Menu
Menu

Dalam Foek Susu, Ruben seolah hendak mengajak kita untuk menikmati ketegangan antara masa lalu dan masa depan, kenangan dan harapan, cinta dan pekerjaan…


Oleh: Rano Korbaffo |

Lahir di Kefamenanu. Penikmat sastra dan anggota Perkumpulan Lopo BIINMAFO. Menyukai dunia kepenulisan sejak berada di Seminari Sta. Maria Immaculata Lalian (2001). Beberapa opininya pernah diterbitkan Surat Kabar Harian Pos Kupang, Victory News, Buletin Maranatha dan Veritas.


Identitas Buku

Judul : Foek Susu
Penulis : Unu Ruben Paineon
Penerbit : Pelangi Sastra, April 2019
Halaman : 188 halaman

***

Manusia menandai kehadirannya dalam suatu masa tertentu dengan beragam wujud yang tertentu pula. Ada yang menandainya dengan meninggalkan jejak aksara semisal tulisan dan dokumen, ada pula yang berupa jejak artifisial seperti lukisan dan monumen. Jejak-jejak itu diharapkan menjadi petunjuk akan kehadirannya (his story), bahkan menjadi catatan sejarah (history).

Ada begitu banyak manifestasi jejak-jejak peninggalan masa lalu yang kemudian menjadi catatan sejarah masa kini. Beberapa di antaranya, sebagai misal, Plato dengan Apologia, William Shakespeare dengan kisah Romeo and Juliet, Soekarno dengan Pancasila, Leonardo da Vinci dengan Monalisa, sampai pada Kaisar India, Mughal Shah Jehan dengan Taj Mahal, yang konon dibangun untuk makam istrinya.

Novel Foek Susu ini pun merupakan salah satu ikhtiar Unu Ruben Paineon menandai kehadirannya. Bagaimanapun juga, kita boleh berharap, jejak aksara dalam wujud novel ini kelak akan menjadi catatan sejarah bagi generasi kemudian. Paling tidak, di kemudian hari, karya sastra yang kental dengan khazanah lokal suku Atoni Meto ini bisa dijadikan salah satu referensi kesusatraan masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Foek Susu, Novel Elaborasi

Novel ini merupakan rangkaian elaboratif dari dua novel sebelumnya (Unu, 2009 dan Benang Merah, 2015). Pada novel pertama, Ruben mengisahkan tentang Yanto/Unu (tokoh utama), putra sulung dari sebuah keluarga sederhana di pedalaman Timor, yang bertekad melanjutkan pendidikannya demi mengangkat harga diri keluarga dan kampungnya. Sedangkan pada novel kedua, Ruben bercerita tentang perjuangan Kolo (tokoh utama) menyelesaikan pendidikan di Yogyakarta dengan kondisi serba kekurangan.

Dalam novel ketiga ini, Ruben mengelaborasi lebih lanjut perjuangan Kolo (tokoh utama) yang telah berhasil meraih gelar sarjana dan kembali ke tanah Timor. Di kampung halamannya, Kolo dihadapkan dengan dua tema besar – cinta dan pekerjaan – yang menjadi fondasi cerita novel ini.

Cogito: Primum Episteme Kolo

Pada mulanya adalah keraguan (dubium). Filsafat Rene Descartes (1596-1650) kiranya berangkat dari titik itu. Melalui dubium methodicum-nya, Descartes meragukan segala sesuatu demi menemukan satu yang pasti: saya menyadari bahwa saya sedang meragukan (cogito, ergo sum).

Dalam nada yang sama, Ruben pun memulai Foek Susu-nya dengan Kolo meragukan cinta kekasihnya (Mega) yang terpisah oleh jarak: Timor-Yogyakarta.

Ia menulis demikian: “Malu. Untung saja aku ini lelaki yang tahu malu, kalau tidak; puih!” (hlm. 1)…. Aku memang malu… Semestinya lebih baik mabuk laru putih, bernyanyi elele elala keliling kampung, daripada mabuk kepayang hanya kepada bayang-bayang. Lebih baik mabuk sopi kepala, buka baju pikul di leher sambil koa loes, daripada merindukan rindu yang absurd. Cinta macam apa yang begitu?…Sudah lama aku hampir mati kelelahan hanya gara-gara menafsir bayang-bayang; ke arah mana cinta ini pergi, dari arah mana cinta itu datang” (hlm. 3-4).

Ruben agaknya secara implisit ingin mengajak kita untuk lebih dahulu menempatkan status Kolo pada satu kepastian, yakni kesadaran Kolo yang sedang meragukan. Dengan kata lain, Ruben membuka lembaran pertama novelnya dengan kepastian pertama yang tidak dapat disangkal oleh (si-)apa pun, yakni Kolo menyadari bahwa Kolo sedang meragukan.

Hemat saya, segala sesuatu yang dimulai dengan keraguan sebagai awal cerita, juga menjadi penting, demi penemuan akan kebenaran-kebenaran selanjutnya. Jika dalam sejarah filsafat modern, dubium Descartes dianggap sebagai primum philosophicum (filsafat pertama) bagi seluruh bangunan filsafat berikutnya, maka dubium Kolo ini pun dapat dianggap sebagai primum episteme (pengetahuan pertama) yang melandasi kebenaran bangunan cerita selanjutnya.

Adapun primum episteme tersebut membawa beberapa konsekuensi logis sekaligus praktis bagi kebenaran-kebenaran berikutnya yang menjadi kelanjutan cerita novel ini.

Pertama, cinta, bagi Kolo, lebih merupakan kebutuhan eksistensial manusia. Karena itu, hakikat dari cinta adalah kualitasnya dan bukan objeknya. Itulah alasan mengapa Kolo dikisahkan mencintai Mega (hlm. 5). Itu juga menjadi alasan mengapa, setelah memutuskan Mega, Kolo pada akhirnya dapat jatuh hati pada Ika, Inri dan Inda (hlm. 178).

Realitas Kolo tersebut digambarkan oleh Erich Fromm (The Art of Loving, 1957), seorang psikoanalis asal Jerman, demikian: “Saya mencintaimu bukan pertama-tama karena adanya engkau. Saya mencintaimu, pertama-tama dan terlebih, karena saya butuh untuk mencintai.”

Kedua, kualitas mencintai Kolo mestinya dipahami sebagai kedekatan fisik dua insan yang tidak dibatasi oleh jarak. Sebab di hadapan jarak, cinta dan rindu akan selalu menjadi basi (hlm. 4).

Ketiga, dalam kondisi demikian, maka pilihan logis Kolo adalah memutuskan Mega, gadis manis blasteran Jawa-Flores tersebut (hlm. 125-127).

Keempat, keputusan Kolo mengakhiri cintanya dengan Mega akhirnya mampu meringankan (salah satu) beban hidupnya, sehingga ia lebih fokus dalam mencari pekerjaan (hlm. 129). Benar saja, setelah selesai dengan Mega, tidak ada lagi cerita tentang Mega dalam bab-bab selanjutnya (hlm. 129-182).

Lopo sebagai Titik Sentral

Keunikan lain dari cerita dalam novel ini adalah bagaimana Ruben menjadikan Lopo sebagai terminus ad quo (titik awal) dan terminus ad quem (titik akhir) dalam cerita tersebut. Dengan kata lain, Ruben menempatkan Lopo sebagai latar tempat, dari mana cerita ini dimulai dan ke mana cerita tersebut selesai.

Ruben menulis: “Aku duduk gantung kaki seorang diri di atas hala’ ‘bena di dalam lopo” (hlm. 1)… “Kami akhirnya tiba di kampung. Dari tikungan jalan di arah barat itu, aku sudah melihat banyak orang duduk di dalam lopo kami” (hlm. 180).

Hampir seluruh aktivitas harian Kolo terjadi di Lopo. Penempatan ini menarik karena, melalui Lopo, kita diantar untuk dapat menemukan kaitan antara kadar subjektivitas penulis dengan objektivitas lingkungannya.

Bagi masyarakat suku Atoni Meto, Lopo merupakan tempat sentral pelbagai percakapan manusia dengan mitra-nya: dengan dirinya sendiri, sesama, alam dan bahkan Tuhan. Karena itu, subjektivitas Ruben tentang Lopo yang diletakkannya dalam pengalaman individual Kolo merepresentasikan pengalaman universal anak-anak Atoni Meto lainnya.

Dengan kata lain, pengalaman Kolo tentang Lopo, sebagaimana digambarkan Ruben dalam novel ini, sekaligus memberitahukan kepada kita akan pengalaman anak-anak Atoni Meto lainnya dalam memandang Lopo.

Masa Kini: Proyeksi Masa Lalu dan Masa Depan

Ruben pun mengajak kita untuk turut menyimak ketegangan yang terjadi antara masa lalu, masa kini dan masa depan dalam memaknai dua tema besar dalam novel ini: cinta dan pekerjaan. Dalam tradisi peradaban Barat, waktu seringkali dipersepsikan sebagai sesuatu yang linear yang terdiri atas masa lalu, masa kini dan masa depan. Meski ketiganya dipahami secara berbeda, namun tetap memiliki keterhubungan satu dengan yang lainnya.

Ruben, melalui tokoh Kolo, coba menampilkan jalinan keterhubungan tersebut. Hemat saya, jika benar bahwa cinta Kolo dan Mega telah ada sewaktu keduanya masih berada di Yogya; jika benar bahwa demi mendapatkan pekerjaan (dan membangun kampung halamannya) Kolo akhirnya memilih pulang ke Timor, maka benar pula bahwa cinta Kolo dan Mega adalah aktivitas masa lalu dan pekerjaan merupakan aktivitas (obsesi, harapan) masa depan.

Yang menarik adalah bagaimana dua aktivitas (masa lalu dan masa depan) itu diproyeksikan Kolo sebagai sebuah pengalaman eksistensial masa kini dengan keberaniannya mengambil keputusan-keputusan penting: mengakhiri cintanya dengan Mega akibat jarak dan menolak tawaran bekerja sebagai pegawai honor akibat proses seleksi yang curang.

Di dalamnya Ruben seolah hendak mengajak kita untuk menikmati ketegangan antara masa lalu dan masa depan, kenangan dan harapan, cinta dan pekerjaan, sebagai narasi masa kini, hic et nunc.Bahwasanya, cinta – sebagai aktivitas masa lalu – dan pekerjaan – sebagai aktivitas masa depan- selalu mengarah pada realitas masa kini.

memahami foek susu secara filosofis

Segalanya Lenyap, Yang Tidak Hanyalah Foek Susu

Novel ini pun mengisahkan tentang keberanian Kolo dalam memutuskan apa yang menurutnya baik: mengakhiri kisah cintanya dengan Mega akibat dibatasi jarak dan menolak tawaran menjadi pegawai honor akibat proses seleksi yang curang.

Pendek kata, yang baik bukan perkara mempertahankan status quo, melainkan melepaskannya mengalir bersama air sungai demi mempertahankan prinsip-prinsip ultim kehidupan.

Ruben seakan mengajak kita untuk menyadari bahwa dalam setiap kerelaan Kolo untuk melepaskan status quo, ada satu yang tidak bisa dilepaskan, yaitu Foek Susu: keteguhan hati Kolo untuk selalu menjaga kebenaran martabatnya.

Menyadur Heraklitos, filsuf Yunani Kuno, realitas tersebut bisa dimaknai demikian: segalanya lenyap, yang tidak lenyap hanyalah Foek Susu.

Problem pada Detail

Dalam Foek Susu, Ruben terlalu detail dalam mengolah narasi tentang hal-hal yang aksidental. Sebagai misal, narasi tentang bagaimana meminimalisir porsi minum sopi Naef Markus Eba, bagaimana mengatasi perkara sakit hati Naef Titus Bona terhadap Yohana, kekasihnya, yang secara diam-diam menikahi pria lain, atau bagaimana mendamaikan konflik antara Naef Markus Eba dengan Naef Barnabas Boik.

Hal ini berimbas pada, ketika diperbandingkan dengan dua tema besar yang menjadi kekuatan bangunan novel ini (cinta dan pekerjaan), narasi yang ditampilkan Ruben menjadi sangat dangkal dan abstrak.

Mengutip Fuad Hassan (Renungan Budaya, 1989), ulasan ini ditutup dengan berkata: bagaimanapun juga tiada karya sastra yang hampa-pesan, dan melalui karya sastra itu, sikap filsafat sang sastrawan menjadi transparan dan kentara.(*)


Info grafis: Daeng Irman

Bagi tulisan ini via:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *