Menu
Menu

Oleh: Doni Ahmadi |

Menulis cerita pendek, esai, dan sesekali menerjemahkan. Bukunya, kumpulan cerpen “Pengarang Dodit” (Basabasi. 2019) Beberapa tulisannya bisa ditemui di https://medium.com/@doniahmadi


Identitas Buku

Judul: Subuh
Penulis: Selattin Demirtaş
Penerjemah: Mehmet Hassan
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun: 2020
Tebal: viii + 118 Halaman
ISBN: 978-979-1260-97-8

***

Tidak banyak buku kumpulan cerpen yang saya habiskan dalam sekali duduk, dan Subuh adalah satu di antara yang tidak banyak itu.

Alasannya sederhana, cerita-cerita dalam kumpulan cerpen karya Selahattin Demirtaş ini cenderung singkat dan ringkas. Demirtaş juga mampu menghadirkan sesuatu yang kompleks menjadi sesederhana mungkin dan memikat dalam cerita-ceritanya. Selain itu, meskipun hampir keseluruhan latar penceritaan Subuh berada di Turki—beberapa di antaranya berlatar di Timur Tengah—peristiwa-peristiwa dan isu yang hadir dalam 12 cerita di buku ini bisa dikatakan cukup dekat bagi saya.

Hal yang membuat cerita-cerita Demirtaş menjadi terasa dekat adalah karena kebanyakan kisah ini menyoroti kembali stereotip dan mengajak kita untuk kembali mempertanyakannya.

Seperti yang kita tahu, hasil dari stereotip adalah munculnya semacam prasangka, upaya menggeneralisasi, dan pandangan yang melulu subjektif terhadap orang lain ataupun suatu kelompok tertentu tanpa adanya tinjauan lebih jauh.

Dalam kumcer Subuh ini, Demirtaş membawa kita pada pergulatan dan stereotip yang dialami kaum-kaum kelas menengah ke bawah hingga kaum perempuan—yang tentu saja karib bagi kita—dengan begitu komikal. Demirtaş menunjukan hal ini dalam cerpen pertamanya berjudul “Laki-laki dalam Jiwa Kami” lewat penggambaran sosok perempuan dalam kerangka yang berkebalikan dalam konsep patriarki. Perempuan yang distereotipkan sebagai sesuatu yang lemah dan tak berdaya, digambarkan sebaliknya: menjadi kuat dan gagah perkasa dalam sosok burung gereja.

“Meski berada dalam serangan dan ancaman, tekad burung betina itu untuk melindungi sarang dan telur benar-benar luar biasa. Sementara mahkluk yang sejenis kelamin denganku itu hanya melihat ke arahku. ‘Jangan menatapku seperti itu, Hamzah saudaraku (…aku namai si pejantan itu Hamzah) pertama-tama kau harus membunuh laki-laki dalam jiwamu.’” (hlm. 6)

Tetapi kita jangan lekas mengambil kesimpulan bahwa keseluruhan kisah ini akan memiliki nada yang mirip. Dalam cerita selanjutnya,“Seher”, Demirtaş justru menyuguhkan kisah yang berbanding terbalik; terdapat sosok wanita tak berdaya bernama Seher yang harus merasakan kemalangan demi kemalangan karena masih terjebak dalam ketidakberdayaan dan kuatnya otoritas kaum laki-laki.

“Tiga laki-laki merampas mimpi Seher di tengah hutan pada petang hari. Tiga laki-laki mengambil nyawa Seher di ladang kosong pada larut malam.” (hlm 21)

Kisah ini sangat mungkin diasosasikan pada stereotip perempuan dalam konsep patriarkis. Perempuan digambarkan tidak berdaya, tidak memiliki kuasa/kehendak, berada dalam lapisan yang lain dengan kaum laki-laki, dan sebagainya. Asumsi bahwa cerita ini cenderung misoginis pun diperkuat dengan pemilihan sudut pandang orang ketiga, di mana pengarang memiliki otoritas penuh sebagai narator untuk memberikan pandangannya dan pembelaan untuk membela korban, namun urung dilakukan. Dalam hal ini, kita bisa saja menuduh Demirtaş dengan tudingan bahwa ceritanya begitu mengganggu. Tapi hal ini sepertinya membuat kita terlihat seperti orang yang terburu-buru memberikan kesimpulan. Saya rasa mengapa hal demikian ini urung dilakukan Demirtaş adalah bahwa kondisi yang demikian ini masih ada dan berlangsung. Dan menggambarkan keadaan yang sebaliknya untuk menyenangkan satu pihak bukanlah jalan yang baik.

Nilai dan stereotip tertentu dalam suatu masyarakat memang disorot habis-habisan oleh Demirtaş. Potret masyarakat kelas bawah yang menempati suatu kompleks tertentu dan menjadi korban pandangan keliru ini tergambar dalam cermat dalam cerpen “Nazan Petugas Kebersihan”.

“Beberapa jam kemudian, polisi kembali datang dan kali ini menahan delapan orang yang terluka, termasuk aku. Bu Sevgi sangat keberatan, tetapi mereka tak mengindahkan. Aku duduk di dekat jendela mobil angkutan polisi, dan kami pun berangkat. Seorang anak yang mengendarai Audi Q7 di sebelah kami jelas hanya menghambur-hamburkan uang ayahnya. […] Ketika bosan dengan jipnya tahun depan dia akan meminta Mercedes CLX dan ayahnya akan memberikan. Bagaimanapun dia pantas mendapatkannya, dia kan bukan dari kompleks kami.” (hlm. 32)

“’Apa maksud Anda dengan pengadilan? Tanyaku, ‘aku tak punya kasus apa pun untuk diadili!’
‘Ya, aku paham. Masalahnya, di halaman utama Koran-koran hari ini ada fotomu,’ jawabnya sembari mengeluarkan sepucuk surat kabar. Di halaman depan itu tertulis Para Pengacau! Dan terdapat fotoku duduk di tengah jalan berlumuran darah.
‘Oh begitu, tapi aku tak melakukan apa-apa! Tukasku ketakutan.’” (hlm. 33)

Dalam kisah ini, Nazan menjadi korban stereotip aparat hanya karena ia tinggal di kompleks kumuh yang kebanyakan diisi oleh kelas pekerja. Meski tak melakukan secuil kejahatan apa pun, ia harus merasakan dinginnya jeruji besi dan membuat ibunya harus kembali bekerja karena hal ini.

*

Untuk membuat cerita yang baik, A.S Laksana dalam Creative Writing mengatakan bahwa ada dua hal yang perlu dipertimbangkan tiap penulis: keintiman dan nada suara. Menurutnya, cerita akan menjadi intim atau tidak dengan pembaca tergantung seberapa dekat penulis bisa menggambarkan segala tindakan, pikiran, serta emosi tiap-tiap karakter dalam cerita. Dan kita bisa melihat hal yang sedemikian itu dalam cerita-cerita di kumpulan cerpen Subuh ini.

Cerpen berjudul “Surat Untuk Petugas Pembaca Surat di Penjara”, misalnya. Dalam kisah ini kita dapat melihat keintiman tokoh saya dengan sosok sahabatnya bernama Bahir yang ia temui dalam mimpi meski sudah lebih dulu meninggal. Atau melalui cerita “Gadis Laut” yang dengan subtil mengeskplorasi keintiman emosi tokoh Mina dengan sang ibu hingga akhir hayatnya. Lalu cerita “Membikin Perhitungan Bersama Ibu” yang dengan jenaka mewartakan kenangan masa lampau antara dua kakak beradik dengan sang ibu. Hingga cerita “Ah, Asuman” yang melankolis dan begitu emosional untuk dua sosok yang tak saling mengenal.

Kisah-kisah ini hampir menguras emosi dan perasaan tokoh-tokohnya dengan caranya masing-masing. Demirtaş begitu cerdas dalam memosisikan diri sebagai pengarang lewat pilihan emosi para tokohnya. Selain itu ia juga cukup solid dalam pilihan peristiwa, hal-hal yang bisa ia buat jenaka ia tampilkan adanya, atau kisah yang haru tanpa bumbu-bumbu yang membuat hal itu berlebihan. Demirtaş sadar betul akan porsi dan tidak serta merta mencampuradukkan yang sedemikian itu dalam satu cerita.

Satu catatan penting lainnya, yang membuat kumcer Subuh ini sama sekali tidak kehilangan nada suara Demirtaş, adalah pemilihan penerjemah yang luar biasa. Pemilihan kata dari bahasa Turki yang dibiarkan dengan rujukan (Misal, kata Seher, Reno Siteysin, Ulan, Oglum, dsb) serta pelbagai pengetahuan yang muncul di catatan penyunting (dari mulai referensi interteks ke tokoh-tokoh di dunia nyata seperti Sirri Sureyya Onder, Cilem Dogan, Muratan Mungan, hingga Tragedi Hotel Madimak) membuat kisah ini seolah tidak berjarak.

Dalam hal ini, Mehmet Hassan—sebagai penerjemah—bukan hanya berhasil membawakan kepada kita kisah-kisah fiksi Demirtaş, ia juga sekaligus membawa latar budaya hingga seluruh pengetahuan si pengarang dengan terang benderang dan membuat kita tidak perlu repot menerka-nerka kembali apa yang dimaksud si penulis, sesuatu yang jauh dan mungkin saja tak bisa kita jamah dalam sekali duduk. Begitu.(*)


Baca juga:
– Kabar Apa yang Kau Bawa dari Kosovo?

– Dharsana dan Kejahatan-kejahatannya dalam Novel Hotel Prodeo
– Sepuluh Buku Merayakan Kasih Sayang a la Parisienne- Dharsana dan Kejahatan-kejahatannya dalam Novel Hotel Prodeo

Bagikan artikel ini ke: