Kawagoe). Wawancara ini bukan berfungsi melengkapi penelitian arsip. Melainkan, menjadi sumber sejarah yang penting dan tak terpisahkan dalam penelitian. Metode ini diakui sebagai penelitian sejarah lisan (oral history).

Penelitian sejarah lisan menjadi tak terelakkan karena dua hal. Pertama, karena keterbatasan sumber-sumber tertulis/arsip. Banyak kisah yang memang tidak/belum terekam dalam bentuk dokumen. Kisah orang biasa ini dianggap sebagai hal yang “lumrah” sehingga tidak tercatat. Kalaupun tercatat, dokumen tersebut hilang dan/atau tak mampu menentang kuasa alam. Kedua, karena banyak narasumber kisah itu sendiri sudah memasuki usia senja. Tiada cara lain selain wawancara mendalam guna merekam langsung kisah-kisah itu. Ingatan manusia dalam segala keterbatasannya justru menjadi pondasi dasar dalam menyusun kisah sejarah ini.

Sumber bagi Fiksi

Kisah-kisah orang biasa yang dijabarkan dalam buku ini sesungguhnya dapat menjadi sumber abadi penulisan kisah fiksi. Memang, tidak banyak cerita fiksi dan novel kita yang mengangkat masa penjajahan Jepang dan dampaknya bagi kehidupan bangsa kita. Novel Cantik itu Luka karangan Eka Kurniawan (2002) mungkin satu pengecualian. Sayangnya, novel tersebut tidak menawarkan perspektif baru (dan berbeda) dari narasi sejarah resmi kita. Dunia imajinasi kita nampaknya tidak hanya masih gersang, tapi juga konformis.

sejarah ingatan dan fiksi jafar suryomenggolo

Sementara itu, di Thailand ada novel Khu Kham (คู่กรรม/ Takdir) karya Thommayanti (nama asli: Wimon Chiamcharoen) yang menggambarkan kisah percintaan antara seorang gadis Thai bernama Angsumalin dan letnan angkatan laut Jepang bernama Kobori pada 1939-1945. Novel ini diterima baik oleh masyarakat dan sudah diadaptasi ke layar lebar dua kali, pada 1996 dan 2013. Dalam bahasa Inggris, dikenal dengan judul Sunset at Chaopraya (Senja di sungai Chaopraya).

Juga di Malaysia, ada novel terkemuka The Garden of Evening Mist (Taman Kabut Senja) karya Tan Twan Eng, yang terbit pada 2012 dan telah diadaptasi ke layar lebar (2020). Novel ini mengangkat kisah seorang perempuan muda Teoh Yun Ling yang memiliki hubungan dengan Nakamura Arimoto, seorang tukang kebun Jepang yang berada di Malaysia pada masa penjajahan Jepang dan sesudahnya (1950-an). Dari kisah ini, terungkap ada keberlanjutan sejarah lewat ingatan tokoh utama (dan keterlupaannya juga!). Novel ini berhasil menjalin kisah orang biasa dalam keterbatasan pilihan hidupnya, terutama pada masa yang sulit tersebut.

Sejarah memang tidak hanya milik sejarawan/wati saja, melainkan milik semua. Dunia fiksi dapat menjadi jembatan bagaimana ingatan sejarah dapat mencerahkan masyarakat umum dan juga, sebagai karya imajinasi yang dinikmati bersama.(*)


Baca juga:
– Memasuki Cerpen “Singgah di Sirkus” Karya Nukila Amal
– Gerakan Sentrifugal dalam Mama Menganyam Noken

Bagikan artikel ini ke: