Menu
Menu

Sebagai karya perdana memang masih ditemukan beberapa kesalahan teknis penulisan, namun sebagai sebuah karya kreatif, “Mama Menganyam Noken” menawarkan percobaan-percobaan yang menarik.


Oleh: V. Nahak |

Menyukai sastra. Pernah belajar Filsafat dan Teologi Kontekstual di Ledalero-Flores.


Identitas buku

Judul: Mama Menganyam Noken
Penulis: Gaudiffridus Sone Usna’at
Penerbit: Papua Cendekia
Tahun: 2019
Tebal: 104 hlm; 14 x 21 cm

***

Ada kontras yang menarik dalam antologi puisi Mama Menganyam Noken karya Gaudiffridus Sone Usna’at (selanjutnya Gody Usna’at). Di satu sisi, sampul buku menggambarkan seorang ibu sedang duduk tenang menganyam noken. Di sisi lain, repetisi kata-kata dalam buku ini justru merujuk pada mobilitas aku-lirik. Mereka bergerak dari satu titik ke titik yang lain.

Repetisi kata yang muncul dalam kumpulan ini dapat dikelompokkan dalam tiga kategori. Pertama, gerakan berpindah tempat: “pergi” (47), “pulang” (37), “langkah” (33), “tinggal”: “meninggalkan” dan “ditinggalkan” (18), “rantau” (6). Total: 141. Kedua, “Aku lirik” (133), menyusul di posisi ketiga: kelompok semantik yang merujuk pada destinasi: “kampung” (43), “dusun” (31), dan “rumah” (24). Total destinasi: 98.

Ulasan ini menelaah pergerakan spasial dalam buku puisi ini dan merefleksikannya dalam konteks kehidupan dewasa ini.

Mobilitas Manusia Masa Kini

Setiap hari kita terus dirayu (dipaksa?) oleh media untuk bepergian. Mobilitas itu sendiri, seperti kata filsuf Prancis Jean Baudrillard dalam buku The Consumer Society: Myths and Structures (1998), sudah menjadi objek konsumsi. Berbagai jenis iklan menawarkan petualangan untuk mencapai berbagai destinasi baru.

Perjalanan (traveling) kehilangan aspek “ziarah”. Dalam traveling ada tendensi untuk semata-mata menaklukkan tempat-tempat baru. Tidak heran, swafoto adalah ritual magis di setiap destinasi baru. Orang ditarik ke tempat-tempat yang sedang ramai dipercakapkan (viral).

Caption “Saya sudah pernah ada di sini” bersinonim dengan “Saya sudah menaklukkan tempat ini!” Apa yang marak hari-hari ini menggemakan kata-kata Barthes beberapa dekade lalu dalam bukunya Camera Lucida (1981: 118): “Segala sesuatu diupayakan agar berakhir dalam foto.”  Pada titik inilah, Mama Menganyam Noken menawarkan satu sikap yang berbeda.

Gerak ke Pinggiran

Di dalam kumpulan puisi ini kata “perjalanan” merupakan kontras dari fenomena tingginya mobilitas manusia. Perjalanan tidak ditempuh untuk sekadar menaklukkan destinasi atau mengikuti massa, tetapi justru bergerak ke pinggiran.

Gody Usna’at dalam kumpulan puisi Mama Menganyam Noken ini menentukan alamat perjalanan para tokoh dalam puisi-puisinya yaitu, kampung atau dusun. Dua lokasi ini bukan hanya alamat sementara, tetapi sebagai asal-muasal kegembiraan dan harapan.

Rumah yang dibayangkan dalam buku puisi ini adalah rumah yang letaknya di pelosok dan pinggiran. Tidak heran konteks alam yang mengitari puisi-puisinya adalah lingkungan sekitar sungai, hutan dan gunung (kata-kata terkait panorama muncul 52 kali). Keterangan tempat itu juga lalu diisi akustik seperti “kicauan” burung yang jarang ditemukan di kota.

Bagi penyair, dusun tidak serta-merta inferior di hadapan kota yang “digenangi gedung-gedung”. Dusun menyimpan daya magisnya sendiri. Kalau kota adalah simbol dari pusat kekuasaan dan geliat pembangunan, maka pada kumpulan puisi ini ada gerak sentrifugal yang menjauh dari kota untuk menjawab panggilan dari pinggiran.

Dusunku Jauh Terpencil

dusunku jauh terpencil
senantiasa ia bagai tungku api, berkobar menungguku
kabut di mata gunungnya, manis bertahan menatapku

ketika kota digenangi gedung dan ditanami tiang-tiang listrik
dusunku senantiasa bahagia; meski berpondok atap daun sagu,
walau nyala lampunya ialah bening mata bulan-bintang dan
hening kunang-kunang

apabila malam datang menemuiku di kota
rinduku padanya bagai Tikus Tanah-menempuh jalan kecil,
mencari sampai menemukannya
sebagai buah Merah
sebab di kejauhan penantiannya telah lama memerah matang

dusun: milikku yang tak akan hilang
sekalipun aku melupakan pulang

Pada bait kedua penulis menampilkan kontras kehidupan kota dan desa. Dalam logika puisi ini, kemajuan infrastruktur bukanlah jaminan kebahagiaan. “Dusunku senantiasa bahagia; meski berpondok atap daun sagu,/ walau nyala lampunya ialah bening mata bulan-bintang dan/ hening kunang-kunang.” Argumentasi utama dari bait ini jelas: kesederhanaan itu selalu mempunyai daya tarik. Tidak heran Gody lalu menulis: “Dusunku senantiasa bahagia”.

Oposisi terhadap kota lalu diungkapkan dalam kalimat pertama bait kedua: “Ketika kota digenangi gedung dan ditanami tiang-tiang listrik.”. Ungkapan “digenangi gedung-gedung” membawa imaji tentang banjir sebagai bencana.

Wawasan tentang kota yang suram dalam puisi ini membawa kita ke tahun 1971. Taufiq Ismail menulis sebuah puisi “Kembalikan Indonesia Padaku”: Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam/ lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang-renang di atasnya… Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang/sambil main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam/ dan membawa seratus juta bola lampu 15 Watt ke dasar lautan…”

Kecintaan pada kampung dalam puisi-puisi Gody Usna’at tampaknya mempunyai basis antropologis. Salah satu yang bisa disebutkan adalah perihal kohesi sosial yang menjadi ciri khas warga kampung. Dalam puisi Aku dan Sebuah Kubangan, Gody menulis baris-baris ini:

tak ada yang lebih indah dari kedipan mata kampungmu sendiri

di panas pulang yang sentosa
kubangan senantiasa menunggu dan menawarkanku mandi
genangan airnya seperti kenangan
tak pernah kering meski sudah lama kutinggalkan

tak ada yang lebih jernih dari air mata kampungmu sendiri

Dengan menulis “tak ada yang lebih indah dari kedipan mata kampungmu sendiri”, penyair menegaskan bahwa detail-detail kecil pengalaman hidup bersama di kampung adalah elemen yang mengaitkan seseorang dengan asal-usulnya.

Kedipan mata dapat jadi bahasa tubuh yang eksklusif; dimengerti oleh “orang-orang dalam” yang memakainya sebaga sarana bertukar pesan. “Kedipan mata kampungmu sendiri” boleh jadi adalah memori kolektif yang menghubungkan seseorang dengan kampung halamannya. Hanya Anda dan orang-orang dekat yang mengerti bahasa isyarat itu. Hal itu bisa diibaratkan dengan sebuah pesta reuni sekolah dasar. Sekalipun para murid datang dari angkatan berbeda, mereka bisa dililit humor dan terpingkal-pingkal karena terhubung oleh kisah-kisah jenaka bersama seorang guru tua.

Menarik memperhatikan makna yang ditimbulkan oleh permainan bunyi “kubangan”, “genangan” dan “kenangan”. Kita bertanya: mengapa kubangan yang merujuk pada sesuatu yang jorok bisa menjadi objek kenangan? Penyair seolah hendak menekankan bahwa bukan hanya rentetan kemenangan melainkan juga pengalaman penderitaanlah yang menjadi elemen penting memori kolektif sebuah masyarakat.

Pulang ke pelosok dalam kumpulan ini tidak dimengerti sebagai kegiatan musiman seperti mudik. Pulang tidak harus berarti kembali ke tanah kelahiran. Penyair tidak terjebak dalam romantisme primordial semacam itu. Pulang adalah sebuah panggilan batin – atau lebih tepat panggilan akal sehat – untuk menjadikan kampung atau dusun sebagai prioritas perjuangan memajukan bangsa. Dalam arti itu, dusun itu tidak harus berarti kampung sendiri. Di dalam kumpulan ini dusun itu mewujud dalam semografi dan kampung-kampung lain di pedalaman Papua.

Dengan cara baca seperti ini, puisi-puisi ini serentak adalah pernyataan sikap dari penyairnya untuk berpihak kepada mereka yang hidup di pinggiran. Hal ini bisa dibandingkan dengan efek makna yang ditimbulkan puisi Cepat Pulang Unu dari Ishack Sonlay. Saya kutip dua bait terakhir:

Dua hari lalu ada pesta di Salore
Sakit hati e, lihat orang menari bertukar pantun
Sambil berjanji tanam jagung
Terlalu luka ini dada
Kenapa rindu harus dibayar api
Sungguh, setiap kapal yang masuk Tenau adalah air mata

Kalau burung dara sudah berkabar
Cepat pulang Unu
Itu tanda mau turun hujan
Siapa yang harus balik kita punya tanah?
Cepat pulang Unu

Dalam penggalan di atas, panggilan untuk pulang merujuk ke kampung halaman sendiri, ke kebun dan ladang milik keluarga. Alamat spesifik dari kepulangan tokoh Unu ditegaskan oleh pertanyaan retoris ini: “Siapa yang harus balik kita punya tanah?”. Di sini, panggilan untuk berhadapan dengan realitas pertanian lahan kering Timor dikontraskan dengan godaan “merantau” dari kapal-kapal yang masuk Tenau.

Saya menduga ada hubungan laten antara pekerjaan Gody sebagai guru di pedalaman Papua dengan kecenderungan puisi-puisinya dalam kumpulan ini. Sekalipun kata kerja yang dominan secara semantik dalam Mama Menganyam Noken merujuk pada konteks “perjalanan”, penulisnya menegaskan keberpihakan pada kampung atau dusun sebagai medan pergumulan dengan realitas sehari-hari.

Pada bab II dan III penyair menggumuli dua masalah krusial di Papua yakni pendidikan dan kesehatan. Sering kali puisi-puisinya tetap bernada optimis. Situasi terpencil tidak harus menghalangi orang untuk terus bermimpi. Namun, pada kesempatan tertentu, penyair berjumpa dengan realitas ketimpangan yang mendesaknya untuk ikut melontarkan protes. Dalam Sajak si Pincang dan si Bisu lugas dia menulis: “… pada suatu hari, Karlos yang pincang/ mengejar guru dengan pertanyaan:/ “mengapa guru-guru pedalaman tak memiliki Helikopter/ sedangkan tentara punya”.

Karlos yang pincang tidak lain adalah metafora tentang ketimpangan pendidikan yang terjadi di daerah pinggiran Indonesia. Para sosiolog mensinyalir gejala kembali ke pinggiran dan mencari yang asli sebagai salah satu reaksi terhadap globalisasi dan modernisasi. Kemajuan pesat yang dibawa modernisasi ternyata menciptakan pula ketimbangan ekonomi. Ada segelintir elite kaya-raya dan mayoritas yang melarat. Jurang inilah yang sering kali memantik frustrasi.

infografis mama menganyam noken

Catatan Penutup

Tampak ada saling pengaruh antara konteks hidup si penyair sebagai guru di pedalaman Papua dengan kecenderungan sentrifugal dalam kumpulan puisi ini. Tema mobilitas manusia yang diusungnya kontras dengan arus umum pergerakan orang yang terus diseret ke pusat-pusat keramaian. Puisi, seperti kata Jokpin, ditunaikan sebagai ibadah, sesuatu yang biasanya dilakukan dengan menyepi dari huru-hara.

Sebagai karya perdana memang masih ditemukan beberapa kesalahan teknis penulisan, namun sebagai sebuah karya kreatif, Mama Menganyam Noken menawarkan percobaan-percobaan yang menarik. Penyair menunjukkan ketekunan menggodok kata-kata dan mengusulkan imaji-imaji baru lewat metafor-metafor hidup. Di beberapa kesempatan ia menulis: “dada jalan” untuk memberi alternatif bagi ungkapan “badan jalan”. Pada tempat lain muncul ungkapan seperti: “otot jalan” atau “mata jalan”.

Melihat rentang waktu penulisan karya-karya ini (2011-2019) kita bisa berharap semoga dengan “kesabaran Bumi menumbuhkan Keladi” ia terus berkarya.(*)


Infografis: Daeng Irman

Baca ulasan menarik lainnya:
LIMA FUNGSI IMAJI BIBLIKAL DALAM KOMUNI KARYA SADDAM HP
MEMAKNAI FOEK SUSU SECARA FILOSOFIS

Bagikan artikel ini ke: